Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 - MALAM PERTAMA DI SARANG NAGA
[WAKTU MISI TERSISA: 09:58:12]
Aku menatap hitungan mundur yang melayang di hadapanku.
Sembilan jam lima puluh delapan menit.
Waktu sebanyak itu mungkin terdengar lama bagi seseorang yang sedang menunggu kereta. Namun, bagiku, setiap detiknya terasa seperti ancaman. Aku harus bertahan hidup di istana asing, di dalam tubuh perempuan yang nyaris mati karena racun, sementara pemilik istana sendiri baru saja mengancam akan membuang mayatku ke sungai.
Sungguh awal kehidupan baru yang mengesankan.
Aku mengembuskan napas pelan. Tubuhku masih terduduk di lantai marmer, sedangkan dua pelayan muda berdiri beberapa langkah dariku. Mereka tampak ingin menolong, tetapi tidak berani mendekat sebelum mendapat perintah.
“Gusti Putri,” panggil Mbok hati-hati. “Mari, biar Mbok bantu berdiri. Gaun Gusti harus diganti sebelum berangkat ke Balairung.”
Aku mengangkat wajah.
“Beri aku air putih hangat dulu.”
Suaraku serak. Tenggorokanku masih terasa perih, dan rasa pahit yang sejak tadi melekat di lidah belum juga hilang.
Mbok segera menyuruh seorang pelayan mengambil air. Tidak lama kemudian, sebuah cangkir porselen diletakkan di tanganku.
Aku meminumnya sedikit demi sedikit.
Air itu hanya membantu meredakan rasa kering di tenggorokan. Mual di perutku masih ada, begitu pula pening yang datang setiap kali aku menggerakkan kepala terlalu cepat.
Layar biru kembali muncul.
[STATUS HOST: DIDUGA MENGALAMI KERACUNAN]
[PERINGATAN: PENYEBAB DAN JENIS RACUN BELUM DAPAT DIPASTIKAN.]
[ANJURAN: HINDARI MEMAKSA TUBUH UNTUK MUNTAH. HOST MEMERLUKAN PEMERIKSAAN DAN PEMANTAUAN KONDISI.]
Aku mengerutkan kening.
Setidaknya kali ini sistem itu tidak menyuruhku melakukan sesuatu yang aneh.
Aku memang pernah mengikuti pelatihan pertolongan pertama di kampus, tetapi pengetahuanku terbatas. Aku mahasiswa Sejarah, bukan dokter. Aku tidak tahu racun apa yang diminum tubuh ini, berapa banyak yang masuk, atau seberapa parah dampaknya.
Kalau aku bertindak sembarangan, justru akulah yang akan menanggung akibatnya.
“Mbok, panggil tabib,” kataku. “Aku masih merasa mual. Tenggorokanku juga sakit.”
Wajah perempuan tua itu langsung berubah.
“Baik, Gusti. Mbok akan segera memanggil Tabib Ageng.”
Ia bergegas keluar, meninggalkan dua pelayan yang saling berpandangan.
Aku memperhatikan mereka. “Apa?”
Keduanya buru-buru menunduk.
“Tidak, Gusti.”
“Kalian boleh bicara.”
Salah seorang pelayan memberanikan diri mengangkat wajah. Usianya mungkin tidak jauh dariku, dengan rambut disanggul rapi dan kedua tangan yang terus meremas ujung bajunya.
“Kami hanya... terkejut karena Gusti memanggil tabib sendiri.”
Aku mengerutkan kening. “Memangnya aku biasanya tidak mau diperiksa?”
Pelayan itu langsung pucat.
“Maafkan hamba, Gusti. Hamba tidak bermaksud kurang ajar.”
Aku menahan diri agar tidak menghela napas terlalu keras.
Baiklah. Sepertinya kehidupan perempuan yang tubuhnya kutempati ini jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan.
“Aku tidak sedang memarahimu,” kataku, berusaha melembutkan suara. “Aku hanya ingin tahu.”
