"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harus Bagaimana
"Mommy, Macha mau itut mommy." Gadis kecil itu kembali merengek saat Alina hendak melangkah meninggalkan rumah. Wajahnya ia buat seimut mungkin untuk mengambil hati sang mommy agar membawanya ikut serta.
"Tidak bisa sayang. Kali ini, Marsha di rumah saja ya sama kak Dira. Nanti kalau Marsha kecapean, sakit lagi gimana... ."
Gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya kesal. "Tapi Macha mau itut mommy. Macha mau naik blum blum... ."
"Nanti kita naik brum brum ya, tapi tidak sekarang ya sayang... Mommy takut kalau Marsha sakit lagi."
"Hwaaa... Mommy... Macha mau itut. Macha ndak mau di lumah shendilli. Nanti Macha tulik hantu tayangan, mommy..." Seru gadis itu, dramatis.
"Kan Marsha sama kak Dira, sayang. Dan lagi, siapa yang bilang disini ada hantu gentayangan, hmmm..." gemas, Alina pun dibuat tak tahan untuk mencubit pipi chubby itu.
"Kata kak Dilla, kalau nakal nanti tulik hantu tayangan."
"Iya, makannya Marsha tidak boleh nakal. Harus menuruti apa kata mommy ya? Marsha di rumah sama kak Dira. Nanti, mommy belikan ayam goreng kakek buat Marsha, gimana?"
"Macha mau, Macha mau, mommy. Ayam goleng kakek enak shekalli ya mommy."
"Iya, mommy pergi dulu ya. Itu kak Dira nya sudah datang." Tunjuk Alina pada sosok Dira.
"Marsha, Main yukk... ."
Gadis kecil itu pun menurut. Dengan di gandeng Dira, ia mulai melangkah pergi meninggalkan Alina yang sedari tadi tertahan karena harus bernegosiasi dulu dengan putri kecilnya.
"Huffft, akhirnya."
Alina bergegas melangkah keluar rumah. Jarum jam terus berputar, dan ia tahu, ia sudah terlambat dari waktu yang telah dijanjikan.
"Maaf, saya terlambat, Dok." Seru Alina, segan. Pada seorang dokter perempuan yang ia taksir mungkin berumur 30 tahun.
"Tidak apa-apa bu. Silahkan duduk dulu."
Alina mengikuti arahan itu dan langsung mengambil tempat du hadapan sang dokter. Di balik meja itu, jantungnya kian berdegup kencang, menanti kalimat selanjutnya.
"Ini adalah hasil pemeriksaan putri ibu." Dokter perempuan itu menyerahkan sebuah map ke hadapan Alina.
Alina gegas membukanya. Namun, sudah dapat diprediksi, tak sedikitpun ia memahaminya.
"Jadi, putri saya baik-baik saja kan, Dok?"
Dokter itu menghela nafas dalam sebelum akhirnya berseru, "maaf saya harus mengatakam ini. Namun sesuai dengan hasil pemeriksaan kemarin, putri ibu didiagnosis terkena Leukemia Limfoblastik Akut."
Alina terpaku di detik itu. Waktu seolah berhenti. Detak jantungnya bahkan memompa lebih cepat hingga membuatnya hampir meledak. Membuatnya sesak. "L-leukemia?" Bibirnya bergetar, menahan tangis yang kini meluap hebat.
"Benar ibu. Karena leukimia yang di derita putri ibu adalah leukimia akut, maka kita harus segera melakukan tindakan pengobatan. Namun, di rumah sakit ini, kami belum bisa melakukannya karena keterbatasan alat. Saya ada rekomendasi rumah sakit yang bagus di Jakarta, ibu bisa membawanya kesana untuk pengobatan."
Jakarta?
Apakah ia harus kembali ke kota itu lagi?
"Bagaimana dengan biayanya, Dok?"
"Kemungkinan berkisar 800 juta sampai satu milyar."
Bahu Alina merosot.
"Bagaimana," Suaranya tercekat. "Bagaimana jika saya tidak bisa membawanya berobat?"
