Mereka menyebutnya monster—Capo dei capi Camorra yang paling ditakuti, pria berdarah dingin yang katanya kehilangan hatinya bertahun-tahun lalu dan hanya hidup untuk kekuasaan, darah, dan balas dendam. Gabriele Saviano tak pernah menginginkan seorang anak. Tapi ketika istri yang tak pernah ia cintai meninggal saat melahirkan, ia terjebak dengan satu hal yang tak pernah ia rencanakan: seorang bayi perempuan mungil berambut pirang.
Sofia Palermo baru sembilan belas tahun, yatim-piatu, dan tak pernah mengasuh siapa pun. Yang ia punya hanyalah kehangatan seorang gadis yang tumbuh dicintai—dan keberanian nekat untuk melawan siapa pun, bahkan pria paling berbahaya di dunia mafia. Ia datang ke rumah besar sang Capo untuk merawat seorang bayi terlantar. Ia tak menyangka akan menemukan dirinya bermain api dengan sang iblis itu sendiri.
Satu sinar matahari yang keras kepala. Satu monster yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Di antara mereka: gairah yang membakar, pertengkaran yang memancing badai, dan seorang gadis kecil yang perlahan menyatukan dua jiwa yang sama-sama hancur.
Tapi mencintai seorang Capo berarti masuk ke medan perang. Musuh lama mengintai dari bayang-bayang, pengkhianat bersembunyi di dalam rumah, dan sebuah dendam berdarah siap merenggut segala yang mulai berharga bagi Gabriele. Ketika mereka yang paling ia sayangi menjadi sasaran, sang Bestia harus memilih: tetap menjadi monster tanpa hati—atau membakar dunia demi melindungi keluarganya.
Dari kesepakatan dingin menjadi obsesi yang mematikan. Dari sekadar pengasuh menjadi ratu yang bersemayam di jantung kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Selamat Datang
Sofia
Aku bergeser ke sana kemari di jok kulit putih limusin yang luas, berpindah dari satu jendela ke jendela lain. Aku tak mau melewatkan apa pun!
Sudah sekitar dua puluh menit rumah-rumah di sepanjang jalan makin membesar dan makin indah. Sekarang tiap rumah memakan satu blok penuh. Aku hampir menjerit seperti bocah kecil yang tak bisa menahan luapan perasaannya.
Rumah tempatku tinggal bersama Papa dulu memang cantik, tapi sederhana. Setiap akhir pekan, kalau Papa libur, kami berkeliling naik mobil melewati lingkungan-lingkungan paling mewah di kota, dan selalu terpukau oleh rumah-rumah besar yang megah. Papa selalu berkata suatu hari ia akan membangunkan rumah yang layak untuk seorang putri. Sayangnya ia meninggal tepat di hari ulang tahunku yang kedua belas.
Aku masih merindukannya. Dan kurasa akan selamanya begitu.
Mama meninggal saat melahirkanku, tapi Papa selalu bercerita tentangnya dan menunjukkan foto serta video, jadi entah bagaimana ia selalu hadir dalam hidupku. Lagi pula, Papa berusaha keras memerankan sekaligus ayah dan ibu, dan menurutku ia berhasil melampaui semua harapan. Aku tak mungkin meminta ayah yang lebih baik.
Sayang sekali, sebuah tugas yang ia jalankan untuk Capo-nya merenggut nyawanya. Tapi di Camorra, mati sambil menjalankan perintah Capo justru dirayakan dan dikagumi, dijadikan teladan bagi yang lain.
Papaku adalah, dan akan selalu menjadi, pahlawan bagiku dan bagi Camorra.
Aku tak bisa menahan pekik girang ketika limusin berbelok dan mulai memasuki jalan berbatu yang diapit pohon-pohon cemara raksasa. Jauh di depan, sebuah rumah besar menjulang.
Bukan. Itu bukan rumah, itu istana!
Aku mulai memantul-mantul di jok, membayangkan aku akan tinggal di sini beberapa bulan ke depan—kalau semuanya berjalan lancar. Dan aku yakin pasti begitu. Aku memang belum pernah mengasuh bayi, tapi aku sudah mengurus diriku sendiri sejak Papa meninggal, dan hasilnya baik-baik saja—setidaknya aku masih hidup. Mengurus bayi pasti jauh lebih mudah, kan?
Lagi pula, ini cuma bayi. Aku bahkan tak perlu khawatir dia kabur di malam hari.
Lamunanku terpotong saat aku bisa melihat rumah besar itu lebih jelas. Arsitekturnya bergaya Mediterania, didominasi warna putih gading dan abu-abu. Dua lantai, dengan jendela-jendela raksasa di mana-mana yang kubayangkan pastilah antipeluru—maklum, ini rumah Capo Camorra yang baru, dan lebih baik mencegah daripada menyesal, apalagi kalau ada anaknya di sini.
