Laras Kinanti pergi mengadu nasib ke Ibukota, untuk mencari keberadaan suaminya yang menghilang tanpa kabar.
Pencarian Laras berujung luka, karena suami yang ia cari itu menikah dengan Nadine Chandra, yang tak lain adalah putri majikannya.
Sanggupkah Laras bertahan dengan status sebagai pelayan madunya?
Mampukah dia menghadapi kekejaman suaminya sendiri?
Adakah kebahagiaan untuk Laras?
Karya ini kolaborasi dua Author Kece
Nazwatalita dan Jannah Zein.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazwa talita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22 UANG BULANAN
Laras sangat terkejut saat melihat Galang menunjukkan kunci di tangannya.
"Ka-kamu mau apa, Mas?" Laras sedikit gugup, apalagi ketika menyadari kalau hanya dia dan Galang saja yang berada di ruangan itu.
Mendadak perasaannya tidak enak. Namun, Laras dengan segera menguasai kegugupannya. Perempuan itu bahkan langsung mengubah ekspresi wajahnya.
Galang menatap Laras sambil tersenyum. Kemarahannya kembali muncul saat mengingat sikap Laras beberapa saat yang lalu.
Galang mendekati istrinya, dia bermaksud menyentuh wajah Laras, tetapi perempuan itu segera menghindar, membuat kemarahan di hati Galang semakin berkobar.
"Begini sikapmu terhadap suamimu, Laras?" Galang menatap penuh kemarahan. Tangannya kembali bergerak maju. Kali ini dia mencengkeram rahang Laras, dan sialnya, Laras tidak bisa menghindar.
"Kamu sangat senang saat berdekatan dengan pria lain, sementara kamu sangat kesal saat suamimu mendekatimu?" Galang menatap perempuan itu dengan api kemarahan yang memuncak.
Wajah cantik itu menatapnya dengan berkaca-kaca. Kedua tangan perempuan itu mencoba melepaskan cengkraman tangannya. Namun, Galang justru mempererat, membuat Laras meringis menahan sakit.
"Dasar perempuan murahan!" Galang melepaskan cengkeramannya dengan kasar membuat wajah Laras terlempar ke samping. Wajah perempuan itu terlihat memerah, sementara bekas cengkeraman di lehernya sedikit membiru.
"Kau selalu menyebutku perempuan murahan, tetapi kenapa semalam kau menyentuhku?" Laras memberanikan diri menatap pria itu.
"Keluar dari pekerjaanmu dan kembalilah ke kampung!" Bukannya menjawab, Galang malah mengucapkan sesuatu yang membuat Laras terkejut.
"Keluar dari pekerjaan ini?" Laras tersenyum mencibir.
"Apa kau tahu, kenapa aku sampai bekerja jauh-jauh sampai harus meninggalkan anakku?"
"Aku tidak peduli apa pun alasanmu. Keluar dari sini, dan kembalilah ke kampung!" Galang menatap perempuan itu penuh intimidasi.
"Aku tidak akan keluar dari pekerjaan ini."
"Laras!"
"Apa uang yang selama ini aku berikan tidak cukup untuk menghidupimu di kampung? Sampai kau bersusah payah bekerja ke kota ini? Uang bulanan yang aku berikan bahkan sangat cukup untuk membuatmu hidup lebih baik di kampung!"
"Kamu tidak perlu bekerja, hanya tinggal menunggu transferan dariku setiap bulan. Aku yakin, dengan uang yang aku berikan, kau masih bisa menghidupi semua keluargamu. Lantas, kenapa kamu harus susah payah bekerja di sini?"
"Aku bahkan menambahkan nominal yang cukup besar setelah aku mengetahui kau bekerja di rumah besar itu, Laras. Apa itu masih belum cukup?" Galang berbicara panjang lebar penuh amarah, sementara Laras hanya melongo. Merasa terkejut dengan apa yang dikatakan oleh pria yang masih sah menjadi suaminya itu.
Uang apa yang dia terima? Uang bulanan dari Hongkong! Jangankan uang, kabar dari pria itu saja dia tidak pernah mendengar.
Akan tetapi, apa benar pria itu selama ini mentransfer uang bulanan? Kalau benar, pada siapa dia mengirim uang? Kenapa uang itu tidak pernah sepeser pun sampai di tangannya?
"Harusnya kamu bersyukur, Laras. Meskipun aku tahu kalau kamu telah mengkhianatiku dan mempunyai anak yang bukan darah dagingku, tetapi aku masih memberimu nafkah. Kalau orang lain, mungkin mereka tidak akan sudi!" Pria itu kembali berucap, dan lagi, ucapannya itu membuat hati Laras terasa sakit.
"Keluar dari pekerjaan ini dan kembalilah ke kampung! Aku akan mengirimkan uang yang lebih besar padamu dari sebelumnya, agar kamu tidak perlu lagi bekerja," lanjut Galang, masih dengan tatapan intimidasi.
Sementara, Laras tertawa mendengar Galang kembali menyebut tentang uang.
"Uang? Sejak kapan kamu mengirimkan uang padaku, Mas? Jangankan uang, kabar darimu saja aku tidak pernah tahu. Apalagi uang?"
"Aku tidak pernah menerima sepeser pun uang darimu!" teriak Laras.
"Apa maksudmu, Laras?"
"Aku tidak pernah menerima sepeser pun uang darimu!" ulangnya.
"Kamu bohong! Jelas-jelas setiap bulan aku sendiri yang mentransfer uang padamu, bagaimana bisa kau tidak menerimanya?" Galang menarik kerah baju Laras.
Benar kata keluarganya, perempuan ini, selain berselingkuh, juga ternyata pandai sekali berbohong.
"Apa kau ingat? Kau sendiri yang meneleponku dengan mengatakan kalau ibumu butuh biaya untuk pengobatan, kemudian kau memintaku untuk mengganti semua biaya yang pernah dikeluarkan ibu untuk kuliahku!"
"Kamu sendiri yang mengirimkan nomer rekening beserta buku tabungan yang bertuliskan namamu, Laras!"
.
By: Nazwatalita
Pagi-pagi sudah dibikin emosi sama Galang. Lama-lama pengen aku jitak juga kepalanya biar sadar.
Ikutin terus kelanjutannya ya, teman-teman. Jangan lupa like, komen, gift dan votenya ya 🙏🙏
Terima kasih sudah membaca ....
Jangan lupa intip juga karya aku yang lainnya yuk!
yg jahst tu kel nya