Novel ini berdasarkan kisah nyata.
Nama tokoh, nama tempat, atau nama daerah sudah diganti demi menjaga kerahasiaan identitas asli.
Apabila terdapat kesamaan nama tokoh, tempat, laku tirakat tertentu, profesi tertentu, atau latar daerah tertentu dengan para pembaca semua, mohon dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARI KETIGA BERPUASA
Singkat waktu, aku bersyukur karena dapat melewati hari pertama, hari ke dua, dan hari ke tiga berpuasa mutih dengan lancar. Meskipun ada saja penampakan sosok perewanganku atau kejadian kecil lain yang tak masuk akal. Dan bapak juga tak lepas membimbing dan menjaga kualitas puasaku. Dan aku juga tetap melaksanakan kegiatan sehari-hariku dengan sebaik mungkin.
Di hari ini adalah hari ketiga aku berpuasa mutih, aku mendapatkan sebuah mimpi ketika tidur. Mimpi yang tak biasa. Atau mungkin mimpi yang tak semua orang bisa dapatkan dalam tidur.
Dalam mimpi kali ini, aku kembali berjalan di tengah hutan yang lebat, di malam hari waktunya. Aku berjalan seperti tanpa tujuan dan keinginan. Berjalan saja mengikuti jalan setapak. Pohon-pohon besar mengelilingi di kanan dan kiriku.
Aku berhenti ketika sampai di depan sebuah perkampungan. Namun anehnya perkampungan itu sangat-sangatlah sepi. Tak ada satu pun rumah yang memiliki lampu penerangan. Tak ada juga satu pun tanda kehadiran seseorang di sana. Lebih pantas seperti sebuah perkampungan yang sudah mati.
Aku berjalan di tengah kampung mati itu. Memperhatikan satu persatu rumah-rumah yang kosong. Jarak antar rumah tak terlalu dekat, diselingi oleh kebun-kebun dan juga beberapa pohon besar. Rumah-rumah itu semuanya terbuat dari bambu, beratap hanya seresah daun kelapa kering yang disusun rapi.
Sama sekali tak kutemui seorang di sana....
Namun tiba-tiba, aku melihat satu rumah di ujung sana, rumah terakhir dari barisan seluruh rumah kosong, yang menyala sebuah lampu minyak tempel di terasnya. Aku lantas menghampiri rumah itu perlahan.
Dan terasa, serta terdengar hembusan angin cukup kencang saat aku berjalan ke sana. Aku melihat pepohonan sekitar sampai bergoyang.
Aku sampai di depan rumah itu. Mencoba mengintip ke dalam dari celah dinding yang terbuat dari bambu. Namun, kosong dan gelap... Tak ada siapapun di dalamnya.
Dalam mimpi itu saat aku tak melihat apapun atau siapapun di dalam rumah itu, aku menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling. Sambil aku berucap, "Assalamu'alaikum... Permisi..."
Namun, tak ada jawaban dari siapapun... Hanya kesunyian yang terasa semakin mencekam...
Aku kemudian duduk di atas bale bambu tepat di teras rumah itu. Aku tetap memperhatikan sekitar. Entah ada energi apa, seolah tubuhku memang disuruh untuk duduk di sana.
Tak selang beberapa lama, tiba-tiba... Aku menangkap sebuah penampakan tepat di sebelah kanan, diujung halaman rumah kosong ini.
Penampakan itu adalah... Sosok kakek tua yang aku lihat secara nyata ketika di pasar dan di depan area pemakaman di cerita sebelumnya.
Kakek itu berjalan pelan, semakin lama semakin dekat kepadaku. Namun ia tak memandang ke arahku. Ia hanya memandang ke depan. Kakek tua itu terus saja berjalan pelan ke arah kiri halaman rumah kosong ini.
Aku pun tak bertanya, tak bergerak, atau lari dari bale tempat aku duduk.
Sampai diujung kiri halaman rumah kosong ini, sosok kakek itu menghilang dalam gelapnya malam. Seolah ia ditelan oleh kegelapan dan kesunyian. Tapi, apa yang selanjutnya kulihat membuatku ketakutan. Namun lagi-lagi aku tak bisa menggerakkan tubuhku dari atas bale bambu ini.
Setelah kakek tua itu menghilang, muncul barisan bangsa lelembut yang seolah mengikutinya dari belakang....