NovelToon NovelToon
The Last Lotus

The Last Lotus

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: sri devi

Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.

Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.

Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.

Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?

Penasaran? langsung baca yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Moonshine

"Bu?!" Reyna memegang lengan Jira yang sedang berbaring di tempat tidur.

"Crystal?" Jira ingin segera duduk hingga Reyna dan Bas menahan dirinya. 

"Perut Ibu baru selesai dijahit." Bas memberi peringatan. 

Jira menghela napas lalu melirik arloji Bas. Dua jam sudah berlalu dari waktu kecelakaan Crystal. Perut Jira sudah mendapat perawatan, beruntung lukanya tak begitu parah meski tetap harus dijahit.

"Ibu Crystal masih dioperasi, Bapak Alvano masih dirawat, jantungnya kumat. Ibu Andini baru saja meninggal."

Jira merasa kepalanya semakin pening karena dipenuhi berbagai ketakutan. Sekejap dia berdoa untuk ketenangan. 

Bas dan Reyna ikut terdiam karena tegang. Sebelum membawa Jira ke rumah temannya, wanita itu meminta Bas menyembunyikan pisau yang akan dia cabut. Bas dan Reyna tentu saja menolak karena tindakan itu justru bisa membahayakan kondisi Jira. Tapi Jira tidak mau dilihat orang lain dalam keadaan tertusuk pisau. 

"Ibu istirahat dulu," kata  Reyna berusaha menenangkan. 

"Kalian pikir aku masih bisa istirahat?!" bentak Jira dengan air mata yang tiba-tiba tumpah. 

"Jira, tenang!" seorang dokter muda yang masuk ke kamar berusaha menenangkan Jira. 

"Lukamu lumayan, Jira. Jangan pergi dulu." Pria itu mencoba merayu. 

"Crystal ... aku harus tahu kondisinya," kata Jira tanpa memedulikan orang lain hingga dokter itu menyerah. 

"Vid, jangan bilang siapa pun tentang bantuanmu hari ini," pinta Jira dengan wajah serius. 

Dokter bernama David itu hanya bisa terdiam memandangi Jira yang berusaha berjalan dengan normal. 

**

Situasi rumah sakit tampak ramai oleh beberapa orang yang berusaha menenangkan Arsa yang terduduk diam di lantai. Jira segera mendekat untuk mengenggam tangan Arsa hingga beberapa orang mulai menyingkir. 

"Ji, mama ... mama ..." Arsa seketika menumpahkan tangisannya di pundak Jira. 

"Kenapa mereka bisa jatuh? Kenapa mereka bisa ke sana?" tanya Arsa sambil terisak. 

Jira tak mampu menghibur, kegamangan menyelimuti dirinya yang mengkhawatirkan kondisi Crystal dan Alvano sementara Jira tak mampu mengungkap kejadian yang sebenarnya. Arsa sudah terlampau bersedih, Jira tak ingin menambah beban. Lagipula tak ada yang bisa dituntut bila Andini telah meninggal. 

Sejenak Jira menutup mata, teringat saat dia menarik Crystal hingga Andini terpental. Rasa bersalah menghantuinya tapi dia menegaskan pada diri sendiri kalau dia hanya berusaha menolong Crystal walau akhirnya mereka tetap terjatuh. 

"Kamu dari mana aja?" tiba-tiba suara Mandala menyeruak di antara tangisan Arsa. 

"Ibu Jira pingsan di kamar, tadi kami bawa ke klinik dulu." Reyna memberi penjelasan. 

"Di mana kamu saat kejadian?" tanya Mandala dingin.

Jira menatap mata Mandala yang memerah, Arsa hanya diam sementara Bas mulai naik darah. "Saya rasa ini bukan waktunya bertanya hal tak penting. Ibu Jira ...."

"Penting untuk mengetahui posisi setiap orang saat kejadian itu. Kita tak pernah tahu itu kecelakaan atau kesengajaan." Mandala masih menatap mata Jira yang berkilat.

"Apa maksud Om?" tanya Jira tajam. 

Mandala akan bicara tapi pihak rumah sakit memberi kabar bahwa jenazah Andini sudah bisa dibawa pulang. Arsa segera berdiri, berjalan linglung untuk menjemput ibunya. 

"Kamu sempat berganti baju saat adik dan calon mertuamu sekarat?" sindir Mandala saat menatap pakaian Jira yang berubah.

"Saya yang menggantinya karena baju itu terlalu sesak untuk orang pingsan." Reyna memberi jawaban. Mandala mengernyit tapi kemudian tatapannya kembali menelisik. "Jira, urusan kita belum selesai!" kata Mandala tajam. 

Jira perlahan berdiri karena posisi duduknya membuat lukanya tiba-tiba nyeri. 

"Ibu baik-baik aja?" tanya Reyna dan Bas seraya membantu Jira yang nyaris jatuh sementara Mandala yang menoleh ke belakang merasa heran. 

