Di dunia tempat kekuatan kultivasi menjadi ukuran harga diri dan masa depan, Riu Han lahir sebagai anak dari Klan Riu yang terhormat—namun membawa takdir yang dianggap sia-sia. Sejak usia empat tahun, ia dinyatakan memiliki saluran energi yang tersumbat, membuatnya sama sekali tidak mampu menyerap dan menyalurkan energi alam. Di tengah pandangan mencemooh dan belas kasihan, ia terus berusaha meski tahu jalannya seolah sudah tertutup rapat.
Hingga suatu hari, di balik pohon Kayu Keabadian yang berusia ribuan tahun, ia menemukan sebuah ruangan rahasia yang tersembunyi selama berabad-abad. Di sana, udara terasa lebih kental dan damai, serta menyimpan jejak kekuatan kuno yang tak terduga. Apa yang awalnya hanya menjadi tempat pelarian, perlahan mengungkapkan sebuah warisan agung yang telah lama ditunggu—satu-satunya harapan yang bisa membalikkan takdirnya, membuka jalan menuju puncak kekuatan, dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di balik dunia kultivasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Kembali Mengambil Misi Berburu
Keesokan harinya, Riu Han dan Luo Jin kembali melangkah menuju lantai dasar Pagoda Kultivasi, tepatnya ke meja pendaftaran misi. Mereka memilih mengambil jenis tugas yang sama seperti sebelumnya: berburu binatang roh dan mengumpulkan mutiara roh serta bahan berharga lainnya.
Meskipun sebenarnya kemampuan tempur mereka jauh melampaui murid seumuran, sebagai murid baru dengan tingkatan kultivasi yang masih terhitung rendah—Riu Han baru tingkat tiga Prajurit dan Luo Jin tingkat tiga Perwira—sekte belum mengizinkan mereka mengambil misi dengan risiko tinggi atau tugas yang menjelajah ke wilayah yang jauh dan berbahaya. Namun hal itu sama sekali tidak menyurutkan semangat mereka. Mereka tahu betul bahwa poin kontribusi adalah nyawa bagi murid sekte: untuk menyewa ruangan kultivasi yang baik, membeli bahan obat, hingga menukar teknik baru. Jadi meskipun harus berjuang keras, mereka tetap melangkah dengan tekad bulat.
Hanya mereka berdua yang tahu betapa menakjubkan kekuatan yang sebenarnya mereka miliki. Bersama-sama, mereka mampu bertarung seimbang bahkan mengalahkan binatang roh tingkat empat—yang setara dengan kultivator tingkat Jendral. Artinya, mereka berdua mampu menembus batas logika tingkatan kultivasi biasa. Jika Luo Jin sudah dianggap luar biasa karena sanggup melawan lawan satu tingkat di atasnya, maka Riu Han sungguh langka di dunia ini: ia mampu bertarung bahkan mengalahkan lawan yang berjarak dua tingkat di atasnya.
Kali ini mereka memilih menjelajah ke lembah lain yang belum pernah disentuh sebelumnya. Di wilayah luas Gunung Pedang terdapat puluhan lembah tersembunyi, dan setiap lembah menjadi habitat alami bagi berbagai jenis binatang roh yang berusaha menjauh dari aktivitas manusia sekte. Hari itu perjalanan mereka berjalan lancar dan hasil yang didapat pun sangat melimpah. Mereka memutuskan untuk memperpanjang waktu perjalanan kali ini, jauh lebih lama dibanding misi pertama. Tujuannya sederhana: dengan sekali pergi dan pulang membawa hasil sebanyak-banyaknya, mereka bisa mengumpulkan poin yang cukup besar, sehingga nantinya bisa fokus sepenuhnya berkultivasi di Pagoda tanpa harus sering bolak-balik meninggalkan latihan.
