Andrea Smith seorang dokter bedah jantung brilian di Miami—cerdas, mandiri, dan menyimpan satu rahasia: ia peretas ulung. Namun di balik jas putihnya, hidupnya terjerat keluarga yang beracun: ibu yang tak pernah menyayanginya dan seorang ayah tiri yang terus memerasnya lewat satu-satunya orang yang ia cintai. Yang Andrea inginkan cuma satu—bebas.
Alexander Silver adalah pria paling ditakuti di Irlandia. Bos mafia berdarah dingin yang sudah lama mengunci hatinya rapat-rapat setelah dikhianati. Baginya, cinta hanyalah kelemahan yang tak bisa ia tanggung. Sampai suatu malam, takdir membawanya ke sebuah rumah sakit di Miami… dan mempertemukannya dengan sepasang mata cokelat yang mengubah segalanya.
Sebuah tawaran mendadak. Sebuah pernikahan yang lahir dari kebutuhan, bukan cinta. Tapi di tengah dunia penuh peluru, aliansi berbahaya, dan musuh yang mengintai dari setiap sudut, dua hati yang sama-sama terluka perlahan saling menemukan. Alexander bersumpah melindungi Andrea dengan nyawanya—tak menyangka wanita rapuh yang ia nikahi ternyata jauh lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berani dari siapa pun yang pernah ia kenal.
Ketika masa lalu Andrea membuka rahasia yang mengguncang, dan bahaya mengancam segala yang mereka bangun, seberapa jauh mereka rela melangkah demi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MarLu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sudut pandang Andrea
Setelah Alexander diusir keluar dari kamar, aku masih merasa lelah, jadi aku mandi untuk merilekskan tubuhku. Kutuang garam mandi dan beberapa tetes esens, lalu masuk ke jacuzzi. Setelah beberapa saat, kudengar pintu diketuk.
"Sobaat, ayo keluar, nanti kamu jadi kismis kisut, ha ha ha," kata Lucas.
Aku tersenyum mendengar komentarnya. "Aku keluaar!"
Kuambil handuk, kukeringkan tubuhku dengan baik, kukenakan lingerie yang tadi dibawakan Dani, lalu kupakai jubah mandi, dan aku keluar sambil mengeringkan rambut.
"Ayo, sobat, kami harus membuatmu lebih cantik untuk pernikahanmu," kata Daniela.
"Saudari kita akan menikaah! Aku mau menangiis!" seru Lucas.
"Tenang, Lucas, kamu bakal membuatnya menangis, padahal kami harus mendandaninya," kata Daniela.
"Benar. Ayo, sobat, duduklah, kami akan membuatmu lebih cantik," ujar Lucas.
Datanglah seorang penata rias yang mereka sewa. Mereka meriasku, aku minta jangan terlalu tebal, dan begitulah mereka melakukannya. Rambutku dibuat bergelombang tebal dan disisir menyamping dengan hiasan bunga-bunga kecil. Mereka membantuku mengenakan gaunnya, gaun itu indah, berwarna putih dengan bordir bunga-bunga kecil dan sebuah batu permata di bagian tengah, bertali bahu tipis. Bagian punggungnya terbuka, di kedua sisinya ada hiasan korset kecil yang ketat mengikuti bentuk tubuh, dan mulai dari lututku gaunnya jatuh melebar. Sejujurnya aku sangat menyukai gaun ini. Setelah siap, aku bercermin, dan betapa aku berharap ayah kandungku ada bersamaku. Aku tahu ia tidak menelantarkanku, aku merasakannya di hatiku, dan aku tidak akan berhenti mencarinya. Aku hacker terbaik, dan aku yakin akan menemukannya.
"Sudah siap, sobat. Kamu terlihat cantik," kata Lucas.
"Aduh, sobat, kamu jadi seperti putri sungguhan," ucap Daniela.
"Aku menyayangi kalian, teman-teman yang sudah kuanggap saudara. Kalian tidak tahu betapa sakitnya meninggalkan kalian," kataku.
"Tenang, sobat, kamu tidak akan bisa lepas dari kami semudah itu. Kami akan datang mengunjungimu. Kalau bukan karena kontrak yang baru saja kutanda tangani dengan rumah sakit, aku pasti ikut denganmu," kata Lucas.
"Betul, sobat, aku juga baru menanda tangani kontraknya, tapi percayalah, di saat kamu tidak menyangka, kami akan datang menemuimu. Sekarang tunggu di sini sementara kami ganti baju," kata Daniela.
Mereka keluar dari kamar dan aku duduk sendirian sambil memikirkan apa yang terjadi selama beberapa hari ini, betapa beruntungnya aku bertemu Alexander. Aku merasa aman di sisinya. Aku tahu ia seorang mafia, dan dari kisah-kisah yang pernah kubaca, aku tahu aku bisa menjadi titik lemahnya. Tapi aku akan mengusulkan padanya untuk mengajariku menggunakan senjata dan membela diri. Aku ingin menjadi penyokongnya, bukan sekadar istri yang selalu ia khawatirkan. Aku ingin menjadi dan merasa kuat. Aku akan menyatukan hidupku dengan mafia paling ditakuti di Irlandia, dan aku harus sepadan dengannya. Aku hanya berharap keluarganya menerimaku, aku tidak mau ia bermasalah dengan mereka karena diriku. Kudengar pintu.