**

Jira tak pernah merasa baik-baik saja. Sejak hari itu dia tak bisa tidur tenang. Alvano masih dirawat, keadaannya memburuk karena kondisi Crystal yang dinyatakan koma. Beruntungnya Crystal terjatuh di rerumputan, bukan di lantai seperti Andini.

Arsa yang bersedih menjaga jarak dengan Jira. Bahkan sudah empat hari mereka tidak saling bicara, Jira hanya bertemu Arsa di pemakaman Andini. 

"Mbak, makan dulu, ya." Bi Ami menyentuh lengan Jira, sentuhan itu membuyarkan pikiran Jira yang mengelana. Ditengoknya Crystal yang berbaring dengan segala alat bantu terpasang di sekujur tubuhnya. 

"Biar saya yang jaga Mbak Crystal," kata Bi Ami menenangkan. 

Jira menggeleng, perlahan dia duduk di sofa untuk memandangi Crystal. Berbagai rasa bersalah kembali menghantui Jira. Bayangan wajah ketakutan Crystal, tangisannya dan semua kata kasar yang pernah dilontarkan Jira silih berganti memenuhi benaknya. 

"Ah ...!" Jira mendesah sambil menutup mata karena terbayang tubuh Crystal yang menggantung dan jatuh.

"Kenapa, Mbak?" tanya Bi Ami cemas. 

"Aku ...."

Jira merasa napasnya sesak, dadanya terhimpit berbagai penyesalan karena membiarkan Crystal melawan Andini sendirian. Seandainya malam itu dia berpura tidak melihat Crystal bersama Arsa, mungkin adiknya tidak akan melarikan diri ke balkon. 

Bi Ami perlahan memijat tangan Jira. Dia tahu Jira teramat menderita tapi enggan menujukkannya. "Mbak Crystal pasti sembuh. Dia kuat. Waktu Mbak berdua operasi di Bangkok, Mbak Crystal cepat pulih." Bi Ami mencoba menghibur Jira. 

"Crystal ..." Jira menggantung ucapannya lagi karena pintu terbuka. 

"Mas Arsa?" Bi Ami tampak berbinar menatap Arsa. Dia berharap keduanya bisa saling menghibur. 

Arsa melirik Jira lalu perlahan duduk di sebelahnya ketika Bi Ami meninggalkan ruangan. 

"Maaf aku baru datang," kata Arsa pelan. 

"Aku tahu perasaanmu. Maaf aku juga nggak ada di dekat kamu," kata Jira. 

Arsa memandangi Crystal, perlahan dia mendekat dan menyentuh ujung tangan Crystal. 

"Crystal saksi kunci tentang apa yang sebenarnya terjadi di atas sana," kata Arsa. 

Jira menatap punggung Arsa tanpa bicara tapi sebaliknya Arsa terus bicara. "Mereka nggak mungkin terlalu bodoh untuk menerobos palang. Nggak mungkin juga mama berpikir untuk bunuh diri walau kemungkinan besar yang memiliki niat bunuh diri Crystal. Apa mungkin mama sedang berusaha menyelamatkan Crystal?"

Bagai aliran listrik, kata-kata Arsa menyengat hati Jira. Dia tak memahami mengapa Arsa punya pikiran terlalu jauh. 

"Crystal nggak mungkin bunuh diri," kata Jira. 

"Bagaimana kita bisa tahu? Sebelumnya Crystal malah menangis sendirian. Apa yang dia pendam? Apa kamu benar-benar nggak tahu?" tanya Arsa sambil berbalik dan mengamati wajah Jira. 

"Kamu tahu Crystal menangis, kan?" ulang Arsa, terdengar menekan Jira yang kali ini merasa nada ucapan Arsa menusuk jantungnya. 

"Sa, kamu nggak berpikir aku yang menyebabkan segalanya, kan?" tanya Jira tajam. 

"Kita akan tahu kalau kamu jujur atau Crystal bangun."

"Sa, apa maksudmu?!" tanya Jira tak terima. 

"Di mana kamu saat kejadian?"

"Aku di kamar!" Jira menjerit, tak menyangka Arsa mencurigainya. Apalagi saat Arsa terdiam menyadari bahwa saat kecelakaan, Jira terlalu lama menyusul ke rumah sakit. 

"Apa kamu menuduh aku mendorong ibumu dan adikku sendiri?" tanya Jira frustrasi. 

"Kamu membenci mereka berdua."

Jira merasa kini dunianya seperti es krim yang berada di bawah sinar matahari. Meleleh dengan cepat. Arsa tanpa perasaan menatapnya tajam, mengintimidasi dalam diam. 

"Sa, demi Tuhan! Kamu termakan Om sialan kamu itu?!"

"Apa maksudmu?"

"Apa yang dia katakan tentang aku?"

