“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Sayur dari Bu Yuni
Pagi itu, aku bangun sebelum alarm berbunyi.
Laras masih tidur membelakangiku. Selimut menutupi tubuhnya sampai pinggang, sementara ponselnya tergeletak di meja kecil. Aku duduk sebentar di tepi ranjang, menatap punggungnya yang tak bergerak.
Semalam, dia mengatakan keputusannya sudah bulat. Setelah itu, dia masuk kamar tanpa menunggu jawabanku. Aku menyusul hampir satu jam kemudian. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada pintu dibanting. Hanya dua orang yang tidur di ranjang yang sama dengan jarak yang terasa semakin jauh.
Aku turun ke dapur.
Aku menggoreng telur untuk sarapan. Setelah menyiapkan dua piring, aku meletakkannya di meja makan seperti biasa. Baru setelah semuanya selesai, aku teringat bahwa Laras mungkin tidak akan menyentuh sarapan itu.
Aku tetap membiarkannya di sana.
Ibu Retno keluar dari kamar dengan daster bermotif bunga. Matanya langsung tertuju pada meja makan.
“Laras belum bangun?”
“Belum, Bu.”
“Biarkan saja. Dia pulang malam karena bekerja. Jangan dibiasakan menuntut istri melayani suami.”
Aku mengambil gelas dari rak.
“Aku tidak menuntut apa-apa.”
Ibu duduk, mengambil nasi, lalu memeriksa lauk di piringnya.
“Telur lagi?”
“Di kulkas cuma ada telur.”
“Kalau begitu, nanti belanja. Jangan sampai Laras pulang dan tidak ada makanan yang layak.”
Aku mengisi gelas dengan air putih. Ada banyak hal yang bisa kukatakan. Aku bisa menunjukkan catatan belanja bulanan, tagihan listrik yang kubayar, atau daftar kebutuhan rumah yang selalu kuurus. Namun, aku tahu semua itu tidak akan mengubah penilaian Ibu. Di matanya, pekerjaan yang tidak terlihat seperti pekerjaan tetap tidak pernah dianggap pekerjaan.
Ponselku bergetar di atas meja.
Pesan dari Pak Surya masuk bersama pengingat rapat pukul sembilan. Dokumen untuk pembahasan strategis sudah disiapkan. Ada dua berkas yang memerlukan persetujuan pemegang kendali, sedangkan satu laporan masih menunggu pemeriksaan bagian hukum.
Aku membalas singkat bahwa aku akan meninjau semuanya sebelum rapat.
Setelah itu, aku membuka laptop di meja sudut ruang tengah.
“Pagi-pagi sudah main laptop?” suara Ibu terdengar dari meja makan.
“Ada dokumen yang harus saya periksa.”
“Dokumen apa? Kamu bahkan tidak punya kantor untuk didatangi.”
Aku tidak menjawab. Kursor bergerak di layar, membuka laporan yang dikirim Pak Surya. Satu bagian perlu diperbaiki, sementara bagian lain belum bisa disetujui sebelum keuangan melengkapi data dan tim hukum memeriksa klausulnya.
Aku tidak bisa menyelesaikan urusan itu hanya dengan menekan satu tombol. Setiap keputusan punya dasar, dan setiap dasar harus bisa dipertanggungjawabkan.
“Jangan lupa nanti bantu angkat galon,” lanjut Ibu. “Tukang langganan belum datang.”
“Iya, Bu.”
Aku meneruskan pekerjaan sampai pukul delapan lewat dua puluh. Setelah mengirim catatan koreksi kepada Pak Surya, aku memeriksa jam. Masih ada waktu sebelum rapat dimulai.
Ketukan di pintu depan membuatku menoleh.
Bu Yuni berdiri di teras sambil membawa rantang bertingkat. Tetangga kami itu tinggal dua rumah dari sini. Wajahnya selalu tampak ramah, dengan kerutan halus di sekitar mata yang muncul setiap kali dia tersenyum.
“Pagi, Bu Retno. Arkan ada?”
Ibu muncul dari ruang makan.
“Ada. Memangnya kenapa?”
“Saya masak sayur asem kebanyakan. Ini ada ikan goreng juga. Daripada mubazir, saya bagi sedikit.”
Bu Yuni masuk setelah dipersilakan. Ia meletakkan rantang di meja dapur, kemudian melirik panci nasi yang masih hangat.
“Arkan sudah sarapan?”
“Sudah, Bu,” jawabku.
