NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerkom to Kencan (?)

"Kak, aku mau dua!"

"Kak, beli yang cokelat moka sama yang putih!"

"Kak, rekomendasi warna beruang buat nembak cewek, dong!"

Stan XII IPS 2, atau lebih tepatnya meja lapak dadakan milik Lintang dan Arka, langsung diserbu gerombolan anak-anak. Mayoritas dari mereka masih unyu, spek dedek-dedek SMP.

Tentu saja lapak mereka langsung ramai. Stok mereka sangat terbatas.

Apalagi boneka handmade itu cuma dijual goceng untuk satu biji. Kalau beli di pameran seni lain atau di mal, mungkin lima belas ribu saja kurang.

Harga lima ribu itu benar-benar sedekah berkedok nilai prakarya untuk barang buatan tangan yang estetik.

"HABISS!!" Lintang bertepuk tangan heboh.

Ia melompat kecil dengan mata berbinar melihat rak kayunya yang sekarang kosong melompong tanpa sisa.

Sepuluh boneka kawat bulu ludes terjual dalam kurun waktu kurang dari tujuh menit!

Kecepatan kilat itu membuat anak-anak yang menjaga stand asli kelas mereka sampai geleng-geleng kepala. Mereka kagum melihat aksi magis Lintang dan crush-nya.

"BUSET, DAH! KITA MASIH NYALES SETENGAH MATI, DIA UDAH KELAR AJE!" celetuk Leon sewot dari balik tumpukan tas rajut dagangannya.

"Makanya jangan jual mahal-mahal! Jadi kagak ada yang lirik, kan?!" sahut Lintang tanpa menoleh. Jemarinya sibuk mengantongi uang hasil jualan.

"Lah, harga sesuai kualitas, coyy! Ini benang rajutnya import langsung dari pabriknya! Rugi kalau dijual murah!" ujar Leon membela diri.

"Pale lu import. Itu di toko Oren juga sekilo dua puluh ribu," skakmat Zahiya lempeng.

"Diem napa, ah! Jangan bongkar trik marketing!" Leon menggerutu karena gagal menipu adik kelas.

Lintang hanya tertawa puas melihat teman-temannya masih berjuang mencari pelaris.

Sementara dia dan Arka sekarang sudah bisa ongkang-ongkang kaki dengan tenang mirip mandor proyek.

"Ke stan anak kelas sepuluh, yuk. Cari makanan," Lintang berdiri, menepuk-nepuk rok abu-abunya.

Ia menoleh ke arah Arka yang sejak tadi betah nempel di kursi plastik.

"Mager," jawab cowok itu pendek. Sama sekali gak ada niat buat angkat pantat.

"Ihh, ayo dooong! Kita harus merayakan kesuksesan finansial kita!"

Lintang menarik-narik ujung lengan jaket cowok itu dengan gigih, sampai akhirnya Arka terpaksa pasrah dan berdiri.

Mau tidak mau, Arka terseret oleh gadis ajaib itu ke tengah kerumunan lautan manusia menuju area stan makanan kelas 10.

"Kita beli makan sama minum ya. Gue baru inget kalau dari pagi belom kemasukan nasi sama sekali."

Lintang memegangi perutnya yang sudah mulai terasa agak perih dan panas karena kosong.

Langkah kaki Arka mendadak memelan. Cowok itu menoleh. "Belum sarapan?"

Lintang menyengir bego tanpa dosa. "Belum, hehe."

"Gue tadi kesiangan karena sibuk dandan estetik. Padahal niatnya pas tadi pagi berangkat, mau jajan di sekolah," lanjut Lintang.

Arka melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Jarum jam menunjukkan pukul 08.13.

Cowok itu mendesah pelan, ada kilat sebal yang tertahan di matanya.

"Udah tahu hari ini bakal repot seharian, harusnya lu sarapan dulu atau bawa bekal dari rumah."

Lintang spontan menoleh cepat. Senyumnya bener-bener gak bisa disembunyikan lagi mendengar omelan barusan.

