NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: tamat
Genre:Romantis / Pengantin Pengganti / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:7.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Ningsihe98

anindira yang baru Wisuda terpaksa harus menikah dengan Dimas dan merawat anaknya yang baru lahir demi keinginan terakhir sang kakak yang meninggal setelah melahirkan anak pertamanya.

dilain sisi Anindira menyayangi kakaknya karen sejak kecil mereka sering bersama karena kedua orang tua mereka yang sibuk bekerja, namun disisi lain Dimas terpaksa menikahi Anin Adik iparnya karena keinginan terakhir alm istrinya

lalu bagaimana kisah mereka? bagaimana mereka menjalani rumah tangga atas dasar "turun ranjang" ? akankah Anindira bisa menggantikan posisi kakaknya di hati Dimas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsihe98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Bogor terasa dingin bagi Anin yang kini jauh dari suaminya, meskipun jarak Bandung dan Bogor tidak terlalu jauh tapi tetap saja Anin merasa sepi tanpa Dimas dan Afifa yang setiap hari selalu bersamanya.

Anin mengucek matanya dan bangkit dari duduknya, semalaman ia tidur di sofa bersama Mamahnya sedangkan Evan ia sudah pulang setelah makan malam kemarin. Anin melihat Papahnya yang masih tidur ia memilih mengambil tas ranselnya dan pergi keluar ruangan mencuci muka dan membeli sarapan.

Lain Anin, lain pula dengan Dimas yang tampak Riweuh menyiapkan semua pakaian kerjanya, biasanya Aninlah yang selalu menyiapkan pakaiannya di kasur ia juga pandai memilih warna dasi yang sepandan dengan kemeja yang ia gunakan tapi sejak sepuluh menit berlalu, Dimas sudah membongkar semua dasi di lemarinya tapi tidak ada yang cocok baginya? Entah karena sudah terbiasa di siapkan Anin dan ia merasa percaya diri atau karena Dimas memang tidak punya pilihan Dasi pada kemejanya kali ini.

Dimas nampak kesal, ia memilih membuka kancing kemeja atasnya, ia sudah merasa gerah sejak tadi karena sudah mencoba beberapa dasi tapi tidak cocok.

*-*-*-*-*

Tidak ada Kopi moccacino, tidak ada sarapan dan tidak ada air putih hangat. Itulah gambaran Dimas pagi ini ia menatap meja makan yang kosong hanya ada selai kacang yang tempatnya belum tergantikan. Dimas memilih membuat roti selai dan Kopi untuk sarapannya pagi ini.

"Selamat pagi Mas ku," ucap Dina yang baru saja selesai mandi.

"Kamu tumben bangun cepet?" tanya Dimas sambil menuangkan air panas.

"Iya soalnya Afifa tadi shubuh nangis jadi kebangun, sekarang lagi bobo sama Ibu." ucap Dina kemudian duduk di meja makan.

Dimas mengaduk kopi hitamnya sambil memakai sepatunya yang baru saja ia ambil di rak sepatu.

"Mas gak pake Dasi?"

"Gak ada yang cocok?" jawab Dimas kemudian mengesap kopinya.

"Masa sih? Bukan gak ada yang cocok kali, tapi gak ada yang milihin soalnya istrinya gak ada," ledek Dina.

"Enggak memang gak ada yang cocok, lagian hari ini gak ada rapat dan hal penting!"

"Ya tetep aja Mas namanya ngantor itu harus rapih, kalau Bosnya aja tampilannya kayak gini gimana karyawannya coba? Mereka kan nyontoh dari bosnya juga," ucap Dina.

"Udah bisa ngajarin Mas nih sekarang?" ucap Dimas meledek.

"Iyalah Adek udah gede sekarang Mas, biar Adek ambilin ya dasinya biar rapih." ucap Dina kemudian beranjak dari kursinya.

Dimas hanya menatap Dina adik kesayangannya, tak terasa sudah hampir 3 tahun berlalu sejak Dimas memutuskan menikah dengan Kirana dulu Dina masih anak sekolah yang merengek saat ingin diantar karena sifat manjanya yang melekat.

Sekarang ia sudah berubah menjadi lebih dewasa bahkan bisa membantu Dimas, ia juga lebih akrab dengan Anin ketimbang dengan Alm Kirana dulu karena Kirana sedikit pendiam sedangkan Anin lebih banyak bertanya mungkin juga karena umur mereka tidak berbeda jauh.

