Intan, memiliki sifat pemalu, inscure, dan selalu menghindar dari keramaian. Penampilannya selalu menggunakan kacamata, rambut yang selalu diikat satu, membuat penampilannya terkesan culun. Intan dinikahkan oleh Mama dan Papanya dengan laki-laki narsis, hanya dikarenakan hutang keluarganya. Namun siapa sangka, ternyata hutang adalah sebuah kebohongan agar Intan mau menikah.
Begitu pula dengan sebaliknya, Rifal, pria narsis yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi karena ketampanannya yang membuat kaum hawa ingin menjadi istrinya.
Akankah pernikahan Intan dan Rifal menjadi sebuah keluarga yang harmonis? Setelah semuanya terbongkar, akankah Intan dan Rifal memilih untuk berpisah?
Update tidak menentu, tapi saya akan usahakan untuk update setiap hari😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maililiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cake
"Kami bantuin yah," ucap Rena.
"Tidak usah." Mau tidak mau Rena dan Mia meninggalkan Intan yang sibuk membuat adonan kue. Setelah semuanya terkumpul, Intan mulai membuat adonan kue. Ia akan membuat kue red valvet.
Dari mulai mengocok telur, memasukan gula, dan lain-lain. Intan melakukan dengan sendirian. Sambil menunggu matang, Intan membersihkan alat-alat yang ia gunakan tadi. Tiba-tiba ada tangan yang melingkari pinggangnya yang membuat Intan kaget dan memecahkan satu piring.
"Sayang, hati-hati dong." Rifal melepaskan tangannya dan mengambil sapu dan serokan sampah untuk mengambil beling piring itu.
Sementara di balik pintu ada dua gadis yang memerhatikan mereka. Karena takut berlarut dalam kebaperan, merekapun memilih pergi. Rifal masih fokus membersihkan pecahan beling itu.
"Abang datang dan langsung mengagetkanku," sanggah Intan. Pria itu tersenyum dan membuang pecahan beling itu ke dalam tong sampah.
"Maaf, lagi bikin apa?" tanya Rifal yang mendekati Intan.
"cake." Rifal melongo mendengar jawaban Intan. Bukankah Intan tidak suka kue? Lalu kue apa yang ia buat? Pertanyaan yang sudah ada dipikiran Rifal.
"Aku temani yah." Rifal kembali melingkarkan tangannya di pinggal Intan dan meletakan kepalanya di punggung gadis itu sambil sesekali mengecup leher Intan sehingga si empu merasa geli.
Namun Intan masih diam, ia tidak berani melawan Rifal. Dan pria itu tahu batasannya, "Kira-kira, kapan kita menikah yah?" tanya Rifal tepat di telinga Intan, membuat gadis itu merasa geli.
Kemanapun Intan melangkah, Rifal mengikutinya dan tidak melepaskan Intan dari pelukannya. Dan mereka sudah terbiasa sejak tiga hari yang lalu. Jika Intan menolaknya, maka dirinya akan habis oleh ciuman maut dari pria yang berstatus calon suaminya. Gadis itupun tidak ingin mengulanginya lagi.
Oven pun berbunyi bertanda bahwa kue yang Intan buat sudah jadi. Intan melonggarkan tangan Rifal yang masih memeluknya layaknya ingin dimanja. Pria itu menekukan wajahnya. Intan tersenyum lalu berkata, "Nanti kuenya gosong."
"Kamu bikin kue apa?" tanya Rifal sambil duduk di kursi yang ada di ruangan itu.
"Red valvet." Intan mengangkat kue itu dari oven lalu menghiasinya dengan berbagai toping kesukaannya.
Setelah selesai, mereka berjalan menuju meja makan yang ternyata sudah ditunggu oleh kedua sahabatnya. Intan memotong kue untuk Rifal cicipi dan kedua sahabatnya mengambil sendiri. Dan dinikmatilan kue berwarna merah itu.
Rasanya tidak jauh beda dari kue yang ada di depan perusahaanku. Bahkan mirip, batin Rifal yang mulutnya penuh dengan kue yang ia makan.
Kalau dilihat-lihat, sepertinya aku pernah melihat pria ini di toko kue, batin Mia yang terus mengingat-ingat.
"Gimana, enak tidak?" tanya Intan setelah meletakan piring bekas makan kuenya.
"Enak sekali, meskipun kamu tidak lagi bekerja, tapi kamu tidak pernah lupa resep kue ini," puji Rena.
Malam pun tiba, Rena, Intan dan Mia sudah berada di kamar Intan. Mereka mengobrol banyak hal, dari drakor, BTS, dan banyak lagi. Saat jam menunjukan pukul 22:00, semua sahabatnya sudah tertidur. Intan yang merasa haus akhirnya memilih untuk turun mengambil minuman.
