Kehilangan seseorang yang sangat disayangi untuk selamanya itu, bukan hal yang mudah. Apalagi orang itu merupakan seorang anak yang sangat di sayangi.
Anaya Aninditia merupakan seorang gadis yang berumur 12 tahun, Anaya memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Suatu ketika keharmonisan itu hilang, akibat ulah ibunya yang selalu mementingkan arisan, semenjak suaminya naik jabatan dan memiliki Gaji yang besar.
Anaya yang periang berubah menjadi pendiam karna perceraian orang tuanya. Satu ketika sang ayah mengenalkan sosok wanita yang memiliki 2 orang anak. Wanita itu mampu mengambil hati seorang Anaya.
Anaya yang dulu pendiam berubah menjadi periang kembali. Setelah kebahagiaan datang, Anaya mengalami kesedihan yang teramat dalam. Anaya harus kehilangan seorang ibu kandungnya untuk selamanya.
Dan kini Anaya sedang berjuang melawan penyakit meningitis yang bersarang di otaknya. Sakit itu berawal dari anaya sering sakit kepala.
apakah Anaya mampu bertahan dan melewati semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 22
Anaya masih tertidur, sang ayah telah bangun, Tiba-tiba dokter Benny masuk.
"Selamat pagi pa Teguh," ucap dokter Benny.
"Selamat pagi dok," ucap Teguh.
Anaya pun bangun dari tidurnya.
"Selamat pagi cantik," ucap dokter Benny.
"Selamat pagi juga dokter," ucap Anaya.
"Masih pusing gak," ucap dokter Benny.
"Gak begitu pusing dok," ucap Anaya.
"Pusingnya gimana sih yang Anaya rasakan?, " tanya dokter Benny .
"kaklau lagi pusing, punduk Anaya pegel, pusingnya dari belakang sampai ke depan," ucap Anaya.
"Oh gitu, sekarang Anaya di periksa dulu sama suster Sri ya,"ucap dokter Benny.
Dokter Benny mencatat setiap detail yang diceritakan oleh Anaya.
"Sekarang Anaya Mandi dulu, keramas terus pakai baju ini. Selesai mandi dokter mau periksa Anaya," ucap dokter Benny.
"Iya dok, emang Anaya sakit apa?," tanya Anaya.
"Dokter belum tau Anaya sakit apa, setelah pemeriksaan, baru ada hasilnya," ucap dokter Benny.
Anaya pun hanya menganggukkan kepala dan sarapan dulu sebelum mandi.
"Begini pa nanti M.R.I jam 10," ucap dokter Benny.
"Baik dok, lakukan yang terbaik untuk anak saya. Yang penting anak saya bisa sembuh, uang gak jadi masalah," ucap Teguh.
"Saya dan tim disini akan berusaha semaksimal mungkin dan melakukan yang terbaik untuk Anaya," ucap dokter Benny.
Teguh pun hanya bisa terdiam melihat kondisi anaknya yang begitu disayanginya.
Beres sarapan, Anaya langsung mandi di bantu Ayah untuk ke kamar mandi dan di bantu sama suster.
Setelah selesai mandi suster membantu Anaya untuk mengganti pakaian dan infusan di cabut dulu.
Ayah yang melihat Anaya takut dengan jarum pun, berusaha menenangkan Anaya.
Anaya di bantu suster untuk duduk di kursi roda dan kursi roda di dorong ayah menuju ruang M.R.I.
Anaya pun masuk ke dalam ruang M.R.I dan ayah menunggu diluar. Dokter Benny dan perawat disana pun mulai menjalankan tugasnya.
Sambil menunggu Anaya, ayah menelepon bunda.
drrrt drrrt drrrt
"Assalamu'alaikum ayah, ada apa yah," ucap bunda.
"Walaikumsalam, ayah lagi nunggu Anaya lagi dalam pemeriksaan. Bunda lagi apa?," tanya ayah.
"Semoga hasilnya gak mengarah kesana ya yah, bunda lagi bikin blackforest buat Anaya," ucap bunda.
"Iya bun, bunda ke sini nya nanti aja sesudah jemput anak-anak pulang sekolah,"ucap ayah.
"Iya yah," ucap bunda.
"Oh iya bun, nanti sekalian bawain gelas kesayangan Anaya sama bantal birunya Anaya," ucap ayah.
"Iya yah, pasti gak nyenyak ya tidurnya Anaya," ucap bunda.
"Iya semalam beberapa kali kebangun, jd ayah tidur satu kasur sama Anaya dan baru bener-bener tidur jam 12,"ucap ayah.
"Iya yah nanti bunda bawain yang bisa bikin Anaya tidur nyenyak, dan nanti bunda juga bawa kasur lipat aja ya buat ayah," ucap bunda.
"Iya makasih ya istriku yang cantik dan baik hati," ucap ayah sambil tersenyum.
"Iya yah, ya udah bunda lanjut dulu bikin kue, nanti bunda ke sana bareng Aris, assalamu'alaikum," ucap bunda.
"Walaikumsalam," ucap ayah.
Ayah pun sambil menunggu Anaya, ayah mengecek kerjaannya. Dan tiba-tiba ayah ingat belum memberi kabar ke wali kelasnya Anaya, nanti sajalah kalau sudah ada hasil. Sekalian berbicara sama pihak sekolah.
Setelah hampir 2 jam, dokter Benny keluar bersama Anaya. Suster pun segera membawa Anaya kembali ke ruang rawat.
Dokter Benny pun mengikuti di belakang bersama Teguh.