"Nih Dasinya cocok, tapi Mas pake sendiri ya," ucap Dina memberikan dasi tersebut.

"Kamu yakin ini cocok?" tanya Dimas sedikit ragu.

"Udah cocok ini, percaya sama pilihan Adekmu ini Mas," ucapnya dengan senyum manisnya.

"Oke, Mas berangkat sekarang ya bilang ke Ibu sama titip Afiia ya." ucapnya kemudian pamit.

*-*-*-*-*

Anin sedang gelisah karena sejak pagi tidak mendapat panggilan apapun dari Dimas, padahal ia sudah mengirim pesan namun Dimas hanya membalas sekali tanpa bertanya lagi, Anin menjadi geram sendiri sebegitu cuekkah Dimas apa Anin tidak bisa menaklukan lelaki bermata sipit itu.

Hari ini Papahnya diperbolehkan pulang, sejak kejadian kemarin Anin dan Mamahnya memang irit bicara, mereka berbicara seperlunya dan pada Papahnya pun Anin tak banyak bercakap.

Sejujurnya Anin ingin berdamai dengan situasi seperti ini apalagi dengan orangtuanya karena mereka tinggal bertiga, namun saat Anin ingin memaafkan dan menerima takdirnya entah mengapa orangtuanya malah membuatnya terluka kembali seperti kemarin menyuruhnya bercerai dengan Dimas jika memang suaminya akan bangkrut.

"Hallo Mas,"

"Iya Nin?" ucap Dimas dibalik telepon.

"Papah udah bisa pulang sekarang, Anin nanti sore langsung pulang ke Bandung." ucap Anin.

"*Kenapa langsung pulang? Gimana sama Papah kasihan beliau kalau kamu cepat pulang,"

"Sudah mendingan kok Mas, lagian Anin juga kurang betah di sini*." ucap Anin jujur dengan suara sedikit bergetar.

"*Ya sudah hati-hati pulangnya, oh iya katanya Mas Arya mau ke Bandung juga hari ini kamu bareng dia aja biar nanti mas bilang ke dia,"

"Tapi ga enak kalau bareng Mas Arya*,"

"Gapapa lagian dia ada urusan di Bandung jadi sekalian aja, yaudah nanti Mas kabarin lagi." ucap Dimas kemudian mematikan sambungan.

Anin merasa tidak enak jika ia pulang ke Bandung bersama kakak Iparnya itu, memang Anin sudah beberapa kali bertemu Mas Arya kakak Dimas yang menetap di Bogor namun mereka tidak begitu akrab, tapi Anin juga tidak bisa menolak daripada ia harus pulang bersama Evan yang masih saja menganggu kehidupannya pribadinya.

*-*-*-*-*

Perjalan ke Bandung tampak lancar jaya, tidak terlalu macet juga membuat mereka sampai lebih awal. Anin asik berbincang dengan Mas Arya dan istrinya di mobil mereka banyak bercerita bahkan mereka juga bergurau, jika dibandingkan dengan Dimas, Mas Arya lebih ramah dan humoris berbeda dengan pertemuan mereka beberapa kali itu mereka tidak banyak bicara.

"Mas Arya kenapa gak ajak anak-anak?" tanya Anin.

"Mereka sekolah mau ujian juga, saya juga cuma dua ari di Bandung," ucap Arya.

"Kalau kamu punya anak udah gede baru kerasa deh gimana susahnya buat punya waktu berduaan sama suami," ucap istri Arya tersenyum.

"Iya sih Mba pasti perhatian terpusat sama anak-anak dan sibuk ngurus mereka, jadi gak ada waktu buat berduaan." ucap Anin.

"Kamu udah ngisi nin?" tanya Istri Arya.

Anin yang tadinya sedang tersenyum langsung berubah mimik wajahnya terkejut, pertanyaan yang selama ini ia hindari setelah menikah dan baru kali ini ia mendapat pertanyaan ini, pertanyaan yang lebih parah menurutnya ketimbang bertanya kapan menikah.

"Belum Mbak, lagipula Afifa masih kecil juga, Anin sama Mas Dimas juga sepakat buat nunda dulu sampai Afifa udah sedikit besar," ucapnya dengan sedikit menunduk dan tersenyum kaku.

