NovelToon NovelToon
Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Teman Kecilmu Datang, Neng Pergi Ya!

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Cintapertama
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"

Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.

Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.

Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.

Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Naya Ngambek 28.

Sisa amarah dan rasa bersalah dari sore tadi ternyata tidak menguap begitu saja setelah Timy mandi.

Cowok itu mendapati dirinya duduk di tepi kasur dengan rambut setengah basah, menatap langit-langit kamar yang mendadak terasa terlalu luas.

Perutnya berbunyi, mengingatkannya bahwa dia belum makan apa pun sejak jam makan siang di kantin sekolah.

Alih-alih turun ke lantai bawah dan meminta asisten rumah tangganya memasak, Timy meraih kunci motor matic vespa putihnya. Dia butuh angin malam untuk mendinginkan kepalanya yang masih pening akibat rentetan kalimat manipulatif Naya.

Jalanan kota sudah sepenuhnya dikuasai lampu merkuri saat Timy memarkirkan motornya di depan sebuah kedai martabak pinggir jalan.

Aroma mentega wisman dan cokelat meleleh langsung menyapa indra penciumannya.

Tanpa berpikir panjang, Timy memesan.

"Bang, martabak manis satu. Adonan pandan, topping jagung manis sama keju parutnya agak banyakin, ya. Susu kental manisnya dikit aja."

"Siap, Mas Timy. Tumben malam-malam, pacarnya ngidam ya?" kelakar abang penjual yang sudah hafal wajahnya.

Timy hanya tersenyum tipis, enggan mengoreksi kata 'pacar' yang kini sudah berubah status menjadi 'mantan'.

Saat kotak martabak hangat itu sudah berpindah ke tangannya, Timy baru tersadar. Dia terpaku di samping motornya, menatap logo kotak karton tersebut dengan tatapan kosong.

Adonan pandan, jagung, keju.

Itu bukan seleranya. Timy benci jagung manis di dalam martabak. Itu adalah kombinasi mutlak milik Nawang.

Kebiasaan selama satu tahun ternyata tidak bisa dihapus hanya dengan kata "kita putus".

Otak bawah sadarnya masih bergerak otomatis, mengingat dengan detail preferensi lidah Nawang seolah itu adalah bagian dari tugas wajibnya sebagai pacar.

Timy menghela napas berat. Napasnya terasa panas. Menatap martabak itu hanya membuatnya makin merindukan tawa renyah Nawang saat cewek itu berhasil merebut potongan terbesar. Mau dibawa pulang pun, dia tidak akan memakannya.

Lalu ponsel di sakunya bergetar.

Satu pesan singkat dari Naya masuk,

Tim, gue laper. Tapi mager keluar. Rumah sepi banget.

Timy menimbang ponselnya.

Rasa lelahnya kembali naik ke permukaan, namun bayangan Naya yang duduk sendirian di rumah gelap tanpa orang tua membuatnya tidak tega. Lagipula, ada martabak salah sasaran ini di tangannya. Daripada mubazir, lebih baik dia antarkan saja.

Sepuluh menit kemudian, Vespa matic putih Timy kembali berhenti di depan pagar minimalis rumah Naya. Lampu teras sudah menyala, memberikan sedikit kesan hidup pada bangunan sepi itu.

Naya keluar bahkan sebelum Timy mematikan mesin motornya. Wajah cewek itu masih agak sembap, sisa tangisan sore tadi, namun matanya langsung berbinar melihat kedatangan Timy.

"Timy? Lu balik lagi?" Naya berlari kecil, membuka pagar. "Gue pikir lu masih marah."

"Gue gak marah, Nay. Cuma capek aja tadi," kata Timy datar. Dia turun dari motor dan menyodorkan kotak martabak yang masih mengeluarkan uap hangat. "Ini. Kebetulan lewat depan jalan baru, inget lu belum makan."

Naya menerima kotak itu dengan senyum lebar. "Lu beliin gue makanan? Wah, lu emang paling tahu kalau—" Kalimat Naya terputus saat dia membuka tutup kotak di atas meja teras. Senyumnya instan lenyap, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya.

"Pandan? Pake jagung?" Naya menatap Timy dengan tatapan tidak suka yang kentara. Bibirnya langsung mengerucut cemberut. "Tim, lu sengaja ya?"