"Masuklah, teman-teman," kataku.
"Gadis kecilku, kamu benar-benar cantik," kata Nana.
"Nanaa, ya Tuhan, kamu di sini!" seruku.
"Tentu saja, Nak. Aku tidak mungkin absen di hari pernikahanmu. Kamu cantik, sayangku," kata Nana.
"Aduh, Nana, kamu tidak tahu betapa aku merindukanmu. Aku senang sekali kamu di sini. Kamu ikut denganku, kan?"
"Untuk saat ini aku akan tinggal di sini, Nak. Calon suamimu menawarkan pada anak-anak untuk tinggal di rumah ini supaya mereka tidak perlu terus membayar sewa, dia yang akan menanggung semua biayanya. Kamu tahu sendiri kedua anak itu tidak bisa memasak, jadi aku akan membantu di sini. Lagi pula kamu pengantin baru, Nak, kamu butuh waktu bersama suamimu. Tapi aku janji akan datang kapan pun anak-anak pergi mengunjungimu."
"Baiklah, Nana, aku senang kamu di sini."
"Jangan menangis, Nak, nanti riasanmu rusak. Ayo, aku datang untuk menjemputmu dan menyerahkanmu pada suamimu, tentu saja kalau kamu bersedia orang tua ini yang melakukannya."
"Tentu saja mau, Nana. Aku suka sekali gagasan bahwa kamu yang melakukannya."
"Ayo, Nak, karena iparmu itu sedang membuat suamimu gugup dengan bilang bahwa kamu menyesal dan kabur."
"Ha ha ha, ya, begitulah Dante. Ayo, Nana."
Aku keluar dari kamar bersama Nana. Saat menuruni tangga, di pintu yang mengarah ke halaman ada Lucas dan Dani. Mereka menyerahkan padaku seikat bunga, lalu berdiri di tempat masing-masing. Ketika aku keluar, kulihat seluruh taman dihias dengan bunga, dan aku senang mereka menyertakan bunga kesukaanku. Saat menatap ke depan, di sana berdiri calon suamiku, dan ya Tuhan, ia terlihat sangat tampan. Yang mengejutkanku, ia menyematkan salah satu bunga kesukaanku di jasnya, dan aku menyukainya. Kami mulai berjalan ke arahnya, dan ia tak henti-hentinya tersenyum. Sesampainya di depannya, Nana-ku berkata,
"Anak muda, kuserahkan padamu harta terbesarku. Aku menyayangi gadis ini dengan sepenuh hatiku, dan aku memintamu untuk membuatnya bahagia luar biasa."
"Saya jamin akan begitu," jawab Alexander.
Ia menggenggam tanganku dan menarikku ke dekatnya.
"Kamu cantik," katanya.
"Dan kamu sangat tampan. Aku suka kamu memakai ini." Kusentuh anggrek itu dengan jemariku.
Kami berbalik menghadap hakim, dan ia mulai mengucapkan beberapa kalimat tentang pernikahan, lalu melanjutkan.
"Nona Andrea Smith, apakah Anda menerima Alexander Silver sebagai suami Anda?" tanya hakim.
"Saya menerima," jawabku.
"Tuan Alexander Silver, apakah Anda menerima Nona Andrea Smith sebagai istri Anda?"
"Saya menerima," jawab Alexander.
"Dengan wewenang yang diberikan negara bagian Miami, Florida kepada saya, saya nyatakan kalian sebagai suami dan istri. Anak muda, Anda boleh mencium istri Anda sekarang."
Alexander tersenyum, memegang pinggangku dengan satu tangan untuk menarikku ke dekatnya, dan dengan tangan yang lain memegang pipiku, lalu menciumku. Ya Tuhan, ciuman itu lambat, lembut, bibirnya pas dengan bibirku dan aku menyukainya. Kurasakan kedua kakiku gemetar, dan aku berpegang lebih erat padanya. Ia melepaskan diri sedikit tanpa melepaskanku.
"Tenang, cantik, aku tidak akan pernah membiarkanmu jatuh. Kamu istriku," kata Alexander.
Ia mendekat lagi untuk menciumku, tapi saudaranya menyela.
"Sudah, sudah, kendalikan dirimu, saudaraku, atau kamu akan membuat si ipar kehabisan tenaga. Selamat, dan selamat datang di keluarga," kata Dante.
"Terima kasih, Dante," ucapku.
"Selamat, sobat," kata Lucas.
"Kamu sekarang sudah jadi nyonya yang menikah, sobat. Selamat, ya, kamu layak berbahagia," ujar Daniela.
"Nak, semoga Tuhan menjaga dan memberkati pernikahan kalian selalu," kata Nana.
"Terima kasih, semuanya. Kalian tahu aku menyayangi kalian," kataku.
Lalu kami berempat berpelukan.