Kedua pelayan itu kembali saling pandang. Tidak satu pun menjawab.
Dari reaksi mereka, aku mulai memahami sesuatu. Kahiyang yang mereka kenal mungkin bukan perempuan yang biasa bertanya dengan tenang. Entah seperti apa sikapnya sebelum kejadian ini, tetapi jelas ada sesuatu yang membuat orang-orang di sekelilingnya takut.
Aku belum sempat memikirkan hal itu lebih jauh ketika Mbok kembali bersama seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun.
Jubah abu-abunya sederhana. Sebuah tas kulit tergantung di pinggangnya, dan beberapa helai rambut putih tampak di balik ikat kepala.
“Gusti Putri,” katanya setelah membungkuk, “hamba mendengar Gusti telah sadar.”
“Tabib Ageng,” sahut Mbok. “Tolong periksa Gusti. Beliau masih merasa mual dan kesakitan.”
Tabib Ageng duduk di hadapanku. Ia memeriksa denyut nadiku, memperhatikan warna bibirku, lalu menanyakan apa yang kurasakan.
Aku menjawab sebisaku.
“Apakah Gusti sempat memuntahkan sesuatu sebelum kehilangan kesadaran?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Saya tidak ingat.”
Ia terdiam sesaat mendengar caraku berbicara. Aku baru menyadari kesalahanku ketika Mbok menatapku dengan cemas.
Aku buru-buru memperbaiki ucapan.
“Maksudku, hamba tidak ingat.”
Tabib Ageng tidak mengomentarinya. Ia kembali memeriksa kondisiku, kemudian meminta para pelayan menyiapkan tempat berbaring yang nyaman.
“Jangan biarkan Gusti sendirian untuk sementara waktu,” pesannya. “Jika muntah berulang, kesadarannya menurun, atau napasnya berubah, segera panggil hamba. Air hangat tidak akan menghilangkan racun yang sudah masuk ke tubuh.”
Aku mengangguk.
Setidaknya ada satu orang di istana ini yang tidak langsung menganggap semua masalah bisa selesai dengan perintah.
Namun, ketika aku menanyakan apakah pernikahan bisa ditunda, jawabannya membuat harapanku runtuh.
“Keputusan itu berada di tangan Kaisar, Gusti.”
Tentu saja.
Di kerajaan ini, bahkan tubuh yang sedang sakit pun tampaknya tidak memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
---
Satu jam kemudian, aku sudah mengenakan gaun putih gading.
Gaun merah sebelumnya telah dilepas. Rambutku disisir ulang, lalu dihias dengan tusuk konde mutiara sederhana. Para pelayan membersihkan wajahku dan mengganti kain yang terkena muntahan.
Aku masih merasa lemah. Setiap kali berdiri terlalu lama, pandanganku sedikit berkunang-kunang. Karena itu, Mbok memintaku beristirahat beberapa kali sebelum akhirnya aku siap berangkat.
Aku menatap pantulan diri di cermin perunggu.
Perempuan di dalamnya terlihat lebih tenang daripada perasaanku yang sebenarnya.
“Gusti cantik sekali,” bisik salah seorang pelayan.
Aku tidak menjawab.
Cantik tidak akan banyak membantu jika suamiku sendiri menganggapku sebagai alat politik yang bisa dibuang kapan saja.
Suami.
Aku hampir tertawa mendengar kata itu dalam pikiranku.
Beberapa jam lalu aku masih seorang mahasiswa yang sibuk mengumpulkan bahan penelitian. Sekarang aku akan menikah dengan seorang kaisar dari lima ratus tahun sebelum zamanku.
Kalau aku menceritakan ini kepada teman-teman kampus, mungkin mereka akan mengira aku sedang menulis novel fantasi.
Sayangnya, tidak ada satu pun bagian dari kejadian ini yang terasa seperti khayalan.
“Gusti, sudah waktunya,” ujar Mbok.
