Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."
Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."
Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."
Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."
Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mansion VS Apartemen
Lagi, aku digigitnya. Rasanya bahkan lebih sakit dari gigitan sebelumnya.
"Awhh, Hanin, kamu ---." Terpaksa kulepas rangkulanku dari tengkuknya.
"Dasar egois! Manusia tak beperasaan!" umpat Hanin sambil membuka pintu dan berlari keluar.
"Kak Listiii," aku masih bisa mendengar teriakannya.
"Lho, mata lu kenapa?"
"Kelilipan Kak," jawab Hanin.
Sambil memegang bibirku aku menguping percakapan mereka. Letak toilet pria dan wanita memang berdampingan. Aku keluar dari toilet menuju wastafel untuk becermin.
"OMG!"
Bibirku bengkak, bahkan sedikit kebiruan. Jika sudah seperti ini, aku harus mencari alasan yang tepat tentang penyebabnya. Tapi bengkak ini sangat kentara. Untung saja aku ingat kalau di ruanganku masih ada masker medis. Dengan berat hati, sambil menunduk, akupun bergegas ke ruanganku untuk mengambil masker.
Aku kembali ke ruang rapat dengan memakai masker. Hanin pasti tertawa puas saat melihatku.
"Maaf, aku tadi batuk-batuk, jadi pakai masker," jelasku pada seluruh anggota rapat. Aku sengaja tidak menatap ke arah Hanin agar aku tidak ingin menatapnya lagi dan lagi.
"Baik, mari kita lanjutan," ucap Tania.
Entah berapa lama aku mesum di kamar mandi, yang jelas Bu Caca masih presentasi. Artinya belum terlalu lama. Sial, walau aku sudah berusaha menahannya, tapi tetap saja spontan melirik ke arah Hanin. Untungnya dia sedang menunduk.
Saat aku bicara, Hanin sama sekali tak melihatku. Dia tetaf fokus pada laptopnya. Tapi tak apa, setidaknya hari ini aku sudah mendapatkan vitamin C dari Hanin.
Hmm, rasanya manis sekali.
...***...
Dewi Laksmi
Entah kapan kesabaran ini akan berakhir. Aku yang lemah di hadapan mas Zul, hanya bisa pasrah saat melihat beberapa perubahan pada dirinya. Ya, aku memang belum lama mengenal mas Zul secara personality. Semua informasi tentangnya aku dapatkan sendiri dari papa, mama dan kakaknya.
Hari ini, sebenarnya tidak ada jadwal ngajar, namun aku mengurungkan niatku ikut ke kantor karena mas Zul melarangku. Beberapa hari ini, aku baru menyadari jika mas Zul selalu bersemangat saat hendak pergi ke kantor.
Padahal, sebelumnya selalu bermalas-malasan dan beralasan jika ia terpaksa menjadi direktur karena menuruti keinginan papanya.
Entah kenapa akhir-akhir ini, hatiku selalu merasa tidak tenang. Ya, aku sadar benar jika mas Zul menikahiku karena kehendak orang tuanya.
Tapi saat ini dia adalah suamiku, aku berhak tahu semua hal yang berhubungan dengannya. Entah itu sahabat, jejaring kerja, ataupun orang-orang yang berada di dekatnya.
"Maaf Bu, saat ini data CCTV yang Ibu minta sedang dilakukan penyelidikan. Jadi kami tidak bisa memberikannya pada Ibu."
Aku masih mengingat pernyataan dari petugas hotel saat aku ingin menyelidiki rekaman CCTV pada malam itu.
"Huft," aku menghela napas.
Jangan ditanya lagi bagaimana sakitnya perasaanku saat ini. Rasa sakit ini muncul karena aku menduga jika mas Zul belum mencintaiku. Tapi siapapun itu, tolong jangan memaksaku untuk melepaskan mas Zul. Kenapa? Karena aku teramat sangat mencintainya.
