Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Belasan Serigala Bertanduk bergerak mengepung Arga dan Nara dalam lingkaran yang rapat. Geraman rendah mereka menggema di penjuru hutan, bersahutan dengan tanah yang koyak oleh bekas cakar dan aroma darah yang pekat di udara.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Nara perlahan menarik busur dari pundaknya. "Arga... paling banyak aku hanya pernah melawan tiga ekor sekaligus. Tapi kali ini... ada lima belas ekor."
Arga mengangguk pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. "Aku juga baru pertama kali menghadapi situasi seperti ini."
Mendengar percakapan mereka, Guru Tian mendengus ketus. "Kalian berdua masih sempat-sempatnya mengobrol?"
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sedikit mengurangi rasa gugup, Senior."
Guru Tian hampir saja tertawa. Di tengah kepungan maut seperti ini, muridnya masih sempat melontarkan candaan. "Baik, dengarkan baik-baik," lanjut Guru Tian dengan nada serius. "Jangan bunuh pemimpinnya terlebih dahulu, atau kawanan ini akan mengamuk tak terkendali. Habisi yang lemah satu per satu!"
Auuuuuu!
Belum sempat instruksi itu selesai dicerna, serigala terbesar melolong nyaring, memberi komando bagi seluruh kawanan untuk langsung menyerbu.
"Nara! Ke belakangku!" teriak Arga.
"Tidak!" Nara menolak. Ia justru melompat lincah ke samping dan langsung melepaskan tiga anak panah sekaligus.
Wus! Wus! Wus!
Dua serigala terhantam di bagian bahu, sementara satu lagi tepat mengenai mata. Namun, rasa sakit itu justru membuat mereka semakin beringas dan terus merangsek maju.
Arga menarik napas dalam-dalam. Guru Tian benar—ia tidak boleh panik.
Saat serigala pertama menerkam ke arahnya, Arga dengan cepat menghindar. *Buk!* Sikunya menghantam keras rahang lawan. Belum sempat bernapas, serigala kedua menyerang dari arah samping. Arga berputar cepat dan melayangkan tendangan telak ke perut monster itu hingga terpental menghantam pohon. *Brak!*
Gerakan Arga kini terasa jauh lebih efisien. Sesi latihan berat di bawah hantaman air terjun dan pertarungan tanpa senjata setiap hari akhirnya mulai membuahkan hasil. Namun, jumlah musuh terlalu timpang.
Sret!
Cakar tajam berhasil menggores lengan kiri Arga, membuat darah segar mulai mengucur. Di sisi lain, Nara juga mulai kehabisan stok anak panahnya.
"Arga! Di belakangmu!" teriak Nara panik.
Arga menoleh, namun terlambat. Serigala pemimpin yang bertubuh raksasa sudah melompat dari atas batu besar. Mulutnya yang penuh taring tajam terbuka lebar, siap mencabik kepalanya.
"Gunakan pedangnya!" teriak Guru Tian memberi komando.
Secara refleks, Arga menarik Pedang Penjaga Langit dari sarungnya. Ciiiing!
Kali ini, pedang legendaris itu tidak memancarkan cahaya emas yang menyilaukan, namun bilahnya terasa sangat ringan di genggaman Arga. Mengikuti nalurinya, Arga mengayunkan pedang tersebut dalam satu tebasan horizontal.
Sret!
Tubuh serigala pemimpin itu langsung terbelah menjadi dua di udara.
Seketika, seluruh hutan menjadi sunyi senyap. Belasan serigala yang tersisa mendadak mundur beberapa langkah. Mereka menatap pedang di tangan Arga dengan ketakutan yang mendalam, sebelum akhirnya berbalik dan melarikan diri kocar-kacir ke dalam kegelapan hutan.
Nara membelalak tidak percaya. "Hanya... satu tebasan?"
Arga sendiri menatap tangannya dengan heran. "Aku... tidak sengaja melakukannya."
Guru Tian menghela napas lega sekaligus kagum. "Pedang itu mulai menerimamu. Tapi ingat, kau baru bisa menggunakan kurang dari satu persen dari seluruh kekuatannya."
Sebelum Arga sempat mencerna ucapan sang guru...
Tep! Tep! Tep!
Suara tepuk tangan yang perlahan terdengar dari balik rimbunnya pepohonan. Tiga pria misterius berjubah hitam melangkah keluar dengan senyuman sinis di wajah mereka.
"Pertunjukan yang luar biasa," ujar pemimpin mereka, matanya menatap Pedang Penjaga Langit dengan penuh keserakahan. "Sayang sekali... perjalanan kalian harus berakhir di sini. Serahkan pedang itu secara sukarela, dan kami mungkin akan membiarkan kalian mati tanpa rasa sakit."
Melihat lambang merah yang tersemat di dada mereka, wajah Guru Tian langsung menegang. "Bukan murid biasa... mereka adalah para Penatua Bayangan Darah!"
Tiga Penatua Sekte Bayangan Darah segera bergerak membentuk formasi segitiga, mengunci setiap jalan keluar. Aura yang mereka pancarkan jauh lebih pekat dan menekan dibanding musuh mana pun yang pernah dihadapi Arga sebelumnya. Bahkan, dedaunan hijau di sekitar mereka tampak layu dan mengering hanya karena tekanan Qi yang begitu masif.
Nara tanpa sadar melangkah mundur, wajahnya memucat. "Kuat sekali..."
Salah seorang penatua yang bertubuh kurus tertawa kecil, nada suaranya meremehkan. "Ternyata hanya sepasang anak-anak."
"Ketua benar. Bocah ini memang membawa Pedang Penjaga Langit," timpal penatua berjanggut putih sambil mengangguk pelan. "Tapi ingat, jangan dibunuh. Kita butuh dia tetap hidup agar bisa mengorek cara membangunkan roh pedang tersebut."
