Adira Angkasa Samudra, cucu dari sang Raja Properti-Adiyaksa Samudra.
Gadis jelita yang selamat dari kecelakaan maut yang membinasakan kedua orang tuanya saat ia masih berusia enam bulan.
Kyai Brama Erlangga, atau yang biasa dikenal sebagai Pertapa Tua, Pertapa Sakti, Pak Tua, Tabib. Seorang titisan dewa yang menjalani hukumannya di bumi selama tujuh ratus tahun lamanya.
Dengan bantuan dari Sang Pertapa Tua, Adira mejalani masa kecilnya di tengah hutan.
Hidup bersama seekor harimau besar dan seekor monyet nakal, membuat Adira kecil tumbuh menjadi gadis tangguh dan periang.
Tak bisa melawan takdir, tepat saat Adira berusia lima tahun, Sang Pertapa Tua harus kembali ke Nirwana, meninggalkan Adira.
Sebelum kepergiannya, Sang Pertapa Tua menitipkan Adira kepada Juki-seorang Supir yang menyebabkan kematian kedua orang tua Adira, sebagai bentuk penebusan dosanya kepada Keluarga Samudra.
Ikuti terus perjalanan Adira di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CloverMint, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 20
"Dek, besok Kakak beliin kasur sama bantal ya," ucap Rendra.
"Terserah Kakak. Yang penting besok kita bisa makan ya. Dira juga mau permen," jawab Dira tersenyum lebar.
"Iya, besok Kakak belikan. Tapi kamu janji ya jangan kerja lagi. Biar Kakak saja," ujar Rendra.
"Dira kan cuma mau bantu Kakak, biar kita punya uang terus buat makan. Jangan seperti kemarin beli cuma sepiring," jawab Adira dengan lirih.
"Iya, Kakak akan kerja keras biar uang kita cukup untuk makan tiap hari," Rendra menjawab dengan serius.
"Dira bantu ya, Kak! Dira nggak tahu harus ngapain di kamar," keluh Adira merengek.
"Tapi kalau kamu capek jangan dipaksa ya," ucap Rendrq akhirnya mengalah.
"Hore! Dira bisa jalan-jalan lagi," seru Dira girang.
"Berhenti kalian!" seru sebuah suara berat dari belakang mereka.
Rendra dan Dira sontak berhenti dan menoleh ke belekang. Dilihatnya tiga pria dewasa dan tujuh anak kecil yang menghadang Rendra tadi sedang berdiri di sana.
"Dek, kamu lari ya, pulang duluan," bisik Rendra pelan.
"Kenapa Kak?" tanya Dira heran.
"Sudah cepat lari . Jangan bantah Kakak," dorong Rendra.
Adira pun mundur beberapa langkah sanbil menatap tajam ke orang-orang yang menghadang mereka.
"Bos! Itu anak yang masuk wilayah kita tanpa bayar uang keamanan!" seru Rasdi menunjuk Rendra.
"Heh bocah, lo kalo mau masuk wilayah gue, harus tahu aturan! Kudu setoran ama gue, ngerti kagak lo?!" bentak Mamat-pria yang dipanggil Bos itu.
"Saya nggak ngerti, saya kerja dengan tenaga saya, kenapa saya harus setor ke Bapak?" tanya Rendra dengan menatap tajam ke arah Mamat.
"Berani lo jawab gue? Kudu diberi ya lo.. Gil, kasih pelajaran!" perintah Mamat ke salah seorang pria di sisinya.
Rendra yang sudah mengambil ancang-ancang pun menghindar dan membalas menendang perut Agil dengan mudah.. Agil langsung terlempar ke belakang hingga menimpa teman-temannya.
"Hajar dia. Serang!" perintah Mamat dengan wajah kesal.
Rendra segera melompat untuk menghindari serangan membabi buta dari sembilan orang tersebut.
Dira yang hanya duduk mengamati pun ikut gemas dengan tingkah preman-preman kroco tersebut. Ia segera mengambil kerikil-kerikil di dekatnya, lalu disentilnya kerikil-kerikil kecil tersebut kepada preman-preman itu.
"Aduh!" teriak beberapa orang bergantian.
Beberapa orang pun langsung mundur sambil memegangi lutut atau perutnya. Siapa yang nyerang gue? batin mereka kebingungan.
Melihat anak buahnya kalah, Mamat segera menyerang Rendra dan Adira pub membantu Rendra dari jauh.
Melihat musuh-musuhnya sudah tumbang, Rendra segera berlari dan menarik tangan Adira.
"Ayo lari cepat Dek!" seru Rendra.
Tak lama, mereka oun sampai di kamar kos mereka.
"Kak, siapa mereka?" tanya Adira begitu masuk ke dalam kamar.
"Mereka preman pasar, minta uang hasil kerja Kakak, tapi tidak Kakak beri. Sudah, jangan dihiraukan. Ayo kita tidur, besok Kakak harus kerja pagi-pagi," ucap Rendra sambil merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Tak butuh waktu lama baginya untuk tertidur pulas.
Melihat Rendra yang sudah tertidur, Adira pun berjalan keluar kamar. Ia menunggu kedatangan Ayi, yang tadi disuruhnya untuk mengikuti preman-preman itu.
"Ayo Ayi, tunjukan di mana mereka tinggal," seru Dira saat melihat Ayi berlari masuk melewati pagar kos-kosan.
Ayi segera melompat ke pundak Dira dan menunjuk arah dengan tangannya.
Sambil menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, Adira berlari dengan cepat hingga mereka sampai di sebuah rumah di belakang pasar.