Aku mengangguk, lalu membiarkannya membantu merapikan bagian belakang gaunku.
Sebelum meninggalkan kamar, aku kembali melihat layar sistem.
[WAKTU MISI TERSISA: 08:47:36]
Angka itu terus berkurang.
Aku menarik napas panjang.
Baiklah, Kahiyang. Satu langkah pada satu waktu.
Aku tidak perlu memecahkan seluruh misteri kerajaan ini hari ini. Aku hanya perlu melewati malam pertama tanpa kehilangan nyawa.
Untuk saat ini, itu sudah cukup.
---
Koridor istana Kerajaan Langit terbentang panjang di hadapanku.
Tiang-tiang kayu menjulang tinggi, dihiasi ukiran naga dan ombak. Lampion-lampion menerangi lorong dengan cahaya keemasan. Di balik pagar berukir, taman istana terbentang luas, dipenuhi bunga mawar putih dan merah muda.
Air mancur mengalir di antara bebatuan. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma tanah dan bunga yang samar.
Tempat ini indah.
Terlalu indah untuk menjadi penjara.
Namun, aku tidak boleh melupakan kenyataan bahwa orang-orang di balik dinding megah ini mungkin sedang menunggu kematianku.
Beberapa pelayan yang kami lewati segera menundukkan kepala. Ada pula yang menatapku sekilas sebelum berbisik kepada temannya.
Aku tidak mendengar semua perkataan mereka, tetapi potongan kalimat yang sampai ke telingaku sudah cukup jelas.
“Itu calon permaisuri yang membawa sial.”
“Katanya ia mencoba bunuh diri lagi.”
“Semoga keluarga Adiningrat tidak membuat Kaisar murka.”
Aku mengepalkan tangan di balik lengan gaun.
Aku tidak mengenal keluarga Adiningrat. Aku tidak tahu alasan Kahiyang asli begitu putus asa hingga memilih menelan racun. Aku bahkan belum memahami apa yang membuat seluruh istana seolah sepakat bahwa perempuan ini pantas dibenci.
Namun, aku sudah cukup sering mendengar orang membicarakan seseorang tanpa pernah mencoba memahami keadaannya.
Di abad ke-21, orang bisa melakukan hal yang sama melalui layar ponsel. Di kerajaan ini, mereka hanya perlu berbisik di balik punggung.
“Jangan dengarkan mereka, Gusti,” kata Mbok pelan.
Aku menoleh kepadanya.
“Mbok mengenal Kahiyang sejak kecil?”
Perempuan tua itu tampak terkejut oleh pertanyaanku. Ia menatapku beberapa saat sebelum menjawab.
“Hamba telah melayani keluarga Gusti selama bertahun-tahun.”
“Itu bukan jawaban yang kumaksud.”
Mbok menunduk.
Untuk sesaat, aku mengira ia tidak akan menjawab sama sekali.
“Banyak hal yang tidak bisa hamba ceritakan di tempat terbuka, Gusti.”
Jawaban itu membuatku semakin penasaran.
Sebelum aku sempat bertanya lagi, kami tiba di depan pintu besar Balairung Langit.
Dua penjaga berdiri di sisi pintu. Ketika melihat kedatanganku, mereka segera membuka jalan.
Suara percakapan dari dalam perlahan mereda.
Aku melangkah masuk.
Balairung itu jauh lebih luas daripada yang kubayangkan. Deretan pilar kayu berukir menopang langit-langit tinggi. Lentera besar menggantung di antara kain-kain upacara, sementara ratusan pejabat dan bangsawan duduk berbaris di sisi kanan dan kiri ruangan.
Di ujung balairung, di atas singgasana kayu hitam berlapis emas, duduklah Kaisar Segara El-Bhumi.
Jubahnya kini berwarna hitam dengan semburat biru gelap. Mahkota giok hitam menghiasi kepalanya. Punggungnya tegak, kedua tangannya bertumpu pada lutut, dan wajahnya tidak menunjukkan sedikit pun emosi.