"Padahal Afifa tuh udah mau satu tahun lagian gak ada salahnya kalau kalian mau punya anak lagi jaraknya kan dua tahun," ucap Mas Arya.

"Sutt Mas, gapapa Nin kalau belum berencana punya anak sekarang-sekarang lagipula memang Afifa masih butuh banyak perhatian, yang penting bikinnya aja tiap hari." goda Istri Arya sambil tertawa.

"Mau Mbak kasih tau tipsnya gak biar suami tahan diranjang dan gak bisa berpaling?" ucap Istri Arya kembali dengan berbisik.

"Hah?" tanya Anin binggung dan terkejut.

"Pakai baju seksi yang menggoda dia, jangan lupa mendesah dengan lembut sampai dia gak tahan dengar desahan kita dan sembut nama dia disela-sela desahannya, jangan lupa kita juga harus bisa ambil posisi juga dalam permainan," ucap Istri Arya yang masih berbisik.

Anin sontak terkejut, ia menunduk malu dengan ucapan Istri Arya itu, berbicara dewasa seperti ini membuat Anin geli sendiri, terlebih ia dengan Dimas pun belum melakukan hubungan suami-istri bagaimana mereka melakukan itu? Dan membayangkannya saja Anin tak sanggup ia masih terlalu polos untuk itu.

*-*-*-*-*

Anin sudah sampai di rumah, kini Arya dan Istrinya juga berada di rumahnya karena Ibu dan Bapak menginap di rumah Dimas dan Anin.

Anin yang sudah mandi langsung menggendong Afifa yang nampaknya merindukan Anin, terlihat saat Anin datang ia langsung mengarahkan badannya agar di gendong Anin.

"Gimana sama Papah kamu Nin?" tanya Ibu

"Alhamdulillah sudah sedikit membaik Bu, perbannya juga udah di buka cuman masih harus banyak istirahat," ucap Anin sambil mencium Afifa yang tampak menggemaskan.

"Syukurlah maaf Bapak sama Ibu gak bisa nengok ke sana," ucap Bapak yang duduk bersandar di Sofa.

"Iya gapapa Pak." jawab Anin tersenyum.

"Ya sudah kamu bawa Afifa tidur di kamar kasihan di sini berisik kamu juga belum istirahat kan, sebentar lagi Dimas datang," ucap Ibu.

"Iya Bu, Anin pamit ke atas dulu ya," ucapnya menggendong Afifa ke kamar.

Tak lama Afifa terlelap setelah lelah bermain dengan Anin dan Anin yang masih lelah pun tertidur di kasur, tak lama Dimas masuk ke kamar dan membuat Anin terbangun dengan suara pintu yang dibuka.

"Mas udah pulang? Mau Anin siapin air?" tanya Anin mengucek matanya.

"Sudah di siapkan Ibu airnya, kamu mau tidur lanjut aja," ucap Dimas kemudian membuka jas dan kemejanya.

Anin yang masih berbaring di ranjang melihat Dimas yang membuka jas dan kemejanya, bukannya sekali ini ia melihat Dimas bertelanjang dada ia sudah sering lihat bentukan perut kotak dan dada bidang Dimas, namun entah mengapa ia malah membayangkan tubuh tegap Dimas itu berada di atasnya dan menindihnya di tambah ciuman hangat yang Dimas berikan yang membuatnya terhanyut dan Anin mendesah merdu yang membuat Dimas ketagihan.

Shit! Anin tersadar dengan pikiran kotornya, bagaimana bisa seorang Anin membayangkan hal seperti itu, sepertinya otaknya sudah tercuci dengan perkataan kakak iparnya itu.

"Kenapa?" tanya Dimas yang sudah melilitkan handuk di pinggang.

"Nggak papa, Anin laper kayaknya mau turun duluan ya," ucap Anin yang langsung bangkit dari tidurnya dan berlari keluar.

Dimas hanya mengernyitkan dahinya binggung dengan sikap Anin, ia sadar sejak tadi Anin menatapnya lekat saat ia membuka baju padahal Anin tak pernah mau menatap ke arah Dimas jika ia bertelanjang dada. Namun tadi Anin menatapnya dengan intens membuat Dimas malu sendiri ditatap Anin.

