NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Era Majapahit

Terlempar Ke Era Majapahit

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: MF015

Raka melewati gapura misterius di Laweyan dan terbangun di hutan zaman Majapahit. Tiba-tiba ia bertemu Sekar dan mengetahui bahwa ia terlempar ke tahun 1350 M saat Hayam Wuruk baru dinobatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Ramalan di Taman Larangan

Raka butuh waktu hampir sepuluh detik untuk bisa bernapas lagi.

Pemuda enam belas tahun di depannya, yang sedang duduk bersila di lantai ruang juru tulis dengan wajah cemong tinta, adalah penguasa seluruh Majapahit. Dan ia sedang bertanya pada seorang cantrik gadungan apakah ia sebaiknya menerima seorang peramal dari masa depan.

"Baginda," kata Raka akhirnya, suaranya serak. "Hamba bukan orang yang tepat untuk menjawab."

"Kau orang yang tepat justru karena kau kenal dia." Hayam Wuruk menyandarkan dagu di tangan. "Para pejabat hanya bilang apa yang mereka kira ingin kudengar. Mahapatih hanya bilang apa yang menurutnya harus kulakukan. Kau satu-satunya yang bisa bilang apa yang benar-benar kau pikirkan."

"Dan kalau pikiran hamba salah?"

"Maka aku akan tahu bahwa pikiranmu salah." Raja muda itu menyeringai. "Itu berguna juga."

Raka menarik napas panjang. Ia ingin lari. Tetapi di wajah pemuda itu, di balik kenakalan dan kebosanan yang pura-pura, ada kesungguhan yang sulit ia abaikan.

"Baginda boleh menemuinya," katanya perlahan. "Tapi dengan tiga syarat."

"Aku mendengarkan."

"Pertama, jangan sendirian. Ajak Mahapatih, atau seseorang yang Baginda percayai."

"Kakang Gajah Mada pasti ikut."

"Kedua, jangan terima apa pun dari tangannya hari ini. Hadiah, janji, atau tawaran. Dengarkan saja." Raka berhenti sejenak. "Dan ketiga, tanyakan satu hal sebelum menjawab apa pun: apa yang dia minta sebagai imbalan."

Hayam Wuruk mengangkat alis. "Imbalan?"

"Orang yang memberi terlalu banyak dengan terlalu manis, biasanya meminta jauh lebih banyak di kemudian hari."

Hening sesaat, lalu Hayam Wuruk tertawa pelan. "Kakang Gajah Mada pernah mengatakan hal yang hampir sama. Kau dan dia bisa jadi sahabat." Ia berdiri dan mengibaskan debu dari kainnya. "Satu syarat lagi dariku. Kau ikut."

"Hamba?"

"Sebagai juru tulis pribadiku. Duduk di belakangku, mencatat segalanya." Matanya berbinar nakal. "Dan kalau ada yang tak masuk akal, kau boleh membisikkannya."

"Baginda, itu..."

"Itu perintah." Hayam Wuruk mengedipkan satu mata. "Raja yang bosan punya hak istimewa."

Taman Larangan adalah bagian istana yang hanya boleh dimasuki keluarga raja dan tamu terpilih. Kolam-kolam teratai membentang di antara paviliun bambu, dihiasi lampion-lampion kecil yang mulai menyala satu per satu saat senja. Aroma melati dan dupa mengambang di udara. Jauh dari kesibukan kota, tempat itu terasa seperti dunia lain.

Hayam Wuruk duduk di atas bale-bale rendah beralas tikar sutra di tengah paviliun utama. Di sampingnya, duduk bersila dengan punggung tegak, Gajah Mada, yang sejak awal tak mengatakan sepatah kata pun kepada Raka kecuali satu tatapan singkat dan tajam. Wirabhaya berdiri di sudut dengan tangan di gagang keris, dan di balik tirai bambu, Raka tahu, Mpu Kalandara mengintai dalam diam.

Raka sendiri duduk bersila beberapa langkah di belakang Hayam Wuruk dengan lontar kosong di pangkuan, jantungnya berdebar tak keruan.

