Jadi pacar idol? Siapa takut! Maksud hati ke Korea untuk menempuh pendidikan. Siapa sangka Yana bertemu dengan Max, idol yang sedang naik daun. Hubungan mereka harus ditutupi dari khalayak umum demi keselamatan Yana. Perjuangan kisah cinta orang biasa dan artis dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eva IM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Aku Tak Bisa
Panas. Yana bisa merasakan panas dari tubuh Max. Dengan gerakan cepat Yana mengambil air dingin di ember dan handuk kemudian menyeka handuk di kening dan leher Max. Pria yang sangat mempesona di atas panggung ini sedang terkulai tak berdaya sekarang.
Yana menggigit bibir bawahnya melihat kondisi Max yang lemah. Hatinya terasa sakit. Jangan sakit lagi.. hatiku sakit melihatmu sakit Max.. Batin Yana menyentak keras.
Mata Max perlahan terbuka karena air dingin yang terasa membasuk wajahnya. Pandangannya berkabut kemudian mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. "Yana.." Suaranya sangat lemah.
Yana menoleh saat mendengar namanya di panggil dengan suara pelan.
"Apakah kamu baik-baik saja Max?" Yana mendekati Max. Senyumnya mengembang.
Handuk di tangan Yana terlepas karena tarikan Max yang kuat hingga tubuhnya jatuh di atas Max. Tangan Max memeluk erat tubuh Yana. Mereka berbagi suhu tubuh. Suhu panas Max menjalari Yana. Pelukan Max semakin erat, Yana sesak nafas.
"Max.. uhuk uhuk.." Yana kehabisan nafas.
"Maafkan aku.. maafkan aku.." Suara Max parau.
Hati Yana berdesir. Suara Max yang lemah menusuk hatinya. Kenapa meminta maaf Max? Apakah karena aku kamu seperti ini? Kenapa?
Pelukan Max mengendur agar dia bisa melihat wajah Yana. Yana mencoba bangkit tapi tangan Max memegangnya dengan kuat. Tak mengizinkan Yana jauh darinya.
"Jangan pergi.. aku tak bisa.. jangan pergi.." Suara Max memohon.
Wajah sayu Max *** hati Yana. Otaknya sedang memproses ucapan Max.
"Tidak. Aku tidak akan kemana-mana.." Jawab Yana. Bingung harus bagaimana. Yang pasti dia tak akan meninggalkan Max lagi.
Max bangun kemudian menarik tubuh Yana ke dalam pelukannya lagi. Kepala Max tenggelem di leher Yana. Menghirup aroma tubuh yang dia rindukan. Tak mau lagi. Max tak mau lagi kehilangan Yana. Yana miliknya, perempuannya. Yana hanya untuknya.
Tubuh Yana menegang dengan perlakuan Max. Yana tak bergerak. Nyatanya dia merindukan sentuhan Max. Yana takut jika dia bergerak Max akan melepas pelukannya. Kekhawatiran yang konyol.
Keharuman yang memabukkan ini membawa tubuh Max melayang. Rasa sakit yang dia tahan menguap tak bersisa. Benar yang Max bilang jika Yana adalah penyembuhnya. Dia ingin meraup sebanyak-banyaknya. Pelukan saja tidak cukup untuk Max, dia ingin lebih. Dia ingin tubuh Yana, seluruhnya. Harum wangi tubuh Yana akhirnya membakar gairah Max. Kepalanya beralih dari leher menuju ceruk kemudian menggigitnya.
"Ah!" Tubuh Yana bergetar. Gigitan Max tidak sakit tapi membuatnya kaget.
"Aku sedang berfikir untuk menghukummu.." Jelas Max.
"Apa yang kamu.." Yana hendak protes tapi Max kembali menggigit lehernya lagi. "Max!" Suara Yana meninggi.
Max tersenyum puas melihat bekas kemerahan di perpotongan leher Yana. Itulah hukuman dari Max karena sudah berani mengabaikan Max beberapa hari ini. Tanda merah itu seolah mengejek Max untuk bertindak lebih. Entah karena sakit atau apa, Max merasa tubuhnya terbakar. Leher kurus dan jenjang milik Yana begitu indah di mata Max.
"Max! Ah!" Yana terus menggeliat mencoba melepaskan diri dari genggaman Max saat gigitan Max berubah menjadi cumbuan, ciuman, dan hisapan.
Geli. Rasa itulah yang menggelitik Yana. Sekujur tubuhnya seperti dirayapi rasa asing. Tubuhnya menegang. Semua area sensitifnya juga menegang.
"Aku menginginkanmu.." Bisik Max ditelinga Yana kemudian menggigit daun telinganya.
"Ahhh!" Kali ini desahan centil lolos dari mulutnya. Yana terkesiap dengan reaksi tubuhnya. Rasa aneh itu menyenangkan.
Dalam waktu yang singat dan tiba-tiba, mereka sudah bertukar posisi. Yana yang tak siap dengan kondisi tubuhnya yang melayang pun ambruk dengan tubuh Max menjulang di atasnya.
Rona merah menghiasi pipi Yana. Matanya menatap dalam wajah Max yang tepat di atasnya. Wajah yang sangat dia rindukan selama ini. Munafik jika Yana mengatakan dia akan melupakan Max. Sungguh munafik. Cinta tak mungkin dipaksa berhenti.
Bersambung..
Aku baca ulang yang entah ke berapa kaliik 💐
kereenn..kereenn..kereenn...👍👍👍
kenapa harus bilang spt itu, kalau cuma sandiwara...
yana....bagus...jaga harga diri kamu...