Kehidupan Lambok yang memutuskan menduda setelah kepergian sang istri, Tiana Kartika. Dia akan fokus merawat anak-anaknya buah cinta dengan Tia.
Adik iparnya, Nindi yang belum juga menikah karena belum mendapatkan jodoh seperti keinginannya. Dia juga berat jika harus meninggalkan keponakannya.
Atala dan Twins yang tumbuh besar tanpa seorang Mama tetapi tak pernah kurang kasih sayang Mama karena Auntie Nindi yang menyayangi mereka seperti Mama.
Atala yang tumbuh menjadi pemuda yang sangat tampan, membuat banyak wanita yang tergila-gila padanya tak terkecuali dengan Vita yang diam-diam menyukai Kakaknya.
Terkuaknya status Atala, membuat Atala terpukul dan mulai mencari Orangtua kandungnya.
Bagaimana kisah cinta Nindi selanjutnya? Apakah dia akan mendapatkan pendamping seperti Lambok?
Bagaimana usaha Atala yang mencari orangtua kandungnya, akankah berhasil?
Seseorang yang berasal dari masa lalu akan datang lagi, Siapakah dia?
Selamat membaca novel edisi kedua dari 🌷"Derita, Akankah Berakhir?"🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Fath, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berkumpul Dengan Keluarga
"Assalamu alaikum..." Salam Nindi.
"Waalaikumussalaam..." Sahut Ibu, Fitri dan Fahmi.
"Darimana Nak?" Tanya Ibu.
"Abis mancing Bu, di sungai. Nih Bu, Nindi kepengen makan ikan pepes besok." Kata Nindi yang menunjukan ikan-ikan hasil pancingannya.
"Banyak sekali Nindi!" Kata Fahmi.
"Lagi dikasih rejeki banyak. Hehehe..." Nindi terkekeh.
"Ya sudah sana mandi dulu. Sebentar lagi maghrib." Pinta Ibu.
"Ya Bu." Kata Nindi yang menenteng embernya ke dapur.
"Miss dokter...." Panggil Fathir.
"Apa Fathir ganteng?" Tanya Nindi di dapur.
"Gak galau lagi?" Canda Fathir.
"Apaan siihh?? Nih galau..." Nindi mencubit pipi Fathir yang cubby dengan gemas.
"Auntiiieee.... Sakiiittt....!" Teriak Fathir.
"Hahahaha... Makanya jangan isengin Auntie terus..." Canda Nindi.
"Eehh ini katanya mau mandi malah bercanda....??" Kata Fitri yang mendengar kegaduhan di dapur.
"Tuh Miss Dokter cubitin pipi Fathir terus..." Fathir merengut.
"Lagian mulutnya iseng.. Hehehehe... Siapa suruh punya pipi gemesin... Hehehehe..." Nindi berlalu ke kamar mandi.
"Awas ya Auntie... !" Ancam Fathir sambil terkekeh.
"Kamu juga, Auntienya digodain terus." Kata Fitri.
"Abis Auntie ngegemisin Mama... Hehehehe..." Fathir menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Fitri tersenyum manakala mengingat dulu sering mencubiti pipi Nindi karena gemas. "Ya sudah cepet berwudhu... Ayah sudah siap tuh." Pinta Fitri.
"Ya Ma." Kata Fathir yang bergegas mengambil air wudhu.
Mereka pun melaksanakan shalat maghrib secara berjamaah dengan diimami oleh Fahmi.
___________________
"Kamu masih ingat jalan pulang, Sayang?" Tanya Lambok pada Tia.
Tia menggeleng. "Aku gak ingat."
Lambok tersenyum sambil merengkuh bahu Tia. Mereka bergegas masuk kedalam taxi.
"Pa... Auntie gak tahu kan kalau Kita datang?" Tanya Vita.
"Gak Sayang. Nenek juga gak tahu." Kata Lambok.
Supir taxi membawa mereka ke alamat yang telah diberikan Lambok.
Tiga puluh menit kemudian.
"Assalamu alaikum..." Salam Lambok dan Keluarganya.
"Waalaikumussalam... Ya Allah... Kak Tia?" Fitri terkejut dan langsung memeluk sang Kakak. Fitri menangis menumpahkan rasa rindunya pada sang Kakak.
"Kapan datang Kak, Kok gak kasih kabar?" Fitri mencium punggung telapak tangan Lambok.
Atala dan Twins mencium telapak tangan Fitri dan Fahmi.
"Ya Allah... Sudah besar-besar yah ponakan Auntie." Kata Fitri.
"Siapa Fit?" Teriak Ibu dari dapur.
"Assalamu alaikum Nek...." Sapa Atala dan Twins.
Ibu yang sedang menyiangi ikan mendongak. "Waalaikumussalaam... Ya Allah... Cucu-cucu Nenek dari Jakarta..." Ibu menghampir cucu nya.
Mereka bergegas memeluk sang Nenek.
Ibu menangis terharu. "Kok gak bilang-bilang mau datang? Mana Mama dan Papa?" Tanya Ibu.
"Ada Nek, di depan sama Auntie Fitri. Auntie Nindi mana, Nek?" Tanya Atala.
"Auntie mu semalam ditelpon Rumah Sakit ada pasien darurat." Kata Ibu yang bergegas keluar dengan merangkul cucu-cucunya.
Fahmi ternyata sudah bergabung di ruang tamu.
Tia melihat Ibu keluar dari kamar langsung berhambur. "Ibuuuu...." Tia memeluk Ibu dan menangis.
"Ya Allah... Kamu sehat-sehat saja Nak?" Ibu juga ikut menangis.
