Seorang Kaisar Abadi yang sedang melewati rangkaian Ujian Langit, mengalami kegagalan karena diserang oleh Pasukan Berjubah. Dirinya yang mengalami luka cukup parah sebab gagal melewati Ujian Langit, serta merasa geram terhadap Pasukan Berjubah. Menggunakan sebuah Teknik Terlarang untuk melawan Pasukan Berjubah hingga menyebabkan tubuh dan jiwanya hancur.
Lima Ribu Tahun kemudian, Ia terlahir kembali sebagai seorang Tuan Muda dari Klan Xiao. Namun sayangnya, Ia terlahir dengan kondisi lautan energi yang tersegel sehingga membuat dirinya tidak bisa berkultivasi.
Tetapi, kondisi yang kurang baik tersebut tidak membuat dirinya menyerah. Ia akan berusaha keras untuk mendapatkan kembali seluruh kekuatannya seperti di masa lalu, demi membalaskan dendamnya serta melindungi orang yang ia cintai!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnginBiru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 13 - Tetua Pertama Xiao Tian
Berkat kata-kata yang diucapkan oleh Xiao Baizi. Perasaan kecewa yang menyelimuti hati Xiao Yun, kini telah sepenuhnya hilang. Kemudian, Xiao Yun segera mengalihkan pandangannya kembali ke arah Lapangan Bela Diri. Tatapan matanya terlihat sangat tajam, saat memandang sisi lain dari Lapangan Bela Diri yang masih tertutup oleh kumpulan asap putih. "Apakah Anda sedang mencari Xiao Lin, Tuan Muda Ketiga?" tanya Xiao Baizi
Xiao Yun langsung mengangguk pelan. "Iya, dia pasti ada di sisi lain Lapangan Bela Diri. Apakah kondisinya baik-baik saja?"
Melihat kepedulian Xiao Yun terhadap kondisi Xiao Lin, membuat Xiao Baizi tersenyum kecil. Lalu, ia segera melebarkan tangan kanannya ke samping dengan lembut sembari berkata, "Anda benar-benar baik hati."
WHOSH!
Kumpulan asap putih yang menghalangi pandangan Xiao Yun, seketika terhapus oleh embusan angin kencang yang berasal dari lambain tangan Xiao Baizi. Setelah itu, mata Xiao Yun dan Xiao Baizi akhirnya dapat melihat dengan jelas kondisi Xiao Lin. Dengan posisi tubuh yang serupa dengan Xiao Yun sebelumnya, tubuh Xiao Lin tampak terbaring lemas di pangkuan ayahnya.
Xiao Yun langsung tertegun, ketika melihat kondisi Xiao Lin yang tidak berbeda jauh dengan kondisinya sekarang. Sebelum mengetahui kondisi Xiao Lin seperti yang ia lihat saat ini. Xiao Yun sempat menduga, kalau Xiao Lin mungkin masih bisa berdiri tegak setelah bertarung sengit dengannya. Namun, dugaannya tersebut ternyata sangat berbeda dengan kenyataan yang ia lihat. Kemudian, matanya seketika terbuka lebar saat pandangannya tertuju pada kedua lengan Xiao Lin. Tubuhnya langsung tersentak mundur, kedua matanya berkedip perlahan. Xiao Yun terlihat mencoba untuk memproses hal yang baru saja ia lihat. "Luka bakar itu? Apakah itu disebabkan oleh Teknik Telapak Api milikku?" pikirnya
Selama beberapa detik, Xiao Yun mencoba mencari tahu jawaban dari pertanyaannya tersebut seraya terus memandang kedua lengan Xiao Lin. Namun, ingin sebanyak apapun pun Xiao Yun memikirkan dan mencari tahu jawabannya. Pada akhirnya, hanya ada satu jawaban yang ia dapatkan. Bahwa, Teknik Telapak Api miliknya lah yang menyebabkan luka bakar tersebut.
Dengan bukti yang sudah terlihat jelas, Xiao Yun tampak masih belum bisa mempercayai kenyataan yang ia lihat. Sebab, Teknik Telapak Api milik Xiao Yun hanya berada di tingkatan terendah dalam Teknik Bertarung, yakni Teknik Perak tahap Rendah. Namun, Teknik Telapak Api miliknya bukan hanya mampu memberikan luka bakar pada seorang Master Energi Lapisan Pertama. Tetapi, juga dapat menghancurkan permukaan Lapangan Bela Diri yang terbuat dari lapisan-lapisan batu yang kokoh.
Selama perjalanan seorang kultivator menapaki jalan seni bela diri di Benua Petarung. Terdapat satu hal penting yang menjadi pendukung kemampuan bertarung seorang kultivator yang disebut sebagai, Teknik Bertarung. Di Benua Petarung ini, Teknik Bertarung terbagi menjadi empat tingkatan. Yaitu, Teknik Perak, Emas, Bumi dan Langit. Setiap tingkatan Teknik terbagi kembali menjadi tiga tahap, yakni tahap Rendah, Menengah dan Tinggi.