Aku bahkan rela tersakiti asalkan tetap berada di sisinya. Rela tersakiti disini maksudnya yaitu aku rela menahan diri dan egoku demi keutuhan rumah tangga kami.
Namun di kamusku, tidak ada kata rela jika itu berhubungan dengan orang ketiga. Mas Zul itu milikku, takkan kubiarkan siapapun merebutnya. Aku tak peduli lagi bagaimana pernikahan ini berawal, karena yang harus kuperjuangkan sekarang adalah kokohnya mahligai ini.
Karena tidak ada kegiatan, aku iseng membuka tas kerja mas Zul yang ia gunakan saat pergi ke Bandung.
Padahal, aku telah menyiapkan banyak hal untuk bermalam di Bandung, tapi hanya karena aku menolak jalan sore-sore dan memilih tetap di hotel, mas Zul malah memutuskan untuk kembali ke Jakarta.
"Apa ini?"
Aku mengernyitkan alis, ada kotak kecil berisi emas murni berbobot 3 gram di dalam tas mas Zul.
"Untuk apa ya?"
Setahuku, kalaupun mas Zul membeli emas batangan untuk ditabung, biasanya beratnya paling kecil 10 gram. Aku keluarkan kotak itu, lalu kusimpan di atas nakas.
Apa mas Zul mau membuat cincin spesial untukku? Bisa saja, kan?
Membayangkan hal itu, hatiku seketika berbunga-bunga. Mas Zul memang selalu memberikan apapun yang kuminta, dia juga memberiku nafkah bulanan dengan jumlah yang waw. Tapi aku justru mengidamkan hal-hal sederhana yang sifatnya romantis.
Saat aku ulang tahun, Mas Zul memberiku kado mobil mewah, padahal yang aku inginkan adalah makan malam romantis dan setangkai bunga mawar. Sedari kecil, aku sudah disuguhkan kemewahan oleh papi dan mamiku, jadi bagiku mobil mewah adalah hal yang sangat biasa.
Lantas kurebahkan tubuhku di kasur super besar ini. Aku mengusap perutku, selalu berharap agar segera memiliki momongan. Alangkah bahagianya jika aku memiliki buah hati dari mas Zul. Aku bahkan sudah membeli berbagai macam tespek untuk mempersiapkan kehamilanku.
Tadi, setelah mas Zul berangkat kerja, aku menelepon paklik Aryo dan meminta bantuannya untuk mengawasi mas Zul. Aku mengatakan pada paklik, kalau tindakanku adalah langkah preventif untuk mencegah kehadiran pelakor yang belakangan ini kasusnya sedang merebak.
Paklik tertawa terbahak-bahak saat mendengar permintaanku, tapi ia mengatakan bersedia membantuku. Kata paklik, ia akan menempatkan bawahan kepercayaannya untuk memata-matai mas Zul.
Tapi jangan dikira jika paklik membantuku tanpa pamrih. Setelahnya, ia lantas memintaku agar papiku mau berinvestasi di perusahaan baru milik istrinya paklik.
Mata-mata dari paklik sudah bekerja mulai hari ini. Aku sudah mendapatkan kontaknya. Mata-mata ini akan melaporkan kegiatan mas Zul setiap jamnya.
.
Sekarang sudah pukul satu siang, namun tidak ada laporan apapun.
"Mana laporanmu?" Aku mengirimkan pesan kepada mata-mata itu.
"Hari ini, pak Zul rapat dengan divisi mutu, lanjut rapat dengan divisi operasional. Pukul 14.00 WIB sd. pukul 15.00 WIB akan ada pertemuan dengan dewan pengarah. Pukul 15. 30 WIB, jadwal pak Zul pulang." Balasan dari mata-mata yang identitasnya minta dirahasiakan.
"Sekarang suamiku lagi apa?" tanyaku.
"Jam 12.30 WIB sd. 13.30 WIB, jadwalnya pak Zul isoma, Bu." Balasnya.
"Suamiku biasanya makan di mana? Di kantin?"
