Orland Dmytry harus kehilangan semua yang dia miliki dalam satu malam akibat kebodohan yang dia lakukan.
Cristin Bailey mendapati suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di malam pernikahannya dan juga harus mendengar jika suaminya menikahinya karena uang.
Rasa sakit hati dan putus asa membuatnya pergi di malam pernikahannya sampai akhirnya membawa Cristin ke stasiun dan di sanalah Cristin bertemu dengan Orland yang hendak bunuh diri karena putus asa.
Cristin menyelamatkan hidup Orland dan menawarkan uang satu juta dolar jika Orland bersedia melewatkan malam panas bersama dengannya.
Orland yang putus asa bersedia menerima tawaran Cristin dan menjadi gigolo untuk satu malam dan setelah itu mereka berpisah tapi beberapa tahun kemudian mereka bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda.
Mampukah Orland mencairkan hati Cristin yang sekeras batu dan bisakah dia membantu Cristin terbebas dari suaminya yang ternyata tidak hanya menginginkan uangnya saja tapi juga menginginkan ginjalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni Juli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendapatkan Ijin
Cristin belum mengerti melihat keakraban ayahnya dan juga Orland. Apa mereka sudah saling mengenal sebelumnya? Kenapa dia tidak tahu akan hal ini.
Ayahnya masih memeluk Orland sambil menepuk-nepuk bahunya. Cristin terlihat seperti orang linglung, sepertinya dia sudah melewatkan satu hal.
"Akhirnya kau datang juga, aku kira kau tidak akan datang," ucap Grifin.
"Aku sudah datang sedari tadi, Tuan Bailey. Tapi aku tidak bisa melewatkan wanita cantk ini," ucap Orland seraya melirik ke arah Crstin.
"Wah, apa kalian sudah saling mengenal?" tanya ayah Cristin.
"Stop, seharusnya itu pertanyaanku, apa Daddy sudah mengenal Orland?" tanya Cristin.
"Tentu saja, bagaimana mungkin Daddy melewatkan pemuda yang hebat ini. Daddy ingin memperkenalkan kalian tadinya agar kau bisa banyak belajar darinya tapi ternyata kalian sudah saling mengenal. Itu bagus, Daddy sangat senang."
"Anda terlalu memuji, Tuan Bailey. Aku bisa seperti ini berkat bantuan seorang wanita hebat yang aku temui tanpa sengaja," ucap Orland, matanya kembali melirik ke arah Cristin.
Cristin melotot, apa yang ingin dikatakan oleh pria menyebalkan itu?
"Wah, siapa wanita hebat itu? Apa dia pacarmu?"
"Aku rasa Cristin lebih tahu," Orland tersenyum lebar, Cristin masih melotot dengan ekspresi wajah tidak senang.
"Aku sangat senang kalian sudah saling mengenal, ini sangat bagus. Cristin, Daddy ingin kau banyak belajar dari Orland. Dia sangat hebat karena dia bisa mendirikan perusahaannya hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja," ucap ayahnya.
"Terima kasih, Tuan Bailey. Ini adalah kesempatan emas bagiku," Orland kembali tersenyum lebar, sedangkan Cristin menahan kedongkolan di hati.
Dia tidak menyangka ayahnya bisa mengenal pria menyebalkan itu bahkan sekarang dia harus semakin terlibat dengannya padahal dia pikir mereka tidak akan bertemu lagi setelah proposal itu selesai tapi mereka justru akan terlibat semakin jauh. Sungguh menyebalkan, rasanya ingin dia tendang kaki Orland agar dia puas.
"Kenapa aku harus belajar darinya, Dad? Aku bisa belajar dengan Daddy tanpa harus belajar darinya," ucap Cristin.
"Ayolah, kau bisa belajar darinya bagaimana memuai bisnis dari awal," uca aayahnya.
"Tenang saja, Tuan Bailey. Aku akan mengajarinya dengan benar."
Cristin mengumpat dalam hati, pria itu benar-benar pintar memanfaatkan keadaan bahkan begitu mudahnya mengambil simpati ayahnya.
"Mohon bantuannya, Orland. Aku harap kau sabar karena sikapnya yang sedikit galak," ucap Grifin sambil menggoda putrinya.
"Dad!" Cristin tampak kesal. Ayahnya tertawa, sedangkan Orland terkekeh.
"Kau memang harus banyak belajar, Cristin," ucap ibunya.
"Aku tahu, Mom," ucap Cristin. Kenapa harus dengan pria menyebalkan itu? Tapi dia harus bersikap biasa saja agar kedua orangtuanya tidak curiga.
"Jika begitu, bolehkah aku mengajak Cristin nuntuk pergi camping? Ini bisa jadi kesempatan bagi kami untuk saling mengenal satu sama lain," ucap Orland, dia tidak akan lupa dengan tujuannya.
"Camping?" kedua orangtua Cristin melihat ke arah putrinya. Apa hubungan Cristin dan Orland tidak seperti yang mereka kira? Ini bagus, setidaknya putri mereka mau dekat dengan laki-laki walau mereka tidak tahu bagaimana mereka bisa bertemu.
