Tepat di hari perceraian mereka, Kirana Zhafira menyaksikan Damar Rafardhan tewas mengenaskan akibat tertabrak truk demi menyelamatkan cincin pernikahan mereka yang terjatuh. Kirana keliru menilai pernikahan dingin mereka selama dua tahun sebagai tanda ketidakpedulian. Namun, rahasia pilu membubung saat ibu mertuanya menyerahkan dompet Damar yang berisi foto pernikahan mereka dan cincin berlumuran darah kering.
Penyesalan terdalam menghantam Kirana begitu menyadari betapa sang suami sangat mencintainya dalam diam. Di tengah keputusasaan dan rasa sepi yang mencekam, keajaiban waktu terjadi. Kirana terbangun dan mendapati dirinya terlempar ke masa dua minggu sebelum tragedi maut itu merenggut Damar.
Berbekal kesempatan kedua dari semesta, Kirana bertekad meruntuhkan dinding es di antara mereka. Ia bersumpah akan mengejar cinta Damar, mengubah takdir tragis yang mengintai, dan memperjuangkan akhir bahagia yang tertunda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMPERBAIKI KEADAAN
Kirana mendekap dadanya yang bergemuruh hebat di samping ranjang Damar. Air mata keharuan dan penyesalan yang tertahan kini mengalir perlahan, membasahi pipinya. Apa yang disaksikannya di masa depan nyata adanya. Detail bingkai perak ini, foto masa remajanya, semuanya adalah bukti autentik yang tak terbantahkan. Itu artinya, ia memegang tanggung jawab penuh untuk meruntuhkan takdir kematian tragis suaminya.
Kirana memejamkan mata sejenak, menghitung sisa hari dalam benaknya. Dari urutan peristiwa di lini masa sebelumnya, waktu yang tersisa tinggal sembilan belas hari lagi sebelum hari petaka di depan pengadilan itu tiba. Langkah pertama yang paling krusial adalah menjauhkan kata cerai dari hubungan mereka. Namun, ada satu hal lagi yang mengganjal di hatinya. Ia harus bisa mengamankan cincin pernikahan yang melingkar di jari manis Damar, cincin yang memicu petaka maut itu.
"Tapi apa alasannya? Kalau aku memintanya tiba-tiba, dia pasti akan curiga," bisik Kirana beralih menatap kosong ke arah pintu.
Di saat ia sedang bergelut dengan kerumitan pikirannya, ketukan pelan terdengar di daun pintu. Yenita melangkah masuk dengan senyuman hangat yang menghias wajah paruh bayanya. "Kiran, ayo turun ke bawah, Nak. Kebetulan makanan siang sudah siap di meja."
Kirana menghapus sisa air mata di pipinya dengan cepat, lalu mengangguk ramah. "Iya, Mama. Kiran segera turun."
Kirana pun melangkah keluar dari kamar pribadi suaminya, menuruni anak tangga menuju ruang makan yang luas. Namun, baru saja ia mendaratkan bokongnya di kursi, deru suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar dari arah pintu depan.
Damar muncul di ambang pintu ruang tengah dengan napas yang sedikit memburu. Kemeja kerjanya tampak sedikit kusut, menandakan pria itu benar-benar langsung memacu kendaraannya dari kantor tanpa memikirkan apa pun lagi. Begitu matanya menangkap sosok Kirana yang duduk tenang di samping ibunya, Damar langsung menghampiri meja makan tanpa basa-basi.
"Kiran, ayo kita pulang sekarang," ajak Damar langsung, suaranya terdengar tegas namun ada nada kepanikan yang tersembunyi di sana.
Namun, Kirana kali ini tidak mau mengalah begitu saja seperti biasanya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya, lalu menggelengkan kepala dengan santai. "Aku tidak mau pulang sekarang, Kak. Aku sengaja datang ke sini karena ingin makan siang masakan Mama."
Damar seketika tercengang di tempatnya berdiri. Matanya membulat kecil menatap keberanian istrinya yang sama sekali di luar kebiasaan. Selama dua tahun ini, Kirana tidak pernah membantah sepatah kata pun. Setiap kali Damar memberikan perintah atau instruksi yang dingin, Kirana selalu menurut dalam diam demi menjaga jarak di antara mereka.
"Kiran, aku masih harus kembali ke kantor untuk menyelesaikan pekerjaan. Jadi ayo kita pulang sekarang," desak Damar lagi, melangkah selangkah lebih dekat ke arah kursi Kirana.
"Pokoknya aku tidak mau!" sahut Kirana dengan nada suara yang sengaja dibuat sedikit manja. Ia menoleh ke arah Yenita, lalu memegang lengan ibu mertuanya itu. "Mama, lihat Kak Damar tuh. Kirana kan lapar dan ingin makan di sini, tapi malah dipaksa pulang."
Seketika itu juga, Damar langsung mengalihkan pandangannya tajam ke arah Yenita. Tatapan matanya terlihat begitu mengintimidasi, mencurigai bahwa sang ibu telah membisikkan sesuatu atau menghasut istrinya hingga bersikap aneh seperti ini.
