Sheerin dan Nindi bak pinang dibelah dua, mereka adalah dua perempuan dengan wajah yang sama. Di awal pertemuan, mereka tak percaya kalau didunia ini ada orang yang mirip dengan diri mereka. Namun setelah pertemuan antara keduanya, akhirnya mereka percaya jika didunia ini ada 7 orang yang mirip dengan mereka.
Tanpa mereka ketahui jika sebenarnya mereka adalah saudara kembar yang terpisah oleh jarak dan waktu.
Dengan penuh ancaman, karena kesalahan yang Nindi lakukan, Sheerin meminta Nindi untuk menggantikan posisinya untuk menikah dengan laki-laki asing yang akan dijodohkan dengannya.
Kebenaran demi kebenaran mulai terkuak saat mereka bertukar peran, rahasia, masa lalu dan penyebab kedua saudara kembar itu terpisah akhirnya perlahan mulai terbongkar.
Lalu bagaimana kehidupan keduanya setelah bertukar peran dengan karakter keduanya yang bertolak belakang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratih mirna sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran terbaik
Nindi keluar dari kamar mandi dengan baju yang berbeda, selera pakaian Sheerin sangat tidak disukai oleh Nindi, ini terlalu feminim, sangat bertolak belakang dengan karakter Nindi yang agak tomboi. Biasanya sehari-hari dia hanya memakai kaos oblong dan kolor pendek, tapi sekarang, dia harus terbiasa mengenakan dress ataupun rok.
Ehh tapi, Nindi tidak melihat suaminya ada disana, kemana perginya laki-laki itu? Nindi celingukan kesana kemari memperhatikan sekitar kamar mencari keberadaan Bima, Bima benar-benar tidak ada disana.
Nindi menjatuhkan tubuhnya diatas sofa yang ada dikamar itu, saat sepi dan sendiri seperti ini, pikirannya rentan teringat akan ibu dan Yuvi, bagaimana keadaan mereka sekarang? Apa mereka benar-benar tidak menyadari kalau Nindi tidak ada bersama dengan mereka?
Tentu saja tidak, mereka menganggap kalau Sheerin benar-benar Nindi. Eh, ngomong-ngomong soal Sheerin, bagaimana Nindi harus menjelaskan tentang pernikahan ini? Itu soal belakangan, yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar Nindi bisa bicara dengan Sheerin terlebih dahulu, sedangkan ponsel Sheerin saat ini sedang di sita oleh mama Anya.
Nindi berpikir untuk menemui Sheerin langsung di sekolahnya, ya, itu ide yang bagus, dengan begitu Nindi bisa bicara dengan leluasa, tentunya dengan sedikit penyamaran. Nindi juga ingin kembali kerumah itu untuk meminta kembali ponselnya. Begitu rencana yang akan dilakukan Nindi, dia beranjak dari duduknya dan berjalan kearah pintu.
Belum sempat dia memegang handle nya, pintu itu sudah terbuka dengan sendirinya, membuat Nindi melangkah mundur kebelakang.
"Kak Bima?" Ucap Nindi saat melihat sosok tinggi besar di hadapannya.
"Mau kemana?" Seperti biasa, sosok itu bertanya dengan wajah datarnya.
Kemana ya? Tidak mungkin, kan Nindi bilang kalau dia mau bertemu dengan Sheerin.
"Itu kak, aku mau bawa hp aku yang disita mama dirumah." Jawab Nindi.
Bima menatap dengan sorot matanya yang tajam, membuat Nindi sedikit ngeri melihatnya.
"Tidak boleh." Ucapannya singkat namun penuh arti, Bima tidak mengizinkan Sheerin pulang kerumahnya. Nindi tampak kecewa.
"Lho, kenapa kak? Tapi aku butuh hp itu." Nindi mencoba memberi pengertian, dia akan mati kalau tidak ada ponsel di sampingnya.
"Besok aku akan mengantar kamu kesana, pakai ini." Bima menyerahkan ponselnya kepada Nindi.
Hah? Nindi menganga tidak percaya, dia masih mencoba mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut Bima. Dia akan mengantar Nindi besok pulang kerumah? Besok kan hari sabtu, ayahnya Sheerin sedang tidak bekerja, itu artinya mereka akan bertemu, lalu ayah Sheerin akan tau kalau Sheerin sudah menikah secara diam-diam.