Cristin memberikan kode pada ayahnya agar ayahnya menolak tapi sayangnya, sang ayah pura-pura tidak melihat begitu juga dengan ibunya
Cristin semakin kesal, kenapa ayah dan ibunnya tidak membelanya? Entah kenapa dia jadi curiga, jangan-jangan kedua orangtuanya ingin mendekatkan mereka berdua dan memang itulah rencananya. Mereka melakukan hal itu agar Cristin mau dekat lagi dengan seorang pria.
"Bagaimana, Tuan Bailey, Nyonya? Aku boleh bukan menculik putrimu dan membawanya menikmati alam?" tanya Orland lagi.
"Tentu saja boleh," jawab Grifin dan tentunya hal itu membuat Cristin terkejut dan melotot ke arah ayahnya.
"Tapi Cristin belum pernah camping, jadi kau harus memaklumkannya," ucap ayahnya lagi.
"Tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dengan baik," Orland tersenyum lebar. Matanya tidak lepas dari Cristin sedangkan Cristin semakin dongkol.
Kedua orangtuanya menyetujui bukan tanpa asalan, mereka ingin putri mereka melakukan hal baru agar dia tidak terlalu menutup diri apalagi sepertinya Orland pria yang baik.
"Baiklah, nikmati pesta ini. Kami harus menyapa tamu lainnya," Ucap ayah Cristin.
"Terima kasih, Tuan Bailey."
"Ah, satu hal lagi anak muda. Kau harus mengajaknya berdansa, jangan lupa!" ucap ayah Cristin lagi.
"Pasti," Jawab Orland sambil tersenyum.
Kedua orangtua Cristin pamit pergi karena mereka harus menyapa tamu lainnya, sedangkan Cristin semakin kesal saat Orland memandanginya sambil tersenyum.
"See, aku sudah mendapatkan ijinnya," ucap Orland.
"Kau sangat hebat, Tuan Dmytry," cibir Cristin dengan nada kesal.
"Tidak, jangan memuji," ucap Orland.
"Aku tidak memuji, aku sedang menyindirmu!" Cristin semakin kesal.
"Jangan marah seperti itu, aku jadi ingin membawamu pulang dan melemparmu ke atas ranjangku!"
"A-Apa?" Cristin telihat gugup dengan wajah memerah.
Orland terkekeh dan meraih kedua tangannya, dia benar-benar senang melihat ekspresi Cristin yang seperti itu.
"Mau berdansa denganku, Nona?" kedua tangan Cristin diangkat dan kecupan Orland mendarat di sana.
"Tidak!!" tolak Cristin. Dia hendak menarik tangannya tapi sayangnya Orland tidak mau melepaskannya.
"Ayolah, nikmati malam ini. Jangan terlalu serius karena aku hanya menggodamu saja," uap Orland.
Cristin diam dengan perasaan kesal tapi akhirnya dia mengiyakan ajakan Orland. Mungkin yang pria itu katakan benar, sepertinya dia yang terlalu serius. Dekat bukan berarti akan terjadi sesuatu dengan mereka. Selama dia tidak membiarkan Orland menerobos masuk ke dalam pertahanan yang dia bangun, maka mereka hanya akan menjadi sahabat saja. Lagi pula dia tidak boleh terlalu percaya diri karena bisa saja Orland sudah memiliki seorang kekasih saat ini.
Mereka berdua sudah melangkah menuju lantai dansa, mereka berdua berbaur dengan tamu lain yang sedang bergerak mengikuti irama musik.
Cristin tampak canggung saat tangan Orland melingkar di pingganggnya. Jantungnya bahkan berdebar karena mereka begitu dekat. Balaian napas hangat Orland dapat dia rasakan, pria itu bahkan menatapnya sambil tersenyum.
"Jangan memandangi aku seperti itu!" ucap Cristin.
"Aku tidak akan bosan memandangimu, Cristin," tubuh Cristin diputar dan setelah itu dia kembali ke dalam pelukan Orland.
Kini kedua tangan Orland sudah berada di pinggangnya, Orland juga menempelkan dahi mereka berdua.
"Aku akan menjemputmu besok siang," ucapnya.
"Besok?"
"Yes, aku akan membawamu camping ke tempat indah dan aku jamin kau akan suka."
"Berapa lama??" tanya Cristin lagi.
"Beberapa hari. Tidak perlu takut, aku tidak akan melakukan apa pun padamu," jawab Orland seraya mencium pipinya, tentu hal itu membuat Cristin kesal tapi pria itu kembali memberikan ciuman lembut.
"Kau!"
"Ssst," Orland kembali mencium wajahnya dengan lembut.
Cristin menahan napas, sial, siapa yang mengijinkan pria itu menciumnya? Tapi entah kenapa dia tidak menolak, matanya bahkan terpejam.
"O-Orland," Cristin meletakkan kedua tanganya di dada Orland, dia ingin menjauhkan tubuh pria itu karena dia merasa bahaya jika dia membiarkan mereka semakin dekat lebih dari itu.
"Nikmati saja, Cristin," Orland meraih kedua tangan Crisitin dan meelingkarkannya ke lehernya.
Cristin diam saja, ya sudahlah. Anggap dia sedang membayar pria itu lagi jadi dia akan menikmati pestanya.
Mereka berdua kembali bergerak menikmati irama musik merdu dan menikmati kebersamaan mereka sedangkan dari kejauhan kedua orangtua Cristin sangat senang melihat putrinya. Semoga saja putrinya bisa sedikit berubah setelah mengenal Orland.