Tanpa mau berpikir panjang Dimas memilih langsung mandi sebelum pikiran kotor masuk di otaknya.

*-*-*-*-*

Dimas dan Arya duduk di teras luar, mereka mengobrol sambil mengesap kopi panas yang baru saja mereka bawa keluar. Dimas dan Arya memang dekat karena jarak umur mereka hanya berjarak 6 tahun Arya juga orang yang dewasa membuat Dimas menghormati kakaknya itu.

"Jadi gimana rencana kamu?" tanya Arya serius.

"Mas tahukan, saya gak mungkin bisa nyelesain masalah ini sekarang lagipula saya belum bisa menemukan pelakunya," ucap Dimas.

"Kamu yakin sama rencana kamu? Maksudnya apa sudah bicarakan ini sama istri kamu?" Tanya Arya.

"Inshaallah yakin Mas, soal Anin biar nanti Dimas jelaskan perlahan sama dia karena bagaimanapun dia juga harus tahu kondisi suaminya sebenarnya," ucap Dimas.

"Mas gak bisa bantu, cuman Mas nyaranin aja jangan buat keputusan gegabah, kamu juga bilang kalau Mamah mertua kamu gak terima kalau kamu bangkrut?" ucap Arya.

"Iya Dimas memang gak sengaja dengar waktu itu Mas, tapi memang benar keluarga Anin keluarga terpandang sejak dulu, dan semua keputusan ada di Anin apa dia masih mau nerima saya dengan kondisi seperti ini atau memilih pisah menuruti orangtuanya, Saya gak mau buat dia ikut susah," ucap Dimas.

Dimas memang sudah mengetahui obrolan Anin dan Mamah mertuanya saat di Bogor, waktu itu ia mencari mereka karena Papah sudah bangun, dan tak sengaja ia mendengar ucapan mertuanya yang menyuruh Anin agar bercerai dari dirinya jika ia bangkrut.

Dimas sempat terkejut dan tak percaya Mamah mertuanya tega menyuruh mereka bercerai hanya karena Dimas bangkrut dan Dimas juga tak tahu harus bagaimana karena sekarang kenyataan omongan mertuanya benar adanya ia sudah bangkrut perusahaan yang ia bangun sudah tidak bisa dipertahankan olehnya dan ia sudah menjual sahamnya pada orang lain.

"Apapun yang kamu lakukan itu adalah keputusan yang kamu pikirkan matang-matang Dim, sekarang kamu sudah punya istri dan anak, Mas juga gak bisa bantu banyak karena Mas juga sudah punya tanggung jawab, sekarang tinggal kamu pikirkan apa yang akan kamu lakukan dan bagaimana dengan Anin dan mertua kamu." ucap Arya kemudian menepuk pundak Dimas.

Dimas tak punya pilihan lain, ia memang gagal kali ini karena perusahaannya sudah tak bisa ia kendalikan, Dimas harus berbicara langsung pada Anin karena ini juga menyangkut tentang kehidupannya nanti.

"Nin kamu belum tidur?" tanya Dimas.

"Belum nanggung lagi nonton," ucap Anin.

"Saya mau bicara serius sama kamu?" ucap Dimas.

"Ada apa?" tanya Anin yang langsung mengunci ponselnya.

"Apa kamu mau mendengar semua penjelasan saya sampai akhir?" tanya Dimas.

"Oya Mas, sok mau ngomong apa?" tanya Anin.

"Perusahaan saya jual sahamnya ke orang karena mengalami kebangkrutan, sebenarnya kerugiaannya tidak terlalu besar tapi semakin kesini makin banyak dan kerjasama juga banyak dibatalkan sama perusahaan lain, jadi saya putuskan buat jual saham keperusahaan lain," ucap Dimas.

Anin menatap Dimas lekat, ternyata ucapan Mamahnya saat di Bogor itu benar adanya, Dimas mengalami kebangkrutan dan Dimas juga sudah menjual perusahaannya, lalu bagaimana Anin? Tentu ia sedih karena Dimas tak pernah memberitahu detail tentang kondisi perusahaannya dan sekarang ia mengatakan bahwa perusahaannya sudah di jual, bagaimana kelanjutannya hidup mereka?

"Terus rencananya Mas gimana?" tanya Anin.