Hendar tiba tepat saat matahari menyentuh cakrawala.

Ia berjalan sendirian, jubah putihnya bergoyang lembut, wajahnya tenang dan ramah seperti selalu. Ketika matanya bertemu Raka, hanya kedipan yang nyaris tak terlihat yang menunjukkan ia terkejut. Lalu ia tersenyum lebar dan membungkuk dalam-dalam.

"Baginda yang mulia. Mahapatih. Terima kasih atas kehormatan ini."

"Duduklah," kata Hayam Wuruk dengan nada agung yang tiba-tiba terdengar jauh lebih tua dari usianya. "Aku mendengar kau punya sesuatu yang penting untuk disampaikan."

"Benar, Baginda." Hendar duduk di depan mereka, tangan terlipat. "Beberapa pekan terakhir, saya sudah mengusulkan banyak hal kepada pejabat istana. Cara mengatur pajak dengan lebih adil. Cara membangun saluran irigasi. Cara mencegah wabah." Ia berhenti sebentar. "Tapi itu semua hanya hal kecil. Yang akan saya sampaikan hari ini jauh lebih berat."

Gajah Mada tak bergerak, tapi Raka melihat jemarinya sedikit menegang di atas lututnya.

"Katakan," kata Hayam Wuruk.

Hendar menarik napas pelan, seperti seorang aktor yang tahu persis saat yang tepat.

"Baginda. Tujuh tahun dari sekarang, Baginda akan berniat meminang seorang putri dari negeri Sunda. Putri Dyah Pitaloka Citraresmi. Gadis yang cantik dan bijaksana, anak seorang raja yang bangga."

Hayam Wuruk mengerjap. "Sunda? Aku belum pernah bertemu seorang pun dari sana."

"Baginda belum. Tapi akan. Lewat sebuah lukisan, dan Baginda akan jatuh hati." Hendar menatapnya lurus. "Pernikahan itu akan disepakati. Raja Sunda akan datang dengan seluruh rombongannya ke lapangan Bubat. Dan di sana..."

Ia berhenti. Suaranya melemah, penuh duka yang begitu meyakinkan hingga bulu kuduk Raka berdiri.

"Di sana, Baginda, akan terjadi pertumpahan darah yang tak terbayangkan. Seluruh rombongan Sunda dibantai. Sang putri mengakhiri hidupnya sendiri. Dan pernikahan itu tak pernah terjadi."

Taman itu seketika hening. Bahkan jangkrik berhenti berderik.

Hayam Wuruk menatap kosong, wajahnya perlahan memucat. Tangannya yang tadi santai di pangkuan mengepal.

"Itu tak mungkin," bisiknya. "Aku tak akan mengizinkan..."

"Baginda tidak akan menginginkannya. Tapi hal itu akan terjadi karena orang-orang di sekeliling Baginda." Hendar menoleh perlahan pada Gajah Mada. "Karena keputusan seseorang yang terlalu ambisius, yang tidak sabar menunggu, dan yang menginginkan Sunda tunduk sebagai bawahan, bukan sebagai mertua."

Raka merasakan seluruh tubuhnya membeku. Ia tahu ke mana arah ini.

Gajah Mada tidak bergerak. Tidak berkedip. Tapi urat di pelipisnya berdenyut, dan jemarinya yang besar perlahan mengepal hingga buku-bukunya memutih.

"Mahapatih," lanjut Hendar, suaranya lembut seperti belati yang dibalut sutra. "Saya tidak menuduh. Saya hanya menyampaikan apa yang akan terjadi. Setelah Bubat, kehormatan Majapahit tercoreng. Baginda akan menyalahkan dirinya, dan Mahapatih akan jatuh dari kekuasaan."

"Cukup," kata Gajah Mada. Suaranya rendah dan sangat dingin.

"Maaf, Mahapatih. Saya hanya..."

"Cukup."

Hendar mengatupkan mulutnya, tapi senyum tipis di ujung bibirnya tak sepenuhnya hilang.

