Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.
Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.
"Kamu siapa ?"
"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"
Duarrr...
Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.
"Sayang ! Siapa yang datang ?"
Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.
Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.
Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Bab 20: Ketenangan di Tengah Badai
Suasana di dalam rumah perlahan mulai kembali tenang,
Di luar, suara teriakan dan pertengkaran samar-samar masih terdengar samar dari balik pintu dan jendela yang tertutup rapat,
Tetapi, di dalam ruang tengah, hanya ada keheningan yang dipenuhi dengan napas yang teratur.
"Rasanya aku sudah merindukan suamiku" Ujar nyonya Amara pelan, tetapi Diana yang tidak jauh darinya, mendengar itu dengan jelas.
Tuan Wijaya ( Suami Nyonya Amara ) sudah meninggal 10 tahun yang lalu
"Nyonya, maafkan aku" Ujar Diana sambil meringis
"Kenapa kamu selalu memanggilku nyonya ?"
Diana mengangkat wajahnya, merasa bingung dengan pertanyaan itu,
Tetapi sebelum Diana bisa menjawab,
Bi Mari berlari keluar dari arah dapur dengan wajah cemas.
"Nyonya muda !"
Di tangannya ada kotak obat berwarna cokelat dan seember air hangat yang masih mengepulkan uap.
Ia segera mendekati Diana yang masih duduk bersandar di dinding, wajahnya terlihat pucat dengan pipi kanan yang sudah mulai membengkak dan memerah jelas.
“Ya ampun, Nyonya… Kenapa nekad sekali. Pasti sakit,” gumam Bi Mari dengan suara lembut, wajahnya terlihat prihatin melihat kondisi wanita muda itu.
Diana hanya mengangguk pelan, menahan rasa perih yang masih menjalar hingga ke pelipis.
Ia menatap Bi Mari dengan pandangan sayu, lalu melirik sekilas ke arah Nyonya Amara yang masih duduk di kursi utama, tampak tenang namun matanya terus mengawasi setiap gerakan di ruangan itu.
“Bi Mari, obati dia dengan baik. Jangan sampai menimbulkan rasa sakit yang berlebihan, jika perlu panggil dokter " perintah Nyonya Amara dengan nada suara yang tidak lagi setajam sebelumnya, namun tetap tegas.
“Baik, Nyonya,” jawab Bi Mari segera.
Ia duduk berjongkok di samping Diana,
lalu mulai membersihkan sudut bibir yang sedikit sobek itu dengan kapas yang dicelupkan ke air hangat.
Setiap kali kapas menyentuh luka itu,
Diana tidak bisa menahan diri untuk meringis dan menahan napas dalam-dalam. Tangannya mengepal kuat di atas lutut, berusaha menahan rasa sakit itu agar tidak terlihat terlalu jelas.
"Aw... Pelan-pelan bi" Bisik Diana
Bi Mari mengangguk dan tersenyum.
Sementara itu, Nyonya Amara hanya diam mengamati.
Matanya tidak lepas dari wajah Diana, seolah sedang membaca setiap perubahan ekspresi yang terlihat di sana.
Beliau melihat bagaimana gadis muda itu berusaha kuat, tidak menangis histeris atau mengeluh berlebihan, meski jelas sekali pukulan itu cukup keras untuk membuat siapa saja terguncang.
“Kau tahu, Diana,” tiba-tiba Nyonya Amara membuka suara, memecah keheningan yang ada.
Suaranya terdengar lebih lembut, namun tetap memiliki bobot yang membuat Diana menoleh perlahan.
“Di usia yang masih muda seperti ini, kau sudah harus menghadapi badai yang cukup besar. Bukan hanya satu, tapi bertubi-tubi.”
Diana menelan ludah, lalu menunduk sedikit. “Aku tahu, Nyonya. Aku tidak pernah menyangka jalan hidupku akan berbelok sejauh ini.
Awalnya aku hanya ingin lari dari kesakitan, namun ternyata aku malah masuk ke dalam situasi yang jauh lebih rumit.”
“Dan kau tidak menyesal telah memilih Arga?” tanya Nyonya Amara lagi, matanya menyipit sedikit, seolah sedang menguji ketulusan jawaban Diana.
Pertanyaan itu membuat Diana terdiam sejenak.
Ia mengangkat wajahnya, menatap lurus ke mata wanita tua itu, meski masih ada rasa takut yang tersisa di hatinya. “Jika aku katakan tidak pernah ragu sedikit pun, itu bohong, Nyonya.
Ada kalanya aku merasa takut, merasa tidak pantas, dan bertanya-tanya apakah keputusan ini benar-benar akan membawa kebahagiaan.
Tapi satu hal yang aku yakini… Bersama Mas Arga, aku merasa aman. Dia melindungiku, menghargai aku, dan memperlakukanku lebih baik daripada siapa pun yang pernah aku kenal. Maka meski jalannya terjal, aku berusaha untuk tetap melangkah.”