“Bagus. Jangan sampai telat makan. Badan itu kalau sudah sakit, repot sendiri.”
Aku tersenyum kecil. “Terima kasih, Bu. Merepotkan saja.”
“Repot apa? Sayurnya memang banyak. Kalau dibuang, saya yang sayang.”
Bu Yuni membuka rantang. Aroma asam, cabai, dan daun melinjo memenuhi dapur. Ikan goreng berbalut bumbu kuning tersusun di atas kertas minyak. Pinggirannya masih renyah, dan sedikit uap naik ketika tutup rantang diangkat.
“Laras sudah berangkat?” tanyanya.
“Belum. Masih di kamar.”
Bu Yuni mengangguk. Tangannya sibuk memindahkan lauk ke mangkuk, tetapi tatapannya sempat beralih kepadaku.
“Belakangan ini kalian jarang kelihatan bersama.”
Aku mengambil sendok dari laci.
“Lagi banyak urusan, Bu.”
“Urusan kantor?”
“Sebagian.”
Ia tidak mendesak.
“Kamu sendiri baik-baik saja, Kan?”
Aku menatap wajahnya. Pertanyaan itu sederhana. Tidak ada tuduhan di dalamnya, tidak ada nasihat yang sudah disiapkan, juga tidak ada tuntutan agar aku membuktikan sesuatu.
“Baik, Bu.”
Bu Yuni menghela napas pendek.
“Kalau memang baik, syukurlah. Tapi kalau sedang ada masalah, tidak apa-apa juga mengaku sedang ada masalah. Tidak semua hal harus ditanggung sendirian.”
Aku menunduk, merapikan posisi mangkuk yang sebenarnya sudah lurus.
“Terima kasih sudah mengingatkan.”
“Ya sudah. Saya pulang dulu. Nanti kalau kurang, bilang saja. Masih ada di rumah.”
Setelah Bu Yuni pergi, Ibu membawa rantang itu ke meja makan.
“Orang sekarang suka sekali ikut campur urusan rumah tangga orang lain,” katanya.
Aku menutup laptop.
“Bu Yuni cuma mengantar makanan.”
“Awalnya memang begitu. Lama-lama bertanya macam-macam. Nanti satu kampung tahu kalau rumah ini sedang tidak beres.”
Aku tidak menjawab. Bu Yuni datang membawa makanan, bukan meminta penjelasan. Aku tidak melihat alasan untuk memperlakukan kebaikan sederhana itu sebagai ancaman.
Menjelang pukul sembilan, aku masuk ke kamar kerja kecil di belakang ruang tengah. Aku mengenakan kemeja bersih, memasang earphone, lalu membuka ruang rapat virtual yang sudah disiapkan Pak Surya.
Pembahasan berlangsung hampir empat puluh menit. Ada perubahan jadwal proyek, revisi proyeksi pendapatan, dan satu pengajuan yang perlu dikembalikan karena lampiran pendukungnya belum lengkap.
Aku tidak menyetujui berkas itu hanya karena nama direktur pengusulnya sudah tercantum. Bagian keuangan harus melengkapi data, tim hukum harus memastikan klausulnya, dan komite terkait harus memberikan rekomendasi sebelum keputusan akhir dibuat. Persetujuan pemegang kendali tetap diperlukan pada tahap yang menjadi kewenanganku.
Ketika rapat selesai, Pak Surya menahanku sebentar.
“Pak Arkan, untuk dokumen kedua, saya akan meminta tim mengirimkan versi yang sudah diperbaiki. Ada satu catatan dari bagian hukum yang belum terjawab.”
“Pastikan mereka menjawabnya secara tertulis.”
“Baik, Pak.”
“Dan jangan mengubah jadwal pemeriksaan hanya untuk mengejar target hari ini. Saya ingin semua dasar keputusannya jelas.”
“Dimengerti.”
Sambungan terputus. Aku melepas earphone, lalu menyandarkan punggung.
Di luar kamar, terdengar suara televisi. Ibu sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon. Nada suaranya riang, berbeda dari nada yang biasa digunakannya ketika berbicara denganku.
Aku tidak berniat menguping. Namun, saat hendak mengambil air, namaku terdengar jelas dari ruang tengah.
“Ya, memang begitu keadaannya. Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi mereka.”
Aku berhenti di dekat pintu.
“Arkan itu dari dulu memang begitu. Kerjanya tidak jelas, penghasilannya juga tidak kelihatan. Sekarang Laras sudah punya jabatan bagus, tentu dia capek.”
