"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Dingin Elsa 02.
Gerbang SMA Nusantara pukul 06.45 WIB biasanya menjadi panggung pertunjukan tunggal seorang Elsa Nur Cahyani.
Semua orang tahu ritualnya. Elsa akan berdiri di dekat pos satpam dengan sekotak susu stroberi dingin, senyum selebar badut, dan suara cempreng yang siap membelah kabut pagi hanya untuk menyapa satu nama: Firdaus.
Tidak peduli seberapa ketus respons yang didapat, atau seberapa sering Pak Toto—satpam sekolah—menggelengkan kepala prihatin, Elsa tidak pernah absen. Dia adalah alarm berjalan bagi seluruh siswa bahwa hari baru telah dimulai.
Namun pagi ini, atmosfer di gerbang terasa ganjil.
Hanya ada deru mesin motor matik, langkah kaki yang terburu-buru, dan Pak Toto yang sedang menyeruput kopi hitamnya dengan kening berkerut.
Lapangan utama masih basah sisa hujan semalam, menyisakan aroma tanah yang pekat.
Firdaus turun dari mobil jemputannya. Langkah kakinya konstan, tegap, dan penuh wibawa seperti biasa selaku Ketua OSIS.
Cowok itu membetulkan posisi tas ranselnya di bahu kanan.
Secara refleks—sebuah kebiasaan bawah sadar yang sialnya baru dia sadari hari ini—tatapan mata Firdaus langsung menyapu area dekat pohon mangga di samping pos satpam.
Kosong.
Hanya ada daun-daun kering yang gugur diterpa angin pagi.
Firdaus menghentikan langkahnya selama tiga detik penuh.
Matanya menyipit, meneliti setiap sudut gerbang, mengira Elsa mungkin sedang bersembunyi di balik tiang atau berniat mengejutkannya dengan lompatan konyol dari belakang.
Namun, sampai dia melintasi garis gerbang, tidak ada kehebohan apa pun.
"Nyari siapa, Daus? Tumben celingak-celinguk," tegur Pak Toto sambil menurunkan cangkir kopinya.
Firdaus berdehem, buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya yang sempat menegang. "Enggak, Pak. Cuma mastiin anak-anak nggak ada yang telat."
"Oalah. Kirain nyari Neng Elsa. Bapak juga heran, biasanya jam segini dia udah heboh kayak petasan renteng. Tadi Bapak lihat dia udah masuk duluan jam enam lewat lima belas. Pucet banget mukanya, kayak orang abis tipes."
Firdaus hanya mengangguk formal tanpa bersuara, lalu melanjutkan langkah menuju koridor.
Di dalam dadanya, ada sebersit rasa lega yang aneh, tapi sekaligus ada kekosongan instan yang mengetuk egonya. 'Baguslah kalau dia sadar' pikir Firdaus dingin. 'Itu yang gue mau dari dulu.'
Namun, apa yang terjadi di koridor justru membuat Firdaus semakin tidak nyaman.
Hampir semua mata menatap ke arahnya pagi ini, bukan dengan pandangan kagum seperti biasa, melainkan dengan bisik-bisik tertahan.
Kejadian di koridor lantai dua kemarin sore—tentang kue yang hancur dan gelang rajutan yang dibuang ke tempat sampah—rupanya telah menyebar secepat virus.
"Eh, seriusan si Elsa lost interest?"
"Demi apa? Cegil nasional kita akhirnya tobat?"
"Lagian si Daus mulutnya bon cabe banget kemarin. Siapa yang nggak mentalnya kena coba?"
Firdaus mempercepat langkahnya, mengabaikan kasak-kusuk tersebut.
Dia adalah tipe cowok yang rasional.
Baginya, rumor remaja SMA adalah hal paling tidak produktif di dunia.
Saat dia melewati kelas XII A—kelas Elsa—langkah kaki Firdaus kembali melambat secara otomatis. Pintu kelas itu terbuka lebar.
Dari posisinya berdiri, Firdaus bisa melihat Elsa dengan jelas.
Gadis itu duduk di bangku paling belakang pojok kanan. Tidak ada lagi jepit rambut warna-warni yang mencolok. Rambut hitamnya dikuncir kuda dengan rapi dan sederhana.
Seragamnya yang biasa agak berantakan kini terkancing sempurna sampai kerah atas.
Elsa sedang memakai earphone, pandangannya lurus tertuju pada buku paket Sejarah di mejanya, jemarinya bergerak santai mengetuk-ngetuk pulpen.
Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang kemarin sore menangis sampai dadanya sesak.
Tidak ada sisa-sisa kesedihan, yang ada hanyalah aura pembatas yang tebal.
Dia terlihat seperti orang asing yang belum pernah Firdaus temui sebelumnya.
Tiba-tiba, Elsa mendongak. Pandangan mereka bertemu di udara.
Dulu, jika momen ini terjadi, Elsa akan langsung melambaikan tangan dengan heboh, memberikan kode cinta dengan jarinya, atau minimal mengedipkan mata dengan genit.
