NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12. Gosip Yang Menyebar

“Awalnya aku mengira. Aku dibuang karena Paman malu karena kecacatan fisikku. Usai kebakaran yang membunuh kedua orang-tuaku.”

Satya memulai ceritanya di depan Melati. Suaranya yang serak memberat.

“Kebakaran? Apa wajahmu itu … karena ….” Melati menghentikan kalimatnya, meraba udara dengan tangan bergetar. Mencoba membayangkan luka dramatis yang selama ini disembunyikan Satya.

“Benar.” Satya mengangguk. Ia meraih jemari Melati yang dingin. Menggenggamnya erat untuk menyalurkan kekuatan di tengah intrik masa lalu yang kelam.

“Karena kamu sudah tahu, sekalian saja aku bongkar semua. Aku … adalah pewaris yang terbuang,” tuturnya, “saat menginjak usia remaja. Terjadi kebakaran di villa keluarga. Aku, Ayah dan Ibu terjebak di dalamnya. Demi melindungiku. Keduanya meninggal. Namun aku berhasil diselamatkan. Meski api menjilat wajahku, dan kakiku, patah, karena tertimpa tiang penyanggah yang roboh.” Satya mengusap pipinya yang kasar. Saat mengenang malam jahanam yang merenggut segalanya.

“Kamu punya villa?” Melati kaget. Tak menyangka dengan kebenaran tentang Satya. “Kata penjaga panti. Hanya orang kaya yang punya villa. Apa itu berarti kamu anak orang kaya?” suaranya merendah. Ia melengos. Menyadari status sosialnya yang berbeda dari Satya. Menarik tangannya pelan. Tiba-tiba merasa ada jurang pemisah yang begitu besar antara dia dan Satya.

“Itu dulu. Sekarang aku hanya pemuda miskin, yang mencari penghidupan kerja di bengkel. Dengan gaji hanya dua juta per bulan” Satya memajukan duduknya agar Melati tahu bahwa hatinya tidak pernah berubah.

“Dua juta? Banyak sekali.” Mata kosong Melati membulat. Ia mencondongkan tubuh, menatap lurus ke arah suara Satya dengan ekspresi takjub yang polos.

“Eh, banyak ya?” Satya mengelus tengkuk. Sedikit kaget dengan ekspresi Melati. Ia menatap lekat wajah ayu yang terperangkap dalam kegelapan itu.

“Iya. Sebab setahuku, Bibi hanya mendapat jatah satu juta dari Mawar. Untuk memenuhi kebutuhan dapur.” Melati menunduk, meremas jemarinya sendiri. Ingat kalau sang bibi sering protes. Merasa itu kurang.

“Satu juta? Serius? Kamu makan apa kalau cuma dengan satu juta?” Satya terperangah, dadanya sesak membayangkan penderitaan Melati selama ini.

“Nasi.”

“Lauknya?” desak Satya lagi, suaranya meninggi menahan amarah pada Turi.

“Aku hanya merasakan makan lauk saat di panti.” Melati terkekeh kecil. Senyum tulusnya mengembang tanpa beban, membuat drama kehidupannya terasa semakin menyayat hati.

Bulir bening menggenang di pelupuk mata Satya. Bahkan ia selalu mengeluh, karena di panti tidak pernah makan daging. Hanya ikan asin dan tempe. Rasa bersalah dan haru bercampur aduk meremas jantung.

“Aku sampai lupa.” Satya buru-buru membuka bungkusan yang ia bawa. Setelah menghapus air matanya kasar, menyembunyikan kerapuhan. “Aku membawakanmu nasi ayam.” Tangannya cekatan menata hidangan di atas meja kayu. “Ayo makan.”

Melati meraba makanan di depannya. Ujung jarinya menyentuh bungkus kertas minyak yang hangat. “Tidak ada tempe ya?”

“Eh, kamu mau tempe?” Satya tak sampai menyentuh nasi bungkusnya. Ia menghentikan gerakan tangannya, menatap Melati dengan pandangan tidak percaya.

“Iya.”

“Aku ada tempe.”

“Kalau begitu. Mau tidak tukar ayamku dengan tempe-mu?” Melati mendongak, menawarkan bungkusan ayamnya dengan senyum paling manis yang ia miliki.

Satya mengangguk sambil menahan tangis. Apalagi saat melihat Melati begitu lahap makan dengan lauk tempe. Pemuda itu mengunyah nasinya sendiri dengan tenggorokan yang terasa menyempit akibat rasa haru yang meluap.

“Kalau jadi istrimu, aku mau makan lauk tempe setiap hari. Apa harga tempe mahal bagimu?” Melati bertanya di sela kunyahannya, menatap kosong penuh harap.

“Tidak,” suara Satya bergetar, menahan isak. Air matanya benar-benar luruh membasahi pipinya yang cacat.

“Kamu … menangis karena aku minta tempe?” Melati menghentikan suapannya, mendengarkan isak lirih yang coba disembunyikan.

“Tentu saja tidak. Aku hanya kangen Ayah dan Ibu,” jawabnya cepat. Berbohong. Lalu mengalihkan pembicaraan. “Besok aku ajak kamu ke rumah Paman ya. Pulang dari bengkel jam 12 siang.”

“Baiklah.” Melati mengangguk patuh, melanjutkan makan malamnya dengan tenang di bawah tatapan penuh cinta dan tekad perlindungan dari Satya.

