"Kamu sudah menganggap anak kita adalah sebuah kutukan, maka suatu hari nanti dia akan benar benar menjadi sebuah kutukan untuk keluarga kamu mas!"
Itu adalah kata kata terkahir Riyanti yang bisa di dengar oleh suaminya Raditya ketika di tepi jurang.
Apa yang terjadi sebenarnya? kenapa bisa seseorang bisa menjadi terkutuk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wajah asli Gita
"Bukan jin, tapi jimat, kamu memasang jimat itu di kemaluanmu kan! Kamu juga punya susuk di mata dan bibirmu" ungkap Kanaya membuat Gita terkejut.
"Kamu melenyapkan dukun yang jadi guru mu dan menyimpan jimat kekuatannya di tempat paling kotor di tubuhmu!" Ungkap Kanaya lagi
"Sialan!" Umpat Gita menekan kuat kuat boneka santet milik Shaquilla.
"Aakkhhh"
Teriakan terdengar di kamar Shaquilla dan membuat Gerhana dan Mirza khawatir, mereka berlari ke arah kamar Shaquilla untuk menolongnya dan memastikan Shaquilla masih terikat disana.
"Hahaha... Percuma saja, yang sudah aku ikat tidak akan bisa di uraikan lagi!" Ucap Gita memperlihatkan sifatnya yang asli.
"Berikan boneka itu atau aku akan membuatmu menderita karena kehilangan ilmu yang kamu miliki!" Ancam Kanaya
"Ambil saja kalau Kamu memang bisa" cibir Gita semakin menekan boneka itu, bahkan boneka itu sudah mengeluarkan darah.
"Aakhhh!"
Kembali terdengar teriakan di dalam kamar Shaquilla, Gerhana bahkan terus berusaha mengalirkan energinya pada Shaquilla agar bisa terlepas dari guna guna Gita, mulut Shaquilla sudah mengeluarkan darah bahkan matanya juga mengeluarkan air mata darah.
"Qilla, istighfar dan baca ayat ayat rukiyah mandiri yang kamu hafal, lawan Qilla, aku akan bantu dari luar" ucap Gerhana
"Aku akan membantu Shaquilla dari dalam" ucap Mirza
Shaquilla mulai menghela nafasnya dan berkonsentrasi sambil membaca tiga kul, ayat kursi dan dua ayat terakhir surat Al Baqarah sambil menutup matanya.
"Aaakkkh!"
Shaquilla merasakan sesak di dadanya ketika dia terus memaksa untuk membaca ayat ayat itu, bahkan keringatnya berjatuhan membasahi kening dan juga tubuhnya yang semakin melemah.
Di bawah, Kanaya tidak bebas bergerak karena dia memang belum begitu mahir menggunakan energi seperti yang di ajarkan Sanca, dia meminta Sanca untuk mengambil boneka yang di genggam Gita, tapi sebenarnya, tujuan Kanaya adalah boneka santet Sultan yang sudah menghitam dan tergelatak di meja rias Gita.
"Kamu pengecut karena menggunakan laki laki ini untuk menangkap ku, akan aku buat dia tunduk juga padaku!" Ucap Gita yang tidak tahu kalau sosok Irsyad yang saat ini dia lihat adalah jelmaan Sanca.
"Silahkan kalau kamu bisa menaklukkan laki laki milik Kanaya ini" jawab Kanaya menyeringai.
Dia berjalan dengan santai ke arah meja rias Gita yang menghindari Sanca sambil menggenggam boneka santet Shaquilla. Gita mulai membacakan jampi jampi di telapak tangannya dengan mata fokus pada mata Sanca.
"Tunduklah!" Teriak Gita meniupkan jampi jampi itu pada tangannya, dan dia menerjang Sanca sambil mengusapkan telapak tangannya pada wajah Sanca.
Deg.
Sanca merasa kaku, tubuhnya tidak bisa di gerakkan bahkan matanya tak bisa lepas dari Gita.
Srak.
"Kamu kurang ahli dalam menaklukan milikku, dia tidak akan tunduk meski tubuhnya kamu kuasai" cibir Kanaya ketika dia sudah berhasil mengambil boneka Sultan dan mengusap wajah Sanca.
"Terima kasih nak" ucap Sanca membawa Kanaya untuk mundur
Kanaya lalu menatap boneka yang di genggam Gita dengan serius, tiba tiba asap putih keluar dari boneka itu juga dengan percikan api yang muncul setelah asap itu keluar.
"Aakhh!"
Gita memekik melempar boneka itu yang sudah mulai terbakar, Kanaya yang tak mau Gita melakukan tindakan perlawanan langsung meminta Sanca mengambil boneka itu dan memadamkan apinya, sementara Kanaya menyiramkan air garam ke wajah Gita sambil membacakan ayat kursi.