"Mas tahu mungkin sulit untuk mantan Ceo yang mencari pekerjaan terlebih banyak kolega yang sudah tahu saya dan akan sulit untuk menerima saya untuk bekerja diperusahaan mereka, saya mungkin akan mencari usaha untuk kedepannya apa kamu gak keberatan Anin? Apalagi mungkin kondisi keuangan dan penghasilan saya tidak sebanyak dulu saya sudah gagal," ucap Dimas menatap lekat Anin.

"Apapun keputusan Mas, Anin ikut aja Anin gak masalah kalau Mas gak bekerja di perusahaan dan gak jadi bos lagi, lagipula jabatan itu gak akan di bawa sampai mati dan Anin juga gak butuh suami dengan jabatan tinggi, yang penting dia bertanggung jawab dan peduli keluarga udah cukup buat Anin." ucap Anin tersenyum pads Dimas.

"Tapi bagaimana dengan orangtua kamu? Apa dia bakal menerima keadaan kita dan dengan kondisi Mas yang sudah bangkrut?" tanya Dimas.

"Sebenernya waktu Mamah ngajak ngobrol itu dia bicarain tentang perusahaan Mas katanya akan bangkrut, Anin sempat gak percaya apalagi Mas gak pernah cerita apapun tentang perusahaan Mas." ucap Anin.

"Terus kata Mamah gimana?" tanya Dimas.

"Mas jangan marah ya, Mamah sebenernya nyuruh Anin cerai kalau sampai Mas Dimas bangkrut," ucap Anin menatap lekat Dimas.

"Dan kenyataannya sekarang saya benar-benar bangkrut, terus gimana?" tanya Dimas serius.

"Anin gak peduli, lagian menikah itu bukan karena harta, rezeki itu sudah ada porsinya masing-masing mungkin sekarang kita lagi di uji Mas inshaallah kalau kita sabar Allah bakal kasih lebih, dan untuk ucapan Mamah, Anin gak akan nurutin bagaimanapun Anin bakal temanin Mas baik susah ataupun duka," ucap Anin dengan mata yang berkaca-kaca.

Dimas menatap mata coklat Anin dengan lekat, terlihat kesungguhan dari matanya, apakah ia benar-benar tulus pada Dimas bahkan dalam keadaan Dimas sekarang apakah ia benar menerimanya? ia tahu pernikahan ini bukan di dasarkan karena cinta tapi karena turun ranjang dan sejak awal menikah Dimas mencintai Kirana meskipun sekarang ia sudah berusaha membuka hati untuk Anin.

Dan kali ini sepertinya Dimas sudah menaklukkan hatinya pada Anin yang sabar menghadapinya dan mau menerima dirinya, Dimas sudah harus benar-benar membuka hatinya untuk Anin karena sekarang dialah yang menjadi istrinya dan dialah yang menjadi jodohnya Dimas sudah menerima Anin sungguh Dimas sudah menerima Anin.

"Anin terimakasih." ucap Dimas kemudian memeluk Anin erat.

"Apapun masalah Mas jangan pernah tutupin lagi dari Anin karena sekarang kita sudah menikah, jangan tanggung beban sendirian karena Anin gak akan ninggalin Mas sama Afifa sampai Allah yang memisahkan kita," ucap Anin menumpahkan air matanya.

"Iya, saya janji gak akan nyembunyiin apapun dari kamu lagi, Maaf saya terlambat memberitahu kamu, saya berjanji kita gak akan hidup susah, inshaallah saya akan berusaha untuk keluarga kita." ucap Dimas kemudian menghapus butir air mata Anin.

"Iya Mas." ucap Anin tersenyum.

Dimas menatap Anin yang tersenyum manis padanya, senyum tulus yang meneduhkannya, senyum yang membuat hatinya menghangat.

Dimas mendekatkan wajahnya ke arah Anin ia mendaratkan ciuman di bibir ranum, Anin yang terbawa suasana memejamkan matanya dan menikmati ciuman.

Keduanya terhanyut, Anin merasakan ciuman Dimas lembut dan menenangkan, Dimas memperdalam ciumannya bahkan kita Ini sudah membuka mulutnya meloloskan Dimas untuk memainkan lidahnya dengan gesit hingga keduanya melepaskan ciuman mereka dengan sedikit kecewa.