"Ciye... Lu khawatir ya sama gue? Kok tumben panjang amat kalimatnya?"

"Bukan khawatir. Realistis," Arka mengacungkan jari telunjuknya, mendorong jidat Lintang pelan agar menjauh.

"Jam segini menu sarapan di stand anak-anak udah pada ludes."

"Ada kok..." Lintang melirik stand-stand menu nasi berat yang mangkoknya sudah ditumpuk kosong.

"Kalau nasi gak ada, makan yang lain aja. Yang penting lambung gue gak demo," tambah Lintang santai.

...----------------...

"Dek, dimsumnya masih ada?" Lintang berhenti di salah satu stan makanan yang wangi kukusannya sangat menggoda iman.

"Ada nih, Kak. Tinggal sepuluh biji terakhir."

"Habis ini harus nunggu dikukus lagi karena kloter kedua belum matang," ujar si adik kelas promosi.

"Eh, mau dong! Borong semuanya aja, Dek!" Lintang segera mengambil alih kepemilikan sisa dimsum tersebut.

"Okee, Kak." Adik kelas itu dengan gesit mulai membungkus sepuluh dimsum ke dalam wadah mika.

"Nih, Kak. Jadi dua puluh lima ribu ya."

Lintang menerimanya dalam kresek bening sambil menyodorkan uang pas.

Tentu saja bayarnya pakai duit pribadinya yang lain, bukan uang hasil prakarya suci mereka. "Nih, Dek. Makasih yaa."

Selesai urusan perut, mata Lintang kembali celingak-celinguk mencari kesegaran.

Matanya langsung menangkap stan minuman ala kafe di ujung deretan tenda.

"Ayo kesana!" Lintang menarik lengan Arka begitu saja.

Si cowok kutub utara itu lagi-lagi cuma bisa pasrah mengikuti langkah ugal-ugalan Lintang.

"Dek, aku mau green tea latte stroberi satu, sama..." Lintang menoleh ke sebelah. "Lu mau minum apa, Ka?"

"Americano," ujar Arka singkat.

"Sama Americano satu ya. Es-nya yang banyak, Dek," lanjut Lintang kepada si penjual.

Setelah berhasil mengamankan tentengan makanan, mereka berdua kembali duduk di bangku plastik abu-abu milik mereka di pojokan lapangan.

"Hah, keliling bentar aja capeknya kayak habis keliling tawaf," keluh Lintang sembari menusuk sedotan ke gelas minumannya yang berwarna merah muda.

Arka yang minumannya sudah dia sesap sejak di jalan tadi, cuma duduk anteng.

Ia sesekali menyedot Americano dinginnya perlahan tanpa suara.

"Nih, makan berdua sama gue. Bagi adil, lima-lima."

Lintang membuka mika dan menyodorkan wadah dimsum yang masih mengepul itu ke tengah-tengah jarak kursi mereka.

"Nggak usah. Makan aja semuanya, lu kan belum sarapan," tolak Arka lempeng.

"Yaelah, jangan malu-malu monyet begitu deh, Mas Crush. Kayak sama siapa aja," komentar Lintang.

Ucapan itu detik itu juga langsung dihadiahi pelototan tajam dari Arka.

Lintang tertawa cengengesan. "Sini makan bareng! Ini dimsumnya gede-gede banget tahu."

"Kenyangnya bisa awet sampai hari natalannya si Jesther," lanjut Lintang lagi.

Gadis itu memaksa dengan menyodorkan tusukan dimsum ke dekat tangan Arka.

Sementara mulutnya sendiri sudah sukses melahap satu biji penuh sampai pipinya menggembung.

Arka terdiam sebentar menatap tusukan dimsum di tangannya. Akhirnya, helaan napas pasrah keluar dari hidungnya. "Yaudah."

Arka ikut menyuap satu dimsum ke dalam mulutnya.

"Enak banget anjay! Keren nih anak kelas sepuluh, kecil-kecil jago bikin bumbu," puji Lintang heboh sendiri sambil bertepuk tangan girang mirip anak kecil nemu mainan baru.