Aku segera merasakan tatapan orang-orang tertuju kepadaku.
Bisikan-bisikan kembali terdengar.
“Perempuan pembawa sial itu.”
“Pernikahan ini hanya demi kepentingan politik.”
“Entah berapa lama ia akan bertahan.”
Aku terus berjalan.
Setiap langkah terasa lebih berat daripada sebelumnya. Bukan karena gaunku, melainkan karena kesadaran bahwa semua orang di ruangan ini sedang menilaiku.
Aku berhenti beberapa meter dari singgasana, lalu mengikuti petunjuk Mbok. Aku berlutut dan menundukkan kepala.
“Kahiyang Gayatri Ayuningtyas dari keluarga Adiningrat, hadir memenuhi panggilan Paduka Kaisar.”
Hening.
Tidak ada jawaban selama beberapa saat.
Kemudian terdengar langkah kaki mendekat.
“Angkat kepalamu.”
Aku menurut.
Segara berdiri di hadapanku.
Dari jarak dekat, aku dapat melihat bekas luka tipis di bawah mata kirinya. Wajahnya tetap sulit dibaca, tetapi tatapannya kali ini berbeda. Ia mengamatiku cukup lama, seolah sedang mencocokkan sosok di hadapannya dengan ingatan yang tersimpan di kepalanya.
“Kau tampak berbeda.”
Jantungku berdetak lebih cepat.
“Paduka?”
“Pagi tadi, kau bahkan tidak sanggup menatapku.”
Ia sedikit menunduk agar bisa melihat wajahku dengan lebih jelas.
“Sekarang kau justru menatapku seolah sedang mencari sesuatu.”
Aku segera menurunkan pandangan.
Aku harus berhati-hati. Terlalu banyak hal yang belum kupahami tentang tubuh ini. Jika Segara menyadari bahwa aku bukan Kahiyang yang sama, aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya.
“Apakah ada yang salah dengan hamba, Paduka?”
Pertanyaan itu terdengar cukup sopan. Setidaknya, aku berharap begitu.
Segara tidak langsung menjawab.
Tatapannya beralih ke wajahku, lalu berhenti pada bibirku yang masih pucat.
“Kau sakit?”
Aku sempat terdiam. Pertanyaan itu begitu tidak terduga hingga aku hampir lupa bahwa pria ini adalah orang yang tadi mengancam akan membuang mayatku ke sungai.
“Hamba masih merasa sedikit lemah.”
“Karena racun yang kau minum?”
Aku menundukkan kepala.
“Sepertinya demikian, Paduka.”
Sesuatu bergerak di wajahnya. Terlalu singkat untuk kupahami.
“Kalau begitu, jangan membuat masalah di hadapan para pejabat.”
Aku hampir menjawab bahwa aku justru sedang berusaha agar tidak pingsan, tetapi memilih menahan diri.
Segara berdiri tegak kembali.
“Mulai hari ini, kau menyandang gelar Permaisuri Langit. Laksanakan prosesi sesuai adat kerajaan.”
Seorang pejabat upacara maju membawa nampan berisi kain upacara dan sebuah segel kerajaan. Prosesi berlangsung dalam rangkaian penghormatan, pembacaan sumpah, dan pengesahan gelar. Aku mengikuti petunjuk yang diberikan, berusaha mengingat setiap gerakan agar tidak melakukan kesalahan di hadapan ratusan orang.
Tidak ada yang menyambutku dengan hangat.
Tidak ada senyum tulus dari para bangsawan.
Ketika segel kerajaan akhirnya diserahkan sebagai tanda pengesahan, aku hanya merasakan beban baru diletakkan di pundakku.
Aku kini benar-benar menjadi Permaisuri Langit.
Gelar yang terdengar agung, tetapi belum tentu memberiku kekuasaan atas hidupku sendiri.
Di sela prosesi, aku sempat salah menempatkan tangan ketika menerima kain upacara. Seorang pelayan segera membetulkannya sebelum kesalahan itu menarik perhatian lebih banyak orang.