"Makanan untuk pak Zul selalu diantarkan ke ruangannya."
"Oh, oke thank's ya. Hari ini, aku rasa laporanya cukup. Setelah pertemuan dengan dewan pengawas, gak ada agenda lain, kan?"
"Tidak ada, Bu."
"Yes, yes, yes," aku kegirangan. Setelah mendapat informasi dari mata-mata itu, aku merasa tenang.
Lalu tiba-tiba jadi teringat percakapan dengan paklik tentang obat penggugah itu. Aku menyeringai. Jadi penasaran ingin merasakan sensasinya. Kata paklik, kalau aku mau lagi, paklik punya sediaannya.
"Paklik, aku mau obat yang paklik berikan saat aku dan mas Zul malam pertama. Kirim sekarang, hehehe." Pesan terkirim.
"Hahaha, dasar nakal, kamu ketagihan ya?"
"Hehe, ya Paklik," balasku, berbohong. Sebab faktanya pada malam itu aku terlambat menemui mas Zul.
...***...
Daini Hanindiya Putri Sadikin
"Kenapa si, Dai? Perasaan dari tadi lu gak semangat deh," ucap Kak Listi.
"Mungkin hanya perasaan Kakak saja," sangkalku, sambil merapikan berkas.
Kepalaku masih dipenuhi oleh kejadian di toilet itu. Serius, aku sebal sekali sama dia, kalau pak Zul saat ini ada di hadapanku, ingin rasanya kucoret mukanya menggunakan spidol permanen.
"Hahaha, okay, okay, BTW thank's ya Dai oleh-olehnya."
"Sama-sama, Kak."
Memang sudah jadi kebiasaanku berbagi oleh-oleh dari Bandung. Seluruh staf divisi kebagian, termasuk bu Caca.
Waktu menunjukkan pukul 15.54 WIB, enam menit lagi kami pulang. Seluruh staf divisi mutu tampak sibuk merapikan kubikelnya masing-masing.
"Dai, maaf ya. Gua gak bisa anter lu, soalnya hari ini diantar jemput sama Akmal. Doi lagi cuti kerja, hahaha biar bisa peluk-pelukan, gua nyuruh dia jemput pakai motor."
"Ya ampun, gak apa-apa, Kak. Lagian aku bukan anak kecil kok. Aku bisa pulang sendiri."
Akhirnya waktu yang dinanti tiba jua. Aku bergegas meninggalkan ruangan. Staf direksi termasuk direktur biasanya pulang lebih cepat tiga puluh menit. Aku merasa lega karena yakin jika direktur mesum yang egois itu sudah meninggalkan kantor ini pada pukul stengah empat.
"Dah, Dai," seru Kak Listi saat ia mendahuluiku memasuki lift. Aku melambaikan tangan dan tersenyum.
Ruanganku ada di lantai lima. Sementara ruangan suamiku, maksudku si mesum ada di lantai tujuh. Aku dan beberapa staf yang tidak aku kenal mengantri di depan lift. Karena banyak staf laki-laki, aku memutuskan untuk melewati tangga darurat. Lumayan, sekalian olah raga, pikirku.
...***...
Setibanya di depan kamar kostan, aku mematung. Tas selempangku bahkan jatuh ke lantai saking kagetnya. Aku menutup mulutku yang terbuka dengan telapak tangan. Sedangkan bu kost menatapku dengan tatapan iba.
"Bu Nani, i-ini maksudnya apa? Ke-kenapa barang-barangku ada di luar?"
"Emm, Neng Dai tenang ya, ayo duduk dulu. Biar Ibu jelaskan pelan-pelan."
"Bu, mana bisa aku tenang. Aku merasa tidak punya salah sama Ibu. Uang kost bulan ini juga sudah aku bayar. Kenapa?" Aku menolak duduk. Mataku mulai berkaca-kaca.