Sayang sekali ibu bayi itu sudah meninggal, menurut sedikit informasi yang diberikan bibiku—yang tak sabar ingin menyingkirkanku. Tapi kuharap bayi ini seberuntung diriku, dan ayahnya bisa memerankan peran itu dengan baik, atau menikahi perempuan baik hati yang menyayangi sang pewaris, meski bukan darah dagingnya sendiri.
"Sial, itu helipad, ya?" tanyaku sambil melongok ke bagian belakang lahan.
"Benar, Nona Sofia," jawab si sopir.
Wajahku merah padam begitu sadar ia menyaksikan semua pekik dan teriak kagumku.
"Maaf," bisikku begitu pelan sampai hampir tak terdengar oleh telingaku sendiri.
"Tak perlu minta maaf, Nona Sofia. Ini memang rumah yang indah."
"Ini rumah terindah yang pernah kulihat seumur hidupku!" seruku sambil memeluk diriku sendiri, senyum lebar yang kurasa tak akan mudah hilang dari wajahku.
Pria itu turun dari limusin, membuka pintuku, dan membantuku turun. Begitu kakiku menjejak tanah, aku berputar tiga ratus enam puluh derajat dan kembali memekik.
Aku masih tak percaya aku akan tinggal di sini!
Ini mimpi yang menjadi nyata.
Aku duduk di atas batu-batu pipih indah yang menutupi jalan masuk. Kuusap permukaannya dengan tangan dan tersenyum saat merasakannya halus dan dingin menyentuh kulitku.
"Tempat ini punya helipad, tiga kolam renang—salah satunya berpemanas. Ada juga lapangan tenis dan taman raksasa yang dibuat oleh arsitek lansekap terbaik di New York."
"Kubeli," celetukku, lalu tertawa sendiri membayangkan aku suatu hari benar-benar membeli rumah seperti ini.
Si sopir ikut tertawa. "Anda pantas mendapat itu, bahkan lebih, Nona Sofia," katanya sambil menatapku penuh kasih sayang. "Saya pernah bekerja dengan ayah Anda. Beliau selalu bercerita tentang Sofia kecilnya."
"Oh, senang bertemu Anda," kataku sambil bangkit dan melambaikan tangan menyapanya.
"Senang juga bertemu Anda. Nama saya Matteo Rossi."
"Aku Sofia Palermo, tapi kurasa Anda sudah tahu."
Ia mengangguk sebelum bicara. "Perempuan yang mengurus rumah ini dan akan bertanggung jawab atas Anda bernama Anna Romano. Ia baik, tapi tegas."
"Aku mengerti."
"Semoga Anda betah di sini."
Aku tersenyum. "Kurasa begitu. Semua harus berjalan lancar."
Ia mengantarku ke pintu, dan begitu pintu terbuka, ia kembali ke limusin.
Seorang wanita berusia sekitar lima puluhan, dengan rambut sehitam rambutku dan sepasang mata gelap, mengamatiku lekat-lekat.
"Kau Sofia Palermo?"
"Iya, Bu."
"Berapa umurmu?"
"Sembilan belas, tapi saya jamin saya akan merawat bayi itu dengan baik."
"Kita lihat saja nanti," balasnya, masih belum mempersilakanku masuk. "Aku kenal ayahmu. Salah satu prajurit terbaik yang pernah dimiliki Camorra."
Aku tersenyum, seperti selalu kulakukan setiap kali seseorang menyebut Papa.
"Terima kasih."
"Semoga kau pekerja yang baik dan setia seperti ayahmu."
"Saya juga berharap begitu."
"Ikuti aku," perintahnya. Aku mulai mengikutinya dengan mulut ternganga menyaksikan bagian dalam rumah yang jauh lebih indah daripada bagian luarnya—padahal kupikir hal semacam itu mustahil. "Kau tinggal dengan pamanmu, Narciso, dan istrinya, kan?"
"Iya, Bu."
"Aku tak suka mereka."
Aku tersenyum. "Kita berdua sama."
Ia menatapku dan tak bisa menahan diri untuk membalas senyumku.
"Gadis cerdas."
Kami mulai menaiki tangga megah menuju lantai dua, dan mataku tak lepas dari karya-karya seni indah yang tergantung di dinding.
"Itu Picasso, ya?"
"Kau suka seni?"
"Bukan penggemar, tapi aku bisa mengenali Picasso di mana pun."
"Itu memang Picasso."
"Replika atau asli?"
"Menurutmu?"
Aku bersiul kagum. "Wah."
"Kamarmu ada di sebelah kamar bayi."
"Aku mengerti."
Ia mengetuk pintu besar berwarna perunggu, dan seorang pelayan berseragam keluar—dengan bau menyengat dan noda muntah di dada serta rambutnya.
"Akhirnya," serunya, lalu berlari keluar dari kamar.
Tangisan keras yang menyesakkan dadaku adalah satu-satunya suara yang bisa kudengar.
"Selamat datang," kata Anna sebelum mendorongku masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangku.
"Sial, sekarang aku harus apa?"