Timy mengernyitkan alis. "Sengaja apa?"

"Gue kan benci banget sama jagung manis di makanan gurih atau manis kayak gini! Lu tahu kan gue cuma suka martabak telur atau martabak manis yang cokelat kacang klasik?" Suara Naya meninggi, nadanya berubah manja sekaligus menuntut. Dia meletakkan kotak itu kembali ke meja dengan hentakan kasar. "Ini mah seleranya Nawang! Gue tahu Lu beliin ini karena lu mikirin dia, kan? Lu sengaja mau bikin gue kesal?"

Tuduhan itu telak menembus dada Timy. Benar, tapi mendengarnya diucapkan dengan nada menuduh dari mulut Naya membuat Timy merasa privasi pikirannya baru saja telanjang.

"Gue cuma refleks beli, Nay. Gak usah lebay sampai bawa-bawa Nawang," balas Timy, mencoba menjaga suaranya tetap stabil meski ada urat di pelipisnya yang mulai berdenyut.

"Lebay lu bilang?" Naya bersedekap, matanya mulai berkaca-kaca lagi. Rasa tidak amannya kembali mengambil alih. "Gue ini di depan lu, Tim! Tapi otak lu, hati lu, semuanya masih di Nawang. Bahkan pas lu lagi sama gue, lu malah beliin makanan kesukaan dia. Lu tahu gak rasanya kayak gimana? Kayak gue ini cuma pelampiasan atau bayangan dia doang!"

Timy memijat pangkal hidungnya yang terasa ngilu. Logika remajanya dipaksa menghadapi drama emosi yang melelahkan bertubi-tubi dalam sehari.

"Gue salah, oke? Gue minta maaf," potong Timy cepat, memotong potensi histeria Naya yang lebih parah. "Gue lupa selera lu. Kalau lu gak mau makan, ya udah gak usah dimakan. Gue bisa beliin yang lain atau lu bisa go-food sendiri."

"Gue gak butuh makanannya, Timy! Gue butuh perhatian lu yang tulus, bukan sisa-sisa perhatian yang harusnya buat cewek lain!" Naya melangkah mendekat, mencengkeram jaket Timy dengan jemari yang gemetar. "Kenapa sih susah banget buat lu lepasin dia dan fokus ke gue? Apa kurangnya gue? Papa udah gak ada, dan satu-satunya yang gue minta itu cuma lu!"

Timy menatap tangan Naya di jaketnya. Genggaman itu terasa berat, seperti jangkar kapal yang sengaja ditenggelamkan untuk menahannya agar tidak bisa bergerak ke mana pun.

"Nay," suara Timy melunak, tapi kali ini ada nada ketegasan yang dingin di dalamnya. Dia memegang pergelangan tangan Naya, melepaskan cengkeraman itu perlahan namun pasti. "Lu gak kurang apa pun. Tapi lu harus paham satu hal. Nawang itu masa lalu gue yang selesai karena pilihan kami. Dan lu... lu sahabat gue. Janji gue ke bokap lu adalah untuk mastiin lu aman dan gak telantar. Tapi janji itu bukan berarti gue harus jadi pacar lu, atau jadi orang yang bisa lu atur isi kepalanya."

Naya tertegun. Air matanya meluncur tanpa suara. Wajahnya yang pucat tampak makin rapuh di bawah sorot lampu kuning teras. "Jadi... lu kasihan sama gue? Lu lakuin semua ini cuma karena kewajiban atas janji itu?"

Timy diam. Pertanyaan itu adalah jebakan. Jika dia bilang iya, Naya akan hancur. Jika dia bilang tidak, Naya akan makin mengikatnya.

Di tengah keheningan yang mencekik itu, Timy melirik kotak martabak adonan pandan di atas meja. Kotak itu masih hangat, namun suasananya sudah terlanjur dingin.

Dia sadar, semakin dia mencoba menjadi pahlawan yang menyeimbangkan perasaan semua orang, semakin dia menyakiti dirinya sendiri—dan orang-orang di sekitarnya.

"Gue peduli sama lu, Nay. Lebih dari yang lu tahu," ucap Timy akhirnya, suaranya terdengar lelah, sangat lelah. "Tapi malam ini, gue mau pulang. Makanannya terserah mau lu apain. Gue duluan."