Segara melihat kejadian tersebut, tetapi tidak menegurku di depan umum.
Ia hanya berkata kepada pejabat upacara, “Lanjutkan.”
Aku tidak tahu apakah itu bentuk kebaikan atau sekadar ketidaksediaannya membuang waktu.
Bagaimanapun, ketika prosesi berakhir, aku masih berdiri di tempat yang sama.
Aku masih hidup.
Untuk sementara, itu sudah cukup.
---
Malam semakin larut ketika aku akhirnya dibawa ke kediaman Kaisar.
Kamar Segara jauh lebih luas daripada kamar tempatku terbangun. Dindingnya didominasi warna hitam, putih, dan emas. Sebuah meja besar dipenuhi peta kerajaan, catatan, serta beberapa gulungan dokumen. Di dekat jendela terdapat rak kayu yang berisi kotak-kotak kecil dan benda-benda yang tidak kukenal.
Di tengah ruangan berdiri ranjang besar dengan tirai gelap.
Aku berhenti di ambang pintu.
Jadi, inilah tempat yang harus kuhadapi selama misi berlangsung.
Segara sudah berada di dalam. Mahkota dan jubah luarnya telah dilepas. Ia mengenakan pakaian hitam yang lebih sederhana, tetapi penampilannya sama sekali tidak membuatnya terlihat lebih ramah.
Rambutnya terurai hingga punggung.
Ia sedang membaca sebuah dokumen ketika aku masuk.
“Berdiri di sana.”
Aku berhenti.
Beberapa saat berlalu sebelum ia meletakkan dokumen itu di atas meja.
“Kau tahu aturan di kamarku?”
“Belum, Paduka.”
“Aturan pertama, jangan menyentuh barang-barangku tanpa izin.”
Aku mengangguk.
“Kedua, jangan mengganggu pekerjaanku. Ketiga, jangan mengira gelarmu memberimu hak untuk ikut campur dalam urusan kerajaan.”
Ia berhenti sejenak, kemudian menatapku.
“Dan jangan salah memahami pernikahan ini.”
Aku merasakan bahuku menegang.
“Pernikahan kita adalah keputusan politik. Keluarga Adiningrat memiliki pengaruh yang masih diperlukan kerajaan. Itu satu-satunya alasan kau berada di sini.”
Aku menunduk, berusaha menyembunyikan reaksi yang muncul di wajahku.
Sejujurnya, aku tidak merasa tersinggung. Aku bahkan belum mengenal pria ini, dan tidak punya keinginan untuk memaksanya menyukaiku.
Namun, ada sesuatu yang menyedihkan ketika seseorang menjelaskan bahwa keberadaanmu hanya berguna selama masih dibutuhkan.
“Setelah malam ini,” lanjutnya, “kau akan menempati Paviliun Mawar di bagian timur istana. Jangan datang ke hadapanku tanpa perintah.”
Aku mengangkat wajah sedikit.
“Apakah hamba diperbolehkan meminta sesuatu, Paduka?”
Alisnya terangkat tipis.
“Kau baru saja diberi beberapa aturan dan sudah ingin menambahkan permintaan?”
Aku menelan ludah.
“Hamba hanya ingin meminta izin untuk beristirahat jika kondisi hamba kembali memburuk.”
Untuk pertama kalinya malam itu, Segara tidak segera menjawab.
Ia memandangku cukup lama hingga aku mulai merasa tidak nyaman.
“Kau takut mati?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku bisa saja menjawab dengan sopan bahwa setiap manusia ingin hidup. Namun, di hadapan pria ini, jawaban seperti itu mungkin hanya akan dianggap sebagai kelemahan.
“Ya, Paduka,” jawabku akhirnya. “Hamba tidak ingin mati.”
Segara mengalihkan pandangan ke arah jendela.
“Kalau begitu, jangan melakukan hal bodoh lagi.”
