NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Sisi yang Tak Terlihat

Felipa

Aku menjauh sedikit saja, cukup untuk menatap mata Damon. Dia mengangkat tangan ke wajahku, membelai kulitku dengan kelembutan yang tampaknya tak cocok dengan pria serius dan mengintimidasi yang kukenal. Lalu dia mengecup keningku dengan lembut.

"Aku tinggal," jawabku pelan.

Mataku mencari matanya, berusaha mengerti apa yang pria itu lakukan padaku. Damon tersenyum, dan dadaku mengencang dengan cara yang menyenangkan. Aneh rasanya menyadari gestur sesederhana itu darinya bisa membuatku begini, benar-benar tak berdaya.

Aku turun dari pangkuannya dan mencoba merapikan pakaianku, meratakan kain yang kusut dengan tangan. Damon melakukan hal yang sama, memulihkan sikapnya seperti biasa sebelum menyalakan mobil.

Kuperhatikan dia mengemudi. Satu tangannya bertumpu di kemudi, dan matanya awas pada jalan. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa aku tenang, tapi kenyataannya aku sama sekali tak tahu apa yang kulakukan. Aku hanya tahu aku tak mau pergi.

Beberapa menit kemudian, kami masuk ke garasi sebuah gedung megah. Aku tak perlu bertanya untuk tahu tempat ini mahal sekali. Damon sangat kaya, itu sudah lama kusadari, tapi berada di sini, di depan satu lagi bukti kehidupan yang dia jalani, membuat kenyataan itu makin jelas.

Dia memarkir mobil, mematikan mesin, dan turun lebih dulu. Tak lama kemudian dia membukakan pintu untukku dan mengulurkan tangan. Kuterima, membiarkan jemarinya terjalin dengan jemariku saat dia menuntunku masuk.

Aku seharusnya tidak berada di sini.

Itu hal pertama yang kupikirkan.

Yang kedua, aku tak ingin berada di tempat lain mana pun.

Persetan dengan akibatnya. Aku bisa memikirkannya nanti. Setidaknya itu yang kucoba ulangi pada diriku, meski sebagian nuraniku terus mengingatkan bahwa segalanya tak pernah sesederhana kelihatannya.

Ponselku mulai berdering di dalam tas, dan bunyinya membuatku tersentak. Buru-buru kucari benda itu, sudah membayangkan serentetan pertanyaan tak menyenangkan dari Ayah, tapi aku lega begitu melihat nama Alice di layar.

Kuangkat.

"Aku nggak tahu kamu di mana, Nona Teladan, tapi aku nelepon buat ngasih tahu sesuatu," dia mulai, dengan suara jahil seperti biasa. "Jangan pulang dulu sekarang. Ayahmu menelepon, tanya apa kamu ada di sini. Aku bohong dan bilang iya. Soalnya aku nggak tahu harus gimana. Aku juga bilang ponselmu kehabisan baterai."

Kupejamkan mata sesaat, lega dan gugup sekaligus.

"Makasih, Alice."

"Nikmati saja, Felipa! Dan kalau ada yang nggak beres, datang ke rumahku. Kamu tahu kamu boleh tinggal sama aku."

Senyum tak sengaja muncul di bibirku. Alice mungkin gila, suka ikut campur, dan punya kemampuan luar biasa menyelinap ke hidupku, tapi dia salah satu dari sedikit orang yang kutahu bisa kuandalkan.

Hanya saja dia belum selesai.

"Oh ya, semoga kamu lagi ada yang menemani di ranjang, ya? Soalnya sudah hampir setahun, kan? Setahun penuh, Felipa! Aku mulai mengira kamu bersumpah hidup selibat tanpa bilang-bilang."

"Alice!"

Dia mulai tertawa di seberang, jelas puas karena berhasil membuatku salah tingkah.

"Aku serius! Aku mau detail, Fe!"

"Selamat malam, Alice!"

Kututup telepon di depan hidungnya sebelum dia sempat melanjutkan interogasi absurd itu.

Aku menatap layar beberapa detik, merasakan pipiku terbakar. Ketika kuangkat wajah, kudapati Damon sedang mengamatiku.

Dan dari cara sudut bibirnya melengkung, aku punya kesan tak mengenakkan bahwa dia menangkap jauh lebih banyak dari yang seharusnya.

Lift membuka langsung di penthouse, dan aku berjalan di samping Damon menuju pintu apartemen. Dia membuka kunci dan, sekali lagi, mempersilakan aku masuk lebih dulu.

Begitu melewati ambang pintu, mataku menjelajahi ruangan dengan rasa ingin tahu. Apartemen ini mewah, dengan perabot elegan, finishing tanpa cela, dan dekorasi yang tampak direncanakan cermat. Semuanya tertata sempurna, tiap benda di tempat semestinya. Meski begitu, ada kedinginan di ruang ini, seakan, di balik semua kecanggihannya, ada yang kurang untuk membuatnya sungguh-sungguh hangat.

