NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Pola Serangannya Berubah

Catatan harian masa depan milik Savira kini dipenuhi coretan silang hitam yang berantakan.

Ujung pena bertinta pekat itu menekan permukaan kertas terlalu kuat hingga merobek serat rapuhnya. Terdengar bunyi decit kasar yang ngilu setiap kali Savira menarik garis diagonal secara brutal di atas deretan rencananya. Ia mencoret kalimat "Hari ke-14: Pemeriksaan Kejaksaan", menghancurkan baris "Hari ke-20: Pembekuan Aset Yayasan", dan merusak setiap tenggat waktu yang telah ia susun dengan kejeniusan mutlak.

Gadis itu menatap lembaran kertas di pangkuannya dengan napas tersengal. Tangan kirinya meremas ujung kemeja hingga buku-buku jarinya memutih pucat.

Ia menarik paksa memori dari kehidupan pertamanya. Pada garis waktu yang lama, Wijaya Dharma tidak pernah bermanuver mematikan secepat ini. Pria itu biasanya membiarkan skandal kecil membusuk di media selama berminggu-minggu, mengorbankan bawahan kelas teri, lalu perlahan membersihkan nama perusahaannya.

Namun hari ini, sang kaisar memobilisasi dana tak terbatas. Monster itu menyumbat urat nadi lembaga hukum negara hanya dalam hitungan jam.

Aaron Jayanegara berdiri dalam keheningan total di sudut apartemen Savira. Mata gelap pria itu merekam setiap getaran di pundak gadis tersebut. Postur tubuh Aaron terlihat rileks bersandar pada dinding beton yang dingin, namun otot lehernya menegang sempurna.

"Tinta penamu merembes mengotori meja Savira," tegur Aaron dengan nada datar yang sangat membumi.

Savira melepaskan pena itu dari genggamannya seketika. Benda silinder tersebut jatuh menggelinding, membentur lantai kayu apartemen dengan bunyi nyaring.

Gadis itu merogoh saku celananya dengan gerakan memburu yang dipenuhi kepanikan. Ia mencari bungkus plastik permen stroberi di sudut saku, merobeknya kasar, lalu memaksa gula artifisial itu masuk ke dalam mulutnya.

Rasa manis buatan itu meleleh di atas lidahnya. Sensasi manis ini berjuang sangat keras menekan gelombang mual yang bergejolak ganas di dasar lambung Savira. Hasrat liarnya untuk melahap semangkuk mi super pedas berdengung di kepalanya, menuntut pelampiasan stres yang tidak bisa ia penuhi sekarang.

Tangan Savira beralih menekan saku kirinya. Ujung tajam dari jepit rambut kayu beraroma melati itu menusuk bantalan ibu jarinya. Rasa perih sekecil gigitan semut tersebut bertugas menahan kewarasannya agar tidak terlepas begitu saja.

"Semua pola serangannya berubah," bisik Savira dengan suara serak, seolah tenggorokannya dilapisi pasir tajam. "Dia seharusnya tidak bereaksi sedrastis ini hanya untuk skandal yayasan kecil."

Aaron melangkah mendekat. Bayangan tubuh tegapnya menutupi pendaran cahaya lampu jalan dari luar jendela, memberikan ruang aman bagi Savira untuk bernapas.

"Kamu melempar granat aktif ke dalam brankas utamanya," ucap Aaron tenang tanpa niat menyudutkan. "Tentu saja monster itu mengubah strategi pertahanan totalnya."

"Bukan hanya pertahanan." Savira menggeleng kuat. Tatapannya kosong menembus dinding retak di depannya.

Savira menyadari satu fakta baru yang langsung membekukan aliran darahnya. Di kehidupan pertama, ia hanyalah pion tidak berguna yang bebas disiksa. Ia tidak memiliki nilai tukar sekecil apa pun di mata sang kaisar.

Tapi semalam, ia meninggalkan jejak peretasan. Wijaya Dharma memiliki tim siber bayangan dengan bayaran termahal di benua ini. Pria paruh baya itu pasti sudah melacak anomali algoritma tersebut dan menemukannya bermuara pada titik koordinat universitas Savira.

"Dia tahu aku yang melakukannya," desis Savira ngeri.