...----------------...

"Berarti taruhan kita fiks ya? Kita nyeblak nanti malem?" tanya Lintang memastikan, mengonfirmasi janji lama mereka.

Dimsum di wadah mika sudah ludes tak bersisa, menyisakan gelas es tehnya yang tinggal setengah.

"Hm," jawab Arka singkat.

Cowok itu masih fokus menyedot es Americano-nya sampai memunculkan bunyi sret-sret yang berisik karena cairannya sudah habis.

Mata Lintang langsung melebar bulat sempurna. "Lu beneran mau, Ka?! Gak bohong?!"

"Nggak ada pengulangan," jawab Arka datar.

"YESSSS!!" Lintang refleks meninju udara dengan kepalan tangannya.

Kebahagiaannya melesat ke langit ketujuh, bener-bener gak bisa dia rem sama sekali.

Saking senangnya, dia langsung berbalik dan berteriak kencang ke arah meja kelas sebelah.

"ZAHIYA!! NANTI MALEM GUE FIX MALMINGAN SAMA CRUSH GUE!!! KENCAN PERTAMA WOOOY!"

Zahiya yang lagi sibuk menghitung uang kembalian recehan seketika nge-blank dan berhenti. "SERIUS LU?!"

Zahiya ikut berdiri dengan ekspresi syok berat. "OMAYGAT, LINTANG! KAPAL KITA AKHIRNYA BERLAYAR!"

Suasana di sekitar stan XII IPS 2 langsung berubah gempar dalam hitungan detik.

Wila yang tadinya lagi merapikan dagangan langsung melompat mendekat dengan kecepatan penuh. "WOY, BENERAN?! MALMINGAN?! BERDUA DOANG?! DEMI APA?!"

Santi ikut menyusul dari belakang sambil masih menggenggam kalkulator erat-erat di tangannya.

"Gila, seorang Arka si patung es sekolah... Akhirnya mencair dan mau diajak kencan malam mingguan!"

Leon ikutan berteriak heboh dari balik benteng tas rajutnya.

"MAS ARKA! JANGAN KASIH HARAPAN PALSU YA! KASIAN SI LINTANG INI UDAH NGEBUT DARI KELAS SEPULUH!"

Nakra tertawa terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk meja kayu sampai bergetar.

"Ini bukti nyata, Bos! Kerja kelompok kawat bulu membawa berkah! Dari modal jualan boneka gocengan, langsung dapet jatah kencan premium!"

Jesther yang jiwanya kelewat heboh bahkan sampai nekat berdiri tegak di atas bangku plastik.

"PERHATIAN SEMUANYA!! SANG RAJA KUTUB UTARA RESMI JADI LUNAK!!! SELAMAT KEPADA LINTANG GENTARIANA!"

"Turun lu, Jesther! Malu-maluin kelas!" bentak Geo sambil menarik paksa celana abu-abu temannya itu biar turun.

Tapi Geo sendiri gak bisa menahan cengirannya. Ia melirik Arka.

"Jangan main-main lu, Arka. Kalau ngecewain si Lintang, reputasi lu bisa jadi red flag mendadak," peringat Geo.

Kehebohan massal anak IPS 2 yang mendadak itu sukses menarik perhatian satu lapangan.

Pengunjung bazar yang lagi asyik jalan-jalan langsung berhenti dan menengok dengan dahi berkerut bingung.

Beberapa wali murid di tenda sebelah bahkan sampai saling bisik-bisik. Mereka mengira ada pengumuman beasiswa atau kupon undian gratis.

Di tengah lingkaran sirkus itu, Arka tetap duduk tenang di tempatnya.

Arka hanya menatap datar teman-teman sekelasnya yang sekarang mengerubunginya seperti lalat nemu gula.

"Tidak," ucap Arka singkat, memecah kebisingan.

"Tidak apa, Bos?!" tanya Jesther yang kepalanya masih melongok dari balik pundak Geo.

"Tidak main-main," jawab Arka.

