JANGAN LUPA TEKAN FAVORIT AGAR TIDAK KETINGGALAN CERITANYA! Karya ini mengadakan Event. ikuti ceritanya dan menangkan hadiahnya.
Menikah muda adalah pilihan Putri Anis (18) dengan Angga Prabowo (20). Alih-alih karena beralasan tidak ingin berpacar-pacaran dan menghindari zina di jaman modern seperti ini. Akhirnya mereka memutuskan menikah tepat ketika Putri lulus sekolah.
Gosip simpang siur tentang pernikahan Putri dan Angga yang terkesan buru-buru membuat para lambe tureh memiliki cerita hangat untuk mereka gosipkan.
Kata menikah, terkadang dalam benak para muda-mudi adalah sesuatu yang mudah untuk di jalani.
Sang istri masak, mengurus rumah dan mengurus anak, dan suami bekerja di luar. Benar-benar terdengar sangat mudah.
Tetapi ... Apakah akan semudah itu?
Apakah beberapa kalian setuju dengan ku jika tidak akan semudah itu?
Mari kita simak bersama-sama cerita kelanjutannya seperti apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamaperi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22. hari pertama membuka toko.
"Berapa nyewa rukonya? Di jalan depan mahal setau bapak. Ada teman bapak, anaknya mau buka restoran di depan, harga sewanya 25 juta sebulan."
"Iya, pak. Awalnya harga sewa segitu, tapi ternyata setelah bertemu langsung dengan pemilik ruko, dia adalah kakak kelas Putri, pak. Putri di kasih diskon, jadi setahun cukup bayar 5 juta saja, pak." Putri menjelaskan dengan antusias.
"Syukurlah, kalo begitu. Punya banyak teman adalah rezeki juga. Oya, Aurel biar sama bapak saja ya. Bapak masih bisa kok jagain Aurel. Kasihan kalo dia kamu ajak ke ruko, kalo ada pembeli, gimana bisa momongnya?"
"Bener, pak? Bapak yakin, bisa momong Aurel. Tapi Aurel gak minum susu formula loh pak, dia cuma minum asi aja."
"Ya udah, kalo gitu biar bapak ikut kamu ke ruko ya?"
Putri mengangguk tersenyum.
Bapaknya adalah orang paling bisa mengerti dirinya. Di samping bapak, seolah semua beban hilang bersama dengan angin.
Pagi sekali, Putri dan bapak mengendarai motor menuju ruko.
Walaupun bapak sebenernya masih sakit, tetapi dia menguatkan diri agar terlihat kuat di depan anaknya.
Tidak mungkin bapak terlihat menyedihkan di depan anaknya yang terlihat rapuh. Bapak tidak ingin menambah beban Putri.
"Wah, ini rukonya, Put?" tanya bapak.
"Iya, pak!"
"Bagus dan besar. Kamu beruntung bisa nyewa ini, Put. Insyaallah, toko kue kamu pasti rame!"
"Amiin, makasih pak."
"Ini dua tingkat, ya?"
"Iya, pak. Putri berfikir, kalo Putri akan tinggal di lantai dua. Biar gak bolak-balik, pak."
"Ya .. ya .. itu ide bagus. Bapak dukung kamu."
Bapak dan Putri pun masuk ke dalam.
Pagi ini masih pukul 6.
Putri sudah siap untuk membuat kue-kue yang akan dia letakan di etalase. Juga membuat kue pesanan.
Bapak, dia membawa Aurel keliling taman anak-anak.
Bapak sangat senang bisa bermain dengan cucunya. Sudah lama, Putri tidak membawa cucunya pulang kerumah.
Menggunakan gendongan depan, bapak masih terlihat gagah untuk menggendong sang cucu.
Aurel, dia benar-benar anak yang sangat pintar. Selalu tertawa dan selalu senang. Melihat gelembung balon, Aurel pun langsung tertawa senang.
Bapak hanya bisa memeluk sang cucu dengan erat. Bapak berharap, jika dirinya sudah tiada, Cucu dan anaknya dapat hidup dengan bahagia.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pukul 10 pagi. Akhirnya Putri sudah siap membuka toko.
"Bismillah!" Putri berdoa lalu tersenyum.
10 kue tart telah siap. Juga beberapa kue pendamping lainnya.
Tidak hanya kue mewah. Putri juga membuat kue-kue tradisional. Seperti, arem-arem, lemper, risoles, juga donat.
Kue-kue ini yang akan Putri diskon. Sedangkan untuk kue tart, Putri masih memberikan harga normal.
Kalian pasti bertanya-tanya. Dari mana Putri memiliki semua alat-alat buat kue dengan versi besar. Karena, di rumah Putri hanya mengunakan open kecil juga mesin giling kecil.
Yah, ini semua adalah alat-alat milik Ziko.
Ziko meminjamkan semua alat-alat untuk membuat kue kepada Putri.
Karena, di Restoran Ziko sudah tidak menyediakan hidangan penutup yang manis.
Ziko lebih fokus memperbanyak porsi menu utamanya, yaitu bebek bakar.
Resep yang Ziko temukan satu tahun lalu, membuat menu bebek bakar ini melonjak laris-manis 100%.
Baru satu jam buka, kue-kue Putri sudah hampir habis. Putri tidak pernah menyangka, jika respon semua pelanggannya sangat bagus.
Hanya mengandalkan media sosial. Kini, Putri lebih di banjiri pesanan.
Putri sangat keteteran. Beruntung, Sani dan Ziko datang tepat waktu.
"Haaay! Apakah ada yang sedang membutuhkan bantuan!?" Sani tersenyum mengejek ke arah Putri.