Jawaban itu membuat Nyonya Amara terdiam.
Beliau mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang yang terasa melegakan.
“Kau terlalu jujur, tapi Itu yang ingin aku dengar. Di rumah ini, aku tidak suka kepura-puraan atau kata-kata manis yang tidak punya dasar. Jika kau sudah siap menerima konsekuensi dari pilihanmu, maka kau harus belajar berdiri tegak dan menghadapi apa pun yang datang.”
Selesai berbicara, Bi Mari sudah selesai memberikan obat salep dan menempelkan sedikit kasa tipis di sudut bibir Diana.
“Sudah selesai, Nyonya. Sekarang cobalah untuk tidak banyak berbicara agar lukanya cepat kering dan sembuh,” pesan Bi Mari sambil membereskan peralatan obatnya.
“Terima kasih, Bi,” ucap Diana dengan suara lembut.
Bi Mari mengangguk, lalu berdiri dan mundur sedikit lalu pergi.
Sementara suasana di dalam rumah mulai tenang, di luar halaman justru masih terjadi keributan.
Arga dan Gilang yang terkurung di balik pintu gerbang yang terkunci berdiri saling berhadapan, napas mereka terengah-engah karena emosi yang masih membara.
Wajah keduanya sudah berantakan, ada bekas pukulan di pipi Arga dan lengan Gilang terlihat memar.
“Buka pintunya! Biarkan aku masuk! Ibu tidak berhak memperlakukan aku seperti ini!” teriak Arga sambil memukul-mukul pintu gerbang besi itu dengan keras. Suaranya bergema di seluruh halaman.
Gilang yang berdiri tidak jauh dari situ hanya tertawa sinis, namun tawanya terdengar pahit dan penuh luka.
“Sudahlah, Ayah. Percuma berteriak. Nenek sudah memutuskan, dan kau tahu betul, tidak ada satu pun yang bisa mengubah keputusan nenek, Bahkan Ayah sekalipun.”
Arga menoleh tajam ke arah putranya,
matanya masih memancarkan kemarahan.
"Semua karena kau! Jika saja kau bisa mengendalikan emosimu dan tidak meledak seperti orang gila, kejadian ini tidak akan terjadi! Kau berani memukul istriku, Gilang! Kau berani menyakiti wanita yang sekarang menjadi bagian dari keluargamu!”
Mendengar kata-kata itu, senyum sinis di wajah Gilang seketika menghilang.
Ia melangkah mendekat, matanya memerah menahan rasa sakit yang mendalam.
“Keluarga? Bagaimana mungkin dia menjadi keluarga? Bagaimana mungkin aku harus memanggil wanita yang pernah aku cintai, yang pernah aku harapkan menjadi ibu dari anak-anakku nanti… sekarang harus aku panggil sebagai Ibu? Apa ini lelucon paling kejam dari takdir, Ayah?!”
Suara Gilang meninggi, penuh rasa putus asa.
“Aku akui aku pernah menyakiti dia, aku tahu aku salah. Tapi apakah hukuman untuk kesalahanku harus seberat ini? Melihat dia hidup berdampingan dengan Ayah, menjadi milik Ayah? Itu lebih menyakitkan daripada seribu pukulan sekalipun!”
Arga terdiam sejenak, rasa marahnya perlahan tergantikan oleh perasaan yang rumit.
Ia mengerti betul betapa beratnya kenyataan ini bagi Gilang,
namun ia juga tidak bisa menyangkal perasaannya sendiri.
“Ayah tidak bermaksud menyakitimu, Gilang. Percayalah, awalnya ayah juga tidak menyangka hal ini akan berjalan sejauh ini.
Tapi ketika ayah sadar sudah mulai mencintainya, ayah tidak bisa berpikir apa pun lagi selain melindunginya. Ayah tidak merebut dia darimu… dia sudah pergi darimu jauh sebelum aku datang.”
“Kata-kata itu tidak akan mengubah kenyataan yang ada sekarang, Ayah!” potong Gilang dengan suara parau.
"Tapi tetap saja, hari ini dan sampai kapanpun, Diana akan tetap menjadi ibumu. Lagipula, kau juga sebentar lagi akan menikah dengan kekasihmu itu!" Ujar Arga
Gilang menoleh pada ayahnya, lalu seakan teringat dengan tujuannya datang kemari.
Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ragu untuk berbicara.
Percakapan mereka terputus ketika suara langkah kaki mendekati pintu gerbang.
Salah satu satpam berdiri di balik besi itu dengan wajah tegang.
“Maaf, Tuan Arga, Tuan Gilang. Sesuai perintah Nyonya tua, kalian harus tetap di luar sampai suasana hati kalian tenang dan bisa berbicara dengan kepala dingin. Jika kalian masih berteriak atau berkelahi, maka pintu ini tidak akan dibuka sampai besok pagi.”