Suaranya lempeng, tegas, dan dingin. Tapi maknanya telak menembus ulu hati.

Jawaban super gentle dan penuh kepastian itu seketika memicu sorakan gempar kedua yang jauh lebih membahana dari seluruh anggota kelas IPS 2. Lapangan riuh total.

Lintang yang tadinya ikut tertawa heboh mendadak salah tingkah brutal. Mukanya merah padam sampai ke telinga.

Ia buru-buru menarik lengan Arka pelan. "Udah, udah, Ka! Cukup! Satu kecamatan udah dapet tontonan gratis gara-gara lu!"

"Mau gimana lagi," sahut Arka, menoleh menatap Lintang dengan tenang. "Lu yang teriak duluan."

Zahiya menepuk-nepuk bahu Lintang dengan dramatis.

"Udah biarin, Lin. Ini momen bersejarah yang harus dicatat di prasasti IPS 2. Dari modal lilit kawat bulu, berujung ngedate malam Minggu."

"Idenya Zahiya emang bawa hoki jangka panjang. Habis ini gue mau antre minta dicomblangin juga ah," gurau Santi ikut senyam-senyum.

Kerumunan anak-anak gesrek itu perlahan bubar setelah Ibu Wali Kelas melintas sambil melotot. Beliau meminta semua anak kembali fokus ke stan masing-masing.

Namun, pasokan senyum di wajah Lintang benar-benar gak habis-habis. Senyum itu awet menempel sampai bel pulang sekolah berbunyi nyaring.

...----------------...

Pukul tujuh malam.

Lintang berdiri di depan cermin besar kamarnya, memastikan penampilannya sudah 100% tanpa cela.

Celana panjang putih longgar, kemeja kasual berwarna biru muda yang manis, dan rambut yang diikat rapi model ponytail tinggi.

Seluruh penampilannya malam ini telah dia persiapkan dengan matang dan penuh debaran untuk kencan pertama di warung seblak pinggir jalan bersama Arka.

Tempat yang dia pilih sendiri dengan penuh antusiasme yang meledak-ledak.

Namun, sejak dua puluh menit yang lalu, Lintang cuma bisa terduduk kaku di tepi ranjangnya.

Pandangannya terpaku lurus pada layar ponselnya yang terasa dingin.

Sebuah pesan singkat dari nomor Arka terpampang jelas di sana.

Arka: Lintang, gue ngga bisa jalan malem ini. Sorry.

Hanya itu.

Tidak ada penjelasan kenapa dia batal pergi. Tidak ada alasan mendesak apa yang terjadi.

Dan tidak ada kalimat ajakan untuk menjadwal ulang di lain hari.

Cuma satu kalimat super singkat yang secara instan menghabisi semua harapan yang sudah dia bangun tinggi-tinggi sejak sore tadi.

Rasa sesak dan kecewa yang teramat sangat mendadak menyeruak memenuhi rongga dadanya.

Semua tawa riuh dari anak-anak IPS 2 sore tadi di lapangan, semua candaan Jesther, kalimat tegas Arka yang bilang 'tidak main-main', hingga rencana-rencana kecil yang sudah Lintang susun rapi di dalam kepalanya, seketika runtuh lebur tanpa suara.

"Gila... Gue cuma dikerjain doang, ya?" lirihnya pelan.

Suaranya terdengar serak, sumbang, dan sangat jauh dari nada heboh nan lantamnya yang biasa.

Lintang meletakkan ponselnya perlahan di atas selimut kasur.

Ia mengusap wajahnya kasar dengan kedua telapak tangan, lalu mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat dan menyakitkan.

Jantungnya yang siang tadi bergetar hebat mirip sound horeg karena kesenangan, malam ini rasanya seperti hancur berkeping-keping dihantam kenyataan.

"Harusnya dari awal gue gak usah kegeeran..."

Gadis itu kembali menatap pantulan dirinya di dalam cermin.

Kemeja biru muda yang dia pilih dengan penuh senyuman tadi, kini kelihatan seperti sebuah lelucon yang sangat buruk dan menyedihkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!