Hanna seorang gadis indigo, terpaksa memainkan peran permainan hantu semacam bloody mary, demi mencari keberadaan raga teman baiknya dan sang guru yang tertinggal di camping bersama tanpa jejak.
Hanna dengan Ryan harus berkerja sama membantu dan mencari tahu, kenapa mereka diincar oleh arwah penasaran yang menginginkan jiwa mereka, akan tetapi melibatkan nenek tersayang Hanna hilang.
Hanna terpaksa memainkan permainan terkutuk melibatkan jin dan hantu, karena dua hal. Membantu kekasih Ryan yang hilang, dan mencari keberadaan sang nenek tersayang di waktu yang bersamaan.
Hanna dan Ryan, kembali berpetualang dengan berbagai banyak arwah negatif, sehingga akhirnya mereka mengetahui yang terjadi sebenarnya.
Yuks ikutin kisah Hanna!
Gift + Vote.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon oktiyan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
WUJUD GHAIB
Hanna pun melangkahkan kakinya, masuk ke dalam kuil. Ryan berlari karena takut, yang penasaran juga, tak tanggung-tanggung untuk melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan juga.
Sementara itu, Ryan merasa ingin buang air kecil. Dia berbalik, lalu melangkah berlawanan arah dengan sahabatnya.
"Hanna, gue cari toilet dulu." teriak Ryan.
"Hey anak muda?" Seruan itu terdengar setelah Ryan selesai buang air kecil.
Ryan sontak berbalik. "Eh buju buset kodok tipes lu-eh kodok tipes lu," celetuk Ryan latah.
Pandangan Ryan tertuju pada seorang pria berjanggut lebat, dengan kumisnya yang hampir menutupi mulut. Usianya sekitar enam puluhan.
"Sedang apa kau di sini? Di sini sangat bahaya." Lelaki itu berucap waswas.
Ryan mengerutkan dahinya. "Emang napa, Kek, eh tapi kakek manusia kan?" tanya Ryan. Perasaannya juga sudah tak tenang melihat raut wajah lelaki itu.
"Kamu sendirian saja?"
"Kagak lah. Yah kali gue sendirian. Gue sama sahabat gue. Kenapa emang? Kepo bat sih lu." Ryan berucap dengan sikapnya yang masih sama saja.
"Di mana mereka? Kenapa hanya kamu seorang?"
"Mereka di kuil sono noh," tutur Ryan menunjuk ke arah kuil yang tampak dari celah-celah semak. "Emang napa sih lu? Gua nanya tadi kagak dijawab. Malah banyak nanya lagi."
"Astaga. Ayo cepat ke sana. Jangan sampai mereka memasuki kuil." Lelaki itu memegang tangan Ryan, menarik dia agak kasar.
"Eh buset. Sakit woy. Kagak sopan bat jadi orang. Udah tua juga kagak tau tata krama," gerutu Ryan, tanpa menyadari bahwa ucapannya itu pun sama sekali tak ada tata krama kepada yang lebih tua darinya.
Sementara di dalam kuil, Hanna menjelajahkan matanya hingga ke sudut-sudut ruangan. Beberapa bilik mereka masuki, hingga di suatu tempat Hanna berpijak, membuatnya ingin berlama-lama di tempat itu.
"Eh, Kok di sini ada ranjang yah?" ucap Hanna.
Matanya disambut oleh ranjang reot beralaskan kain putih, tetapi tampak kusam dan lusuh. "Keknya bangunan ini belum lama tak ditinggali deh. Buktinya meski ranjang ini terlihat reot, tapi masih kuat buat gue duduki." Hanna berucap saat dia duduk di atas ranjang, karena lelah.
"Ta-tapi, di-dilihat dari tampilan bangunannya. Ke-keknya ini u-udah tak be-berpenghuni se-selama bertahun-tahun deh." tersenggal Hanna, karena haus.
"Ah nggak usah pikirin itu dah. Intinya gue suka tempat ini. Gimana kalo kita nginap di sini untuk malam ini. Biar besok lanjutin lagi perjalanan."
Mata Hanna sontak agak melotot. "Kok Ryan kagak seperti yang biasanya yah?" batin Hanna, melihat Ryan.
Ia segera menghampiri Ryan, yang berdiri tegap melewatinya begitu saja.
"Ryan, mau kemana jauh banget sih. Jangan naik tangga, itu tangganya terlihat ga aman." teriak Hanna, ia memberhentikan langkah Ryan tapi Ryan tak jawab sepatah katapun.
Ryan tampak memicingkan mata. Pandangannya menyambut Hanna dari jarak agak jauh, ia tersenyum menampaki gigi dan kembali pergi.
"Ryan, lo kenapa sih?" tanya Hanna mendekat ke arah tangga, tapi langkahnya dihentikan saat seseorang menepuk bahunya.
"Nah akhirnya keluar jug--aaa!" Ryan berucap, sontak Hanna berteriak dan berbalik ke arah punggungnya.
"Haaah, kok lo dibelakang gue Ryan?" panik Hanna.
"Gue cariin, lo malah disini. Gue ketemu kakek ini. Nyusul cari lo." Ryan menunjuk kebelakang punggungnya, tapi tak ada seorang pun kakek.
"Jiahaha, dia ilang." rengek Ryan.
Begitu juga Hanna, ia terdiam pucat pasi. Karena ia juga melihat Ryan berada naik diatas tangga dengan sikap aneh. Dan akhirnya Ryan asli menepuknya dan berada di depannya saat ini.