Saat itulah aku melihat satu bingkai foto di atas sebuah perabot.

Rasa penasaran mengalahkanku, dan aku mendekat untuk melihat lebih jelas. Kuulurkan tangan hendak mengambil fotonya, tapi suara Damon menghentikanku sebelum sempat menyentuhnya.

"Jangan sentuh apa pun, Felipa."

Aku langsung berhenti dan menarik tanganku. Pipiku menghangat oleh tegurannya dan aku menjauh dengan canggung, seperti anak kecil yang baru tertangkap melakukan sesuatu yang terlarang.

Damon berdeham, dan ketika kuangkat mataku padanya, kulihat tatapannya tertuju ke bingkai foto itu.

"Itu ibuku," jelasnya, suaranya lebih rendah. "Tapi aku tak mau membicarakannya."

Aku mengangguk pelan, menghormati batas yang baru dia tetapkan. Aku tak bertanya, meski caranya menutup diri saat menyebut ibunya sendiri membuat rasa ingin tahuku makin besar. Ada sesuatu pada foto itu, atau mungkin pada kenangan yang dibawanya, yang Damon lebih suka jauhkan dari percakapan apa pun.

Untuk seseorang yang tampaknya mengendalikan setiap detail hidupnya, dia punya cara yang sangat efektif untuk menutup topik yang tak ingin dibahasnya.

"Mau makan sesuatu?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan.

Kupandangi dia, agak terkejut oleh cepatnya perubahan itu, tapi aku setuju.

"Mau, boleh."

Damon mengambil ponselnya dan mulai mengetik, mungkin memutuskan apa yang akan kami makan. Sementara itu, aku tetap di tempatku, tak begitu yakin apakah harus terus mengamati apartemen atau berisiko menerima peringatan lain karena terlalu penasaran.

Begitu selesai mengetik, dia menyimpan ponsel dan memberi isyarat agar aku mengikutinya.

"Akan kuperlihatkan apartemennya padamu."

Aku mengikuti Damon melewati ruangan demi ruangan, menyimak penjelasan singkat yang dia berikan. Penthouse ini semegah yang kubayangkan, dengan ruang luas, perabot canggih, dan jendela-jendela yang mempertegas pemandangan kota. Semuanya tampak serasi dengannya: elegan, tertata, dan agak tak personal.

Setelah tur singkat itu selesai, Damon kembali menatapku.

"Aku sudah memesan makan malam. Tidak akan lama."

"Baiklah," jawabku sambil diam-diam merapikan pakaian.

Kutoleh sekeliling sekali lagi, mencoba membiasakan diri dengan tempat yang terasa begitu jauh dari semua yang kukenal. Aku berada di penthouse Damon Bradfort, hendak makan malam dengan pria yang bisa perhatian di satu saat dan mengintimidasi di saat berikutnya.

Dan, jujur saja, aku masih belum tahu versi mana dari dirinya yang lebih membuatku gugup.

Aku merasa benar-benar berantakan.

Kupandang Damon, agak ragu, sebelum mengumpulkan keberanian untuk bertanya.

"Boleh aku mandi?"

Dia mendekat, mempersempit jarak di antara kami.

Namun Damon hanya mengamatiku sesaat sebelum menjawab.

"Tentu. Kamarnya pintu pertama di sebelah kiri. Anggap rumah sendiri, Felipa."

Aku mengangguk, berterima kasih atas keramahannya, dan berjalan ke arah yang ditunjuk. Kamar itu mudah kutemukan, dan aku masuk sambil menutup pintu di belakangku. Ruangannya seelegan bagian apartemen lainnya, dengan ranjang raksasa, seprai tanpa cela, dan dekorasi bernuansa sederhana yang cocok sekali dengan kepribadian pemiliknya.

Aku tak berlama-lama di sana. Perhatianku segera tertuju ke kamar mandi, dan aku masuk, lega karena akhirnya punya beberapa menit untuk diriku sendiri.

Kulepas pakaianku, kuletakkan hati-hati di samping, dan masuk ke bilik shower. Begitu kunyalakan pancurannya, air hangat mengalir di kulitku, membawa pergi sebagian lelah yang menumpuk sepanjang hari.

Kupejamkan mata dan menumpukan tangan di dinding, membiarkan air membasahi rambutku.

Beberapa saat, aku mencoba menata pikiran. Berada di sini, di penthouse Damon Bradfort, masih terasa terlalu aneh untuk jadi nyata. Terutama karena, meski sudah mencoba membiarkan nalar tetap memegang kendali, berada di dekatnya membangkitkan perasaan yang tak begitu kutahu cara mengelolanya.

Kuembuskan napas pelan sambil mengusap wajah dengan kedua tangan.

Dan saat kudengar pintu terbuka, Damon bergabung denganku di bawah pancuran.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!