"Aakhhh... Akan aku habisi kalian!" Teriak Gita merasa perih di matanya bahkan bibir dan pipinya terlihat sedikit memerah dan bengkak.
"Bertaubat lah Gita, aku beri kamu satu kesempatan" ucap Kanaya
"Aku tidak melakukan hal yang salah, aku hanya ingin memiliki apa yang aku inginkan, meski dengan cara salah sekalipun!" Jawab Gita menggunakan senjata terakhirnya yang berasal dari bagian bawahnya.
"Ayah, keluar, dia berusaha menarik perhatian lawan jenisnya dengan cara telanjang!" Perintah Kanaya
"Tapi nak, kamu nanti sendirian" ucap Sanca khawatir.
"Kanaya baik baik saja" jawab Kanaya mendorong Sanca sebelum Gita membuka semua pakaiannya.
Brak.
"Siapa yang akan kamu goda Gita?" Tanya Kanaya menutup pintu kamar Gita dan menguncinya.
"Kembalikan boneka kak Sultan!" Ucap Gita yang baru sadar kalau boneka itu sudah tidak ada.
"Kak Sultan bukan milikmu! Dia milik orang lain!" Jawab Kanaya
Gita marah dan mulai membacakan mantra dengan mata terpejam, dia lalu mengeluarkan lidahnya sampai seekor ular sanca berukuran cukup besar keluar dari arah kemaluannya.
"Innalilahi... La Haula walaa kuwwata Illa billahil a'liyyil adziim, subhanallah Alhamdulillah laa ilaaha illalaah Allaahu Akbar" ucap Aurora menatap ular itu dengan tajam.
"Sssttttttttt"
Ular itu Tampak kepanasan dan terus menggeliat di atas lantai kamar Gita ketika dia hampir menggigit Kanaya dan melilit tubuhnya.
"Aakhhh... Apa yang kamu miliki sampai membuat milikku kepanasan!" Bentak Gita
"Ketaatan Gita, aku tidak menginginkan milik orang lain, aku juga tidak menaruh dendam pada orang yang salah dalam diriku dan aku tidak menautkan harapanku pada manusia ataupun iblis, hanya Allah SWT tempatku berawal dan tempatku kembali nanti" jawab Kanaya
"Hahaha.... Persetan dengan Tuhan, Tuhan tidak memberikan apa yang aku mau! Aku tidak percaya padaNYA!" Bentak Gita
"Aakhhhh"
"Lepaskan! Pergi sana! kamu adalah peliharaan ku! Harusnya kamu melilitnya bukan aku!" Bentak Gita saat ular itu balik melilit tubuh Gita
"Dia marah Gita, karena kamu membuatnya kepanasan" jawab Kanaya terus menatap ular itu.
"Kamu yang sudah mengacaukan rencanaku! Aku tidak akan mati sendirian disini, kamu juga harus mati bersamaku!" Bentak Gita memejamkan matanya dan mulai bersila meski ular itu masih melilit di tubuhnya
Slash. Slash.
Percikan api mulai keluar dari balik boneka boneka yang ada di dalam laci meja rias Maya, api itu mulai merambat membakar meja bahkan mendekat ke arah Kanaya dan Gita.
"Ssstttt"
Ular itu kembali masuk ke dalam tubuh Gita ketika api sudah menyambar tubuh Gita.
"Bismillahirrahmanirrahim" Kanaya mulai membuka kunci pintu kamar Gita tapi pintu itu tidak bisa terbuka.
"Aakhhh panas! Hahaha... Aku puas karena tidak mati sendirii!"
"Aku tidak akan mati di tanganmu Gita, lagipula kenapa kamu harus mengakhiri hidupmu setelah ketahuan? Apa kamu punya tujuan lain, jangan harap kamu bisa bersatu dengan ular yang ada di dalam tubuhmu, aku akan mencegahnya" ungkap Kanaya mendekati Gita yang sudah mulai terbakar.
"Aku kunci kalian dalam tubuh ini, terbakar lah kalian di dalam tubuh ini dan jangan harap kalian bisa mengambil keuntungan dari tubuh ataupun pemiliknya!" Ucap Kanaya mencabut rambut Gita yang mulai tak sadarkan diri dengan tubuh menghitam akibat terbakar.
"Ya Allah... Tolong hamba" gumam Kanaya terduduk di sudut pintu yang mulai terbakar api, seluruh kamar itu sudah terbakar bahkan gorden dan rajang Gita juga sudah habis terbakar
Brak. Brak. Brak.
Gerhana mendobrak pintu itu karena dia melihat asap yang keluar dari bawah pintu kamar Gita, Mirza yang membantu Irsyad juga ikut panik karena saat turun dia malah melihat pintu kamar Gita mengeluarkan asap dengan Gerhana yang sendirian di luar terus mendobrak pintu kamar Gita.