Lalu bagaimana kalau mama Anya memfitnahnya hamil sebelum menikah, sama seperti apa yang dia katakan kepada om Arya? Dan bagaimana kalau ayahnya Sheerin terkena serangan jantung?
Bagaimana? Bagaimana?
Nindi tidak tau apa yang akan terjadi nanti, satu-satunya orang yang bisa memberi solusi adalah Sheerin, sedangkan dia tidak bisa bicara ataupun bertemu dengan Sheerin. Atau Nindi jujur saja kalau dia bukan Sheerin, apa mereka akan percaya? Tidak tidak, itu juga bukan solusi yang tepat, bisa-bisa dia diceraikan Bima dihari kedua pernikahannya lalu Bima akan menikah dengan Sheerin asli. Nindi tidak ingin menjadi janda di usianya yang belum genap 20 tahun.
Bima mengerutkan keningnya melihat Nindi melamun, dia semakin mendekatkan ponselnya kepada Nindi, mendesak Nindi untuk mengambilnya.
"Pakai dulu ponselku." Ucap Bima.
Nindi tersadar, dia menerima ponsel itu dengan ragu. Apa Bima tidak salah mau meminjamkan ponselnya? Apa tidak ada rahasia di dalamnya? Apa mereka sudah sedekat itu hingga Bima mau berbagi benda yang terbilang private itu?
"Memang boleh ya?" Tanya Nindi cengengesan.
"Sebelum kamu memakai ponsel itu, kita makan dulu." Ucap Bima, dia nyelonong masuk kedalam kamar, sedari tadi tangannya menenteng tas kresek.
Ehh, itu makanan bukan ya? Kebetulan sekali, Nindi sudah sangat lapar, jam juga sudah menunjukan lebih dari jam 12 siang. Sudah lewat dari jam makan siang Nindi seharusnya.
Nindi mengekor dibelakang Bima, ponsel Bima dia genggam erat-erat, dia letakkan tepat didepan dadanya. Kalau saja benda itu adalah Bima, maka Nindi akan merasa sangat bahagia bisa memeluknya. Meskipun hatinya tidak bisa di gapai Nindi, setidaknya ponselnya sudah ada dalam pelukannya.
'Kak Bima baik banget sih, aku kan jadi tambah suka.'
Akhirnya, siang itu mereka menikmati makan siang yang Bima pesan memalui go food dengan tenang.
Sesekali Nindi melirik Bima yang sedang sibuk mengunyah, kenapa sedang makan saja kak Bima tetap terlihat sekeren itu, gerakan mulutnya seolah melambai-lambai menyuruh Nindi untuk mendekat. Tanpa sadar Nindi menggigit sendok bekas makannya sambil tersenyum gemas membayangkan kalau sendok itu adalah bibir yang yang sedang dia perhatikan, dia gemas melihat pemandangan menakjubkan yang disuguhkan dihadapan matanya.
'Cinta pertamaku benar-benar menjadi milikku, aku tidak perduli kalau dia menolak kehadiranku nantinya, aku akan dengan tidak tau malunya akan selalu berada disisi kak Bima untuk selamanya.
Aku akan tetap menjadi pengagum setia mu meskipun nanti wajah itu dipenuhi dengan kerutan dan rambut itu ditumbuhi uban.
Aku menyukaimu, benar-benar menyukaimu, bahkan jika kak Bima meminta separuh dari hidupku, aku dengan rela akan memberikannya. Aku akan menjadi budak cintamu kak Bima, sampai hembusan nafas terakhirku.'
Hah, jatuh cinta memang bisa
membuat orang bodoh seperti Nindi berubah menjadi penyair terbaik didunia.
"Ayo makan." Bima bukan tidak sadar, dia benar-benar sadar jika sedari tadi Sheerin hanya memandanginya saja, sempat berpikir jika dia hanya keGRan saja, tapi kenyataannya memang seperti itu.
"Ehh, iya." Nindi mengalihkan fokusnya kembali pada makanan, menyantapnya perlahan sambil sesekali kembali mencuri pandang terhadap Bima.
***
Siang itu, ditengah teriknya sinar matahari, Sheerin dengan menggunakan jaket tebalnya menunggu angkot lewat. Sesuai rencana awal, dia akan menemui Nindi secara diam-diam di rumahnya. Seperti biasa, masker wajah dan kacamata hitam dia gunakan agar tidak ada orang yang mengenalinya.
