Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Arga kembali ke rumah sakit setelah meluapkan emosinya kepada Jefry. Disinilah ia sekarang, berada di depan kamar 402. Sebelum masuk, ia menghembuskan nafas, semoga usahanya berhasil. Ia mencoba cara yang disuruh oleh Dokter Mutiara.
Ceklek.
Begitu pintu terbuka, Sintia menutupi wajahnya dengan selimut, nafas gadis itu memburu. Tubuhnya langsung keringat dingin. Arga menutup pintu dan memilih duduk di sofa yang sudah dipindahkan agak jauh dari ranjang Sintia.
Laki-laki itu melihat Sintia sejenak. "Kamu tenang. Aku nggak akan mendekat kalo kamu gak izinin. Kalo kamu nggak nyaman, kamu boleh minta aku pergi," ucap Arga
Sintia pelan-pelan membuka selimut—hanya sebagian wajahnya yang keliatan.
"Janji jangan ngedeketin aku, ya?"
Suara yang sudah seharian ini tidak ia dengar akhirnya bisa kembali. Arga mengangguk ia merebahkan diri pada sofa. Tidak mau terlalu mengajak Sintia bicara, ia tahu Sintia belum sepenuhnya percaya pada siapapun.
"Ga," panggilnya lirih.
Arga menoleh, ia mendongakkan kepala. Tatapan mereka bertemu, tapi Sintia lebih dulu mengalihkan pandangan. Gadis itu masih ketakutan, terlihat dari cara matanya menatap Arga tadi.
"Kenapa?"
"Ma-makasih, ud-udah—" ucapan Sintia terpotong karena Arga mengangkat tangan menginstruksi agar gadis itu berhenti bicara terlebih dahulu.
"Udah. Kamu tidur!"
Sintia menurut, ia berbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sebelum benar-benar tidur gadis itu celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
"Sintia. Kenapa lagi?"
"Dia nggak akan datang, kan?"
Arga mendesah pelan, ia mengusap wajah, kemudian menggeleng. "Nggak. Dia nggak akan pernah datang."
Gadis itu baru bisa berbaring dengan tenang dan mulai masuk alam mimpi.
Sedang Arga pria itu memilih untuk tidak tidur—menjaga Sintia takut kalau gadis itu ngigau lagi. Ia menatap langit-langit kamar. Hanya ada suara detak jam dan juga suara cicak yang mencari mangsa. Ini baru jam 9 tapi rumah sakit itu sudah sepi. Namun, sesekali ia dapat mendengar ada perawat yang berkeliling untuk memastikan para pasien tidur dengan tenang.
Mata Arga tidak bisa diajak kompromi. Pria itu mulai memejamkan mata dan tertidur dengan posisi miring.
****
Tepat pada saat jam 2 dini hari Sintia bangun dengan nafas ngos-ngosan, gadis itu menyeka keringat yang membasahi pelipis, ia meminum air yang sudah tersedia di nakas. Menatap Arga yang sedang tidur menghadap ke arahnya. Gadis itu menitikkan air mata. Jantungnya berdegup kencang, saat menatap pria itu masih ada ketakutan dan juga trauma yang membayangi kepala. Pelakunya bukan Arga tapi ia trauma dengan semua laki-laki termasuk Arga. Ia benci dengan dirinya sendiri. Ia benci dengan Jefry. Merusak semua kebahagiaan yang Sintia miliki.
Arga yang mendengar suara isakan tangis perlahan bangun. Mengucek mata sebentar. Ia melihat Sintia sedang meringkuk. Tubuh gadis itu bergetar—pertanda bahwa ia menangis. Arga meminum air terlebih dahulu kemudian bersuara.
"Kamu kenapa? Ada yang ganggu pikiran kamu? Atau keberadaan aku disini ganggu kamu?"
Sintia menggeleng, ia memperlihatkan wajahnya yang sudah basah oleh air mata. "Nggak."
"Terus kenapa nangis?"
Pertanyaan itu membuat Sintia makin menangis, Arga bingung harus berbuat apa. Ia tidak bisa mendekat ke arah Sintia. Terlintas sebuah ide muncul dari otaknya.
"Kamu dengerin lagu mau nggak? Kebetulan aku bawa earphone," sarannya.
Sintia mengangguk, Arga langsung mengeluarkan earphone dari saku. Kemudian melempar ke arah Sintia. Dan gadis itu menerima. Tapi gadis itu nampak bingung.
"Kenapa?" Arga bertanya lagi.
"Handphone aku rusak."
Arga mengangguk. "Kalau yang ini nggak mungkin aku lempar. Jadi... Aku tendang pelan ke arah kamu, ya?"
Arga menendang handphone pelan ke arah ranjang Sintia. Masa bodoh dengan handphonenya yang lecet nanti. Yang terpenting sekarang adalah Sintia tidak lagi terus menangis.
Sintia menempelkan earphone ke telinga dan mulai memutar lagu kesukaannya. EXO, boyband Korea favoritnya sejak ia SMA. Gadis itu menganggukan kepala membersamai irama lagu itu. Arga tersenyum tipis. Setidaknya ini yang bisa ia lakukan dulu.
***
Pagi itu setelah sarapan, Dokter Mutiara berkunjung di kamar Sintia. Ia melihat gadis itu sedang melukis sembari memandang ke arah jendela. Arga sudah tidak ada. Pria itu izin untuk ke kantor dahulu pagi tadi.
"Hai, Sintia. Gimana tidurnya semalam? Apa kamu masih ngigau atau udah tenang?"
Dokter Mutiara tersenyum ramah ke arah Sintia. Sintia menoleh, gadis itu memiliki mata panda. Dokter Mutiara yang melihat itu memberikan sesuatu pada Sintia. "Ini masker buat mata panda kamu. Semoga cocok, ya. Oh ya pertanyaan saya tadi belum kamu jawab loh?"
Dokter Mutiara mencoba memancing agar Sintia mau bicara.
"Masih Dok, tadi malam."
Dokter Mutiara tersenyum ada progress terbaru dari Sintia, ia rasa Arga sudah menjalankan apa yang ia suruh.
Mencatat dibuku kecilnya Dokter Mutiara pamit dari kamar Sintia dan menyuruh gadis itu untuk istirahat kembali.
***
Arga tersenyum begitu mendapat data-data tentang keluarga Jefry ia mulai membaca satu persatu dan kemudian menelpon Amar untuk segera ke ruangannya.
Begitu Amar sampai, Arga tanpa basa-basi langsung membicarakan inti yang ingin ia bahas.
"Gue mau minta bantuan lo."
"Soal apa? Lo mau nikahin Sintia?"
Arga menggeleng. "Bukan itu. Gue mau lo bantuin gue untuk blok semua data perusahaan bokapnya Jefry biar bangkrut."
"Lo serius, Ga. Gila lo."
"Emang gue keliatan bercanda. Temen lo siapa yang hacker itu suruh dia ngelakuin apa yang gue bilang tadi."
Amar memberi hormat kepada Arga. "Siap bos. Asal ada ininya aja sih."
Amar menggesekan jari jempol dengan telunjuk, Arga mengeryit tidak paham. "Maksud lo?"
"Ah elah, Ga. Duit maksud gue Duit!"
***
Koment dong guys jangan jadi silent reader ^^