"Dia nggak mengatakan apa pun. Dia terlalu sedih mengenang mama, dia ...."

"Ya, dia pantas sedih karena mamamu ...."

Jira tersadar telah keceplosan bicara. Mata Arsa menyipit, kini dia mendekati Jira. 

"Kenapa mamaku?" tanya Arsa dingin. 

"Sa, aku tahu kamu bersedih tapi tolong jangan begini. Aku juga sedih, aku nggak nyangka kalau ...."

"Kenapa kamu harus sedih? Bukankah menyenangkan bila orang yang mengusik hatimu telah meninggal?"

"Cukup, Sa!" Jira menjerit marah, dia berdiri untuk menatap tajam Arsa namun sudut matanya melihat jemari Crystal bergerak. 

"Crystal?!" Jira memekik seraya menekan tombol panggilan. Digenggamnya tangan Crystal yang semakin bergerak-gerak. Di belakang Jira, Arsa berdiri penuh harap. 

Keduanya memekik bersamaan ketika melihat mata Crystal terbuka diiringi suara perawat yang meminta keduanya meninggalkan ruangan. Perawat segera memanggil dokter dan dalam beberapa menit Crystal sudah dalam pemeriksaan. 

Jira, Arsa, Bi Ami serta Reyna dan Bas menanti kabar dengan gelisah. Jira luar biasa tegang, hatinya tak tenang sama seperti Arsa yang menaruh harapan besar pada Crystal. Hanya Crystal yang bisa membantunya mengusir kecurigaan yang diembuskan Mandala. Arsa melirik Jira yang sedang memejamkan mata. Ingin rasanya dia memeluk wanita itu tapi seakan ada sesuatu yang menghalangi. 

"Siapa walinya?" tanya dokter yang keluar dari ruangan. 

"Saya kakaknya," jawab Jira mendekat. 

"Kondisi pasien mengalami keajaiban. Dia sudah sadar tapi ...."

"Tapi apa?" tanya Arsa cemas. 

"Pasien mengalami cedera otak, patah tulang kaki dan kerusakan saraf tulang belakang. Kakinya belum bisa kembali normal. Dia masih mengalami kelumpuhan dan ingatannya hilang. Pasien tidak mengenali dirinya juga hal lain kecuali satu nama, Kak Jira."

Jira tercenung, tak ingin memercayai ucapan dokter. Bagaimana bisa Crystal lumpuh? Bagaimana bisa ingatannya hilang? Mengapa Crystal lagi? Bagaimana bisa seorang atlit dansa mengalami kelumpuhan?

Jira berpegangan pada tembok, tak kuat menopang tubuhnya yang menolak menerima kenyataan. Bas segera menyangga punggung Jira, berusaha menenangkannya.

Mata Jira masih memandangi dokter yang kini mempersilakannya menengok Crystal tapi Jira bergeming. Bagaimana bisa dia menemui Crystal yang cacat karena tangannya tak kuat menggengam? Bagaimana bisa dia sanggup melihat wajah lugu itu kehilangan ingatan?

Jira ingin sekali seseorang mengejutkannya dan mengatakan bahwa segala yang terjadi hanyalah khayalan. 

 

1
sksksk
kece
??????@!2😍😄6h9
Nemu Lg karya yg the best
Ilfra Ilivasa
dari prolog udah bagus kak! mantap!
Ilfra Ilivasa
mantap kata-katanya! dan akan saya jawab, "ia tidak marah, melainkan sang awan lah yang menghilangkan bulan dan itu artinya bulan itu tidaklah marah. Dirinya hanya membutuhkan waktu untuk keluar dari awan itu"
Eva Sri Wahyuni
ini novel yang paling sad sih 😭
sksksk: sengaja buat yang sad" bund biar keluar air matanya 🤭
total 1 replies
sksksk
bagus banget
⚚𝓐𝔂𝓮͠𝓼𝓱𝓪͛👒
yaa aampuun thor berasa banget beban yg di tanggung jira semasa hidupnya
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi
sksksk: makasi kakak sudah mampir
total 1 replies
Arasa Cimamahmuda
nyimak
nura julian
tulisan rapi 👍
sksksk: terimakasih 🥰
total 1 replies
Quora_youtixs🖋️
semangat terus sukses selalu buat karyamu 👍
Yeni Eka
Aku hadir nih thor kasih boom like
Nona Bucin 18294
💜💜💜
Nona Bucin 18294
like like like 💜
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir,,,
circle
aku mampir Thor, 😘😘
Sweet chicie💞
wah aku up jejak sampai disini dlu ya kak,, nyicil baca ya ni bakal jadi pr,,, mangattt
Sweet chicie💞
rindu mampir kak, baru mulai baca udah tertarik kak, semangat ya berkarya terus,...
Sweet chicie💞
like
Sweet chicie💞
up
SoVay
hadiiiirrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!