Menjadi istri pengganti tidaklah mudah, apalagi ketika kamu hanyalah wanita yang menggantikan posisi kakakmu sendiri.
Alih-alih mendapatkan kasih sayang dan cinta dari suaminya, Kinanti justru harus menerima perlakuan kasar yang terus-menerus menyakitinya.
Kinanti tidak pernah membayangkan bahwa dirinya akan menggantikan posisi sang kakak yang kabur bersama kekasihnya sehari sebelum akad nikah dengan pria bernama Yudha.
Demi keselamatan ayahnya dan masa depan kedua adik kembarnya, Kinanti terpaksa mengikhlaskan dan merelakan impiannya untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pernikahan yang telah berlangsung selama delapan tahun tidak pernah memberinya kebahagiaan. Namun, Kinanti memilih untuk tetap bertahan, bersabar, dan ikhlas menjalani kehidupan rumah tangganya.
Hingga sebuah kecelakaan tak terduga menimpa suaminya, Yudha Manggala.
Sejak saat itu, kehidupan pernikahan mereka berubah seratus delapan puluh derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 21. Sulit Untuk Percaya
Kanaya dan Andin berjalan beriringan menuju meja mereka. Namun, baru beberapa langkah, perjalanan keduanya terhenti karena dua orang yang selama ini selalu menjadi sumber masalah bagi mereka tiba-tiba menghadang.
Nadia berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya langsung tertuju pada mobil baru yang tadi dikendarai Kanaya.
“Wah, mobil baru rupanya,” ucap Nadia dengan nada mencibir. “Hem... kayaknya itu bukan dibeli pakai uang kamu, ya?”
Mirna yang berdiri di sampingnya langsung terkekeh kecil.
“Betul banget, Nad. Mana mungkin karyawan yang statusnya masih rendahan seperti dia bisa membeli mobil semewah itu,” sahut Mirna. “Paling juga ada yang membelikannya.”
Nadia mengamati Kanaya dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
“Coba lihat gaya kamu sekarang. Dulu datang ke kantor saja kelihatan biasa-biasa saja, sekarang mendadak naik mobil mewah. Cepat sekali hidupmu berubah.”
Mirna ikut menyeringai.
“Jangan-jangan kamu memang punya cara khusus untuk membuat orang kaya tertarik sama kamu, ya? Soalnya kalau mengandalkan gaji karyawan biasa, rasanya mustahil.”
Kanaya menghentikan langkah. Ia menatap kedua perempuan itu dengan wajah datar.
Nadia semakin berani karena melihat Kanaya tidak langsung membalas.
“Kami yakin kamu melakukan hal-hal aneh di luar sana, makanya sekarang bisa punya mobil mewah, kan?” lanjut Nadia sinis. “Jangan-jangan ada seseorang yang membiayai gaya hidupmu.”
Mirna tertawa kecil.
“Ya, kita semua tahu tidak ada makan siang gratis. Apalagi kalau seorang perempuan tiba-tiba bisa hidup mewah. Pasti ada harga yang harus dibayar.”
Beberapa karyawan yang berada tidak jauh dari mereka mulai melirik. Suasana di sekitar meja kerja perlahan menjadi perhatian karena suara Nadia yang sengaja dikeraskan.
Andin langsung maju selangkah.
“Mulut kamu—”
Namun, Kanaya cepat-cepat menahan lengan sahabatnya.
“Sudah, Din.”
Kanaya kemudian mengalihkan pandangannya kepada Nadia. Senyum tipis muncul di bibirnya, tetapi tatapannya justru membuat Nadia sedikit tidak nyaman.
“Kalau memang benar seperti yang kamu tuduhkan, memang kenapa?” tanya Kanaya tenang.
Nadia mengernyit.
“Apa?”
“Kalau mobil itu bukan aku yang beli, kenapa kamu yang repot-repot memikirkannya?” Kanaya balik bertanya. “Dan kalau aku melakukan hal-hal aneh seperti yang kamu tuduhkan, kenapa kamu yang paling sibuk mencari tahu?”
Beberapa orang mulai menahan senyum.
Kanaya melanjutkan dengan suara tetap tenang.
“Bukannya kita dibayar untuk bekerja? Jadi, sebaiknya kamu fokus menyelesaikan pekerjaanmu daripada sibuk mengurusi kehidupan orang lain.”
Wajah Nadia langsung berubah.
“Kamu sekarang berani melawanku?”
Kanaya tertawa kecil.
“Melawan? Aku cuma menjawab pertanyaanmu. Atau kamu hanya berani menghina ketika orang yang kamu hina memilih diam?”
Nadia terdiam sesaat.
Mirna buru-buru menyela.
“Jangan sok pintar, Kanaya. Kami cuma mengatakan apa yang kami lihat.”
“Kalau begitu, kalian perlu belajar membedakan antara apa yang kalian lihat dan apa yang kalian karang sendiri,” balas Kanaya. “Mobil memang bisa kalian lihat. Tapi soal siapa yang membelinya, dari mana uangnya, dan bagaimana kehidupanku, kalian tidak tahu apa-apa.”
Kanaya menatap Nadia dan Mirna bergantian.
“Jangan sampai karena kalian terlalu sibuk mengamati hidup orang lain, kalian lupa memperbaiki kehidupan kalian sendiri.”
Beberapa karyawan yang mendengar ucapan itu kembali menahan tawa.
Nadia mendengus kesal.
“Jangan merasa hebat hanya karena sekarang punya mobil mahal.”
“Aku tidak pernah merasa hebat karena punya mobil,” jawab Kanaya santai. “Yang merasa terganggu justru kalian.”
Mirna kembali mencibir.
“Ah, jangan terlalu tinggi hati. Mobil bagus tidak otomatis membuat seseorang naik kelas.”
Kanaya tersenyum tipis.
“Benar. Sama seperti pakaian mahal juga tidak otomatis membuat seseorang terlihat berkelas.”
Senyum Mirna langsung menghilang.
Kanaya melanjutkan dengan tenang.
“Karena pada akhirnya, kelas seseorang lebih mudah terlihat dari cara dia memperlakukan orang lain daripada dari barang yang dia gunakan.”
Beberapa karyawan mulai saling berpandangan.
Nadia menatap Kanaya dengan wajah merah.
“Kamu sedang menyindir kami?”
Kanaya mengangkat alis.
“Kalau kamu merasa tersindir, mungkin memang ada bagian dari ucapanku yang terasa cocok.”
Andin yang sejak tadi menahan diri akhirnya tersenyum miring.
“Ka, percuma diladeni. Mereka mungkin memang sedang kekurangan bahan pembicaraan.”
Nadia menatap tajam.
“Kamu juga jangan ikut campur, Andin!”
“Kenapa? Takut?” Andin balik bertanya. “Tadi kalian berdua yang menghadang kami. Sekarang ketika dibalas malah marah.”
Nadia mengepalkan tangannya.
“Dasar—”
“Kalau mau punya mobil seperti itu,” potong Andin, “makanya punya kakak yang kaya. Jadi tidak perlu repot-repot pusing memikirkan hidup orang lain.”
Wajah Nadia semakin merah padam karena amarah yang sudah membuncah.
“Kamu pikir semua orang seberuntung kalian?”
Andin mengangkat bahu.
“Bukan soal beruntung atau tidak. Yang jelas, kami tidak pernah iri dengan milik orang lain.”
Kanaya menyentuh bahu Andin.
“Sudah, Din. Kita pergi.” bujuknya Kanaya.
Kanaya kemudian berjalan meninggalkan Nadia dan Mirna tanpa menoleh lagi.
Andin segera menyusul sambil tersenyum puas.
Sementara itu, Nadia dan Mirna hanya bisa berdiri dengan wajah kesal. Keributan yang awalnya mereka ciptakan untuk mempermalukan Kanaya justru berbalik membuat mereka menjadi tontonan banyak orang.
“Ka,” ucap Andin setelah mereka sampai di meja kerja. Ia meletakkan tasnya sambil menahan tawa. “Kayaknya mereka bakal kena stroke kalau sampai tahu kalau kamu sekarang diangkat menjadi manajer pemasaran.”
Kanaya tersenyum simpul.
“Bisa-bisa bukan cuma masuk rumah sakit. Mereka mungkin perlu waktu lama untuk menerima kenyataan.”
Andin terkekeh.
“Apalagi kalau tahu mobil itu juga bukan sekadar hadiah biasa.”
“Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan.”
Kanaya memilih duduk dan mulai mempersiapkan pekerjaannya. Ia tidak ingin membuang energi untuk orang-orang yang hanya ingin mengusik ketenangannya.
Sementara itu, di tempat lain...
Yudha diam-diam mengikuti Kinanti. Sejak beberapa waktu terakhir, rasa penasarannya terhadap aktivitas sang istri membuatnya terus mencari tahu ke mana perempuan itu pergi.
Hingga akhirnya mobil Kinanti berhenti di depan sebuah bangunan tinggi dan megah.
Yudha yang berada tidak jauh dari sana langsung memperhatikan papan nama perusahaan tersebut.
“K-Teck...” gumamnya.
Keningnya berkerut.
“Bukannya ini perusahaan yang masih terbilang baru? Tapi perkembangannya cukup pesat di bidang tekstil.”
Tatapan Yudha kemudian tertuju pada gedung tersebut.
“Katanya pendiri sekaligus CEO-nya juga masih sangat muda.”
Tidak lama kemudian, pintu mobil Kinanti terbuka.
Kinanti turun dengan penampilan yang begitu elegan. Hijabnya tertata rapi, pakaian yang dikenakannya terlihat stylish sekaligus profesional. Berbeda jauh dari sosok ibu rumah tangga yang selama ini Yudha kenal.
Namun, yang paling membuat Yudha terkejut bukanlah penampilan Kinanti.
Beberapa petugas keamanan langsung menyambut kedatangan perempuan itu dengan sikap sangat hormat.
Yudha mengernyit semakin dalam.
“Kenapa para security itu begitu menghormatinya?”
Ia terus memperhatikan hingga Kinanti masuk ke dalam gedung.
“Jadi, Kinan bekerja di sini?”
Yudha bersandar di kursi mobil sambil berpikir.
“Tapi sebagai apa? Selama ini kenapa aku tidak pernah tahu kalau dia punya kemampuan untuk bekerja di perusahaan sebesar ini?”
Rasa penasaran semakin memenuhi pikirannya.
“Aku harus mencari tahu aktivitas Kinan akhir-akhir ini.”
Yudha kemudian terdiam beberapa saat sebelum sebuah ide muncul di kepalanya.
“Kalau begitu, aku akan membuat proposal kerja sama dengan K-Teck Fashion.”
Setelah itu, Yudha menyalakan mesin mobil dan meninggalkan kawasan perusahaan tersebut tanpa mengetahui bahwa perusahaan yang hendak diajak bekerja sama sebenarnya berada di bawah kendali istrinya sendiri.
Sementara itu, Kinanti telah memasuki gedung K-Teck.
Begitu melewati lobi utama, ia langsung disambut oleh sekretaris sekaligus asisten pribadinya, Reva dan Amri.
Reva segera menghampiri.
“Mbak Kinanti, hari ini ada rapat penting yang harus Mbak hadiri. Perwakilan dari perusahaan Global sudah datang dan saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Mbak.”
Kinanti mengangguk.
“Baik. Kalau begitu, kita langsung menemui mereka.”
“Baik, Mbak.”
Kinanti berjalan dengan langkah tenang dan penuh wibawa. Tidak ada lagi sosok ibu rumah tangga yang selama ini dikenal oleh banyak orang.
Pagi itu, Kinanti tampil sepenuhnya sebagai seorang wanita karier sekaligus pemimpin perusahaan.
Reva dan Amri berjalan di belakangnya ketika mereka memasuki lift khusus untuk para petinggi perusahaan.
Di dalam lift, Reva mulai menjelaskan beberapa poin penting terkait agenda pertemuan.
“Untuk proposal kerja sama, pihak Global memberikan beberapa revisi pada bagian distribusi.”
Kinanti mengangguk.
“Nanti kita bahas bersama. Aku ingin tahu alasan mereka meminta perubahan itu.”
“Baik, Mbak.”
Pintu lift terbuka.
Ketiganya kemudian berjalan menuju ruang rapat.
Begitu pintu ruangan meeting dibuka, seluruh orang yang berada di dalam langsung berdiri.
“Selamat pagi, Bu Kinanti.”
Kinanti membalas dengan senyum profesional.
“Selamat pagi. Maaf membuat semuanya menunggu.”
Namun, di antara banyak orang yang berdiri menyambutnya, ada satu orang yang justru mematung.
Matanya membelalak. Mulutnya bahkan sedikit terbuka karena begitu terkejut melihat siapa yang baru saja memasuki ruangan.
Kinanti yang menyadari keberadaannya hanya tersenyum tipis.
Tatapannya kemudian berhenti tepat pada pria tersebut.
“Bukankah itu Pak Khalid Anugerah?” tanyanya tenang dengan seulas senyuman yang terlihat di bibir mungilnya.
Khalid masih berdiri mematung. Seolah-olah otaknya membutuhkan waktu untuk mencerna kenyataan bahwa perempuan yang berdiri di hadapannya ternyata adalah pemilik perusahaan yang selama ini hendak dia temui.