"Plaaak!" Hanna menampar Ryan.
"Adaaw,, ih kenapa lo nampar gue, Hanna?" meringis Ryan.
"Lo bilang ada kakek disamping lo, tapi ga ada. Dan gue baru lihat lo naik ke anak tangga situ, jadi mastiin lo Jin atau beneran Ryan."
"Waduh."
Mendengar hal itu, Ryan menciut dan memegang ujung baju, dilengan Hanna. Untuk segera pergi dari kuil ini.
"Hanna, sampai kapan kita kejebak dihutan gini. Mana udah laper beud, ya tuhan. Mati matilah kita sia sia, tapi aku belum nikah. Belum punya pacar, cita citaku pengen punya cewe cantik dan pemberani buat nikahinya. Aku mohon tunjukan jalan keluar dari hutan ini." rengek Ryan, membuat Hanna mengerewes muka Ryan agar diam.
"Kenapa kamu anak muda?" ucap suara itu, Hanna dan Ryan sontag mencari sumber suara.
"Kagak," ucap Ryan dengan tangan gemetar.
Bukan tanpa alasan Ryan, Hanna berteriak. Di sela langkah menyaksikan siluet hitam bertubuh sekitar tiga meter tepat di belakang Hanna. Matanya berwarna merah dengan tanduk yang memanjang ke depan.
Hanna melangkah mundur sedikit. "Maaf, Pak. Bapak siapa yah? Dari tadi saya nanya, tapi belum dijawab. Kami disini bukan tidak berniat baik, kami tersesat ingin pulang. Kami berpisah dari regu camping lain."
"Omong kosong kalian anak muda yang banyak berbohong sama saja, saya jelaskan siapa saya. Yang penting tinggalkan dulu tempat ini. Ikut saya atau tetap di sini, terserah kalian."
"Ng-ngak, Pak. Ki-kita bakal i-ikut kok," sela Ryan. Dia menatap Hanna, berisyarat untuk ikuti saja apa yang dilakukannya.
"Ssst! Ryan, lo beneran mau ikut dia?" bisik Hanna.
"Kita keluar dan pulang dulu lah, gimana caranya. Lemes, capek gue Hanna. Mau tuh orang tinggi tiga meter jin sekalipun, gue mau pulang aja deh."
Kalian ragu, tidak akan bisa pulang!! tapi jika kalian tidak pergi dari tempat ini, maka kalian akan bernasib sama dengan teman teman kalian yang tidak selamat!! ujar sosok tinggi tiga meter itu.
Hanna dan Ryan syok!!
Lelaki itu berbalik dan melajukan langkahnya, ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ryan, Hanna pun langsung mengambil langkah berlari kecil karena langkah lelaki itu begitu cepat. Disusul Hanna dengan lari kecilnya, begitu juga Ryan.
"Kira kira dia beneran nunjuk jalan ga sih Han? gue udah lemes, laper dan lelah banget nih. 3L."
"Doa, jangan ngomong aja lu. Lu cowok kudunya lindungin gue sebagai cewek." celetug Hanna.
Sudah agak jauh mereka dari kuil, langkah lelaki itu tampak diperlambat. Lelaki itu berbalik, menatap Ryan dan Hanna.
"Jadi gini. Perkenalkan, saya Arang Oro. Warg--"
"Aa-ak!" gumam Ryan, memotong ucapan lelaki itu. Tampak Ryan seperti orang tercekik, hingga napasnya terengah-engah.
"Ryan? Lu kenapa Ryan?" teriak Hanna panik.
Hanna dan lelaki bernama Arang Oro sontak terbelalak. Terkejut dengan Ryan yang tiba tiba saja seperti itu.
"Aa-ak!" tukas Ryan. Dia mengangkat tangannya dengan mata melotot, seperti ingin mengucapkan sesuatu.
Belum saja Ryan mengangkat tinggi tangannya, dia langsung tumbang dan sontak kejang-kejang.
"Ryan?" teriak Hanna sangat keras.
"Ucapkan doa dek! saya akan bantu, mengusir hantu manis mbak kunti tutup botol yang menyukai teman priamu ini. Dia mengikutinya dan membuat teman pria mu ini mati seperti yang lainnya."
"Apa, tapi kita ga berbuat aneh kek! eh, pak! maaf jika saya salah."
"Memang kalian bukan yang berbuat aneh, tapi dari peserta camping kalian. Kalian terlibat didalamnya, cari mata air kering, desa di tengah hutan mati ini. Cuci muka dan badan tanpa melepas pakaian, bersihkan diri dan berdoa. Konon bala itu akan hilang, kalian bisa menemukan bukti, teman kalian dimana dan bisa keluar dari hutan ini. Satu lagi, jangan sesekali datang ketempat ini lagi!"
"Baik kek, tapi ke- na-pa...?" sepatah Hanna ingin bertanya lagi, kakek itu sudah menghilang. Ryan pun kembali sadar, dengan kebingungan.
"Hanna, gue kenapa. Kok bisa duduk tiduran gini sih?" tanya Ryan yang bangun, sementara Hanna kembali memegang erat kalung, karena hatinya benar benar takut dan gundah.
'Petaka macam opo ini?! sudah berapa hari Hanna tersesat, Tuhan berikan jalan untuk terakhir kali. Janji Hanna, akan membantu hantu tersesat jiwa yang tidak bersalah nanti.' batin Hanna dan menangis, kali ini tidak peduli Ryan melihat, karena pertama kalinya Hanna menangis dengan panik.