Setelah meminum, Intan berjalan menuju kekamarnya. Tiba-tiba listrik mati, "Haaah ...." Rifal dengan sigap langsung menuju teriakan Intan. Rifal langsung keluar dari kamarnya disaat listrik mati. Ia langsung menyalakan senter di ponselnya lalu berjalan mencari suara teriakan Intan.
"Tenang, ada aku di sini." Rifal memeluk Intan dan menuntunnya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.
"Aku takut." Intan menangis tersedu-sedu. Rifal mendekatkan wajahnya ke wajah Intan. Gadis itu memasang kedua telapak tangannya untuk menjauhkan wajah Rifal dari wajahnya. "Kakak mau apa?"
Rifal memegang kedua tangan Intan dan mengangkatnya di atas kepala gadis itu. Lalu tangan satunya sudah berada di belakang tubuh Intan. Tangan Rifal mendorong tubuh Intan agar mendekat, kemudian mencium bibir pink milik Intan. Dan lagi-lagi Intan sadar kesalahannya dimana.
Intan tertidur saat Rifal masih mencium bibir manisnya. Rifal melepaskan ciumannya dan membaringkan Intan di sofa itu, kepala Intan diletakan di pahanya. "Bibirmu sudah menjadi candu buatku," gumam Rifal pelan.
***
Pagi yang mendung dengan udara yang dingin membuat gadis yang masih berada di sofa terbangun dari mimpinya. Intan tahu betul bahwa semalam listrik mati lagi. Entah kenapa semenjak kedua orang tuanya pergi ke luar megeri, listrik di sekitarannya sering mati. Intan menatap sekeliling rumahnya, ia mencari sosok pria yang selalu menenangkannya dikala rasa takut tiba.
Namun ternyata tidak ada. Intan berjalan menuju kamarnya, dua sahabatnya masih nyaman tertidur di kasur empuk miliknya. Intan masuk ke dalam kamar mandi, sebelumnya ia sudah mengambil baju ganti dan handuk.
Setelah selesai mandi, Intan duduk di meja rias yang ada di kamarnya. Mengoles sedikit bedak diwajahnya dan tak lupa mengambil kacamatanya. Selanjutnya ia memainkan ponselnya.
"Hoam ... jam berapa sekarang?" tanya Mia yang sedang menguap membuat pertanyaannya tidak jelas.
"Sudah bangun, Mi. Bikin sarapan yuk." Intan memakai kacamata bulatnya.
"Jam berapa sekarang?" tanya Mia lagi.
"Pukul 06:00," jawab Intan.
"Masih pagi, aku mau tidur lagi aja. Mumpung libur, bos lagi ke luar kota." Mia pun kembali merebahkan tubuhnya. Intan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang begitu nyaman tidur dikasur empuknya.
Intan memilih untuk membuat sarapan. Di lemari pendingin cuman ada beberapa telur dan sosis tidak ada sayuran dan beras. Gadis itu pun menghela napasnya dengan panjang. Ponselnya berbunyi, ternyata Nie yang menelpon Intan sepagi ini.
"Hallo, Intan. Sudah bangun, Nak?" tanya Nie dari seberang telepon.
"Ma, di lemari pendingin sayurannya sudah habis." Intan berjalan menuju ruang makan.
"Maaf kan mama, Nak. Mama lupa," ucap Nie cengengesan. "Mama transfer uang yah, kamu makan di luar aja," sabungnya lagi.
"Tapi kan aku enggak suka makanan luar, Ma," rengek Intan.
Nie mencoba berpikir, " Kalau gitu, kamu beli gado-gado aja. Jangan lupa kasih lontong sebagai sarapan," saran Nie.
"Enggak mau, mana ada gado-gado sepagi ini."
"Kalau begitu, kenapa enggak beli lontong sayur aja," sarannya lagi.
Semenjak tidak ada mamanya, nafsu makan Intan berkurang. Jangankan untuk makan, jalan-jalan saja malas rasanya. "Yasudahlah, salam buat papa." Intan mematikan teleponnya.
Waktu menunjukan pukul 09:00 pagi hari. Kedua sahabatnya pun sudah pulang karena mereka sibuk dengan urusan pribadi mereka. Intan hanya bisa menahan laparnya, ingin makan pun ia merasa malas untuk keluar.
Bersambung ....
Hallo reader's, jangan lupa mampir juga ke novel dibawah ini. Ceritanya dijamin keren loh😍. Authornya juga ramah, jangan lupa mampir yah.
Terus dukung author dengan like, komen, dan vote. Dukungan kalian membuatku semangat. Semoga suka😊
merasa paling laki aja klo bgn..😅😅😅
red velvet bukan red valvet
berjibaku bukan bercibaku.
semngat trus nulis ny ya thor