Otot rahang Aaron mengeras seketika. Postur tubuh pria itu berubah drastis menjadi mode tempur absolut. Tangan Aaron bergerak refleks mendekati pinggangnya, memastikan senjata api terselip aman di balik jas hitam kasualnya.

"Aku akan melipatgandakan pengamanan di apartemen ini sekarang juga," putus Aaron tanpa ruang keraguan. "Tidak ada satu pun algojo bayaran Wijaya yang bisa menembus pintu depan tanpa kehilangan nyawa."

"Dia tidak akan mengirim pembunuh bayaran," cegah Savira cepat. Ia menundukkan wajahnya, menyembunyikan getaran ketakutan murni di matanya.

"Kenapa kamu seyakin itu?"

"Karena Wijaya Dharma adalah pedagang kalkulatif." Savira menelan ludah yang terasa sepahit empedu. "Dia membuang barang rongsokan ke tempat sampah, tapi dia akan mengoleksi senjata tajam untuk dirinya sendiri."

Dada gadis itu terasa sesak, seolah oksigen di dalam ruangan ini disedot habis oleh ketakutannya sendiri. Keringat dingin merembes lambat membasahi tengkuknya, menyatukan feromon teror dengan aroma melati samar yang menguar dari pakaiannya.

"Selama belasan tahun, ayahku mengabaikanku karena menganggapku produk gagal yang cacat," lanjut gadis itu dengan bibir bergetar. "Sekarang, aku baru saja membuktikan padanya bahwa aku bisa meruntuhkan sistem keamanan perusahaannya sendirian dalam satu malam."

Aaron terdiam total. Otak analitis pria itu langsung memahami arah ketakutan Savira yang paling gelap.

"Dia melihat nilai investasimu naik tajam," simpul Aaron dengan suara sedingin dasar lautan.

Savira mengangguk kaku. "Dia tidak akan membunuhku. Dia akan mengurungku kembali. Dia akan memastikan aset barunya tidak lagi bisa berkeliaran bebas dan menggigit tuannya sendiri."

Tubuh Savira melemas. Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya yang sedingin mayat.

Senjata terkuatnya selama ini adalah keistimewaan mengetahui masa depan. Ia merangkai setiap jebakan beracun berdasarkan memori kelam dari kehidupan pertamanya. Ia merasa kebal karena ia memegang kunci jawaban dari setiap ujian yang akan diberikan takdir kepadanya.

Kini, ia secara tidak sengaja telah menggeser jalur takdir terlalu jauh dari poros aslinya.

Tindakannya menjebak Nadia semalam memicu reaksi berantai yang menghancurkan linimasa. Wijaya yang ia hadapi malam ini bukanlah Wijaya dari ingatannya. Ayahnya telah berevolusi menjadi predator yang sepuluh kali lipat lebih waspada, lebih cepat, dan lebih mematikan.

Peta masa depan di dalam kepalanya kini hanyalah lembaran ilusi tidak berguna. Masa depannya sendiri baru saja berkhianat.

"Aku buta, Aaron," bisik Savira rapuh. Ia membiarkan pertahanan es di matanya retak sejenak di hadapan pria itu. "Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan besok pagi. Aku tidak tahu dari sudut mana dia akan menyerangku."

Aaron tidak mendekat untuk memberikan pelukan penenang. Pria itu tahu persis Savira akan menolak keras segala bentuk simpati fisik yang merendahkan mentalnya.

Aaron hanya menarik kursi kayu terdekat, duduk tepat di hadapan Savira, dan menatap lurus ke arah pupil gadis yang sedang dilanda badai teror tersebut.

"Kamu bertahan hidup belasan tahun di bawah atap pria sosiopat itu tanpa peta masa depan," ucap Aaron. Suara beratnya mengalirkan otoritas mutlak yang perlahan menenangkan detak jantung Savira. "Kamu selamat malam itu di gubuk Bidan Kartika murni karena insting bertarungmu, bukan karena catatan harianmu."

Mata gelap Aaron tidak memancarkan keraguan sedikit pun. Ia adalah jangkar yang menahan Savira agar tidak terseret arus keputusasaan.

"Biar aku yang mengurus setiap serangan fisik yang berani mendekat," tegas Aaron perlahan, setiap suku katanya sarat akan janji kematian bagi musuh mereka. "Tugasmu hanya perlu memastikan otak jeniusmu itu tetap berputar mencari jalur baru. Kita bangun peta yang baru malam ini juga."

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!