Tanpa kenal takut, Adira melangkah masuk ke halaman rumah tersebut.
"Hei.. Siapa kamu bocah?!" bentak seorang pria yang melihat kedatangan Adira.
"Namaku Dira, aku mau ketemu sama orang yang memukul kakakku!" jawab Adira dengan berani.
"Hahaha.. Besar juga nyali bocah ini, berani kamu masuk kemari, jangan berharap bisa keluar dari sini" seru pria tersebut sambil tertawa.
"Aku mau masuk atau keluar, suka-suka aku, siapa yang melarang?" ejek Adira sambil menjulurkan lidahnya.
Merasa malu karena diejek oleh bocah berusia lima tahun, pria tersebut segera mengulurkan tangannya hendak menangkap Adira. Tapi, Adira langsung melompat dan menerjang wajah pria tersebut hingga ia mundur beberapa langkah.
"Bajingan, berani kamu!" maki si pria.
Pria tersebut kembali mengejar Adira, dan sekali lagi Adira berhasil mengerjai pria itu. Adira melompat ke belakang pria itu dan menghantam punggungnya hingga pria itu menjerit kesakitan.
Mendengar suara jeritan dari luar rumah, Si Bos, alias Mamat dan juga beberapa anak buahnya segera keluar untuk menari tahu apa yang terjadi.
Tak disangkanya, pemandangan di depan mereka sangat tak bisa di percaya. Temannya-yang biasa dipanggil Gendut-sekarang sedang tergeletak di tanah dengan seorang bocah kecil yang duduk dengan santai di atasnya.
"Siapa kamu bocah?!" bentak Mamat menatap Adira dengan nanar.
"Bapak jangan berani ganggu kakakku lagi ya. Kalau kalian berani ganggu lagi, akan aku jadikan kalian santapan Loreng!" jawab Adira berdiri sambil berkacak pinggang.
"Heh bocah, siapa kakakmu?" tanya Mamat.
"Kak Rendra yang tadi kalian hadang!" jawab Adira dengan berani.
"Hahaha… Bocah ini berani datang kemari, tangkap dia!" Mamat memberi perintah.
Empat orang anak buahnya yang sedang berada di halaman, segera maju hendak menangkap Adira, sedangkan beberapa diantaranya hanya diam dan menunggu.
Tentu saja, mereka bukan tandingan Sang Cucu Pertapa Sakti. Hanya dengan beberapa pukulan dan tendangan, Adira berhasil menjatuhkan seorang pria dewasa dan tiga orang anak kecil seusia Rendra.
"Apa-apaan kalian? Lawan bocah kecil aja kok kalah?!" bentak Mamat dengan marah.
Enam orang pria di belakangnya pun segera maju menyerang Adira.
Tapi memang mereka yang hanya preman-preman kroco, tanpa bekal ilmu bela diri yang mumpuni, tentu saja mereka kalah melawan Adira.
Tak membutuhkan waktu lama, Adira berhasil merobohkan sepuluh orang preman. Ditumpuknya preman-preman yang sudah terbaring lemah itu, kemudian ia melompat dan berdiri di atas mereka sambil tertawa geli.
"Hihihi… Kalian gentong nasi semua!" seru Dira teringat ucapan kakeknya saat mengalahkan beberapa orang penyamun yang lewat di hutan.
Mamat yang melihat kejadian tersebut menjadi terkejut, tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa bocah sekecil ini bisa mengalahkan sepuluh orang sendirian.
"Nona, kita bisa bicarakan baik-baik," ucap Bos mulai ramah.
"Aku nggak mau bicara, jangan ganggu kakakku lagi!" ucap Adira menatap Mamat dengan tajam.
"Baik. Kami nggak akan ganggu lagi," jawab Mamat.
"Awas kalau kalian ingkar janji, aku akan datang kembali!" ucap Adira sambil melayang mendekati Mamat lalu menarik janggut Mamat dengan kuat.
"Aw!!" teriak Mamat dengan kaget.
Adira pun segera melayang meningalkan rumah itu dan hilang bagaikan asap dalam sekejab mata, tapi suaranya masih terdengar dalam otaj Mamat.
"Ingat, aku bisa mengambil janggutmu dengan mudah!" seru Dira yang sudah tak tampak bayangannya.
Mamat sendiri masih memegangi dagunya yang masih sakit sambil tergagu, berusaha mencerna apa yang terjadi.
"Bos.. Itu manusia apa setan?" tanya Gendut ketakutan.
"Nggak tahu!" bentak Mamat masih dengan jantung berdebar.
Ditatapnya badan Gendut yang penuh luka-luka, lalu ditamparnya pipi Gendut dengan keras.
"Aduh!" ucap Gendut kaget. "Bos.. Kenapa saya ditampar?"
"Emang bukan mimpi.." ucap Mamat acuh lalu segera masuk ke dalam rumah, masih belum bisa memahami kejadian barusan.
"Bos.. kalau mau ngecek mimpi atau bukan mah tampar pipi Bos sendiri!" gerutu Gendut di belakang Mamat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...HAI!! Terima kasih buat para pembaca yang sudah mendukung saya agar tetap semangat melanjutkan cerita ini setiap harinya!!...
...Agar saya tetap semangat update, dukung saya terus dengan memberikan LIKE, dan VOTE sebanyak-banyaknya ya!!...
...Jangan lupa tinggalkan bintang lima...
...(⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️)...
...dan klik FAVORIT agar tak ketinggalan episode selanjutnya ya!!...
...Terima kasih.❤...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...