Dimas dan Anin mengambil nafas, ciuman panas tadi membuat mereka sulit bernafas, Dimas menatap Anin yang menunduk malu ia menarik dagu Anin agar menatapnya.

"Jangan menunduk." ucap Dimas.

"Maaf Mas Anin malu,"

"Mas ada sesuatu buat kamu," ucap Dimas.

Ia mengambil kotak di dalam laci dan memberikannya pada Anin, Anin yang bingung mengambilnya.

"Ini apa Mas?" tanya Anin.

"Hadiah ulang tahun kamu, maaf telat soalnya kamu keburu ke Bogor waktu itu," ucap Dimas.

"Mas gak usah repot-repot kasih hadiah, Anin juga udah tua." ucap Anin.

"Gapapa lagian saya gak bisa siapin apa-apa waktu Dina kasih kejutan, silahkan di buka." ucap Dimas.

Anin membuka kotak yang berukuran sedang itu, ia membukanya dan betapa terkejutnya Anin menatap sebuah liontin yang dihiasi permata itu, Anin menatap takjub dengan hadiah yang diberikan Dimas sebelumnya ia memang sering mendapat hadiah dari teman-teman dan pengangumnya namun ia tak pernah mendapat liontin dan kali ini Dimaslah orang pertama yang memberinya liontin bahkan Anin sangat suka dengan motif liontin tersebut.

"Mas, ini mahal banget Mas gak usah buang uang buat kasih ini untuk Anin," ucap Anin.

"Sudah gapapa, lagipula selama kita menikah saya belum pernah belikan kamu perhiasan apapun, sini saya pasangkan," ucap Dimas kemudian mengambil kalung dan memakaikannyam.

"Makasih Mas." ucap Anin sambil memegang liontin tersebut.

"Sama-sama,sudah malam kita tidur," ucap Dimas membaringkan tubuhnya.

"Iya Mas." ucap Anin.

"Sini." ajak Dimas yang merentangkan tangannya.

"Hah?" Anin binggung.

"Bobo di sini," ucap Dimas membentangkan tangannya.

Anin membaringkan badannya di tangan kekar Dimas, mereka saling berhadapan dan bertatap. Anin tersenyum hangat pada Dimas begitupun Dimas yang langsung mencium kening Anin dan memeluk erat tubuhnya.

"Slamat Malam." ucap Dimas langsung memejamkan matanya.

"Malam Mas, Have a nice dream." ucap Anin memejamkan matanya.

Tidak ada yang tahu bahwa mereka berdua mencoba menormalkan detak jantung mereka yang berdetak dengan cepat, namun keduanya bahagia karena mereka bisa mengungkapkan perasaan mereka meskipun tanpa ucapan tapi mereka tahu bahwa kini perasaan mereka sudah berubah menjadi cinta.

1
Dewi Fuzi
tau darimana aklak nya bagus kan baru sebentar bertemu nya
Calluella Rista Ramall
Sudah baca berulang" tapi tetep nangis juga 😭
Haru Kagami
iya bner ponakannya dimas. ya ampun ini novel pertama kayanya yg aq Prnh baca awal" tau NT. dh lama bgt ternyata.
Haru Kagami
iya bner dh pernh baca cm dh lama bgt aq makanya lupa" inget
Haru Kagami
kaya udh prnh baca cerita ini tpi lupa krn udh di thaun kpn gtu bacanya. ini novel di bikin kapan sh thor
Tiwi
sedih😭
Tihar
keren ceritanya sat-set Nga pake lama
Yuli Silvy
bgus ceritanya Thor ga' terlalu bertele-tele
Yuli Silvy
udah tau mau pergi kok malah d tinggal sndri Anin, kesihan kn Anin😥
Yuli Silvy
🤭🤭🤭
Yuli Silvy
sedih 😭
Yuli Silvy
bgus tu Anin
Yuli Silvy
kesihan bget anin
Yuli Silvy
klo jodoh ga' kn kmn
Yuli Silvy
baru gabung
Defi
🌹
nurul nazmi
bagus
Sundari Sekariputi
bgs ceritanya thor 👍👍👍
🥀Luka tak Berdarah🥀
D sini anin yg pling tersakiti n banyak berkorban🥺🥺🥺
Nur Janah
gagal maning gagal maning 🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!