"Maaf Neng Dai, bukannya Ibu gak sayang sama kamu, tapi tadi tiba-tiba saja ada yang mau kost di sini. Dia mau bayar tiga kali lipat dari harga sebelumnya. Karena Ibu butuh uang, Ibu terpaksa menyetujuinya. Uang kost kamu nanti Ibu kembalikan, bisa kamu gunakan untuk sewa penginapan sebelum dapat tempat kost yang baru," jelasnya.
"Huuks, Bu Nani ... kenapa Ibu tega sekali? Setidaknya mengabariku dulu, Bu. Aku tidak menyangka Ibu bakal sekejam ini hanya karena uang. Harus aku bawa ke mana barang-barang ini, Bu? Mencari kostan baru dan membereskan barang-barang itu perlu waktu ...," lirihku.
"Ehem." Tiba-tiba seseorang berdeham. Aku teperanjat.
"Pak, ini pemilik kost sebelumnya," kata Bu Nani.
Dia? Aku hampir lemas.
"Maaf ya, aku sengaja memilih kost di sini untuk sodaraku," katanya dengan mimik tenang.
"Ya, Neng Daini, Bapak muda inilah yang berani membayar Ibu dengan harga mahal."
Aku menghela napas, setelah tahu pelakunya, aku tak lagi protes. Dia benar-benar serius ingin mempermainkan jiwa dan ragaku.
"Aku mengerti, Bu. Untuk sementara, aku titip barang-barangku di sini. Setelah dapat kostan akan kuambil lagi." Aku hanya mengambil perlengkapan mandi dan bingkai foto, lantas berlalu.
"Hanin, tunggu." Dia menahan tanganku.
"Kalian saling kenal?"
Bu Nani yang menyusul ke depan melongo keheranan. Pasti kaget karena ada pria yang berani memegang tanganku.
"Tidak Bu, aku tidak kenal!"
Aku berusaha sekuat tenaga melepaskan diri. Tapi dia kuat sekali. Dia menyeretku menuju mobil. Di memakai mobil lain. Pantas aku tidak mengenali mobilnya.
"Hanin, ingat posisimu. Kamu istriku! Tak pantas kamu beperilaku seperti ini di depan suami kamu," katanya dengan suara pelan. Aku yakin agar Bu Nani tak mendengar.
Daripada mengundang keributan dan rasa kepenasaranan Bu Nani, aku akhirnya berkata ....
"Bu Nani, pria ini sebenarnya masih saudaraku. Tapi kami tidak akur." Aku membohongi Bu Nani.
"Oh," Bu Nani masih kebingungan.
"Masuk!" desaknya.
Sambil membuka pintu mobil bagian depan dan mendorong tubuhku. Aku terisak memeluk tasku saat mobilnya mulai melaju entah hendak kemana.
"Huks, kamu jahat!" rutukku.
Pak Zul diam saja tetap fokus pada kemudi. Lalu dia menepikan mobilnya di area yang lumayan sepi. Aku mengusap air mata sambil merapikan jilbabku.
"Maaf kalau yang aku lakukan membuatmu kaget."
"Kamu benar-benar egois, Pak! Kenapa Anda memperlakukanku seperti ini? Apa dengan menjadikanku sebagai pemuas nafsu masih belum cukup?!" teriakku.
"Hanindiya! Jangan sembarangan bicara kalau kamu tidak tahu fakta dan kebenarannya!" bentaknya.
"Kebenaran?! Fakta?! Memangnya fakta dan kebenaran seperti apa, Pak?! Anda jelas-jelas egois! Kenapa Anda harus mengusik tempat kostku? Anda tidak tahu bagaimana susahnya aku mencari tempat kost yang cocok! Anda juga tidak tahu kalau di antara barang-barang yang Anda keluarkan itu ada barang-barang yang menurutku sangat berharga, huuks."
"Hanin, dengarkan aku dulu. Aku suami kamu, apa pantas seorang istri membentak suaminya?" Dia benar-benar tak tahu diri. Di meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat.