Selama jeda waktu luang, Riu Han tidak berdiam diri. Ia sudah mulai mempelajari gerakan dasar Teknik Tinju Petir yang diceritakan Luo Jin. Ia menyadari keuntungannya: teknik ini merupakan ubahan langsung dari Ilmu Pedang Petir andalan pendiri sekte, namun tampilannya seperti teknik tinju biasa milik Sekte Pedang. Dengan begitu, ia bisa menyalurkan kekuatan aslinya tanpa perlu mengeluarkan gerakan pedang milik Kitab Kultivasi Abadi yang bisa memancing kecurigaan orang lain. Ini adalah cara terbaik untuk menyembunyikan rahasia terbesarnya di tengah lingkungan sekte yang besar.
“Saudara Riu Han, mari kita beristirahat di sini saja malam ini,” usul Luo Jin sambil menunjuk pohon raksasa yang batangnya lebar dan dedaunannya menutupi luas, melindungi dari angin kencang maupun serangan mendadak.
“Setuju, Saudara Luo. Tempat ini cukup aman dan terlindungi,” jawab Riu Han mantap.
Mereka membakar daging binatang roh hasil buruan sebagai makan malam, menghangatkan tubuh dengan api unggun kecil, lalu bersiap untuk beristirahat. Seperti kebiasaan mereka, malam ini pun mereka bergantian berjaga. Bagi kultivator tingkat tinggi, tidur fisik tidak lagi dibutuhkan—cukup dengan bermeditasi semalaman, tenaga dan pikiran akan kembali segar sepenuhnya. Namun Riu Han dan Luo Jin belum mencapai tingkatan itu. Tubuh dan jiwa mereka masih membutuhkan istirahat tidur yang nyata untuk memulihkan kelelahan setelah bertarung seharian.
Keesokan paginya setelah bangun dengan tubuh segar, mereka melanjutkan perjalanan lebih dalam lagi menuju bagian paling tersembunyi lembah. Di sini kemungkinan besar tinggal binatang roh tingkat empat—batas kemampuan maksimal yang bisa mereka hadapi dengan aman saat ini. Tidak butuh waktu lama sebelum mereka menemukan jejak dan akhirnya berhadapan langsung dengan target mereka. Dengan kerja sama yang sudah semakin serasi dan penuh pengertian tanpa kata, binatang roh sekuat apa pun yang mereka temui akhirnya berhasil dikalahkan dengan lancar.
Menjelang siang, mereka berjalan pulang menuju gerbang utama Sekte Pedang. Sesampainya di depan gerbang yang tinggi dan megah, mereka berhenti dan mengeluarkan tanda pengenal resmi dari saku jubah mereka.
Meskipun seragam dan lambang bordir di dada sudah cukup menunjukkan bahwa mereka adalah murid sekte, aturan Sekte Pedang sangat ketat: setiap kali keluar-masuk wilayah inti, murid wajib menunjukkan token resmi yang terbuat dari giok. Bentuk token itu sama persis dengan lambang di jubah—sebilah pedang tegak—namun warnanya dibedakan berdasarkan tingkatan:
- Perunggu untuk Murid Pelayan
- Perak untuk Murid Luar
- Emas untuk Murid Dalam
- Putih bersih untuk Murid Inti
Saat melihat token emas yang mereka sodorkan, penjaga gerbang langsung memberi hormat dengan sikap hormat penuh. Mereka tahu betul bahwa murid yang memegang token emas adalah aset berharga sekte yang berada di bawah bimbingan langsung para tetua. Setelah memeriksa keaslian token dan mencatat kehadiran mereka, penjaga gerbang tersenyum ramah.
“Selamat kembali, Saudara Riu Han, Saudara Luo Jin. Perjalanan aman?” tanyanya sopan.
“Terima kasih, aman,” jawab mereka berdua serempak sambil mengangguk.
Mereka pun melangkah masuk melewati gerbang besar itu, hati mereka penuh kepuasan. Hasil yang mereka bawa kali ini pasti akan cukup untuk menopang kebutuhan kultivasi mereka dalam waktu yang cukup lama, dan langkah mereka menuju puncak kekuatan pun akan semakin mantap.
Lanjut Up Thor 💪💪