Yenita yang peka dengan arti tatapan putranya langsung membuka suara sebelum Damar melayangkan tuduhan yang tidak-tidak. "Damar, jangan menatap Mama seperti itu. Mama tidak menghasut istrimu sama sekali, jadi jangan berpikir yang aneh-aneh."
Melihat reaksi suaminya yang terkesan sangat defensif dan kaku, Kirana sengaja memasang wajah cemberut dan pura-pura marah. "Apa sih, Kak? Kok Kakak seolah-olah tidak senang melihatku berada di sini? Kenapa Kakak seperti sengaja ingin menjauhkan aku dari Mama?"
Rentetan kalimat yang keluar dari bibir Kirana membuat Damar semakin dilingkupi rasa heran yang luar biasa. Belum sempat pria itu mencerna perubahan sikap istrinya, Kirana kembali melayangkan kalimat yang membuat seisi ruangan terkejut.
"Lagipula, malam ini aku juga sudah memutuskan untuk menginap di sini bersama Mama," tegas Kirana dengan raut wajah tanpa beban.
Damar semakin dibuat kebingungan tidak karuan. Kepalanya terasa pening menghadapi sikap Kirana yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat dalam waktu singkat. Di tengah ketegangan yang canggung itu, Sanjaya yang sejak tadi mengamati dari ruang keluarga akhirnya berjalan mendekat. Pria paruh baya itu menepuk pelan pundak putranya, memberikan nasihat dengan bijak.
"Damar, jangan terlalu mengekang istrimu sendiri. Biarkan dia menghabiskan waktu di sini bersama Mamanya. Jangan sampai kau bertindak egois dan menyesal di kemudian hari nanti," ucap Sanjaya menenangkan.
Mendengar teguran dari sang ayah, Damar akhirnya mengembuskan napas panjang. Ia menyerah kalah, tidak bisa mendebat lebih jauh lagi. Pria tegap itu akhirnya menarik kursi di sebelah Kirana dan mendudukkan dirinya di sana, bersiap untuk ikut bergabung makan siang bersama mereka.
Kirana yang melihat hal itu mengerutkan keningnya heran. Ia menoleh ke arah Damar yang mulai mengambil piring. "Bukannya Kakak tadi bilang masih banyak pekerjaan yang menumpuk di kantor? Kenapa sekarang malah ikut duduk dan mau makan di sini?"
"Aku lapar juga," jawab Damar singkat tanpa menoleh, menyembunyikan rasa gengsinya di balik nada suaranya yang sedatar biasanya.
Akhirnya, mereka berempat pun menikmati makan siang bersama dalam suasana yang jauh lebih hangat dari biasanya. Di sela-sela suapan, Kirana sengaja mencairkan suasana dengan menanyakan beberapa resep bumbu masakan yang sedang mereka santap kepada Yenita.
"Mama, ini bumbu ayam ungkapnya pakai rempah apa saja ya? Rasanya enak sekali dan meresap sampai ke dalam," tanya Kirana dengan nada santai.
Yenita tentu saja menyambut pertanyaan itu dengan binar mata yang bahagia. Ia langsung menjelaskan detail resepnya dengan penuh semangat. Sementara itu, di sebelah Kirana, wajah Damar kembali menampilkan raut ekspresi yang penuh keheranan. Sepanjang ingatan Damar, istrinya itu hampir tidak pernah menyentuh urusan dapur di rumah bersama mereka. Makanan yang mereka konsumsi sehari-hari selalu dimasak dan disiapkan oleh pekerja rumah tangga paruh waktu yang pulang setiap sore hari.
Setelah semua hidangan di atas meja tandas dan selesai dibersihkan, Damar kembali berdiri dari posisinya. Ia merapikan letak jam tangannya, lalu kembali menatap Kirana yang sedang mengobrol ringan dengan ibunya di sofa ruang tengah.
"Kiran, sekarang kita pulang ya," ajak Damar untuk yang kesekian kalinya.
Namun, pertahanan Kirana tetap tidak goyah sedikit pun. Ia menatap suaminya dengan pandangan mantap. "Tetap tidak mau, Kak. Aku sudah bilang dari tadi kan kalau malam ini aku mau menginap di rumah Mama."
Damar yang merasa kehabisan cara langsung melemparkan pandangan tajamnya ke arah Yenita. Sorot matanya seolah bertanya dengan penuh selidik tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diri Kirana hari ini. Namun, Yenita yang ditatap seperti itu hanya bisa mengangkat kedua bahunya pasrah, memberikan isyarat bahwa dirinya sendiri sama sekali tidak tahu-menahu tentang alasan di balik perubahan sikap mendadak dari menantunya tersebut.
GANBATEEE NEE 😁🤗💪
semangat yaa update nyaa😁😁😁
semoga benang takdir bisa terurai dan dalang dibalik Kematian damar bisa terungkap semuanya . semangat kiran, jaga damar dr takdir tragis nya 💪💪