"Aku lelah Pak. Aku lelah menjadi seperti ini. Sekarang cepat jelaskan, mau Anda apa?! Apa Anda mau mesum lagi?!" tuduhku.
"Hahaha," dia malah tergelak. Benar-benar menyebalkan.
"Kalau kamunya bersedia, aku sangat mau," katanya.
"Pak ZULFIKAAAR!" teriakku. Wajahku mungkin memerah karena teriakan ini sangat kencang.
"Wah, keras juga," malah tersenyum dan menggenggamku semakin kuat.
"Aku tidak punya waktu! Cepat katakan! Anda mau apa? Huuu ... aku lelah Pak ... bagaimana kalau bu Dewi tahu? Bagaimana kalau orang-orang menuduhku sebagai wanita yang tidak benar? Tolong mengertilah posisiku Pak Zulfikar yang terhormat. Tolong ceraikan aku, Pak ... kumohooon, please ...." Ratapku.
"Hanin, harus berapa kali lagi aku mengatakan kalau aku tidak mau menceraikan kamu. Aku sudah berjanji akan melaksanakan amanat dari abah dan ummi untuk menjaga kamu. Aku ingin menyelamatkan kehormatanmu dengan cara menjadi suami kamu."
"Aku sudah menyediakan apartemen. Letaknya dekat dengan kantor kita. Masalah barang-barangmu tidak perlu khawatir, aku sudah memesan jasa kargo untuk memindahkan barang-barangmu ke apartemen," terangnya.
"Apa?! Apartemen? Aku tidak mau! Aku menolak!" bantahku.
"Hanin, tolong hargai itikad baikku sebagai suami kamu. Aku sedang berusaha untuk memberikan kenyamanan, tempat tinggal yang aman, dan penghidupan yang layak untuk kamu," tegasnya. Melepaskan tanganku, lalu melanjutkan kemudi.
"Ta-tapi, Pak. Aku ti ---."
"Ssst, cukup Hanin. Aku tidak mau mendengar protes. Aku juga tidak mau menerima kritik dan saran dari kamu," selanya.
"EGOIS! Anda tidak punya hati nurani!"
"Ya, aku memang egois. Terserah kamu kalaupun mau menuduhku tidak memiliki hati nurani. Bahkan jika kamu mengatakan aku gangguan jiwapun, aku sama sekali tidak keberatan," tegasnya.
Aku terdiam, jadi bingung mau mengatakan apa jika prinsip dia seperti itu. Di satu sisi, aku juga mawas diri jika posisiku sangat lemah.
Karena status kami nikah siri, aku hanya bisa meminta cerai dari dirinya. Berbeda jika kami menikah secara hukum negara, mungkin ... aku bisa menuntutnya ke pengadilan untuk menceraikanku.
"Aku tidak ingin menambah dosa dengan menelantarkanmu, aku ingin memperlakukanmu dengan seadil-adilnya. Adil di sini adalah adil dari sudut pandangku. Bukan keadilan dari sudut pandang kamu ataupun Dewi."
Pernyataannya benar-benar membuatku muak. Aku memalingkan wajah saking muaknya.
"Sebentar lagi kita sampai."
Saat tak sengaja melihat kaca spion di bagian dalam mobil, kulihat wajahnya begitu ceria. Sepertinya dia senang membuatku marah.
...***...
Akhirnya sampai juga di apartemen yang dia maksud. Sebuah apartemen mewah yang namanya sudah familiar di telingaku. Saat ada iklannya di televisi, aku pernah mengatakan pada diriku sendiri jika aku tidak akan berminat untuk membelinya walaupun aku kaya-raya.
Aku mematung dan menunduk saat sudah berada di parkiran. Aku khawatir ada seseorang yang melihat kebersamaan kami. Aku begitu takut.
"Mari," ajaknya. Mengulurkan tangan kepadaku.
"Pak, kenapa Anda bisa setenang ini? Bagaimana kalau ada yang mengenali Anda?" Aku menepis tangannya.
