Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Tak jauh dari kantor polisi terdapat sebuah kedai kopi sederhana. Fandi mengajak Mida duduk di sana agar mereka bisa berbicara dengan tenang. Segelas teh hangat dipesankan untuk Mida. Perempuan itu menggenggam gelasnya dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar.
"Sekarang, Bu," kata Fandi sambil mengeluarkan buku catatan dan sebuah alat perekam, "tolong ceritakan semuanya dari awal. Jangan ada yang terlewat, meski menurut Ibu itu hal kecil. Dalam perkara seperti ini, detail sering kali menjadi kunci."
Mida pun mulai bercerita. Ia menceritakan kehidupan sederhana bersama Harapan. Hari ketika putranya berangkat sekolah untuk terakhir kalinya. Kesaksian teman-teman Harapan yang melihat Dapit memanggilnya. Pengakuan Dapit tentang Gilang dan teman-temannya yang memukul serta menyeret Harapan ke kebun tebu. Penolakan laporan di kantor polisi. Hingga perjuangannya yang nyaris membuatnya kehilangan harapan.
Fandi mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mencatat, sesekali mengajukan pertanyaan untuk memperjelas kronologi. Setelah hampir dua jam berbincang, Fandi menutup buku catatannya. Ia menarik napas panjang sebelum menatap Mida dengan serius. "Bu Mida, saya belum bisa menjanjikan bahwa perkara ini pasti menang. Itu tidak akan jujur. Tetapi saya bisa berjanji satu hal."
Mida menatapnya penuh harap.
"Saya akan memperjuangkan perkara ini dengan sungguh-sungguh. Kalau memang ada tindak pidana dan bukti yang bisa dibangun, saya akan berusaha agar kasus kematian Harapan diproses sesuai hukum. Selama Ibu siap menghadapi proses yang panjang, saya akan mendampingi Ibu."
Mida tak kuasa menahan tangisnya lagi. Untuk pertama kalinya sejak Harapan meninggal, ia merasa tidak lagi berjalan sendirian. Di sampingnya kini ada seseorang yang bersedia memperjuangkan hak anaknya melalui jalan hukum.
Fandi tidak ingin membuang waktu. Setelah mendengar seluruh penjelasan Mida dan menyusun kronologi kejadian, ia langsung mengambil laptop dari tasnya. Di sudut kedai kopi yang mulai sepi, jemarinya bergerak cepat di hp. Ia menyusun surat kuasa agar secara resmi dapat mendampingi Mida dalam proses hukum yang akan ditempuh. Beberapa menit kemudian, dokumen itu selesai dicetak di tempat percetakan yang masih buka tak jauh dari kedai.
Fandi meletakkan berkas tersebut di hadapan Mida. "Bu, ini surat kuasa. Dengan menandatanganinya, Ibu memberi saya wewenang untuk mendampingi dan mewakili Ibu dalam proses hukum terkait kematian Harapan."
Mida membaca isi surat itu perlahan. Meski tidak memahami semua istilah hukum yang tertulis, ia mengerti satu hal, mulai malam ini, ia tidak lagi berjuang sendirian. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Mida membubuhkan tanda tangannya di bagian akhir dokumen.
Fandi kemudian ikut menandatangani surat tersebut sebagai penerima kuasa. Ia memasukkan berkas itu ke dalam map, lalu kembali membuka laptopnya. "Sekarang kita mulai dari awal," ujarnya.
Malam itu juga Fandi menyusun laporan yang lebih sistematis mengenai kematian Harapan. Ia merangkai setiap fakta yang disampaikan Mida ke dalam urutan waktu, melampirkan daftar saksi yang telah diketahui, termasuk teman-teman Harapan dan Dapit, serta mencatat adanya rekaman pengakuan Dapit sebagai salah satu petunjuk yang perlu ditindaklanjuti.
Sesekali Fandi menghentikan ketikannya untuk memastikan setiap detail. "Bu, saya ingin semuanya akurat. Hal sekecil apa pun bisa menjadi penting dalam proses penyelidikan nanti."
Mida mengangguk, lalu kembali mengingat satu per satu kejadian yang dialaminya sejak hari Harapan meninggal.
Menjelang tengah malam, Fandi akhirnya menutup laptopnya. Ia memandang map yang kini berisi surat kuasa dan draf laporan tersebut. "Besok pagi kita kembali ke kantor polisi," katanya mantap. "Kali ini Ibu tidak datang sendirian. Saya akan mendampingi Ibu, dan kita akan mengajukan laporan ini dengan prosedur yang benar."
