Follow Instagram @cherry.apink
*** Alert!
Season 1
Terpaksa menikahi pria dingin pilihan Ayahnya. Adeline Maryvonne tidak kuasa menolak perjodohan itu. Keadaan ayahnya, memaksa dia untuk menerima perjodohan tersebut.
Pria dingin bernama Marvin Frederic, bahkan tidak menatapnya. mungkinkah mereka akan saling jatuh cinta?
Siapa sangka cinta hadir terlalu cepat, dia menyentuhku, membuatku berdesir..
Cerita manis nan romantis.
sekedar membuat lengkungan di bibir pembaca.
Season 2
Araabella Islean Frederic putri dari Marvin frederic dan Adeline maryvone.
harus menerima kenyataan bahwa jodohnya adalah seorang CEO TAMPAN Blasteran Korea.
Dannis Chin pria dingin yang memesona, akankah Araabella sanggup mencairkan sikap Dannis yang lebih dingin daripada Gunung Es itu.
Arsel Louvain, adalah kembaran Araabella. mereka berdua seringkali bertengkar. seperti tom and jerry yang tidak pernah akur. namun sesekali mereka terlihat sangat manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apple Cherry, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makanan Kesukaan Part 1
Adeline sudah selesai dari Toilet. Sedangkan Marvin masih terbaring diatas Kasur.
"Ah dia tertidur yaa.. Ternyata dia tidak begitu buruk. buktinya dia mau membelikan ku pembalut" Adeline tercengir sambil diam diam memperhatikan wajah suaminya itu dari dekat.
"Kalau di lihat lihat sih dia itu memang tampan. tapi kalau sedang tertidur. karena sikap dinginnya tidak nampak" Gumam Adeline sambil memiringkan kepalanya menatap lekat wajah Marvin yang masih terpejam.
Namun Adeline segera kembali ke posisinya ia takut tiba-tiba Marvin terbangun.
"Astaga Eline.. Sudah cukup memperhatikan wajahnya. iya aku tahu dia itu memang tampan. tapi percuma saja tampan kalau sikapnya sedingin Balok Es. kau bahkan bisa ikut membeku nanti. ingat itu Eline!"
Tidak terasa hari sudah Siang dan mereka berdua belum Makan siang.
"Sudah siang begini, aku merasa sangat lapar karena tadi belum sempat makan siang."
Akhirnya Adeline memilih pergi ke dapur untuk memasak. Mengingat Para Pelayan sudah tidak Ada lagi di rumah Marvin.
"Aku memasak saja deh, kira-kira apa yang bisa aku masak yaa.. Semoga saja Pria Es balok itu tidak keberatan dengan masakanku. awas kalau dia tidak mau memakanya"
Namun tiba-tiba saja Adeline berfikir tentang Ayah mertuanya.
Adeline merasa heran apa Tujuan Ayah Jo memindahkan semua pelayan yang ada di rumah Marvin ke rumah Ayah Jo.
"Apa maksudnya ya.. apa dia ingin aku melayani putranya begitu? Cih! kenapa harus menarik semua pelayan. membuatku merasa semakin canggung saja dengannya berduaan di dalam rumah sebesar ini" Adeline membatin.
Namun semua pikiranya itu teralihkan Pada ponsel Adeline yang berdering.
Drrrt... Drrtt... Drrrt...
Suara Nada Dering Handphone Adeline.
Terlihat nama Sahabat nya Michele tertulis di Layar ponsel miliknya.
"Michele Menelpon? Kemana saja dia ini Huh!" Gumam Adeline sambil menggeser layar ponsel miliknya itu.
"Halo Chel! kenapa kau menelpon?" Tanya Adeline dengan nada suara jutek.
"Hei Pengantin baru kok galak sih? Hahah" Michele menggoda Adeline
"Baiklah aku matikan saja telepon nya!" Gertak Adeline
"Sayang ku Eline.. Jangan gitu dong aku kan cuma menggoda mu sedikit saja. kenapa langsung Marah. lagipula aku sekarang sedang berada di dekat Ayah mu loh Lin" Ucap Michele.
"Ngapain kamu di rumah ku?" Tanya Adeline
"Aku kesini tadinya mau mengajak Uncle Albert menemui mu. tapi Uncle bilang sebaiknya jangan mengganggu waktu berdua mu dengan Marvin. jadi aku mengurungkan niat ku dan mengobrol dengan Uncle Albert saja sambil menelpon mu Lin" Terang Michele
"Kenapa Ayah melarang mu kesini? Dan kenapa juga Ayah tidak mau mengunjungi ku apa dia sudah Lupa aku menikah untuk siapa?" Adeline kesal
"Hei Eline! jangan bicara begitu. Ayah mu peduli dan tidak ingin mengganggu waktu mu dengan suamimu. kalian kan baru menikah" Terang Michele terlihat Ayah Adeline tersenyum di samping Michele sambil ikut mendengarkan Percakapan Michele dengan Adeline di telepon.