Jari-jariku mengencang di sekitar gelas kosong.
“Katanya mau cerai. Saya sebagai ibu tentu sedih, tapi bagaimana lagi? Kalau memang suaminya tidak bisa memberi kehidupan yang layak, masa anak saya harus bertahan terus?”
Aku melangkah mundur sebelum Ibu melihatku.
Tidak lama kemudian, terdengar tawanya.
“Besok kalau arisan, saya ceritakan lebih lengkap. Kalian pasti kaget.”
Aku kembali ke kamar kerja dan menutup pintu perlahan.
Sebuah surel baru masuk. Pak Surya mengirimkan dokumen yang tadi dijanjikannya. Aku membacanya dari halaman pertama sampai lampiran terakhir, menandai dua bagian, lalu meneruskan catatan kepada tim terkait.
Pekerjaan itu tidak menghilangkan percakapan Ibu dari kepalaku. Aku hanya tidak ingin membiarkan kata-katanya menentukan apa yang harus kulakukan hari ini.
Menjelang siang, Laras keluar dari kamar. Ia sudah mengenakan pakaian kerja, rambutnya tertata rapi, dan tasnya tergantung di bahu.
Aku berada di dapur ketika dia mengambil air minum.
“Ada makanan di meja,” kataku.
“Sudah makan.”
“Bu Yuni mengantar sayur asem dan ikan goreng.”
Laras melirik mangkuk di meja.
“Oh.”
Hanya itu.
Dia mengambil ponselnya yang berdering, membaca pesan, lalu memasukkannya ke dalam tas.
“Aku berangkat.”
“Laras.”
Dia berhenti di dekat pintu dapur, tetapi tidak berbalik sepenuhnya.
“Kita masih punya waktu untuk bicara baik-baik.”
“Arkan, aku sudah menjelaskan semuanya semalam.”
“Kamu menjelaskan alasanmu. Kita belum membicarakan banyak hal lain.”
“Aku tidak ingin mengulang pembicaraan yang sama.”
Suaranya tidak tinggi. Justru ketenangannya membuat setiap kata terasa seperti sesuatu yang telah diputuskan jauh sebelum aku mendengarnya.
Aku memandangnya beberapa detik.
“Baik. Aku tidak akan memaksamu bicara sekarang.”
Laras mengangguk singkat, lalu pergi.
Pintu depan tertutup. Dari jendela, aku melihat mobilnya bergerak meninggalkan halaman.
Aku kembali ke meja makan. Porsi sarapan yang kusiapkan untuknya masih berada di tempat semula. Aku memindahkannya ke wadah tertutup, lalu menyimpan makanan itu di kulkas.
Sayur dari Bu Yuni masih hangat. Aku mengambil sedikit nasi dan duduk sendirian. Kuahnya terasa asam segar, dengan rasa pedas yang tertinggal di ujung lidah. Ikan goreng itu mengingatkanku pada masakan sederhana yang biasa tersedia di rumah ketika aku masih kecil.
Aku makan perlahan. Tidak ada yang istimewa dari hidangan itu, tetapi setidaknya seseorang mengingat bahwa aku juga perlu makan.
Ponselku kembali bergetar.
Pak Surya mengirim pesan bahwa ada perkembangan yang perlu dibicarakan. Aku membalas bahwa aku akan memeriksanya setelah menyelesaikan pekerjaan yang tersisa.
Setelah makan, aku mencuci piring dan merapikan dapur. Pekerjaan kecil itu berjalan seperti biasa. Aku mengeringkan mangkuk pemberian Bu Yuni, lalu menyimpannya bersama rantang yang akan kukembalikan sore nanti.
Pukul tiga lewat tiga puluh, Ibu keluar dari kamar dengan tas tangan dan beberapa lembar uang yang diselipkan di dompet kecilnya.
“Mau ke mana, Bu?” tanyaku.
“Arisan. Masa harus lapor juga?”
“Tidak. Aku hanya bertanya.”
Ibu memeriksa penampilannya melalui pantulan kaca lemari.
“Jangan lupa makan. Kalau ada yang datang, bilang saya sedang keluar.”
Aku mengangguk.
Sebelum pergi, Ibu sempat menoleh.
“Kalau Laras pulang, jangan langsung membahas perceraian lagi. Dia sedang banyak pikiran. Kamu seharusnya bisa mengerti keadaan istri sendiri.”
Aku menahan napas sebentar.
“Baik, Bu.”