Ketika Xiao Yun akhirnya menyadari bahwa hanya ada satu jawaban dari pertanyaannya tersebut. Ia langsung menghela napas panjang. "Aku benar-benar tidak menyangka, kalau Teknik Telapak Api bisa memberikan dampak seburuk itu." ucapnya
Tak lama kemudian, Xiao Lin perlahan bangkit dari pangkuan ayahnya sambil merintih kesakitan. Luka bakar yang memenuhi separuh bagian lengannya, membuat kerutan halus di antara alisnya sebagai bentuk dari rasa sakit yang menusuk. Lalu, ia segera mengarahkan pandangan matanya ke tempat Xiao Yun berada dengan sorot mata yang tajam. Xiao Yun pun juga langsung bangkit ketika pandangan mata mereka saling bertemu.
Suasana di Lapangan Bela Diri tiba-tiba kembali menegangkan, saat Xiao Yun dan Xiao Lin saling memandang satu sama lain dengan tajam. Meskipun Latihan Bertarung sudah selesai, tetapi konflik antara mereka sepertinya tidak akan berakhir dengan mudah. "Sayang sekali, ya. Seorang Jenius seperti dirimu, tidak bisa mengalahkan seseorang yang selalu kau sebut sampah ini. Apa aku boleh tahu, seperti apa isi hatimu saat ini, Xiao Lin?" tanya Xiao Yun seraya tersenyum lebar
"Jangan sombong, dasar sampah! Kau seharusnya bersyukur karena Latihan Bertarung ini berakhir seri. Jika saja aku berhasil mengalahkanmu. Maka, harga dirimu sebagai Tuan Muda Klan Xiao akan semakin jatuh!"
"Perkataanmu memang benar. Tetapi sayangnya, kata-kata serta keinginanmu itu tidak menjadi kenyataan, bukan?"
Rahang Xiao Lin langsung mengeras, napasnya terdengar memburu. Ia tampak sangat geram oleh sikap yang ditunjukkan Xiao Yun kepada dirinya. "Sialan! Beraninya kau.."
Kata-kata yang ingin Xiao Lin ucapkan, seketika terhenti oleh sebuah tarikan pada lengan kanannya dari Xiao Tian. Xiao Lin pun segera mengalihkan pandangannya ke arah ayahnya sembari bertanya, "Kenapa Ayah menghentikanku?"
Dengan tatapan mata yang berat dan tajam, Xiao Tian bangkit dari tempatnya. Lalu, berjalan ke arah depan putranya dengan langkah yang tegas. "Sudahlah. Kau tidak perlu meladeni sikap Xiao Yun lagi. Saat ini, luka bakar di kedua lenganmu jauh lebih penting."
Ucapan yang cukup tegas dari Xiao Tian, namun terdapat kepedulian di dalamnya. Membuat Xiao Lin tidak punya pilihan, selain mematuhi perintah ayahnya tersebut. Dan kini, giliran Xiao Tian yang menatap tajam wajah Xiao Yun. Akan tetapi, tidak ada sebuah kebencian pada tatapan mata serta ekspresi wajah yang ditunjukkan Xiao Tian kepada Tuan Muda Klan Xiao tersebut. Sikapnya sangat berbeda dengan putranya. Setelah puas menatap Xiao Yun. Tetua Pertama Klan Xiao tersebut segera mengeluarkan isi hatinya, "Aku sangat tidak menyangka, kalau kau mampu menghadapi kekuatan Xiao Lin yang berada jauh di atasmu. Bahkan, Teknik Bertarung milikmu dapat membuat kedua lengannya terluka cukup parah."
"Sepertinya, penilaian kami terhadap dirimu selama ini sedikit keliru, Yun'er." jelas Xiao Tian
Xiao Yun langsung tersenyum kecil. Kemudian, ia segera membalas perkataan Xiao Tian dengan tenang. "Aku hanya sedikit beruntung, Paman Tian. Ini semua tidak akan terjadi jika Xiao Lin tidak menganggap remeh diriku."
Amarah Xiao Lin yang sebelumnya sudah mereda, kini kembali muncul setelah mendengar perkataan Xiao Yun. Jemarinya mengepal kuat, tubuhnya bergetar hebat sebab menahan emosi yang meluap-luap. Namun, Xiao Lin tidak berani mengeluarkan satu kata pun karena keberadaan ayahnya di hadapannya. Sementara itu, Xiao Tian segera menanggapi perkataan Xiao Yun dengan tegas, "Huh! Cara bicaramu benar-benar mirip dengan Ayahmu yang tidak berguna itu!"
