Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Ruang Kaca
Di dalam ruang tengah Resor Teluk Karang yang hangat, keheningan mendadak terasa mencekam seperti lapisan es yang membekukan udara.
Gemercik es batu yang mencair di dalam gelas kristal di atas meja kayu jati menjadi satu-satunya suara konstan yang bersaing dengan deru bising badai laut di luar dinding kaca setebal 10 milimeter.
Hendra berdiri terpaku, ponsel radio di tangan kanannya masih bergetar pelan akibat sisa hantaman frekuensi dari Nathan.
Wajahnya yang biasanya keras dan penuh wibawa kini tampak pucat pasi, dengan urat-urat kemarahan yang menonjol di pelipisnya.
Keringat dingin mulai merayap turun dari balik dahi berkerutnya, membasahi kerah kemeja safari hitamnya yang rapi.
Di hadapannya, Elena Wijaya terduduk di atas kursi kayu ek yang kokoh, kedua tangannya terikat rapat ke belakang menggunakan tali nilon taktis berkekuatan tinggi.
Meskipun rambutnya sedikit acak-acakan dan ada memar keunguan di sudut bibir kirinya akibat benturan interogasi kasar sebelumnya, mata Elena tetap memancarkan keteguhan yang luar biasa.
Tatapan matanya yang tajam menatap Hendra dengan senyuman tipis yang sangat sinis.
"Dia sudah di sini, Hendra," bisik Elena, suaranya terdengar serak namun sarat akan ejekan yang mematikan. "Kamu mengundang badai yang tidak akan pernah bisa kamu kendalikan."
"Tutup mulutmu, Elena!" teriak Hendra murka.
Ia memutar tubuhnya, melangkah kasar mendekati Elena, dan menodongkan laras pistol taktis kaliber 9 mm miliknya tepat di depan kening wanita itu.
"Pria itu hanya satu orang! Dia mungkin bisa melenyapkan Tim Alfa dan Beta karena mereka ceroboh di Megapura. Tapi di sini, aku memiliki pertahanan medan yang mutlak! Dia tidak akan pernah bisa melintasi pintu depan rumah ini hidup-hidup!"
Hendra menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan kepanikannya yang mulai merusak kalkulasi taktisnya. Ia menekan tombol transmisi radio internal di kerah bajunya dengan sentakan kasar.
"Semua unit dalam, dengarkan aku!" desis Hendra dengan nada yang sangat tegang.
"Target sekunder, Nathan telah berhasil menembus perimeter halaman belakang. Dia melenyapkan patroli timur halaman belakang. Batalkan posisi santai kalian.
Aktifkan protokol pertahanan berlapis tingkat 3. Matikan seluruh sisa lampu interior ruang dalam. Gunakan kacamata malam aktif kalian.
Dan pastikan jalur tangga menuju ruang tengah disapu dengan tembakan jika ada bayangan yang bergerak."
"Dimengerti, Komandan," sahut pemimpin sisa pasukan elit di dalam melalui saluran radio.
"Kami memiliki 4 agen bersenjata lengkap yang telah mengambil posisi bertahan di balik pilar ruang tengah dan balkon lantai dua. Tidak ada satu pun celah udara yang terbuka di sini."
Hendra mematikan komunikatornya, melirik ke arah pintu kayu ganda yang menjadi akses utama dari arah halaman belakang.
Pintu itu telah dikunci menggunakan sistem palang baja internal yang hanya bisa dibuka dari dalam menggunakan kode enkripsi digital. Di belakang pintu tersebut, ia menempatkan 2 agen terbaiknya dengan senapan serbu kaliber 5.56 mm yang siap menyapu siapa pun yang mencoba mendobrak masuk.
Hendra merasa posisinya sangat aman. Ia tidak menyadari bahwa bagi seorang legenda hidup seperti Nathan, sebuah pintu baja yang terkunci rapat adalah umpan taktis yang sengaja ia abaikan untuk mengalihkan konsentrasi musuh.
Di luar bangunan resor, di bawah guyuran hujan badai yang menderu deras, Nathan berdiri diam di bawah naungan atap balkon luar lantai dua.
Kacamata hibrida termal-optik di kepalanya menampilkan visual struktur bangunan dalam gradasi warna biru tua yang dingin.