Hari ini, Elsa hanya menatap Firdaus lurus-lurus. Dingin, datar, dan kosong.
Detik berikutnya, tanpa mengubah ekspresi wajahnya sedikit pun, Elsa kembali menundukkan kepala, membalik halaman bukunya seolah-olah objek yang baru saja dia lihat hanyalah selembar daun kering yang lewat ditiup angin.
Dia benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Rahang Firdaus mengeras. Ada sengatan aneh yang menyerang harga dirinya. Ditolak oleh Elsa adalah hal biasa bagi Firdaus, tapi diabaikan oleh Elsa? Ini adalah teritori baru yang sama sekali belum pernah dia injak.
"Woi, Bro! Malah bengong di depan kelas." Sebuah tepukan keras di bahu membuyarkan lamunan Firdaus.
Reno, Wakil Ketua OSIS sekaligus sahabat dekatnya, berdiri di sana sambil membawa tumpukan proposal. Reno melirik ke dalam kelas, lalu tersenyum miring—tipe senyuman yang tahu segalanya.
"Udah lihat keajaiban dunia kedelapan hari ini?" bisik Reno memprovokasi.
"Gak usah bahas hal gak penting, Ren. Proposal pensi udah lo revisi?" Firdaus mengalihkan pembicaraan, berjalan cepat menuju ruang OSIS diikuti Reno.
"Udah beres. Tapi yang lebih penting itu... lo sadar gak sih kalau atmosfer sekolah mendadak adem? Nggak ada yang teriak 'Daus ganteng!' lagi jam segini," kata Reno sambil terkekeh. "Gue denger dari anak-anak yang piket sore kemarin, Elsa buang gelang rajutannya ke tempat sampah? Damn, Daus. Lo beneran bikin pawang macan kita patah hati paling hebat."
Firdaus meletakkan tasnya di kursi ruang OSIS dengan sedikit hentakan. "Dia yang mulai, dia yang berhenti. Itu bagus. Gue nggak perlu keganggu lagi sama drama murahan dia tiap hari. Fokus kerja aja, minggu depan dinas pendidikan mau visitasi."
Reno menatap Firdaus, lalu menghela napas panjang sambil menyandarkan punggungnya di meja. "Daus, Daus. Lo emang pinter kalau soal kalkulus atau bikin program kerja. Tapi soal cewek, lo bego banget."
"Maksud lo?" Firdaus menatap Reno tajam.
"Elsa itu bukan cewek yang gampang nyerah. Lo tahu sendiri dia dikejar anjing penjaga sekolah aja besoknya tetep datang bawa sosis buat jinakkin itu anjing demi bisa lirik lo di ke kelas," ujar Reno serius, tidak ada lagi nada bercanda. "Kalau cewek kayak Elsa udah sampai di titik membuang barang yang dia bikin pakai darah dan air mata, itu artinya dia bukan lagi marah, Daus. Dia udah mati rasa. Dan percaya sama gue, tipe cewek yang udah mati rasa itu... kalau pergi, nggak bakal pernah nengok ke belakang lagi."
Kata-kata Reno menggantung di udara ruang OSIS yang dingin karena AC.
Firdaus tidak membalas. Dia membuka laptopnya, jemarinya mulai mengetik draf laporan dengan cepat. Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang dikatakan Reno hanyalah bualan drama. Dia tidak peduli. Dia justru bersyukur karena akhirnya bisa bernapas lega tanpa bayang-bayang Elsa.
**
Namun, ketika jam istirahat pertama berbunyi dan Firdaus berjalan menuju kantin, matanya lagi-lagi menangkap siluet Elsa.
Gadis itu sedang tertawa bersama teman-temannya di meja pojok kantin.
Tawa Elsa terdengar lepas, renyah, dan normal.
Tidak ada beban. Di sampingnya, kursi yang biasanya Elsa kosongkan "khusus untuk Firdaus" kini ditempati oleh cowok lain dari kelas sebelah yang sedang pamer trik sulap kartu.
Elsa tertawa melihat trik itu, lalu menepuk lengan cowok itu dengan akrab.
Firdaus menghentikan langkahnya di ambang pintu kantin.
Dadanya mendadak terasa sedikit sesak, sebuah reaksi fisik yang tidak logis.
Keributan kantin yang biasanya konstan kini terdengar seperti dengung yang mengganggu di telinganya.
Dia selalu berpikir bahwa dialah yang memegang kendali atas ketenangan hidupnya sendiri dengan cara mengusir Elsa.
Tapi melihat bagaimana Elsa bisa melanjutkan hidupnya dengan begitu mudah—seolah-olah tiga tahun pengejaran itu hanyalah lelucon lewat—Firdaus menyadari satu hal yang menampar logikanya.
Bukan Elsa yang selama ini terikat padanya.
Tapi dialah yang selama ini terbiasa menjadi pusat gravitasi dari semesta seorang Elsa.
Dan sekarang, ketika gravitasi itu diputus secara paksa, Firdaus-lah yang perlahan-lahan mulai merasa kehilangan keseimbangan.
......................
...****************...
Tbc,