Apa jadinya jika pahlawan elit Rank-A meregang nyawa di dasar Dungeon hanya karena menenggak sebotol air garam?
Di dunia yang memuja sihir tempur, Arka hanyalah kuli Porter F-Rank. Nyawanya dihargai lebih murah dari selembar poster promosi Vanguard Guild. Tapi para elit arogan itu melupakan satu hukum mutlak: Jangan pernah merendahkan orang yang memegang kunci gudang obatmu.
Berbekal Skill [Logistics Grid], Arka meretas sistem dari dalam. Dia memanipulasi data manifes, menukar ramuan bernilai miliaran rupiah dengan air garam, dan memutus rantai pasokan tepat saat pasukan elit itu terjebak di hadapan bos monster mematikan.
Tanpa perlu mengangkat pedang, Arka membalikkan hierarki dunia Hunter. Saat Mana mengering dan taring monster mengincar leher, para pahlawan palsu itu dipaksa menangis, berlutut, dan menjual seluruh jiwa mereka hanya demi setetes ramuan dari tangan sang Porter.
Sistem telah diretas. Monopoli Grey Underground baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VANDEMIC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Perburuan di Ruang Gelap
Suara sirene mekanis melolong nyaring, merobek pekatnya malam di tengah lautan. Lampu-lampu sorot merah menyala di sepanjang lorong geladak kapal Dewi Andalas, berputar liar menyapu deretan peti kemas yang menjulang seperti tebing-tebing baja.
Arka berlari terseret-seret. Sol sepatunya yang separuh leleh menghantam lantai besi yang basah oleh embun laut, menciptakan suara decit pelan. Telinga kirinya masih berdenging keras akibat letusan senapan di dalam kontainer tadi, membuat keseimbangannya kacau. Setiap kali ia melangkah, pandangannya miring seolah gravitasi sedang mempermainkannya.
Namun, siksaan terberat berasal dari dada kirinya. Luka bakarnya yang terbuka kini meradang parah. Racun infeksi mulai menyebar ke dalam aliran darahnya, memicu demam yang membakar suhu tubuhnya. Keringat dingin bercucuran menembus alisnya, membuat matanya perih. Jika ia tidak segera membersihkan luka itu dan menurunkan suhu tubuhnya, ia akan tewas karena sepsis (keracunan darah kronis) dalam hitungan jam.
Klek. Trak. Trak. Suara kokangan senjata dan langkah sepatu bot laras panjang bergema dari ujung lorong kontainer di belakangnya.
"Sapu Blok D dan E! Dia terluka! Cari ceceran darahnya!" raung komandan tentara bayaran.
Arka harus keluar dari labirin kargo ini. Ia mendongak, matanya yang buram memindai struktur super-struktur kapal—bangunan putih kusam berlantai tiga di bagian buritan tempat anjungan dan ruang kendali berada. Di lantai paling bawah bangunan itu, terdapat deretan pintu baja kecil berlapis karet kedap air. Area kru.
Dengan napas yang berbunyi seperti peluit rusak, Arka memaksakan kakinya berlari melintasi ruang terbuka sejauh sepuluh meter. Kegelapan malam menjadi satu-satunya pelindungnya.
Ia tiba di pintu baja pertama. Terkunci. Ia bergeser ke pintu kedua. Sebuah tulisan pudar berbahasa Rusia tertempel di sana, dan logo palang merah yang nyaris terkelupas terlihat samar. Ruang Medis Darurat.
Arka menekan tuas engkolnya ke bawah. Pintu baja itu berderit pelan dan terbuka. Ia segera menyelinap masuk dan mengunci kembali pintu itu dari dalam tepat saat sorot cahaya senter musuh menyapu area luar.
Ruang medis itu kecil, apak, dan berbau Iodin (obat merah) kadaluarsa. Tidak ada jendela. Satu-satunya penerangan hanyalah cahaya merah remang-remang dari lampu darurat di atas kusen pintu.
Arka merosot ke lantai linoleum putih yang retak-retak. Ia terbatuk kering, memegangi dadanya yang berdenyut ganas.
"Air..." rintihnya parau.
Matanya menyapu kabinet kaca di sudut ruangan. Ia memaksakan dirinya merangkak mendekat, menggunakan gagang lemari untuk menarik tubuhnya berdiri. Dengan tangan gemetar, ia membuka lemari itu. Di antara perban kotor dan botol-botol pil penahan sakit yang sudah kedaluwarsa, ia menemukan sebuah botol kaca berisi Saline Solution (cairan infus NaCl murni).
Tanpa berpikir panjang, Arka memukul leher botol itu ke pinggiran meja besi hingga pecah. Ia menenggak setengah isi cairan infus yang asin itu dengan rakus. Dahaganya yang telah menyiksanya berhari-hari akhirnya terbasuh, meski perutnya langsung kram menerima cairan secara mendadak.
Sisa setengah botol cairan infus itu ia tumpahkan langsung ke atas kemeja kanvas kotor yang menutupi dada kirinya.
"Ughh!" Arka menggigit punggung tangannya sendiri. Rasa perih dari larutan garam yang menyentuh daging melepuh itu seolah merobek nyawanya dari dalam. Air Saline itu membersihkan tumpukan debu batu bara dan nanah dari lukanya, menetes merah pekat ke lantai.
Ia segera menyambar gulungan perban berdebu dari laci, melilitkannya kuat-kuat mengelilingi dada dan punggungnya untuk menghentikan pendarahan.
Tepat saat ia mengikat ujung perban itu, terdengar suara langkah kaki berat berhenti di luar pintu baja ruang medis.
Arka menahan napas. Tangannya mencengkeram pecahan botol kaca berujung tajam, satu-satunya senjata yang ia miliki sekarang.
Sebuah suara serak terdengar dari radio komunikasi penjaga di luar pintu.
"Laporan. Kami menemukan jejak darah segar mengarah ke pintu darurat kru di buritan bawah."
Penjaga di luar menekan engkol pintu baja itu dengan keras. Klang! Terkunci.
"Dia di dalam," bisik penjaga itu dari balik logam. "Bawa alat las potong. Kita panggang tikus ini di dalam."
Arka membelalak di tengah keremangan lampu merah. Ruangan medis ini tidak memiliki ventilasi udara keluar. Jika mereka memotong engsel baja itu menggunakan las asetilin, hawa panas di dalam ruangan sekecil ini akan membakar paru-parunya sebelum musuh bahkan sempat masuk. Waktunya kembali berdetak menuju nol.
***
[AUTHOR NOTE] GILA! Arka benar-benar nggak dikasih waktu buat napas! Dia baru aja bersihin lukanya pake cairan infus, tapi sekarang dia TERJEBAK di ruang medis! Penjaga dari luar mau mengelas pintu baja itu! Kalau kalian ingat, ruang baja tertutup + las panas = OVEN MANUSIA! Arka nggak bawa senjata api, cuma bawa pecahan botol infus! Gimana caranya dia bisa kabur dari ruangan kedap udara ini?! Jangan skip bab selanjutnya!
kalian harus pada baca kawan kawan yang suka manga atau manhwa, please kepada editor mangatoon/noveltoon angkat ini jadi karya di platform ini karena di platform ini banyaknya cerita percintaan perempuan saja
Semangat thoorr😼