Timy berbalik, memakai helmnya tanpa menunggu respons atau tangisan Naya yang mungkin akan pecah lagi.

Saat mesin vespanya menyala dan dia mulai melaju membelah malam, Timy melirik kaca spion. Naya tidak mengejarnya.

Cewek itu hanya berdiri diam, memandangi kotak martabak di atas meja dengan bahu yang bergetar.

Timy memacu motornya lebih cepat. Malam ini dia belajar satu hal: ingatan tentang Nawang ternyata masih sedalam itu, dan ketergantungan Naya padanya sudah sekritis itu.

Dan di tengah-tengah keduanya, Timy merasa perlahan-lahan kehilangan dirinya sendiri.

......................

...****************...

Tbc,

1
Luna
betul betul udah terganggu kejiwaannya🤭🤭🤭🤭,
Luna
ingin sekali aku menyeret Naya masuk rumah sakit jiwa Thor ,,,,🤭🤭🤭
Luna
tenang Nawang sitimy udah punya pandangan baru 😆😆😆😆,dia akan jadi tameng mu karena rasa bersalah nya,kalo ulet Naya pasti mencak mencak deh,,,,,
Luna
ternyata Rendy sama sama begonya sama timy,Bima, heran juga sih cowok lebih suka cewek yg model nya kalem tapi menenggelamkan, sebelum jauh lebih baik stop dari sekarang Nawang, kewarasan lo lebih penting, nyatanya sirendy gampang dimanipulasi Naya ,
Luna
nih cewek GK ada kapok kapoknya yh,,,🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
mangkanya,,, jangan bermuka dua jangan pura pura,yg ada lama lama kamu masuk rumah sakit jiwa beneran loh🤣🤣🤣🤣
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 Bima laki apaan banci main keroyokan .. andai ini nawang kayak jihan Badas pasti keren sayangnya nawang menye menye 🤭
Luna
mantep Rendy dan Nawang,,,, orang kek Naya seharusnya dibikin trauma nya makin parah 🤣🤣🤣🤣🤣,
falea sezi
🤣🤣🤣 jihan ini tipe cewek sok asik sok pahlawan biar apa biar di kenal kan😒😒 ayo donk thor bahas kisah nawang masak second lead trs yg di bahas
Luna
berarti mereka ada konflik sebelum nya di Jakarta, seharusnya Nawang ikutan bringas juga sebagai protagonis utama perempuan dia setelah putus belum ada panggung lagi,🤣🤣🤣🤣🤣,,,enak kali si Naya dia niat cari kedamaian sekolah dibandung" kedamaian matamu nay" lah elu udah ngerusak hubungan orang peak 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Luna
sebagai tim hore ,,,cuma bisa menyoraki timy ,,,ayo tim kamu itu tokoh protagonis pria ,,,, jangan putus asa pantang mundur lah
falea sezi
uda Nawang move on aja di timy aja kayak nya mau move on🤣 ehh dia emank cpet berpaling denggg🤭 maklum cwok plin plan
falea sezi
males deh malah bahas jihan terossssssssss😒 ini MC nya siapa nawang kan 🤣 kenapa jihan teros di bahas thor second lead gk penting
falea sezi: klo protagonis nya timy trs MC nya siapa kak bawang timy kan
total 3 replies
Luna
timy jadi obsesi😱😱😱🤣🤣🤣🤣
falea sezi
malah bahas jihan timy🤣🤣 melenceng dr judul thor😒
Luna
cie cie cie🤭🤭🤭
falea sezi
lah kenapa malah kisan jihan timy lebih bagus🤣🤣 gimana sih author apakah karena nawang menye menye.. karena pembaca suka cwek badasss
Luna
bintang 5 buat nih novel, dapat banget lah karakter para tokoh disini,ikut greget juga sih🤭🤭🤭, terus berkarya yh author ,
Luna
🤣🤣🤣🤣🤣timy oh timy ayo dong bangkit dari rasa bersalah mu ,kalo aku jadi kamu sudah habis kubabat si Bima dan Naya 🤭🤭🤭🤭,balas sakit hati mu yg dipermainkan Naya, lupakan Nawang tengok si Jihan
falea sezi
🤣🤣🤣 suka bgt cwek Badas gini dripada nawang yg menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!