Ibu memang mendapat berita kalau ternyata Tia masih hidup. Ibu juga tahu mereka sudah berada di Jakarta, hanya saja kesibukan mereka yang baru pindah, baru sempat menengok sang Ibu saat ini, saat liburan sekolah.
"Maafin Tia, Bu. Tia baru bisa kesini sekarang. Tia lupa jalan pulang, Bu." Tia mengusap airmatanya.
Ibu mencium kening Tia. "Jangan lagi pernah menyembunyikan apapun dari Kita, dari suamimu, Tia." Kata Ibu tegas.
Tia mengangguk. "Iya Bu, Tia janji. Nindi mana Bu?"
"Adikmu ada pasien darurat semalam. Jadi dia masih di Rumah Sakit." Kata Ibu.
Lambok menghampiri Ibu dan memeluk Ibu. "Ibu sehat kan?" Tanya Lambok.
"Alhamdulillaah Nak. Seperti yang Kamu lihat. Kapan Kalian tiba?" Tanya Ibu.
"Semalam Bu. Kami nginap di hotel bandara semalam." Kata Lambok.
"Kenapa gak telpon Aku, Aku kan bisa jemput?" Kata Fahmi.
"Gak apa Fahmi, semalam Kita sampai sudah larut karena pesawat sempat delay. Tengah malam baru tiba disini. Tadi abis subuh langsung kesini, anak-anak sudah gak sabar mau ketemu Neneknya." Kata Lambok.
"Mana Fathir dan Adik-adiknya? Kok gak kelihatan?" Tanya Lambok.
"Biasa... Mereka abis subuh jalan-jalan keliling kampung, sebentar lagi juga pulang." Kata Fahmi.
"Kak... Minum dulu." Fitri membawakan teh manis hangat untuk mereka dan goreng pisang. Kemudian Fitri beranjak ke kamar.
"Nih adik Fathir satu lagi." Kata Fitri yang keluar dari kamar menggendong anaknya yang berumur 2 tahun.
Tia mendekat. "Siapa namanya?" Tia mengambil anak Fitri dari gendongan Fitri.
"Farah, Kak." Kata Fitri.
"Cantik sekali ponakan Mama nih." Kata Tia yang mencium pipi Farah.
"Assalamu alaikum..." Salam Fathir dan Fahri.
"Wa alaikumussalaam..." Jawab Mereka.
"Wah ada Mama dan Papa disini." Kata Fathir. Fathir mencium punggung telapak tangan Tia dan Lambok. Dia juga bersalaman dengan Atala dan Twins.
"Fahri... Kok gak salim sama Mama dan Papa?" Tanya Fitri.
Fahri menuruti perintah Mama nya.
"Ini namanya siapa?" Tanya Tia.
"Fahri, Mama." Kata Fahri. Kemudian dia mencium punggung telapak tangan Lambok. Dan juga Atala. kemudian salaman dengan Twins.
Fahri memang belum kenal dengan keluarga Lambok. Hanya lewat video call itu pun dia jarang sekali mau. Fahri agak pemalu dan pendiam beda dengan Fathir yang mudah bergaul dan murah senyum.
"Kalian istirahat dulu. Ibu mau terusin bikin pepes, kemarin Nindi mancing ikan di sungai." Kata Ibu.
Lambok terperanjat. "Nindi masih mancing ikan, Bu?" Tanya Lambok.
"Iya Nak, Ibu tahu Nindi berusaha melupakan siapa itu namanya... Yang di Negara A?" Ibu mengingat.
"Marcel maksud Ibu?" Kata Lambok.
"Ya... Marcel." Kata Ibu.
"Ibu tenang saja yah. Itu urusan Lambok. Yang lain diem-diem saja. Jangan ada yang bahas soal Marcel." Pinta Lambok.
"Apa yang mau Kamu buat, Nak?" Tanya Ibu heran.
"Pokoknya nanti juga Ibu tahu. Ibu, Fitri dan Fahmi, ikutin saja nanti arahan Lambok ya. Anak-anak jangan ada yang bilang sama Auntie ya?" Kata Lambok.
"Nih Fathir yang suka keceplosan." Kata Fitri.
"Kok Fathir sih Ma?" Fathir mengrucutkan bibirnya.
Yang lain tertawa melihat pipi Fathir yang menggelembung.
"Ya Kamu kan dekat sama Auntie, semua Kamu omong sama Auntie." Canda Fitri.
"Ya Fathir janji untuk kali ini gak akan bilang-bilang sama Miss Dokter. Kecuali keceplosan."
"Hhhmmmm... Sama saja..." Kata Fitri.
"Apa tadi... Miss Dokter?" Tanya Tia.
"Ya Kak, Fathir manggil Nindi Miss Dokter. Nindi marah waktu Fathir becanda manggil Bu Dokter. Kata nya Auntie bukan Ibu-ibu." Tawa Fitri.
Tia dan yang lainnya tertawa. "Ada-ada saja Kamu Fathir." Kata Lambok.
"Hehehehe..." Fathir terkekeh sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ya sudah, Mama mau bantu Nenek dulu." Kata Fitri.
Tia mengikuti Fitri. "Kakak mau ngapain?" Tanya Fitri.
"Kakak juga mau bantu Ibu." Kata Tia.
"Gak usah Kak, Kakak istirahat saja. Kakak cape baru sampe." Kata Fitri.
"Kakak sudah cukup istirahat di hotel. Kakak juga mau belajar masak sama Ibu." Kata Tia.
"Iiihhh Kakak kan jago masak. Masa mau belajar lagi?" Tanya Fitri yang menganggap Tia becanda.
Tia tersenyum. "Kamu lupa ya?"
"Oh iya." Fitri menepuk keningnya sendiri.
Fahmi membantu Lambok membereskan barang bawaannya ke kamar.