Fiona Delvina
Seorang psychopath gila, itulah panggilan yang pantas bagi seorang gadis berdarah dingin ini. kasus pembunuhan yang ia lakukan sudah tak terhitung jumlahnya, kelihaian gadis itu dalam menyembunyikan jati diri membuat orang orang disekitarnya tidak ada yang mengira bahwa dialah pelaku pembunuhan tersebut. Fiona melakukan itu semata-mata hanya untuk mencari siapa pembunuh adik, kakak, serta papanya, dendam lama Fiona membuat gadis itu menjadi serigala pembunuh tanpa jejak.
Elbara Cesar Roosevelt
Pria yang tak kalah kejamnya dari Fiona, Elbara merupakan CEO dari bidang perfilman action tentu saja semua itu hanya topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya karena orang orang mengenal Bara sebagai pria hebat yang selalu berhasil mengantar para aktor debut dalam filmnya. Bara juga terkenal ramah pada staf dan orang orang sekitar tapi siapa yang tau bahwa pria itu hidup penuh dengan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Yulianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Perjalanan mereka memakan waktu cukup lama hingga sampai ditepi pantai, Fiona keluar dari mobil dan melihat indahnya pemandangan alam yang sangat luas menghiasi matanya.
"Kapan terakhir kali aku kemari," ucap Fiona.
"Sejak merayakan kelulusan SMA mu," jawab Dicky sembari mendekati Fiona hingga sejajar dengannya.
"Saat itu semua merayakan dengan kedua orang tua mereka," sambung Fiona.
"Dan aku tidak memiliki siapapun untuk merayakannya, aku datang kerumah sakit untuk menjenguk mama tapi piagam ku dirusak,"
Keduanya terkekeh mengingat bagaimana nyonya Delvina mematahkan piagam penghargaan milik Fiona.
"Lalu aku dan kau pergi ketempat ini merayakan kelulusan selama satu minggu penuh, dan satu minggu itu untuk pertama kalinya aku melihat mu tersenyum," ujar Dicky.
"Benarkah? Apa aku tidak pernah tersenyum?"
"Pernah ketika kau selesai membantai musuh mu," jawab Dicky dengan santainya.
"Hey aku..."
"Sudahlah aku tidak ingin membahas itu aku ingin membahas permasalahan lain,"
Dicky berjalan menyusuri pesisir pantai, Fiona mengikuti Dicky dengan terus berjalan disampingnya.
"Fiona kenapa kau tinggal satu atap dengan Bara bukankah sudah kukatakan jangan terlalu dekat dengannya," ujar Dicky dengan mimik serius.
Fiona sudah menduga Dicky akan mengetahui itu cepat atau lambat.
"Fiona Bara bukan orang sembarangan, namanya terkenal sebagai pencetus film yang tak pernah gagal tapi itu hanya topeng untuk menyembunyikan siapa dirinya,"
"Aku ingin kau kembali ke apartemen mu,"
Fiona mendengarkan apa yang diucapkan oleh Dicky, wajah pria itu tampak kecewa dan khawatir melihat Fiona terlalu dekat dengan Bara.
Haahh
"Aku akan baik-baik saja, aku melakukan ini untuk mengungkap kematian papa ku setelah itu aku akan kembali ke apartemen,"
"Bagaimana jika kau tidak menemukan nya, kau akan hidup selamanya dengan pria itu?"
Fiona sendiri belum memikirkan soal itu, dia yakin dengan bekerja keras pasti akan membuahkan hasil.
"Dicky kau adalah sahabat ku, aku menghargai kekhawatiran mu tapi aku juga ingin memilih jalan hidup ku sendiri,"
"Jalan hidup yang seperti apa Fiona, bertahun-tahun aku hidup dengan mu tapi aku belum pernah melihat mu mengambil keputusan segampang ini,"
"Kau ingat 15 tahu yang lalu? Dimana kau masih sangat kecil pergi mengantar mama mu kerumah sakit jiwa dan kebetulan aku sedang mengikuti mengobati para pasien. Aku melihat mu sedang menangis dan seperti anak yang tertekan di usia dini tapi waktu itu kau tidak mengambil keputusan yang gegabah dan sekarang dengan gampangnya kau memilih untuk tinggal bersama pria asing lalu kau percaya padanya, otak mu dimana Fiona?"
Jleeb!!
Kata kata Dicky berhasil masuk kedalam hati Fiona, dia sendiri bertanya tanya kenapa bisa mempercayai Bara yang entah siapa tiba tiba masuk kedalam hidupnya.
"Kau sudah memikirkan itu?"
Fiona menunduk sembari menggelengkan kepala, Dicky tidak bisa melihat wajah Fiona seperti itu.
"Kau membuatku kesal Fiona,"
"Maaf," ucap Fiona dengan cepat.
Hahh!!
Dicky memeluk Fiona agar kekesalannya mereda namun tetap saja ia masih kesal dengan keputusan gadis itu.
"Keluar dari rumahnya hari ini juga,"
"Tapi aku sudah terikat surat perjanjian dengannya,"
"Kekesalan ku bertambah dua kali lipat!!"
Dicky kembali merengkuh Fiona kedalam pelukannya semakin erat.
"Hehe sepertinya kau menyukaiku dan sedang cemburu,"
"Bermimpi saja terus, aku seperti ini karena kau sahabatku aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu apalagi hal itu bisa menyakiti mu,"
"Baiklah sahabat ku tersayang kau adalah yang terbaik," Fiona membalas pelukan Dicky.
"Hmm aku akan datang setiap hari kerumah Bara untuk menemui mu kau pasti sangat malas memasak,"
"Ets kau salah aku rajin memasak sekarang,"
"Baguslah setidaknya aku tidak akan mendengar seorang Fiona Delvina tewas karena lapar," goda Dicky.
Jam 3 dini hari sampai sore??
🤔🤔