Gadis polos yang dunia nya hancur, saat kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tua nya, di saat paling rapuh ia jatuh kedalam pelukan pria berkuasa sekaligus pemimpin gelap
Bagis pria itu gadis kecil ini adalah hak mutlak , satu satu nya obsession yang tak pernah ia lepas kapan pun
"Kau milik ku gadis kecil, selama nya semua yang ada padamu itu milik ku tidak akan pernah menjadi milik orang lain, sayang, " ucap nya dengan penuh obsession
Gimana kah cerita nya ,dari pada penasaran kuy baca novel aku 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurfazilah Cell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 . Obsesif
Seminggu berlalu sejak hari itu, dan Aiden semakin rajin mendiktekan setiap kata yang boleh dipikirkan, didengar, dan diucapkan Alesha. Ia membawa buku-buku catatan tulisan tangannya sendiri, membacakan kalimat demi kalimat seolah itu adalah hukum mutlak yang harus ditelan mentah-mentah.
Namun hari itu, saat Aiden kembali duduk di hadapannya, membuka lembaran baru dan mulai membacakan kalimat yang bertujuan menghapus ingatan tentang masa lalunya, sesuatu yang berbeda terjadi.
Alesha yang selama ini hanya menunduk diam atau berbisik lemah, tiba-tiba mengangkat kepala dengan tatapan yang masih menyimpan bara api perlawanan. Suaranya tidak lagi bergetar ketakutan, tapi keras, tajam, dan penuh kebencian yang terpendam lama.
“Berhenti! Berhenti mengoceh omong kosong itu di telinga Alesha !” bentaknya tiba-tiba, membuat tangan Aiden yang memegang buku itu terhenti di udara.
“Alesha tidak mau mendengarnya lagi! Dunia luar itu jahat? Masa lalu Alesha sudah mati? Semua itu hanya kebohongan yang Kak Aiden buat supaya kak Aiden terlihat benar! , teriak Alesha dengan wajah frustasi Alesha sudah lelah, iya benar benar menyesal ikut Aiden kemarin ke sini, Alesha mau mau kayak dulu lagi
Wajah Aiden berubah sedikit — keningnya berkerut, matanya menyipit, tapi ia masih berusaha menahan diri, mencoba tetap bicara dengan nada tenang yang terasa dipaksakan.
“Alesha… dengarkan Aku . Ini demi kebaikanmu. Pikiranmu sedang kacau, itu sebabnya kau bicara sembarangan begitu. Tenangkan dirimu, biar Aku bantu jernihkan lagi…”
“Jangan berani bilang Kak Aiden membantu Alesha” potong Alesha lagi, suaranya makin meninggi, matanya memerah bukan karena menangis, tapi karena amarah yang meluap.
“Kak Aiden hanya ingin membelenggu pikiran Alesha sama seperti kak Aiden membelenggu kaki Alesha! kak Aiden takut kalau Alesha ingat siapa diriku sebenarnya, kak Aiden takut aku sadar betapa busuknya hati dan ‘cinta’ yang kak Aiden sebut-sebut itu! , jawab Alesha keras
Aiden menutup buku itu dengan bunyi buk! yang keras, napasnya mulai memendek, dada naik turun cepat. “Hati-hati bicaramu, Alesha. Kau tidak tahu apa yang kau ucapkan.”
"Alesha tahu persis!” sergah gadis itu lagi, mengumpulkan seluruh sisa tenaga di tubuhnya yang lemah.
“kak Aiden bukan pelindung, ! Kak Aiden hanya pengecut yang tidak punya nyali untuk mencintai Alesha dengan cara wajar! Karena kak Aiden tahu kalau Alesha bebas, Alesha tidak akan pernah memilih laki-laki yang jiwanya sudah rusak seperti dirimu! Makanya kak Aiden merusak kakiku, makanya kak Aiden mengurungku, makanya kak Aiden mengarang cerita palsu ini setiap hari!”
Setiap kata itu melesat seperti anak panah yang menusuk tepat ke bagian paling sensitif dalam hati Aiden — rasa takut ditinggalkan, rasa tidak aman, dan kecemasan yang selama ini ia sembunyikan rapat-rapat di balik senyum lembutnya.