"Baginda," katanya, kembali menghadap Hayam Wuruk, "saya tak ingin tragedi itu terjadi. Saya ingin membantu mencegahnya. Tapi untuk itu saya butuh kepercayaan Baginda sepenuhnya. Dan..." Ia berhenti sejenak, menimbang. "Dan saya merasa Mahapatih tak boleh mendampingi Baginda dalam urusan Sunda. Bukan karena tak setia, tetapi karena sejarah menunjukkan dialah yang akan menjadi pemicunya."

Raka nyaris tak bernapas. Kata-kata itu bukan sekadar ramalan. Itu strategi. Satu langkah yang dirancang untuk memisahkan raja muda itu dari satu-satunya orang yang dapat mengendalikannya.

Hayam Wuruk menoleh perlahan ke arah Gajah Mada. Dalam cahaya lampion, wajah remaja itu tampak sangat muda dan sangat rapuh. Ketakutan dan keraguan bercampur di matanya.

"Kakang Mahapatih," katanya, nyaris berbisik. "Apakah itu benar?"

1
mimief
mang sial
pinter bet dia🫣
mimief
ya..mau sebesar apapun jabatan mu
dia tetap anak remaja yg belum banyak pengalaman 🥹
mimief
oooooooo....MG
wahhhhhh
mimief
sang ratu bukan?
eh pas Hayam Wuruk naik tahta,ratu nya masih hidup ga si Thor?
wkwkwkwkwkwk
kyk nya aku pas ini kena remedial ni🤣🤣
mimief: mungkin beliau yg nyari ya, bagaimana pun ttp darah dari saudara sendiri 🥹
total 2 replies
mimief
tapi kayaknya,kalau bukan sama yg punya
dia ga akan bereaksi deh
coba aja
yah...Raka ga jadi pulang 🥹
Kam1la
Sekar akhirnya bakal menemukan keluarga kandungnya
Kam1la
Hendar punya ambisi yg membahayakan seseorang
Ranti Calvin
👍
mimief
wah....pulang Raka
apakah ada yg kebawa juga🥹
Kam1la
apakah akan terbuka seperti duaan, malam jumat Kliwon..
Kam1la
Sekar diculik. kebakaran modus nya untuk pengalihan saja...
Kam1la
Pernikahan itu akhirnya bakal tetap terjadi...
Kam1la
Raka berhadapan langsung dengan hayam Wuruk....
mimief
apakah Raka akan membawa sekar ke masa depan?
itu sebabnya namanya juga ga tercatat di sejarah?
apakah keruntuhan Majapahit ttp terjadi...
mimief
apakah sebenarnya Hayam Wuruk tau keberadaan Sekar
dan menghilangkan nya langsung,itu sebabnya Sekar ga pernah tercatat dalam sejarah?🥹
mimief
tapi emang pada saat itu
gajah Mada kekuasaan nya bener bener menyamai raja si ya
di satu pihak karen Hayam Wuruk terlalu muda buat mangku jadi seorang raja.
tapi.... harusnya 🥹🥹🥹
mimief
wah ..berat Baginda
kalau aku melarang mu,akankah kau mendengar ku?
mimief
sama...aku juga🫣🤣🤣🤣
mimief
wah...
memang aura pemimpin ga bisa boong ya
pantes dia legenda tak terbantahkan 🥹
mimief
iy bener..
walaupun sejarah tidak menulis kan kita
bukan berarti kita tidak ada,hanya tidak terlalu penting saja untuk dikenang🥹.
tapi...baru beberapa saat ini
ada sebuah jendral besar di China yg tertulis di sejarah sebagai penghianat bangsa .
yg meninggal nya pun tragis karena tubuhnya hancur karena hukuman di tarik kuda.
tapi... ternyata faktanya jendral itu terlalu kuat pengaruh nya karena selalu menang di Medan perang
sampe raja nya pun khawatir akan kekuasaan nya,mknya difitnah sedemikian rupa. hingga sejarah pun menuliskan nya seperti itu🥹🥹.
yg artinya, terkadang sejarah pun belum tentu menuliskan kebenaran.
mereka hanya menulis apa yg orang ingin tulis.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!