"Hanin, papaku tidak pernah mempublikasikan wajahku ke depan publik. Yang terkenal itu papaku, bukan aku," jelasnya seraya menarik paksa tanganku. Aku tak bisa menepis lagi.
"Setiap unit di apartemen ini memiliki lift pribadi. Privasi kita aman," katanya. Beraninya dia mengatakan 'privasi kita.'
Di dalam lift, dia melepaskan tanganku. Kaca lift yang transfaran membuatku bisa melihat pemandangan kota Jakarta. Semakin tinggi, jantungku kian berdegup. Aku tak berani melihat. Aku memejamkan mata, tubuhku sedikit goyah.
"Kamu phobia ketinggian?"
Pak Zulfikar sigap memeluk tubuhku. Lift yang sempit dan perasaan takut ini, membuatku tak bisa menolaknya. Tanganku mengerat pada jasnya.
"Tangan kamu keringat dingin, wajahmu juga pucat. Astaghfirullah, maaf ya. Besok akan kutukar unitnya ke lantai dasar," katanya sambil menelusupkan kepalaku di dadanya. Jantungku jadi bergemuruh.
'Ting.' Tiba di unit miliknya.
"Maaf, aku malah membeli unit di tower yang paling tinggi." Sambil menuntun tanganku menuju unit.
"Kode pintunya tanggal lahir kamu."
Aku diam saja. Aku tak percaya dia bisa membeli apartemen secepat ini. Aku teperangah saat berada di dalamnya. Aku merasa tak pantas berada di tempat semegah ini.
"Pak, setelah dapat tempat kost, aku tidak mau tinggal di sini. Aku tak pantas diperlakukan berlebihan seperti ini." Di depan pintu aku mematung, tak berani melangkahkan kaki.
"Hanin," dia kembali memegang tanganku.
"Tempat ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan tempat tinggal yang kuberikan pada Dewi. Aku membelikan sebuah mansion untuknya," katanya.
"Bu Dewi memang berhak mendapatkannya," timpalku.
Pak Zulfikar menghela napas, kemudian membuka jasnya dan duduk santai di sofa.
"Mau berdiri terus? Tidak mau lihat-lihat? Ke dapur atau ke kamar misalnya?" katanya sambil merebahkan diri, lalu menyalakan televisi.
"Aku mau tidur sebentar, setengah enam bangunkan ya," ucapnya. Dia benar-benar memejamkan mata.
Dengan langkah ragu, aku akhirnya melihat-lihat. Tapi aku tak berani mendekat ke arah balkon.
Unit ini sepertinya tinggal pakai. Semua fasilitas telah tersedia.
Dapurnya sangat cantik. Saat kumembuka kulkas, aku kembali terkejut. Di dalamnya sudah tersedia berbagai bahan makanan, makanan olahan, camilan, mimuman instan, susu, telur, yoghurt, dan lain-lain.
Intinya, di dapur ini sudah tersedia sembako alias sembilan bahan pokok. Aku hanya tinggal memasaknya saja.
Lalu aku berjalan ke bagian kamar. Ada tiga kamar di unit ini. Kamar utama, kamar tamu, dan kamar yang sepertinya diperuntukkan untuk ART.
Apa aku ke kamar ART saja?
Rasanya, aku tak berani memasuki kamar megah itu.
Ya benar, aku di sini saja.
Di kamar ART aku terpekur, duduk di pojokan kamar. Kembali menangisi nasib diri yang memilukan ini.
"Huuu, abah ... ummi ... a-aku mau pulang ...."
...***...
Reni (Sahabat Dewi Laksmi)
Aku tancap gas menuju rumah Dewi, aku harus bicara langsung dan menyerahkan bukti ini pada Dewi. Untung saja aku sempat memfotonya.
Tadi, pulang dari kantor, aku tak sengaja melihat suaminya Dewi sedang berbicara dengan perempuan itu di depan sebuah kost-kostan.
...~Tbc~...
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..