NovelToon NovelToon
Nafas Yang Mencekik

Nafas Yang Mencekik

Status: sedang berlangsung
Genre:Enhypen / Romansa / Dark Romance
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: rerevana

Hubungan Serena dan Heeseung selalu berada di antara lembut dan mencekik.

Setiap kali badai berlalu, Heeseung datang membawa janji dan ketenangan yang membuat Serena ingin percaya lagi. Tapi di balik perhatian dan perlindungan itu, ada rasa memiliki yang terlalu kuat untuk diabaikan.

Serena terjebak antara takut kehilangan dan takut tinggal.

Cinta yang awalnya terasa aman, perlahan berubah menjadi sesuatu yang sulit untuk dilepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Milik gue

Malam itu Serena tertidur lebih dulu.

Revan masih duduk di tepi ranjang, memandangi wajahnya yang tenang. HP Serena masih ada di saku jasnya.

Dia menarik selimut sampai ke dagu Serena, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi pipinya.

"Gue nggak mau lo jauh dari gue, Na," gumamnya pelan, seolah takut jika suaranya akan membangunkan Serena.

Revan berbaring di sampingnya, tapi tidak langsung tidur.

Tangannya meraba dalam gelap, mencari tangan Serena. Begitu ketemu, dia menggenggam erat, seakan itu satu-satunya cara untuk memastikan Serena masih di sini.

Pagi berikutnya. 07.15

Serena bangun karena rasa hangat di perutnya.

Revan memeluknya dari belakang, dagunya bersandar di bahunya. Napasnya masih berat, belum sepenuhnya sadar.

"Kak..." bisik Serena pelan.

Revan mengeratkan pelukannya, mengusap perut Serena lewat atas kaus.

"Bangunnya jangan buru-buru, Na. Gue masih ngantuk," suaranya serak, baru bangun tidur.

Serena tersenyum kecil tanpa sadar.

"Kak Re ambil HP aku dong. Aku mau matiin alarm."

Revan membuka mata setengah. Dia bangun lalu duduk, meraih jasnya yang tergeletak di kursi, mengeluarkan ponsel Serena.

tapi dia tidak langsung memberikannya. Dia pandangi dulu layar itu lama, seolah memastikan tidak ada nama Jake di sana.

"Nih," akhirnya dia lempar pelan ke pangkuan Serena.

"Tapi gue nggak suka lo buka WA pagi-pagi. Bikin mood gue rusak."

Serena cuma mengangguk, mematikan alarm tanpa membuka chat.

Dia tidak mau membuat Revan marah lagi.

Revan menatapnya dari atas ranjang. Rambut Rena berantakan, wajahnya masih merah karena baru bangun.

Dia tidak bisa menahan diri.

Dia maju, menarik dagu Serena pelan, lalu mencium keningnya. Lama.

"Pagi, Na," gumamnya pelan di dahi Serena.

Serena diam. Jantungnya berdetak tidak wajar.

Marah, takut, dan rasa aman itu semua campur aduk setiap kali Revan mendekat seperti ini.

"Kak..."

Serena tidak tahu harus bicara apa.

Revan hanya tersenyum kecil, jarinya mengusap pipi Serena.

"Gue tahu lo takut sama gue. Tapi lo juga nggak bisa jauh dari gue, kan?"

Serena menunduk.

"Aku... aku nggak tahu, kak."

Revan tertawa pelan. Dia turun dari ranjang, menarik tangan Serena supaya ikut bangun.

"Gue tahu. Makanya gue yang jagain lo."

Dia mencium puncak kepala Serena sekali lagi sebelum melepasnya.

"Mandi. Nanti gue anter lo kuliah. Dan denger ya, Na - gue nggak mau liat lo ngobrol sama cowok lain lagi. Ngerti?."

Serena mengangguk kecil.

"Iya, kak."

Parkiran - Kampus Universitas Mandala, 12.40

Kuliah pagi selesai lebih cepat dari biasanya.