Sebuah angkot menepi seperti mengerti jika Sheerin sedang butuh tumpangan. Sheerinpun menaiki angkot itu. Sheerin ini orangnya tidak gengsian, meskipun dia adalah anak orang berada, tapi dia tidak malu untuk naik kendaraan umum, pemikirannya sangat dewasa dan selalu berpikir panjang sebelum bertindak.
Sengaja dia duduk dipojok belakang agar keberadaannya tidak terlalu mencolok. Sambil mengecek ponselnya, siapa tau saja Nindi sudah membalas salah satu pesan yang dia kirimkan. Tapi nihil, Nindi masih juga belum ada kabarnya.
Sheerin menhembuskan nafas berat. Apa yang terjadi dengan perempuan yang mirip dengannya itu sebenarnya? Apa Nindi ketahuan? Dan mama Anya berbuat yang tidak-tidak terhadap Nindi? Atau jangan-jangan mama Anya tetap memaksa Nindi menikah, dan sekarang Nindi sudah menikah dengan laki-laki itu, begitu? Sheerin semakin cemas memikirkan semua kemungkinan-kemungkinan itu.
Dia gelisah tidak karuan didalam angkot itu, ingin cepat-cepat sampai rumah dan bertemu Nindi untuk mastikan kalau semuanya baik-baik saja. Sheerin merasa angkot itu berjalan sangat lambat, apalagi sekarang angkotnya berhenti, ternyata ada seorang penumpang lain manaiki angkot itu.
Eh, tunggu-tunggu. Itu kan Levin? Habis dari mana dia? Kenapa masih pakai seragam? Kenapa dia naik angkot? Dia kan punya motor. Sheerin melupakan fakta kalau motor Levin mengalami kelecetan yang parah setelah diculik oleh Nindi kemarin.
Untung saja laki-laki itu duduk dijok paling depan, setidaknya Sheerin akan luput dari perhatian Levin. Sheerin semakin merapatkan jaket yang dia kenakan.
Tring !
Suara ponsel Sheerin itu menjadi pusat perhatian ditengah heningnya suasana didalam angkot. Sontak saja kelima penumpang angkot itu menoleh kearah Sheerin tak terkecuali Levin.
Sheerin melompat kegirangan mendapati pesan masuk kedalam ponselnya, dia mengabaikan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan aneh. Dia terlalu senang karena mengira kalau itu adalah pesan balasan dari Nindi, tapi harapan tinggallah harapan, yang mengirimi Sheerin bukanlah Nindi melainkan operator yang menawarkan berbagai macam kuota murah. Sheerin lagi-lagi harus menelan kekecewaan.
Levin ikut menoleh kearah sumber suara yang menarik perhatian itu, dahinya mengerut saat mengenali jaket yang dipakai orang yang duduk dipojokan sana. Otaknya memikirkan sesuatu, menunggu waktu yang tepat untuk menangkap basah orang yang gerak-geriknya terlihat mencurigakan itu. Seringai kecil nambak jelas di sudut bibir seksinya itu.
15 menit berkendara, angkot hampir sampai digerbang komplek.
"Kiri mang!" Seorang penumpang lain meminta supir untuk menepikan angkotnya. Angkotpun berhenti.
Sheerin berpikir untuk ikut turun bersama penumpang itu, jadi dia tidak perlu buka suara yang akan membuat Levin mengenalinya. Ya, seperti itu, tidak apa jika Sheerin harus berjalan sedikit untuk menuju gerbang komplek.
Sheerinpun turun dari angkot itu.
'Si urakan mau kemana?' Tidak ingin kehilangan jejak, Levin ikut turun ditempat yang sama. Setelah membayar ongokos, Sheerin berbalik untuk pergi, tapi dia melihat Levin sudah ada di hadapannya, menatapnya dengan penuh kecurigaan. Sheerin sangat terkejut, cepat-cepat dia memalingkan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata itu, menaikan masker semakin keatas agar wajahnya tidak dikenali Levin.
Terlambat! Levin sudah mengetahui semuanya.
Angkotpun kembali melaju, Sheerin pura-pura tidak mengenali Levin dan berlalu pergi meninggalkannya begitu saja.
"Mau kemana loe urakan!" Levin menahan lengan Sheerin dan membuat langkahnya terhenti disaat itu juga.
Deg!
Sheerin terkejut, benar-benar terkejut. Ini adalah penyamaran terbaik yang pernah dia lakukan, tapi kenapa masih ada saja orang yang mengenalinya?
"Maaf, salah orang."
***
Bersambung dulu, baca juga yuk