Sementara itu, penatua ketiga hanya diam dan terus menatap Arga tanpa berkedip. Entah mengapa, ia merasakan ada sesuatu yang ganjil. Pemuda di hadapan mereka terlalu tenang, padahal perbedaan kekuatan di antara mereka bagaikan langit dan bumi.
Di dalam liontin, suara Guru Tian terdengar mengalun pelan di benak Arga. "Arga."
"Ya, Senior?" sahut Arga dalam hati.
"Kau tahu kenapa selama ini aku menyuruhmu berlatih tanpa henti di tempat ekstrem?"
"Supaya aku menjadi lebih kuat?"
Guru Tian tersenyum tipis. "Salah. Supaya saat kau menghadapi lawan yang jauh lebih kuat, mentalmu tidak langsung runtuh dan kau tidak kehilangan akal."
Arga menarik napas panjang. Rasa takut itu tentu saja masih ada, namun pikirannya kini tetap jernih. Mata pemuda itu bergerak cepat, mengamati area sekeliling. Tiga lawan tangguh, hutan yang lebat, jajaran batu besar, dan sebuah air terjun deras. Semua objek di sekitarnya bisa dimanfaatkan.
"Bagus," Guru Tian mengangguk puas merasakan ketenangan muridnya. "Jangan lawan kekuatan mereka secara langsung. Lawanlah kesombongan mereka."
Tepat setelah kalimat itu selesai, penatua bertubuh kurus langsung melesat maju. "Menyerah sajalah, Bocah!" teriaknya sembari mengubah telapak tangannya menjadi merah pekat sewarna darah.
Alih-alih menyambut serangan mematikan itu, Arga justru berbalik dan berlari kencang ke arah air terjun.
"Bodoh!" Penatua kurus itu mengejar sambil tertawa terbahak-bahak. "Ke mana pun kau berlari, hasilnya akan tetap sama!"
Begitu tiba di tepi air terjun, Arga melompat lincah ke atas sebongkah batu licin—batu yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempatnya menempa diri. Penatua kurus itu ikut melompat tanpa ragu, namun ia meremehkan medan. Kakinya seketika terpeleset di atas permukaan batu yang berlumut dan basah.
"Hah?!"
Arga yang sudah menghafal setiap jengkal pijakan di sana langsung memutar tubuhnya.
Buk!
Sikunya menghantam keras dada lawan.
Meskipun serangan fisik itu tidak memberikan luka parah bagi seorang penatua, dampaknya sudah lebih dari cukup untuk membuat pria itu kehilangan keseimbangan sepenuhnya. *Bruk!* Tubuh penatua kurus itu terhempas dan jatuh tenggelam ke dalam kolam dalam di bawah air terjun.
Melihat hal itu, dua penatua lainnya langsung mengernyitkan dahi. "Bodoh sekali!" umpat mereka.
Nara tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia segera menarik busurnya dan melepaskan dua anak panah sekaligus.
Wus! Wus!
Meski tidak mengenai titik vital karena refleks lawan yang cepat, panah-panah itu berhasil memaksa penatua berjanggut putih menghentikan langkahnya.
"Dasar gadis kecil tidak tahu diri!" Pria tua itu murka dan bersiap berbalik untuk menyerang Nara.
Namun, Arga sudah lebih dulu melesat menghadang. Pedang Penjaga Langit di tangannya terangkat tinggi untuk menahan serangan.
Clang!
Benturan keras antara bilah pedang dan telapak tangan berlapis Qi pekat tak terhindarkan. Arga terlempar hingga belasan meter, terseret di atas tanah. Kedua lengannya seketika mati rasa dan gemetar hebat. Perbedaan tingkat kekuatan mereka memang masih terlalu timpang.
Penatua berjanggut putih itu tersenyum sinis. "Lihat? Inilah perbedaan mutlak antara seekor semut dan seekor gajah."
Namun, senyum sinis itu perlahan-lahan memudar. Ia menunduk dan menyadari bahwa telapak tangannya yang dilapisi Qi pelindung tebal ternyata terluka. Hanya goresan tipis, tetapi darah segar benar-benar merembes keluar dari sana.
Ia menatap Pedang Penjaga Langit di tangan Arga dengan mata yang kian berbinar serakah. "Luar biasa... rumor itu benar. Pedang ini mampu melukai siapa pun, bahkan tanpa dialiri Qi yang kuat." Keserakahan di dalam dirinya kini telah membakar habis akal sehatnya.
Di dalam liontin, Guru Tian kembali berbisik. "Kesempatanmu telah tiba, Arga."
"Kesempatan apa, Senior?"
"Orang yang sudah dibutakan oleh keserakahan... pasti akan lengah."
Arga mempererat genggamannya pada gagang pedang, mengabaikan rasa sakit yang menjalar di lengannya. Ia tahu ia belum bisa menang dalam pertarungan terbuka. Namun untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa pertarungan hidup dan mati ini masih memiliki secercah harapan.
Sementara itu di kejauhan, tanpa disadari oleh siapa pun yang berada di medan pertempuran, seorang wanita berjubah putih tampak berdiri anggun di atas dahan pohon tertinggi. Matanya yang bening menatap lurus ke arah Arga tanpa berkedip sedikit pun.
"Nona Muda Ling Yue..." Suara Tetua Mo terdengar berbisik dari balik bayangan pohon di belakangnya. "Kita terlambat. Mereka sudah terkepung."
Ling Yue menggigit bibir bawahnya, kilatan tekad terpancar dari matanya. "Tidak, Tetua Mo. Aku tidak akan membiarkan Arga menghadapi bajingan-bajingan itu sendirian."