Serena keluar dari gedung F sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Di ujung parkiran, mobil hitam Revan sudah terparkir di sana.

Dia bersandar di kap mobil, jasnya digulung sampai siku, matanya tidak lepas dari pintu gedung.

Begitu melihat Serena, sudut bibirnya naik sedikit. Membentuk senyuman yang menghangatkan bagis siapa yang melihatnya.

"Akhirnya keluar juga," gumamnya pelan, cukup terdengar untuk Serena yang sudah dekat.

Serena mendekat, menenteng tas di bahu.

"Kak Re... kok udah di sini? Kan aku bilang selesainya jam satu."

Revan mengambil tas itu dari bahu Serena tanpa izin, lalu meletakkannya di kursi belakang.

"Gue kangen," jawabnya simpel, seolah itu alasan yang paling masuk akal di dunia.

"Masuk. Kita makan."

Rena mengangguk kecil. Dia belum berani menolak kalau Revan sudah memakai nada seperti itu.

Saat akan masuk mobil, suara familiar menyangkut di telinganya.

"Rena!"

Jake datang dari arah parkiran motor, membawa dua botol air dingin. Dia tidak menyangka Revan ada di situ.

Langkahnya berhenti dua meter dari mereka, matanya berpindah-pindah antara Rena dan Revan.

"Lo jemput Serena ya? Gue kira dia pulang sendiri," Jake berusaha santai, tapi suaranya kaku.

Revan tidak langsung menjawab. Dia melangkah maju, berdiri di depan Serena seolah menjadi pembatas.

Matanya menyipit, menatap Jake dari atas sampai bawah.

"Lo siapa?"

Revan dan Jake tidak saling mengenal, mereka hanya tahu nama satu sama lain dari Serena.

Jake mengernyit. "Gue Jake. Teman Serena."

Revan mengangguk pelan, tapi senyumnya tidak sampai ke mata.

"Oh, Jake. Yang kemarin nganter cewe gue pulang."

Serena langsung panik. Dia menarik ujung jas Revan pelan.

"Kak, udah..."

Revan tidak bergeming. Tatapannya masih menempel pada Jake.

"Gue udah bilang kan, Na? Nggak ada cowok lain yang boleh dekat-dekat sama lo."

Revan mengatakannya dengan nada pelan, tapi setiap kata terasa seperti pisau.

"Lu denger kan, Jake?"

Jake menegang. Dia tidak mundur.

"Gue cuma ngasih air minum. Nggak ada yang aneh-aneh. Lo nggak bisa ngelarang Serena punya teman."

Revan tertawa pendek. Kering.

"Gue bisa. Karena dia milik gue."

Serena tersentak.

"Kak!"

Revan akhirnya menoleh ke Rena. Tatapannya melunak satu detik, tapi langsung mengeras lagi saat kembali ke Jake.

"Masuk mobil, Rena. Sekarang."

Serena tidak berani membantah. Dia menurut, masuk ke kursi depan dengan tangan gemetar.

Revan tidak menunggu Jake menjawab. Dia berjalan ke sisi pengemudi, membuka pintu, dan sebelum masuk dia berhenti sebentar.

"Jauh-jauh dari dia, ya. Gue nggak bakal bilang dua kali."

Pintu mobil ditutup keras.

Mesin dinyalakan, dan mobil hitam itu melesat keluar parkiran, meninggalkan Jake yang masih berdiri kaku di tempat.

Di dalam mobil, Serena menatap ke depan. Dia tidak menangis, tapi dadanya sesak sekali.

"Kak Re... nggak usah kayak gitu sama Kak Jake. Dia baik sama aku."

Revan tidak menjawab. Tangan yang memegang setir mencengkeram keras.

"Baik buat apa, Na? Buat ngambil lo dari gue?"

Serena diam.

Dia mengerti, sekarang tidak ada gunanya melawan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!