"Maaf untuk mengatakan hal ini, tapi mungkin pasien tidak akan bertahan lebih dari 3 bulan."
☆☆☆☆☆☆☆☆
Sore itu, langit terlihat mendung, motor-motor saling berkejaran menghindari hujan yang sebentar lagi mungkin akan runtuh.
Alina masih terduduk di halte bus itu dengan tatapan kosong. Di tangannya, laporan medis Marsha tergenggam lesu. Layar ponsel yang sedari tadi berkedip itupun tak sedikitpun ia sentuh.
Harus bagaimana ia menjalani hari-hari yang akan datang di saat putri semata wayangnya itu telah di diagnosa dengan penyakit serius. Harus bagaimana ia terlihat kuat di saat ia tau, mungkin umur gadis kecil itu tak lama lagi.
Alina menunduk dengan sisa tangis yang kembali meluruh.
Tidak cukupkah Tuhan mempermainkan dia selama ini?
Lama perempuan itu diselimuti kabut kesedihan, kini akhinya ia memilih beranjak. Ia harus pulang. Putrinya mungkin tengah menunggunya.
Setengah jam perjalanan, ia pun sampai di rumah dengan ummi Hannah yang sudah berdiri khawatir di teras rumahnya.
"Lin... ."
Tanpa menjawab panggilan itu, Alina langsung menyerbu ke pelukan ummi Hannah. "Teh, Alina harus bagaimana... ."
Tangisan itu lirih terdengar menyayat, membuat Ummi Hannah merengkuh bahu itu. "Ada apa Lin, ceritakan jika itu membuat hatimu lega."
"Marsha sakit kanker teh. Alina harus gimana... ."
Seketika itu, ummi Hannah membeku. "Kanker? Bagaimana bisa Lin... Ya Allah... Marshaa..." Ummi Hannah ikut terisak di detik itu. Tak menyangka jika gadis kecil yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri itu akan menderita penyakit serius.
"Aina tidak tau teh. Alina harus gimana... ."
"Duduk dulu Lin. Kita pikirkan sama-sama."
Alina mendudukkan tubuhnya di kursi teras rumahnya, sementara Ummi Hannah melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambilkan segelas air.
"Minum dulu, Lin."
Alina meneguknya dengan tak bersemangat.
"Bagaimana kata dokter, Lin." Seru ummi Hannah setelah Alina meletakkan gelas itu di atas meja.
"Kata dokter, Marsha sakit leukimia, teh. Jika mau berobat, harus ke kota karena di rumah sakit itu masih terkendala alat-alat medis. Dan- biayanya, tidak murah. 800 juta, atau bahkan lebih. Alina hanya ada 500 juta pemberian dari mertua Alina dulu. Tapi sisanya Alina dapat dari mana Teh... Alina bingung harus gimana... ."
Ummi Hannah kembali merengkuh perempuan itu.
"Shhht, Sabar ya Lin. Teteh yakin kamu perempuan yang kuat."
"Ngga teh. Alina ngga sekuat itu. Kenapa harus Marsha. Kenapa tidak Alina saja yang sakit. Kenapa tidak Alina saja yang sekarat. Kenapa harus Marsha. Dia masih kecil, Teh. Alina ngga bisa lihat Marsha kesakitan, Teh... ."
"Teteh tau mungkin ini berat untuk kamu. Tapi dari pada terpuruk, lebih baik kita cari solusi untuk mengobati Marsha."
"Katamu, dokter merekomendasikan rumah sakit di kota?" Sambung ummi Hannah.
Angguk Alina dengan sisa isak yang masih menggantung.
"Besok bawa Marsha berobat, Lin."
"Tapi, uang Alina masih kurang teh."
"Tidak apa-apa. Kita lakukan sebisanya dulu. Yang penting Marsha di obati dulu. Soal uang, kita basi cari bersama. Teteh akan minta iuran ke warga untuk bantu kamu. Marsha pasti sembuh, Lin."
"Aamiin. Makasih teh... ."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong
Happy Reading
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar