Terkadang, bukti kasih sayang tidak hanya sebuah kebahagiaan, bukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melasepti__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Ayah
Gala membuka pintu apartemen saat mendengar suara ketukan. Tampak di sana, Althan tengah tersenyum tipis ke arahnya.
Gala ikut tersenyum, lalu menyalami tangan Althan dan mempersilahkan untuk masuk.
"Ayah mau minum apa?" tanya Gala setelah Althan duduk di sofa ruang tengah.
"Air putih aja."
Gala mengangguk, kemudian berlalu ke dapur. Sedangkan Althan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Apartemen yang tidak terlalu besar, namun tampak sangat bersih, rapi dan nyaman. Sesuai dengan kepribadian Gala yang rajin berbenah.
"Rea mana?" Althan menerima uluran segelas air putih dari Gala.
"Kuliah, Yah."
Althan mengangguk mengerti. Gala kemudian duduk di sebelah pria itu.
"Gimana?" tanya Althan seraya menatap Gala lekat.
Gala mengangguk pelan. "Gak begitu buruk. Dia kelihatan baik-baik aja, walaupun kadang masih suka sedih."
Althan menghela nafas pelan, sambil menepuk pundak Gala. "Titip, ya? Ayah gak tau sampai kapan bisa jaga dia. Ayah percaya kalau kamu bisa menggantikan posisi Ayah."
Gala hanya menjawabnya dengan senyum tipis.
"Ayah pengin dia bahagia, dia senang. Tapi Ayah sadar, apa yang Ayah lakukan sudah membuat dia terluka."
Gala menghembuskan nafasnya, menatap Althan yang kini menunduk.
"Ayah itu hebat. Apa yang Ayah lakukan itu sudah yang terbaik. Semua akan terjawab di waktu yang tepat."
Lagi, Althan menghela nafasnya seraya memejamkan mata sejenak.
"Ayah sudah gak kuat. Ayah rindu sama dia, ingin memeluk dia. Ayah tau dia rapuh, tapi Ayah gak bisa melakukan apapun."
Gala hanya diam, bingung ingin menjawab apa.
"Kalau suatu saat Ayah pergi, tolong jaga dia, ya? Jangan pernah sakiti dia. Dia sudah terlalu sakit karena Ayah, jangan lagi. Jangan ada laki-laki yang membuat permata Ayah kembali terluka."
Tampak mata Althan berkaca-kaca, membuat Gala ikut menatapnya sendu. Gala mengangguk yakin, seraya memeluk pria itu, menganggapnya seolah Althan adalah Ayah kandungnya.
"Ayah percaya kamu laki-laki baik, Gala. Kamu akan selalu melindungi putri Ayah dengan sepenuh hati kamu. Gak ada harapan lain, selain kamu bisa memberikan apa yang gak bisa Ayah berikan untuk dia."
"Gala akan berusaha untuk selalu ada buat Rea."
Lalu, terdengar sebuah deheman, membuat pelukan mereka terlepas. Gala dan Althan menoleh ke belakang, dan mendapati Rea yang berdiri dengan tangan terlipat dan tatapan datar.
"Kok sudah pulang?" tanya Gala seraya berdiri dan menghampiri istrinya.
Althan sendiri masih diam, mengusap air matanya dan menetralkan raut wajahnya.
Dirasa siap, Althan kembali menoleh dan tersenyum manis pada putrinya.
"Sudah pulang, sayang?"
Bukan menjawab, Rea justru mendengus jengah dan hendak berlalu. Namun, Gala dengan cepat menahannya.
"Salam dulu sama Ayah."
"Gak," jawab Rea dengan tatapan datar dan malas ke arah Althan, yang kini menatapnya sendu.
Gala mendekatkan mulutnya di telinga Rea. "Salam atau gue tinggalin lo di apartemen sendirian?"
Rea menoleh dan melotot kesal. Dengan kaki dihentakkan, Rea berjalan mendekati Althan untuk menyalaminya.
Althan tersenyum, lalu mengusap singkat kepala Rea, karena gadis itu lebih dulu menghindar.
"Sini duduk," titah Althan seraya menepuk sofa di sampingnya, sedangkan Gala sudah duduk di sofa lain.
Bukan menuruti, Rea justru melewati Althan untuk duduk di sebelah Gala.
"Duduk samping Ayah," bisik Gala yang dijawab gelengan tegas oleh Rea.
Althan yang melihat itu hanya mampu tersenyum tipis. "Gak apa-apa, Gal. Yang penting Ayah bisa lihat wajahnya aja sudah senang."
Diam-diam, Rea memutar bola matanya malas. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran sofa, dengan kepala menunduk.
"Nanti sore, Ayah mau berangkat ke Paris, nemenin Kakak."
Rea hanya diam, dia masih menunduk tak menanggapi apapun.
"Kalau kalian mau liburan, pilih aja mau kemana. Nanti biar Ayah yang pesan tiketnya sama biayain semuanya."
Rea mendongak untuk menatap Althan datar. "Gak perlu."
Althan mengangkat sebelah alisnya. "Benar? Kalian gak mau honeymoon?"
"Gak."
Althan menghela nafas dan pura-pura memasang wajah sedih. "Huft, padahal Ayah sudah pengin gendong cucu," ucap Althan dengan nada candaan, namun tidak mendapat tanggapan apapun dari Rea.
Merasa tidak akan mendapat respons apapun dari Rea, Althan bergerak mendekat.
Ia meraih tangan Rea dengan sedikit paksaan, karena Rea terus menghindar.
Althan menggenggam tangan Rea, mengusapnya dengan lembut. Ia meraih dagu Rea, hingga tatapan mereka bertemu.
"Rea harus bahagia, ya?"
Entah mengapa, pandangan Rea tiba-tiba mengabur saat melihat pancaran ketulusan di mata sang Ayah.
Mata itu, mata yang selalu menatapnya dengan lembut, bahkan di saat ia menatapnya penuh amarah.
Althan tersenyum tipis, beralih mengusap pipi Rea. "Mungkin, Ayah gak bisa bikin Rea bahagia selama ini. Tapi, Ayah harap setelah ini Rea harus bahagia sama Gala."
"Gala itu laki-laki baik. Kelak, dia yang akan menjadi Ayah dari anak-anak kamu. Insya Allah, dia gak akan bersikap sepengecut Ayah ke kamu."
"Kalau dia melakukan itu, ingatkan dia, ya? Supaya Gala gak merasakan penyesalan yang sama dengan yang Ayah rasakan, karena kehilangan putri kesayangannya."
Rea berkedip, membuat air mata menetes di pipinya. "Ayah minta maaf, karena selama ini Ayah sering membuat Rea sedih. Maaf ...."
"Mungkin, setelah ini Ayah gak bisa lagi menemui kamu. Kamu baik-baik sama Gala, ya?"
Air mata Rea semakin deras, meski tidak ada suara yang keluar dari mulutnya.
Terlebih, saat Althan bergerak menarik tangannya dan membawanya ke dekapan pria itu.
"Ayah sayang sama Rea. Sejauh apapun jarak di antara kita, Ayah akan selalu sayang sama Rea. Rea itu pemilik hati Ayah setelah Bunda. Jangan pernah sedih lagi, sayang."
Althan mencium kening Rea dan melepas pelukannya. Sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak menetes.
Althan mengusap air mata di pipi Rea, kemudian tersenyum. "Jangan benci Ayah."
Rea menggeleng pelan, seraya menunduk dan mulai mengeluarkan isakannya. Ia sudah berusaha untuk tidak menangis di depan sang Ayah karena gengsi dan egonya.
Tapi, perasaan tidak bisa berbohong. Ia merindukan sosok yang kini berada di hadapannya.
"Jangan nangis," kata Althan hendak memeluk Rea kembali, namun gadis itu lebih dulu bangkit dan berlalu ke kamar, meninggalkan Althan yang menatap kepergiannya dengan sayu.
Gala menatap Althan tak enak hati, hendak menyusul Rea untuk menegurnya. Namun, Althan lebih dulu menahan.
"Jangan, gak apa-apa. Biarin dia istirahat. Mungkin dia capek."
Gala menghela nafas dan mengangguk pelan.
"Kalau gitu, Ayah pulang dulu ya. Titip Rea, jangan sampai luka."
Gala lagi-lagi mengangguk dan menyalami tangan Althan, sebelum mengantar pria itu keluar apartemennya.
.
.
.
To be continue ...