Melalui sapuan sensor inframerah aktif, Nathan bisa melihat dua tanda panas tubuh berwarna merah-oranye terang sedang berdiri siaga tepat di balik pintu kayu ganda lantai dasar yang menghadap halaman belakang.
Laras senjata mereka terarah lurus ke pintu tersebut, menunggu dengan tegang.
Dua orang di balik pintu utama. Dan dua orang lagi bersiaga di pilar tengah lantai dua, analisis Nathan dalam hitungan detik. Hendra telah memusatkan pertahanan horizontalnya pada titik masuk standar.
Nathan mendongak, menatap ke arah atap resor. Struktur bangunan resor ini menggunakan gaya arsitektur tropis modern, dengan kubah kaca patri berukuran 3 meter x 3 meter di bagian tengah atap yang berfungsi sebagai pencahayaan alami di siang hari.
Kubah kaca tersebut berada tepat di atas ruang tengah lantai dua, posisi yang memberikan sudut pandang vertikal sempurna ke seluruh area interior resor.
Nathan melepaskan senapan submesin MP5-Silent dari bahunya, mengikatkannya erat ke punggung taktisnya agar tidak membatasi pergerakan lengannya.
Ia kemudian merayap naik menggunakan pipa pembuangan air hujan berbahan baja yang menempel di dinding luar tebing, memanjat dengan kehalusan dan kecepatan seekor reptil malam.
Hanya butuh waktu 15 detik bagi Nathan untuk mencapai permukaan atap datar yang dilapisi ubin beton.
Hujan lebat yang menghantam permukaan beton menciptakan suara bising yang sangat keras, menyamarkan setiap langkah kaki Nathan yang mendekati kubah kaca patri tersebut.
Nathan merunduk rendah di dekat bingkai baja kubah kaca, melirik ke bawah melalui celah kaca yang sedikit terbuka untuk sirkulasi udara pantai.
Melalui kacamata hibridanya, dunia di dalam ruang tengah resor terpeta dengan sangat jelas.
Ia melihat Elena Wijaya yang terikat erat di kursi kayu ek di tengah ruangan lantai dasar. Di dekatnya, Hendra berdiri dengan gelisah, matanya terus melirik ke arah pintu masuk halaman belakang.
Sementara itu, di balkon koridor lantai dua yang mengitari ruang tengah, dua agen elit bersenjata senapan serbu kompak sedang mengambil posisi tiarap, mengarahkan senjata mereka ke arah tangga utama di bawah.
Sudut tembakan vertikal dari kubah kaca ini berada tepat di atas kepala kedua agen di balkon lantai dua tersebut. Jaraknya hanya sekitar 6 meter.
Nathan merogoh saku taktis di balik jaket kevlar hitamnya, mengeluarkan sebuah tabung silinder kecil berisi senyawa gas saraf pelumpuh instan Soman-9 yang dikirimkan oleh Rendra dalam tas peralatan taktisnya.
Gas ini tidak berwarna, tidak berbau, namun memiliki daya sebar mikro yang sangat cepat dan mampu melumpuhkan sistem saraf motorik manusia dalam waktu kurang dari 3 detik begitu terpapar pada jaringan mukosa mata atau hidung.
Nathan menempelkan tabung gas saraf tersebut pada celah ventilasi kubah kaca, lalu menekan tombol aktivasi nirkabelnya.
Sssss.
Suara desis yang sangat halus dari pelepasan gas saraf tersebut langsung lenyap di bawah deru bising suara hujan badai di luar. Gas pelumpuh saraf itu meluncur turun secara vertikal, menyebar dalam keheningan udara dingin ruang tengah lantai dua, tepat di atas posisi tiarap kedua agen pengawal Hendra.
Satu detik... dua detik... tiga detik.
Agen pertama di balkon lantai dua tiba-tiba merasakan pandangan matanya kabur secara mendadak.
Ia mencoba mengedipkan matanya di balik kacamata malamnya, namun otot-otot kelopak matanya terasa sangat berat dan kaku. Senapan serbu di genggamannya terasa seperti balok timah seberat 50 kilogram yang mustahil untuk ia angkat kembali.