"Ya, ya ... aku akan traktir kalian bakso setan jika membantu ku hari ini!" Putri pun membalasnya dengan senang hati.
"Good! Aku akan pesan dua porsi!" gurau Ziko.
"Oke, dua porsi tanpa es teh!" Putri mengedipkan matanya, membalas gurauan Ziko.
"Isht.. isht ..!" Ziko pun tertawa menggelengkan kepalanya.
Sani dan Ziko pun mulai membantu Putri.
Sani melayani pembeli yang datang. Sedangkan Putri dan Ziko berada di dapur untuk membuat dan menghiasi kue.
"Put, di mana Aurel?" tanya Ziko.
"Astaghfirullah halazim. Aurel tadi di bawa sama bapak aku jalan-jalan ke taman. Putri belum sarapan sama bapak. Kenapa belum pulang juga ya?" Putri pun baru teringat dengan bapaknya dan anaknya.
"Mungkin mereka sudah beli makanan di luar." Ziko mencoba menenangkan Putri.
"Iya sih, aku juga tadi udah bilang ke bapak buat belikan Aurel roti." Putri pun bernafas lega. Dia berharap bapak'nya benar-benar bisa menjaga Putri.
Ziko melihat Putri yang sangat gesit dan cepat dalam mengolah segalanya.
Tanpa berbicara dan tanpa menghiraukan keringat yang keluar dari keningnya.
Ziko pun berinisiatif mengelap keringat Putri. Mengingat tangan Putri yang kotor karena butter.
Putri terkejut dengan sikap Ziko yang tiba-tiba.
"Keringat kamu hampir jatuh. Perhatikan kebersihan juga. Sayang jika kerja keras kita ada komplain." Ziko menjelaskan.
"Oh, hehehe. Iya kak, maaf banget ya. Aku terlalu serius, jadi kurang memperhatikan." Putri pun tersenyum canggung.
Ziko hanya tersenyum. Dia membukakan botol air dingin untuk Putri.
"Nih, minum dulu. Biar seger tenggorokannya."
"Tau aja aku lagi haus."
"Iya, soalnya aku juga haus. Hehe."
Sani yang baru selesai melayani pelanggan pun cemberut ketika melihat Ziko dan Putri minum air dingin dengan nikmat. Terlihat segar sekali.
"Ya ya ya... Kalian bersantai-santai minum air dingin. Kalian tidak tahu jika kepala aku terasa panas, serasa ingin meledak!" tutur Sani mengomel.
"Mulai-mulai! Si ratu lebay!" ejek Ziko.
"Kalian tahu, dia pikir aku bisa di kelabui. Aku sudah memberikan kembalian, tapi dia bilang jika aku belum memberikan kembalian. Heh, aku ancam akan melihat CCTV, dia langsung kabur. Hahaha!" Sani tertawa membanggakan dirinya sendiri.
"San, tapi kita kan tidak memasang cctv di sini," sahut Putri.
"Oh, iya juga ya. Put, kita harus memasang cctv. Kejahatan bisa datang kapan saja. Seperti tadi ini, baru saja toko di buka, sudah ada orang resehnya."
Putri terdiam. Sebenarnya dia ingin, tetapi dia juga belum ada modal.
Ziko dan Sani tahu apa yang membuat Putri terdiam.
"Put, nanti biar aku bilang sama kak Mico. Dia juga punya pabrik elektronik. Aku nanti akan meminta bon sama dia." Sani memberi saran. Karena Sani tahu, jika di beri, Putri akan menolaknya.
"Nggak usah, San. Nanti kalo ada uangnya, baru aku beli." Putri menolak halus.
"Apa yang mau di beli!?" Suara bapak menganggetkan semua orang.
"Bapak? Aurel tidur?" tanya Putri.
"Iya. Cucuku sangat pinter sekali. Makannya banyak, minum air putih juga banyak. Jadi bapak gak bingung." Bapak memberikan Aurel kepada Sani yang merebutnya dari genggamannya.
"Anda benar, pak. Ponakan ku memang sangat pintar. Emuach!" Sani pun menggendong dan menciumnya dengan gemas..
Bapak yang melihat cucunya yang sedang tidur pulas di ules-ules pun merasa sedikit khawatir.
"Ah, ya ya. Cucuku memang pintar, tapi biarkan dia tidur dulu."
Bapak pun merebutnya kembali dan merebahkan Aurel di tikar yang mereka bawa.
Sani hanya bisa cemberut. Baru saja ingin menggoda ponakannya, sudah di rebut kembali.
Bapak pun kini duduk di antara mereka ber-tiga.
"Bagaimana?" tanya bapak.
Sani pun menjelaskan apa yang terjadi hari ini. Dia ingin jika ruko Putri di pasang cctv. Tetapi Putri menolaknya.
Bapak hanya tersenyum. Lalu dia mengeluarkan sebuah ATM untuk di serahkan ke pada Putri.
"A-apa ini, pak?" tanya Putri.
"Kamu ini bagaimana, bapak masih ada, jadi jika kamu kesulitan, datanglah pada bapak. Insyaallah bapak akan bantu semampu bapak."
Putri hanya bisa membisu. Dia pun akhirnya memeluk bapaknya.
Bapak melihat Sani dan Ziko yang juga menatap haru kepada Putri, ia pun mengulurkan tangannya..
Akhirnya, mereka ber-4 pun berpelukan bersama. Putri benar-benar merasa sangat beruntung. Memiliki bapak dan sahabat yang bisa membantunya dalam suka dan duka.
...****************...
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
......................
slm sukses
semoga sukses selalu untuk semua karya-karya nya 🥰
Happy Ending
My Bestie mampir