Arga ingin membantah, namun melihat tatapan tegas satpam itu,
ia tahu bahwa melawan hanya akan membuang waktu saja.
Ia menghela napas panjang, lalu memutar badannya dan berjalan menjauh sedikit,
duduk di bangku taman yang ada di halaman.
Ia menatap ke arah jendela ruang tengah, wajahnya terlihat khawatir memikirkan kondisi Diana di dalam sana.
"Ayah !" Panggil Gilang dengan nada rendah.
Gilang duduk di ujung bangku, sedikit menjauh dari ayahnya.
Mendengar panggilan itu, Arga menoleh sambil mengeluarkan sebungkus rokok dari kantong celananya.
"Ada apa? Kau masih tidak terima?" Tanya Arga, tangannya sibuk menyalakan rokok.
Gilang menghela nafas, pandangannya lurus ke depan.
"Sebenarnya, Clara sedang mengandung anakku!"
Itulah sebabnya, dia terus mendesak ayahnya untuk segera mempersiapkan pernikahannya.
Arga hampir tersedak asap rokok yang masih ada di mulutnya, dia lalu berdiri, membuang rokok yang baru saja di bakar.
Kakinya menginjak rokok itu dengan keras, lalu berbalik ke arah anaknya,
Tanpa aba-aba, sebuah tamparan keras langsung mendarat di pipi Gilang.
"Dasar Bajing*n, apa yang sudah merasuki pikiran mu Gilang, aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi seperti ini"
Gilang terdiam, dia tersenyum getir.
Dia juga tidak berusaha untuk melawan, dia sadar salah untuk hal ini, dan pantas mendapat hukuman.
Arga tidak bisa lagi berfikir dengan jernih, dia akhirnya kembali duduk, dan membakar rokok.
Sementara itu, di dalam rumah,
Nyonya Amara telah memanggil Diana untuk duduk lebih dekat.
Beliau menatap gadis itu dengan pandangan yang lebih lembut dibandingkan sebelumnya.
“Dengar aku baik-baik, Diana,” ujar Nyonya Amara dengan nada serius namun hangat.
“Aku tidak mudah untuk mempercayai seseorang, dan aku juga tidak akan mengatakan bahwa semuanya akan berjalan mulus mulai besok.
Akan ada banyak tatapan tajam, banyak bisikan, dan banyak pertanyaan yang akan menghampirimu. Bahkan dalam keluarga ini sendiri, jalan yang harus kau lalui masih panjang.”
Diana mendengarkan, matanya tetap menatap wanita tua itu dengan penuh perhatian.
“Namun, melihat bagaimana kau melindungi Arga tadi, aku mulai melihat kualitas yang dibutuhkan untuk bertahan di keluarga ini. Kau bukan wanita yang lemah dan hanya bisa menangis, kau punya keteguhan hati yang mungkin tidak kau sadari sepenuhnya,” lanjut Nyonya Amara.
Beliau kemudian menepuk pelan tangan Diana yang tergeletak di atas lutut.
“Ingatlah satu hal. Mulai hari ini, kau adalah istri Arga, menantuku, dan bagian dari keluarga Wijaya.
Maka kau harus belajar bersikap sesuai dengan posisimu itu.
Jangan lagi merasa rendah diri, dan jangan biarkan pandangan orang lain membuatmu ragu. Jika kau yakin dengan jalan yang kau pilih, maka jalani dengan kepala terangkat tinggi.”
Kata-kata itu terasa seperti penopang yang sangat dibutuhkan Diana.
Air matanya yang sempat tertahan kembali menggenang, namun kali ini bukan karena rasa sakit atau takut, melainkan karena rasa haru dan sedikit kelegaan.
Ia mengangguk dalam-dalam, lalu membungkukkan badannya dengan rasa hormat.
“Terima kasih, Nyonya. Aku akan mengingat semua nasihat ini. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik untuk Mas Arga, dan menantu yang bisa membanggakan keluarga ini,” ucap Diana dengan suara yang mantap meski masih sedikit terbata-bata.
Nyonya Amara tersenyum tipis, senyum yang terasa lebih tulus dan hangat dari sebelumnya.
Beliau mengangguk pelan, lalu kembali menatap ke arah jendela, seolah memikirkan langkah apa yang harus diambil selanjutnya untuk menenangkan dua pria keras kepala di luar sana.
"Dan mulai sekarang, ganti panggilan mu, mana ada menantu manggil mertuanya nyonya!"
Diana sedikit tertegun, tetapi hatinya senang. Dia tidak bisa menyembunyikan senyuman bahagia nya
Nyonya Amara juga tersenyum, dia meentangkan tangannya dan meminta Diana untuk mendekat.
Diana sudah menangis karena bahagia, segera dia mendekati mertuanya itu, lalu memeluknya erat.
"Terimakasih, Ibu!"