Ibu pergi tanpa menunggu jawaban lain.
Aku kembali membuka laptop. Beberapa dokumen perlu diperiksa sebelum rapat lanjutan esok pagi. Aku membaca laporan, mencocokkan angka, dan meminta klarifikasi atas satu pengeluaran yang belum memiliki bukti lengkap.
Sore nanti aku mengembalikan rantang kepada Bu Yuni. Aku tidak ingin menunda terlalu lama. Makanan yang diberikannya sederhana, tetapi perhatiannya terasa berbeda dari apa yang kuterima sepanjang hari.
Aku juga masih memikirkan pertanyaannya tadi pagi. Apa aku benar-benar baik-baik saja? Aku sudah terbiasa menjawab iya sebelum sempat memeriksa keadaan sendiri. Ada urusan yang harus diselesaikan, ada tanggung jawab yang tidak bisa kutinggalkan, dan ada rumah tangga yang perlahan kehilangan tempat untuk bicara jujur.
Ketika aku selesai membaca laporan, suara pintu depan terdengar.
Ibu pulang dari arisan sambil membawa tas belanja. Ia meletakkannya di meja, melepas sandal, kemudian menghampiriku.
“Arkan, tadi Bu Yuni bilang apa kepadamu?”
Aku mengangkat pandangan dari laptop.
“Kenapa, Bu?”
“Jangan pura-pura tidak tahu. Katanya dia mengantar makanan dan sempat bicara denganmu.”
“Memang. Saya mengembalikan rantangnya.”
Ibu menyilangkan tangan.
“Dia bertanya tentang rumah tangga kita, ya?”
“Dia bertanya apakah saya baik-baik saja.”
“Lalu kamu mengadu kepadanya?”
“Tidak, Bu.”
Ibu menghela napas kesal.
“Bu Yuni mulai ikut campur. Katanya Arkan sebenarnya punya pekerjaan.”
Aku menutup laptop.
“Saya tidak pernah meminta Bu Yuni menilai siapa yang benar.”
“Tapi dia sekarang membela kamu. Tadi dia bilang ada sesuatu yang tidak cocok antara cerita saya dan apa yang dia lihat.”
Aku terdiam sejenak.
“Apa yang Bu Yuni lihat?”
Ibu tidak langsung menjawab. Tangannya meraih tas belanja, memindahkannya ke kursi, lalu merapikan tali tas yang sebenarnya tidak kusut.
“Katanya kamu sering menerima telepon, duduk di depan laptop, dan tidak pernah meminta uang kepada tetangga. Dia bilang tidak adil kalau saya menyebutmu tidak melakukan apa-apa.”
Aku memandang Ibu tanpa menyela.
“Memangnya dia tahu apa tentang hidup kita?” lanjutnya. “Dia hanya melihat dari luar. Dia tidak tahu betapa sulitnya membesarkan anak seperti Laras sampai punya jabatan sekarang.”
“Aku tidak pernah menyangkal usaha Ibu membesarkan Laras.”
Ibu mendengus, lalu berbalik menuju kamarnya.
“Sudahlah. Saya tidak mau berdebat.”
Aku membuka kembali laptop, tetapi tidak segera membaca layar.
Dari luar, terdengar suara mobil memasuki halaman. Laras pulang beberapa menit kemudian. Ia meletakkan tas di sofa, menyapa Ibu yang sudah kembali keluar kamar, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air.
Aku mendengar Ibu memanggilnya.
“Laras, nanti Ibu mau cerita.”
“Ada apa, Bu?”
“Bu Yuni mulai ikut campur. Katanya, Arkan sebenarnya punya pekerjaan dan Ibu tidak seharusnya membicarakan masalah rumah tangga kita.”
Hening sejenak.
Aku tetap duduk di ruang tengah, menghadap laptop yang layarnya mulai meredup.
Kemudian suara Laras terdengar, lebih pelan daripada biasanya.
“Memangnya Ibu cerita apa saja kepada mereka?”
Ibu menjawab cepat.
“Yang sebenarnya. Bahwa kamu sudah lelah hidup dengan suami yang tidak bisa memberi kepastian.”
Aku menutup laptop perlahan.
Untuk pertama kalinya, bukan pertanyaan tentang pekerjaanku yang membuatku menahan napas, melainkan pertanyaan Laras kepada ibunya sendiri.
Dan dari nada suaranya, aku tahu ia mulai menyadari bahwa cerita yang selama ini beredar mungkin tidak sesederhana yang ia bayangkan.