Aku tidak tahu apakah ia sedang menyindir percobaan bunuh diri Kahiyang atau benar-benar memberiku peringatan.
Sebelum aku sempat bertanya, ia menunjuk sebuah pintu kecil di sisi ruangan.
“Kau akan beristirahat di ruang dalam. Jangan masuk ke ruang kerjaku, jangan membuka lemari, dan jangan menyentuh dokumen di meja. Aku tidak ingin menemukan satu pun barangku berpindah tempat saat pagi tiba.”
Aku mengangguk.
Ruang dalam itu ternyata memiliki tempat tidur sederhana, meja kecil, dan sebuah jendela sempit yang menghadap taman. Tidak semewah kamar utama, tetapi cukup untuk beristirahat.
Aku mulai memahami bahwa Segara tidak bermaksud tidur sekamar denganku. Ia hanya mengharuskanku tetap berada dalam kediamannya malam itu.
Anehnya, hal tersebut justru membuatku sedikit lega.
Aku tidak perlu memikirkan kemungkinan lain yang lebih buruk.
Ketika aku kembali menatap layar sistem, tulisan baru muncul.
[MISI PERTAMA: BERTAHAN DI SARANG NAGA]
[PROGRES: 50%]
[STATUS: HOST TELAH MENYELESAIKAN PROSESI PERNIKAHAN DAN MENDAPATKAN IZIN BERADA DI KEDIAMAN KAISAR.]
Aku mengernyit.
Jadi, separuh misi selesai hanya karena aku berhasil melewati prosesi dan tidak diusir?
Layar itu kembali berkedip.
[TUGAS TAMBAHAN TERDETEKSI]
[TUJUAN: TEMUKAN PETUNJUK MENGENAI RAHASIA ISTANA SEBELUM FAJAR.]
[PERINGATAN: PETUNJUK HANYA DAPAT DIAKSES MELALUI BENDA TERTENTU DI KEDIAMAN KAISAR.]
Aku membaca tulisan itu dua kali.
Benda tertentu?
Rahasia istana?
Aku melirik pintu ruang dalam, lalu mengalihkan pandangan ke ruang utama. Meja kerja Segara masih dipenuhi dokumen. Di dekatnya terdapat lemari kayu berukir, sebuah peti kecil, dan rak yang sebagian isinya tertutup kain.
Masalahnya, aku baru saja dilarang menyentuh barang-barang itu.
“Bagus,” bisikku. “Tentu saja harus ada tugas tambahan.”
Tidak ada jawaban dari sistem.
Aku mengusap wajah dengan kedua tangan. Kepalaku masih pening, tubuhku lelah, dan aku bahkan belum tahu bagaimana cara menyelesaikan misi utama tanpa membuat Kaisar murka.
Di luar jendela, angin malam menggerakkan dedaunan taman. Aroma mawar masuk melalui celah kayu, begitu lembut hingga hampir membuatku lupa bahwa aku berada di tempat asing.
Aku duduk di tepi tempat tidur.
Malam ini belum berakhir.
Aku belum menemukan jalan pulang. Aku belum mengetahui siapa yang meracuni Kahiyang asli. Dan sekarang, sistem misterius itu memintaku mencari sesuatu di kamar seorang kaisar yang bahkan tidak mengizinkanku menyentuh barang-barangnya.
Aku menatap layar biru yang perlahan meredup.
“Baiklah,” gumamku. “Aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di istana ini.”
Namun, aku tidak akan melakukannya dengan gegabah.
Aku harus memulihkan tenaga, mengamati keadaan, dan mencari petunjuk tanpa membuat Segara curiga.
Karena satu hal mulai kusadari.
Di kerajaan ini, ancaman terbesar mungkin bukan hanya Kaisar Segara El-Bhumi.
Bisa jadi, ada seseorang di balik dinding istana yang jauh lebih berbahaya daripada dirinya.
Dan aku baru saja melangkah ke tengah permainan mereka.