“Diam! Kau tidak mengerti apa-apa!” teriak Aiden akhirnya, nada tenangnya hancur seketika. Ia berdiri mendadak, kursi yang didudukinya terlempar jatuh ke lantai dengan bunyi berisik. Matanya melotot, urat lehernya menonjol jelas, dan tatapannya berubah menjadi liar — seperti binatang buas yang sarangnya terancam.
Namun Alesha tidak mundur, malah menatapnya lebih tajam, meluapkan segala rasa sakit yang selama ini dipendam:
“Alesha tidak mengerti? Justru sekarang Alesha baru mengerti sepenuhnya! kak Aiden mengira dengan merawat ku, menyuapiku, dan mengatur segalanya, kak Aiden bisa membuatku lupa bahwa kak Aiden adalah penyebab segala penderitaanku? Setiap kali kak Aiden memijat kakiku yang sakit ini, Alesha hanya teringat bahwa kak Aiden diam-diam tersenyum melihatnya rusak! Setiap kali kak Aiden mencium tanganku, Alesha merasa seperti sedang dipegang oleh tangan pembunuh mimpiku sendiri!”
“Cukup!!” teriakan Aiden menggema hingga seluruh sudut ruangan bergetar. Emosinya sudah meledak tak terkendali lagi. Dalam sekejap ia melangkah cepat, mencengkeram kedua bahu Alesha dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari biasanya — kuat sampai gadis manis nya itu merasakan tulang bahunya terasa mau remuk.
Wajahnya mendekat begitu dekat sampai dahi mereka hampir bersentuhan, napasnya terasa panas dan kasar memburu. Selubung kesabaran dan kelembutan yang ia bangun selama ini robek habis, memperlihatkan sisi gelap dan mengerikan yang selama ini hanya tersembunyi di balik matanya.
“Kau berani bicara seperti itu padaku hmm ?! Setelah semua yang Aku korbankan?! Setelah Aku tinggalkan segalanya hanya untuk memastikan kau tetap hidup di sisiku?!” suaranya menggelegar, bercampur antara marah, sakit hati, dan obsesi yang meledak jadi amukan. “Kau pikir ini mudah bagiku? Kau pikir aku senang melihat tubuhmu terluka? Setiap tetes darah yang keluar dari lukamu terasa mengalir di jantungku sendiri! Tapi apa lagi yang bisa kulakukan kalau satu-satunya cara untuk membuatmu tetap di sini hanyalah dengan menghentikan kakimu yang membawamu pergi?!”
Ia mengguncang tubuh Alesha sedikit, lalu mendorong punggungnya menempel kuat pada sandaran kursi roda agar tak bisa bergerak sedikit pun. Air mata marah dan frustasi bahkan menetes di sudut matanya, tapi tatapannya tetap penuh hasrat memiliki yang tak bisa dibendung.
“Kau mau melawan? Silakan lawan sepuasnya! Berteriak, memaki, membenci Aku sampai tenggorokanmu kering sekalipun — itu tidak akan mengubah apa pun!” teriaknya lagi, lalu berubah menjadi bisikan parau yang lebih mengerikan daripada teriakan itu sendiri.
“Bahkan kalau kau membenci Aku sampai mati, itu tetap lebih baik daripada kau melupakan aku dan tersenyum untuk orang lain! Lebih baik kau menangis dalam pelukan Aku selamanya, daripada tertawa bebas di tempat yang tidak ada aku di sana!”
Alesha meringis kesakitan karena cengkeramannya, tapi tetap mengangkat wajah dan meludahkan kata-kata terakhir yang paling tajam untuk menusuknya:
“Itu bukan cinta… itu penyakit gila yang merusak dirimu dan diriku juga! Kak Aiden dan membenci kebebasanku karena kak Aiden tidak punya kebebasan dalam pikiranmu sendiri! Kak Aiden tidak mencintaiku — kak hanya mencintai gagasan memiliki sesuatu yang tidak akan pernah bisa lepas dari kendalimu!”
Kata-kata itu menjadi pemicu terakhir. Aiden mendengus kasar, matanya berputar seolah kehilangan kendali sepenuhnya. Tanpa sadar, tangannya bergerak turun dan menekan telapak tangannya dengan kuat tepat di atas bagian lutut dan patah tulang kaki kanan Alesha — tempat yang masih sangat sensitif dan belum sembuh.