"Aku mau bicara dengan Ayah. berikan ponsel mu!" Ucap Adeline
"Ya sebentar" Michele memberikan Ponselnya kepada Ayah Adeline
"Hallo Eline sayang" Ucap Ayah Adeline
"Ayah sudah melupakan Eline ya?" Tanya Adeline sedih
"Mana mungkin. kau itu bicara sembarangan saja!" Jawab Albert
"Lalu kenapa Ayah tidak mengunjungi Eline?"
"Eline sayang. Ayah sengaja menahan diri tidak mengunjungi mu. Ayah ingin Eline bisa beradaptasi dengan Baik bersama Marvin. kalian kan sudah menikah. jadi kalian harus saling mengenal satu sama lain. Eline harus melayani Marvin selayaknya Istri kepada suami ya Nak. Masakkan Makanan Favoritnya jangan sampai Suami Eline kelaparan" Ayah Adeline tersenyum sebenarnya ia merindukan Putri semata wayang nya itu.
"Baiklah Ayah. tapi Kapan Eline boleh datang ke Rumah Ayah? " Tanya Eline
"Setelah Eline sudah lebih dekat dengan Marvin ya. datanglah berdua kesini" Pinta Albert berharap Putrinya bisa menyukai Marvin begitu pula sebaliknya
"Ah Ayah Ada ada saja kenapa pakai syarat segala" Gumam Adeline seraya mengerucutkan bibirnya.
"Sudah sudah sekarang Ayah tutup dulu telepon nya yah. Oiya Ayah lupa. kenapa Eline tidak membuka Kotak Hadiah yang Ayah titipkan untuk Eline kepada pelayan sebelum Eline menikah?" Tanya Albert
"Kotak hadiah? Yang mana ya? " Eline mengingat ingat lagi Kotak yang dimaksud Ayah nya itu.
"Ah itu Kotak besar yang diberikan Bu Anne yah?" Adeline memastikan
"Iya sayang. Ayah kemarin melihat Kotak itu masih tergeletak di samping lemari Eline. dan belum terbuka" Jawab Albert
"Maaf Ayah. Eline belum sempat membuka Kotak itu. Apakah itu Hadiah pernikahan dari Ayah? " Tanya Eline yang merasa seharusnya Ayahnya tidak perlu memberi hadiah segala.
"Iya sayang. yasudah Biar Ayah simpan kotak nya. Eline bisa membuka nya nanti saat Pulang ke rumah mengunjungi Ayah" Pungkas Albert.
"Baiklah Ayah. jaga diri Ayah. Salam buat si Centil Michele ya Yah" ucap Adeline
"Hei aku tidak Centil! " Michele mendengarkan Apa yang Eline katakan
"Hahah Baiklah Eline. Ingat pesan Ayah yah" Albert menutup sambungan telpon nya
Adeline Tersenyum sebenarnya ia sangat merindukan Ayah nya dan Juga sahabatnya. tapi ia Lega ternyata Michele mengunjungi Ayah nya. setidaknya Ayah nya tidak merasa kesepian. dari suara nya sepertinya Ayah lebih bahagia setelah Adeline menikah.
Adeline membuka Kulkas dan mengambil beberapa Bahan makanan untuk dimasak. ia teringat pesan Ayah nya untuk membuatkan Makanan kesukaan Marvin. kalau di pikir ia tidak Tahu makanan kesukaan Marvin itu apa. jadi Adeline memasak Apa yang ada di dalam kulkas.
"Semoga dia suka" Gumam Adeline sambil mengiris Bawang merah yang ada di tangan nya.
Adeline memasak Sup Iga Sapi dan beberapa makanan pendamping lain nya. Adeline memang sudah biasa di latih memasak oleh Bu Anne. Ayah nya sendiri yang meminta Bu Anne mengajarkan Putrinya untuk memasak. Menurut Albert seorang wanita lebih bagus jika bisa memasak.
Ternyata itu sangat berguna untuk Adeline. Adeline juga sanga senang melakukan Aktivitas memasak. ia teringat saat pertama kali Marvin mencicipi Nasi Goreng omelette buatan nya dan Marvin bilang Masakan Adeline Enak dan Marvin memuji Adeline dengan mengatakan Adeline pandai Memasak. sebenarnya saat itu Eline merasa sangat berbunga bunga masakan nya di puji oleh suami nya.
"Dia ternyata peduli juga dengan kesusahan orang lain. buktinya dia mau membelikanku pembalut, Aku tidak membayangkan bagaimana malunya dia saat sedang membeli benda yang seperti itu" Adeline terkekeh sampai ingin menangis rasanya. ia tidak tahan ingin tertawa namun takut di dengar oleh Marvin.
"Sudah sudah Kau harus ucapkan terimakasih padanya Eline, Bagaimanapun dia sudah menolongmu" Gumam Adeline masih menahan tawanya.
Adeline membuat Berbagai Macam masakan untuk Marvin. Adeline tidak tahu harus bagaimana cara berterimakasih kepada Marvin. akhirnya ia memutuskan untuk membuatkan Masakan yang enak saja.
_______________
Bersambung..
Jangan Lupa Like dan Komentar Yaa 😇😇