Keesokan siangnya. Pulang kerja. Dengan langkah buru-buru Satya menuju rumah Wak Kaji. Deru napasnya tersengal di bawah terik matahari. Dikejar waktu yang kian sempit untuk menuntaskan konflik masa lalunya bersama Melati.

“Pasti mau pinjam motor.” Seorang pria muda muncul. Wajahnya tampak muram. Seakan tidak memiliki semangat hidup. Pemuda itu menyandar pada tiang teras sambil melipat tangan di dada, menatap malas kedatangan Satya. “Daripada pinjam terus. Kenapa nggak dibeli saja sih, Mas?”

“Aku masih belum ada uang, Dek Fawaz,” jawab Satya ramah. Ia menghentikan langkahnya di halaman, menyeka keringat di pelipis yang membasahi parut luka bakarnya. “Wak Kaji ada?”

“Abah keluar. Kayae lagi ke rumah Pak Lukman RT, deh, buat bahas nikahan Mas Satya.” Fawaz menatap Satya sambil memicing. Ia melangkah turun dari teras, mendekati Satya dengan senyum penuh selidik. “Hayo lho. Mau nikah kok diam-diam?”

“Nggak diam-diam kok.” Satya membela diri, wajahnya mendadak memerah canggung karena drama pernikahannya. Sepertinya sudah jadi konsumsi warga.

“Pokoknya aku mau datang. Aku mau makan enak. Prasmanan.” Fawaz menepuk perutnya sendiri, menuntut perayaan dramatis.

“Eh, nikah di KUA doang. Nggak ada makan-makan.” Satya mengibaskan tangan panik, membayangkan isi dompetnya yang kian menipis.

“Mas Satya ini pelit ya. Sekali seumur hidup lho. Mas nggak pengen tah, membahagiakan calonnya?” desak Fawaz, menatap tajam ke dalam mata Satya.

“Ya pengen. Tapi dananya nggak ada,” cicih Satya, menunduk. Merasa kalau omongan Fawaz ada benarnya.

Dadanya terasa sesak, menyadari posisinya sebagai pewaris Utama yang terbuang dan tak mampu memberi kemewahan untuk asmaranya bersama Melati.

“Ya weslah. Semoga samawa. Ini. Pakai motorku saja. Motor yang biasa Mas pakai, dibawa Abah soale.” Fawaz melemparkan sebuah kunci kontak dari sakunya, memecah keputusasaan Satya.

“Lho? Nggak apa nih?” Satya membulatkan mata. Ia menangkap kunci logam itu dengan cekatan, menatap motor sport hitam mengkilap milik Fawaz di sudut garasi.

“Iya. Bawa saja. Biar Mas kelihatan keren.” Fawaz menepuk bahu tegap Satya, memberikan dukungan penuh. “Toh aku sedang nggak mau ke mana-mana.”

“Makasih ya.” Satya mengangguk mantap, memutar tubuhnya dengan penuh tekad baru yang membakar dada.

Satya bergegas berbalik. Menjemput Melati. Ia melakukan motor tenang. Melintasi gang-gang sempit, bersiap membawa gadis buta pujaannya menuju babak baru romansa.

“Ayo.” Satya membantu Melati melangkah. Saat melihat gadis itu, sudah siap. Ia menggandeng tangan Melati dengan protektif, menuntunnya keluar dari lorong kamar kos yang sepi.

“Ciyeee, Mas Satya. Mau nikah, ciyeee.”

Satya diam sejenak. Menatap ke arah gadis muda yang duduk di balik meja penjaga.

“Kamu tahu juga, Sa?” tanyanya sembari menghentikan langkah. Memicingkan mata heran, karena drama rencana pernikahannya menyebar begitu cepat.

“Iya, dikasih tahu Fawaz.” Salsa mengangguk. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, memandang meledek ke arah dua sejoli itu.

“Kami satu kos juga sudah tahu lho, Mas.” Beberapa wanita menceletuk. Mereka melongokkan kepala dari balik pintu kamar masing-masing. Menciptakan atmosfer riuh yang sarat akan gosip. Membuat Satya menghela napas panjang.

“Gak apa, namanya juga berita baik. Pokoknya kami harus diundang. Kami kan mau makan-makan.” Salsa memberi kode dengan semangat, menggerakkan jemarinya membentuk gestur menyuap makanan.

“Cuma nikah sederhana kok. Mas pamit, ya.” Satya buru-buru menggandeng Melati. Berjalan menuju motor. Ia mempercepat langkah, enggan memperpanjang drama di depan koridor kos.

“Mbak Mel. Hati-hati jangan lupa oleh-olehnya!” Salsa masih sempat berteriak sebelum Satya melajukan motornya. Ia melambaikan tangan dengan heboh mengantar kepergian mereka.

Motor melaju. Hening. Tak ada percakapan. Hanya Hela napas keduanya yang terdengar tak beraturan. Ketegangan memuncak di dalam dada masing-masing saat asmara mereka kini berpacu menuju sarang musuh masa lalu.

Sampai di sebuah rumah. Satya menghentikan motornya. Lalu membantu Melati turun. Berjalan beriringan. Satya sampai di gerbang, bersamaan dengan mobil yang hendak masuk ke dalam area rumah.

Deru mesin mobil mewah itu menderu tajam, memotong jalan mereka dengan intimidasi yang nyata.

Seorang wanita turun. Menatap Satya dengan wajah pucat. Matanya terbelalak menyaksikan parut luka melepuh di wajah sang pemuda, yang membuatnya langsung mengenali Satya.

“Tante Risma?” Satya menyapa. Berusaha bersikap biasa.

1
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!