Mendengar kalimat itu, Mida mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa perjuangannya mulai memiliki arah. Di hadapannya masih terbentang jalan yang panjang dan penuh rintangan, tetapi kini ia memiliki seseorang yang memahami hukum dan bersedia berjalan bersamanya mencari keadilan untuk Harapan.
***
Keesokan paginya, sebelum matahari terbit, Fandi dan Mida sudah berada di depan kantor polisi. Map berisi surat kuasa, kronologi kejadian, serta daftar nama saksi telah dipersiapkan dengan rapi.
Kali ini suasananya berbeda. Fandi memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum Mida dan menyerahkan seluruh dokumen yang telah disusun sesuai prosedur. Ia menjelaskan kronologi perkara secara sistematis serta memaparkan alasan mengapa dugaan tindak pidana perlu diselidiki lebih lanjut.
Petugas memeriksa berkas tersebut satu per satu. Setelah melalui pemeriksaan administrasi, laporan Mida akhirnya diterima untuk diproses.
Mida menundukkan kepala. Air mata kembali menetes, tetapi kali ini bukan karena ditolak. Setelah sekian lama mengetuk pintu yang tak kunjung terbuka, akhirnya laporannya resmi diterima. Bagi Mida, itu adalah secercah harapan.
Proses hukum pun mulai berjalan. Penyidik menjadwalkan pemeriksaan terhadap para saksi, mulai dari teman-teman Harapan yang terakhir kali melihatnya berangkat ke sekolah, Dapit yang mengaku diminta memanggil Harapan oleh Gilang, hingga pihak-pihak lain yang diduga mengetahui rangkaian peristiwa sebelum Harapan ditemukan meninggal.
Di sisi lain, penyidik juga mulai mengumpulkan berbagai barang bukti dan menelusuri setiap petunjuk yang mungkin dapat memperjelas apa yang sebenarnya terjadi. Karena terdapat dugaan bahwa penyebab kematian Harapan tidak sesuai dengan informasi yang selama ini diketahui, penyidik kemudian mengambil langkah penting dalam proses penyelidikan.
Atas kepentingan penyidikan dan sesuai prosedur hukum yang berlaku, makam Harapan dibongkar kembali untuk dilakukan pemeriksaan forensik terhadap jenazah.
Pagi itu, Mida berdiri beberapa meter dari pusara putranya. Tangannya gemetar saat melihat para petugas bekerja dengan hati-hati. Air matanya terus mengalir. Belum genap luka di hatinya mengering, kini ia harus menyaksikan makam anaknya dibuka kembali demi mencari jawaban yang selama ini tersembunyi.
Dengan suara lirih yang hampir tak terdengar, Mida berbisik, "Maafkan Ibu, Nak... Ibu harus melakukan ini. Ibu ingin dunia tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadamu. Ibu berjanji, Ibu tidak akan berhenti sampai orang yang bertanggung jawab atas semua ini mempertanggungjawabkan perbuatannya."
***
Tak lama setelah proses pembongkaran makam dilakukan, berbagai bisik-bisik mulai menyebar di kampung. Entah dari mana asalnya, isu itu menyebar begitu cepat dari mulut ke mulut.
"Ada ibu yang tega membongkar makam anaknya sendiri."
"Katanya dia belum ikhlas."
"Kasihan anaknya. Kuburnya sampai dibongkar lagi."
Bahkan, beberapa orang yang sengaja datang ke warung-warung dan tempat berkumpul warga mulai menggiring opini yang lebih kejam.
"Sekeras apa hati seorang ibu sampai tega membongkar makam anaknya sendiri?"
"Apa dia nggak tahu? Orang yang sudah meninggal akan tersiksa kalau kuburnya dibongkar."
Perkataan-perkataan itu terus diulang hingga banyak warga mulai mempercayainya tanpa mengetahui alasan sebenarnya.
Mida yang semula memperoleh simpati, perlahan mulai menjadi bahan gunjingan. Setiap kali ia melintas, beberapa orang memandangnya dengan tatapan sinis. Ada yang berbisik pelan. Ada yang terang-terangan menggelengkan kepala..Bahkan ada yang berkata cukup keras agar ia mendengarnya. "Kalau benar sayang sama anak, harusnya dibiarkan tenang di alam kubur. Bukan malah dibongkar."