“AAAAHHH!!” teriakan kesakitan melengking keluar dari mulut Alesha, tubuhnya melengkung ke depan, air mata langsung membanjir deras tanpa bisa ditahan lagi. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun kepalanya.
Namun Aiden tidak segera melepaskan tekanannya, ia hanya menatap wajah yang memucat itu dengan pandangan yang bercampur antara histeris, duka, dan kepuasan yang menyimpang. Napasnya masih terengah-engah karena emosi yang baru saja meledak.
“Lihatlah… lihatlah apa yang terjadi setiap kali gadis manis ku ini membuka mulut untuk melawan,” bisiknya dengan suara yang mulai kembali tenang, tapi kali ini jauh lebih dingin dan mengerikan.
“Setiap kata perlawanan itu hanya akan mengirimkan rasa sakit ke tubuhmu sendiri. Dunia ini sudah mengatur jalannya: kalau kau patuh, kau dapat kelembutan dan kenyamanan. Kalau kau membantah dan berani melawan Aku… maka kakimu yang akan menjawabnya untukmu.”
Perlahan-lahan ia mengurangi tekanannya, lalu mengangkat tangan yang basah oleh keringat karena ketegangan itu. Ia melihat jari-jarinya sendiri, lalu menatap Alesha yang terisak-isak hebat, tubuhnya gemetar seperti daun tertiup badai, wajahnya pucat pasi karena rasa sakit yang masih terasa berdenyut.
Tiba-tiba, amarahnya seolah berubah menjadi rasa kasihan yang terdistorsi. Ia langsung berjongkok, memeluk kepala Alesha dan menekannya ke dadanya sendiri, lalu mencium rambut dan dahinya berulang kali dengan napas yang masih terengah.
“Maafkan aku … maafkan Aku sayang… tapi kau memaksanya sendiri. Kau tahu betapa lemahnya kendali Aku saat mendengar kau bicara seperti itu. Kau adalah satu-satunya titik lemah Aku dan sekaligus satu-satunya kekuatan Aku juga,” bisiknya sambil menangis pelan kali ini — bukan tangis sedih biasa, tapi tangis obsesi yang menyiksa dirinya sendiri.
“Jangan pernah ucapkan hal semacam itu lagi, ya? Jangan buat Aku marah sampai melukaimu lagi. Karena percayalah… kalau sampai Aku benar-benar kehilangan kendali, bukan hanya kakimu yang akan terancam. Aku lebih baik menghancurkan seluruh dunia ini dan membawamu ikut bersamaku, daripada membiarkan kau berdiri tegak dan melangkah menjauh dariku.”
Ia menarik wajah Alesha yang masih terguncang karena sakit dan takut, memaksanya menatap kembali ke matanya yang kini bercampur air mata dan nyala api yang tak pernah padam.
“Lawan lah lagi kalau kau mau. Teriak, memaki, berusaha membenci Aku sampai jiwamu habis sekalipun… tapi ingat satu hal yang tak akan pernah berubah: Semakin keras kau melawan, semakin kuat Aku akan mengikatmu. Semakin kau berusaha mendorongku pergi, semakin erat Aku akan merangkum sampai tidak ada ruang lagi untuk bernapas selain dengan mengikuti irama nafasku sendiri.”
Alesha hanya bisa terisak, mulutnya masih terbuka sedikit karena rasa sakit yang perlahan mereda namun digantikan oleh rasa takut yang lebih dalam dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya ia melihat Aiden benar-benar meledak, melihat batas kesabarannya hancur, dan menyadari satu kenyataan mengerikan: semakin ia melawan, semakin ia justru terikat dalam cengkeraman yang makin kuat dan berbahaya.
Dan di dalam hati Aiden sendiri, setelah emosinya perlahan turun kembali, tumbuh satu tekad baru yang lebih gelap dan bulat: ia tidak akan lagi mencoba membujuknya dengan lembut saja. Mulai sekarang, ia akan melatih ketaatan itu dengan dua cara — kasih sayang yang membungkus, dan rasa sakit yang mengingatkan. Sampai pada akhirnya, tubuh dan hatinya akan memilih jalan yang sama: tunduk sepenuhnya pada kehendak Aiden, selamanya
Bersambung
Thank you yang sudah baca cerita oyen😊.