"Kalian berdua sangat suka memancing amarah seseorang dengan kata-kata yang tidak penting!" ketus Xiao Tian
Kata-kata yang diucapkan oleh Xiao Tian langsung membuat kondisi di Lapangan Bela Diri semakin menegang. Seluruh murid Klan Xiao sangat terkejut ketika mendengar ucapan Xiao Tian dengan nada tegas tersebut. Di sisi lain, pandangan yang dingin dan tajam seketika ditunjukkan Xiao Baizi serta Ye Wuling saat mendengar perkataan Xiao Tian. Sebuah hinaan yang ditujukan kepada Pemimpin mereka, memantik api amarah yang berada di dalam diri Ye Wuling. "Tolong jaga ucapan Anda, Tetua Pertama. Tidak seharusnya kau berkata seperti itu di hadapan murid-murid Klan Xiao." tegasnya
Sebagai teman seperjuangan Xiao Qinzi, bukan hal yang mengejutkan jika Ye Wuling membela nama baik sahabatnya dari hinaan Xiao Tian. Walaupun ada kesenjangan status di antara mereka. Namun Ye Wuling, tidak peduli ataupun takut terhadap hal seperti itu. Alis Xiao Tian pun langsung meruncing setelah mendengar ucapan Ye Wuling. Ia menatap wajah Ye Wuling dengan sorot mata yang dingin.
Akan tetapi, ia tidak membalas kata-kata Ye Wuling. Dirinya hanya menunjukkan ekspresi wajah kemarahan yang mendalam. Lalu, ia segera memalingkan wajahnya kembali ke arah Xiao Yun. Pandangannya menjadi berat dan intens, menunjukkan sikap otoritas dan keseriusan. "Meskipun kau sudah bisa berkultivasi dan mampu melakukan hal luar biasa pada Latihan Bertarung."
"Jangan pernah berpikir, kalau itu semua sudah cukup untuk menebus harapan seluruh anggota Klan Xiao yang telah kau hancurkan. Pandangan kami terhadapmu tidak akan berubah semudah itu." jelas Xiao Tian
Jemari Xiao Yun langsung mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Sebuah perasaan tidak berdaya pada dirinya yang sudah ia lupakan, karena gagal memenuhi harapan para anggota Klan Xiao. Kini datang kembali bersama dengan ucapan Xiao Tian. Kekecewaan seluruh anggota Klan Xiao, merupakan tekanan terbesar yang Xiao Yun rasakan selama ini. Tetapi, ini bukan saatnya untuk mengingat kembali hal-hal yang dapat mempengaruhi perjalanan kultivasinya.
Dengan ritme napas yang perlahan-lahan kembali teratur, Xiao Yun segera membalas kata-kata Xiao Tian dengan tenang. "Aku mengerti, Paman. Aku akan berusaha keras untuk menjadi seorang kultivator yang kuat, agar bisa membangun kembali harapan-harapan kalian dan tidak merusak nama baik Klan Xiao kemanapun aku pergi."
Sebuah ucapan yang menyiratkan keteguhan hati dari seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun. Membuat Xiao Tian mendengus pelan. "Hmph! Sebaiknya kau menepati perkataanmu itu." Setelah merasa puas berbicara dengan Xiao Yun. Tetua Pertama Klan Xiao tersebut segera pergi meninggalkan Lapangan Bela Diri bersama putranya. Kepergian mereka langsung melonggarkan bahu Xiao Yun, wajahnya yang sempat tegang kini kembali rileks dan nyaman. Setelah suasana di Lapangan Bela Diri menjadi lebih tenang. Ye Wuling bergegas menghampiri Xiao Yun yang masih terlihat lemas.
"Bagaimana kondisi tubuhmu saat ini, Yun'er?" tanya Ye Wuling
Xiao Yun segera menggelengkan kepalanya. "Kondisiku saat ini tidak terlalu buruk, Paman. Hanya ada beberapa luka di wajahku yang harus diobati dan sedikit rasa kebas di tangan kananku."
"Selebihnya, tidak ada yang harus dikhawatirkan.."
BRUK!
Tubuh Xiao Yun langsung jatuh kembali di pangkuan Xiao Baizi. Ye Wuling yang melihatnya pun sontak terkejut. Namun, sebuah senyum kecil justru merekah di sudut bibir Xiao Baizi. "Tidak perlu khawatir, Instruktur Ye. Tuan Muda Xiao Yun hanya tertidur karena kelelahan." jelas Xiao Baizi dengan nada yang lembut
Napas Ye Wuling yang sempat tertahan, langsung ia lepaskan dalam hembusan panjang dan tenang. Ia merasa lega sebab tidak terjadi hal buruk pada putra sahabatnya tersebut. "Dasar. Kau hampir membuat jantungku berhenti berdetak, Yun'er" ucapnya seraya tersenyum