"Pa teguh untuk hasil yang lebih maksimal, kita harus melakukan pemeriksaan satu lagi, yaitu EEG untuk memastikan penyakit yang bersarang di kepala Anaya," ucap dokter.
"EeG itu apa?," tanya Teguh.
"EEG adalah tes yang mengukur impuls listrik di otak melalui cakram logam kecil yang disebut elektroda yang menempel di kulit kepala. Elektroda hanya mengukur aktivitas listrik yang keluar dari otak dan tidak menimbulkan rasa sakit" ucap dokter.
"Lakukan apa saja dok, asalkan anak saya bisa diobati dan sembuh, masalah biaya gak usah khawatir," ucap Teguh.
"Baik pa, kami akan melaksanakan observasi EEG besok jam 10 juga," ucap dokter.
"Baik dok yang penting anak saya sehat lagi," ucap Teguh.
Dokter Benny dan Teguh pun masuk ke dalam ruang rawat, suster sedang menyuapi Anaya.
"Terima kasih Sus, sudah menyuapi anak saya," ucap Teguh.
"Sama-sama pa, itu sudah kewajiban saya disini," ucap suster.
"Ya udah suster boleh kembali untuk merawat yang lain, Anaya biar saya yang menyuapinya," ucap Teguh.
"Kalau begitu saya pamit dulu pa,makan yang banyak ya cantik," ucap suster.
"Makasih suster," ucap Anaya.
Suster pun berjalan ke arah pintu dan Pamit dari ruang rawat Anaya.
"Masih pusing?," tanya ayah.
"Dikit yah," ucap Anaya.
"Sabar ya sayang, pasti kamu akan sembuh," ucap ayah.
"Aamiin yah," ucap Anaya.
Tiba-tiba suster masuk membawa obat untuk Anaya dan akan memasangkan infus lagi untuk Anaya.
Anaya yang melihat jarum dan infusan hanya bisa menghela nafas panjang, karena Anaya takut sekali dengan jarum.
"Liat ayah aja, jangan liat jarumnya," ucap ayah.
Anaya pun menangis karna sakit.
"Ayaaaaah sakit, Anaya gak mau di infus. Anaya mau pulang aja," ucap Anaya sambil menangis.
Ayah yang merasakan gimana sakit dan sedih dari sang buah hatinya ini.
"Sabar nak, ini semua demi kesehatan Anaya," ucap ayah.
Anaya pun hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan suara lagi.
Setelah infus terpasang, suster pamit. Anaya melanjutkan makan siangnya.
"Udah yah, Anaya udah gak berselera makan lagi," ucap Anaya.
"Ya udah, tapi kalau lapar lagi atau mau makan apa, bilang sama ayah ya," ucap Ayah.
Anaya pun hanya bisa menganggukkan kepala. Anaya yang tiduran sambil memeluk boneka kesayangannya hanya bisa mengaduh sakit karna sakit di suntik.
"Nak.. ini minum obat dulu," ucap ayah.
Anaya pun menghela mafas, karna Anaya termasuk anak yang jarang sakit, gak suka minum obat.
Anaya pun mengambil obat dari tangan ayah dan meminumnya.
"Yah... ka Aris nanti ke sini gak?," tanya Anaya.
"Jnsya Allah nanti ke sini sama bunda," ucap ayah.
Setelah minum obat, Anaya merasakan mengantuk. Tanpa sadar Anaya tertidur.
Ayah masih belum kuat untuk semua ini, masih belum sanggup melihat kondisi Anaya saat ini.
"Ya Allah... biar hamba aja yang sakit, jangan anak hamba. Hamba tak kuasa melihat semua ini," gumam ayah dalam hati sambil menatap Anaya yang sedang tidur.
Ayah pun hanya bisa melihat kondisi sangat anak, mengelus kepalanya dan mencium keningnya.
Tanpa sadar ayah pun ikut tertidur di kursi yang berada di samping bed Anaya sambil memeluk Anaya yang sudah tertidur lebih dahulu.
Anaya yang terbangun melihat ayahnya tertidur.
"Ayah maafkan Anaya, karna Anaya sakit. Ayah jadi seperti ini," gumam Anaya dalam hati.
Anaya pun bergerak untuk membangunkan ayahnya, karna haus.
"Ayah," ucap Anaya.
Ayah yang masih tertidur, seketika langsung bangun.
"Iya sayang kenapa?," tanya ayah.
"Anaya haus," ucap Anaya.
Ayah pun mengambilkan minum untuk Anaya dan Anaya pun minum banyak.
"Ayah maafkan Anaya ya. Karna Anaya, ayah jadi gak kerja," ucap Anaya
"Gak sayang, ini bukan salah mu nak. Ini takdir dari Allah, jadi jangan menyalahi lagi diri Anaya sendiri ya. Ada untungnya kan kaya gini, ayah jadi bisa dekat lagi sama anak kesayangan ayah. Ayah akan lakukan apa aja, asalkan Anaya sehat lagi," ucap ayah sambil mengelus kepala sang anak.
"Makasih ya yah, sekarang Anaya mau tidur sama ayah, tapi ayah naik ke atas kasur. Kaya tidur semalam," ucap Anaya.
"Iya sayang, asalkan Anaya tidur lagi, biar cepet sembuh," ucap ayah.
Ayah pun naik ke atas kasur dan tidur bareng Anaya dan sambil memeluk Anaya. Kini Anaya pun kembali tertidur, karna pengaruh obat penghilang rasa pusing.
#RIPNadiaPermata
ga sabar nya🤗😆😆