Gu Chen hanyalah pemuda biasa yang keluarganya dihancurkan oleh kekuatan misterius. Namun, sebelum kematian menjemputnya, ia menemukan sebuah rahasia mengerikan: dunia tempatnya tinggal hanyalah papan permainan bagi makhluk-makhluk di luar pemahamannya.
Perang, kehancuran sekte, bahkan nasib para jenius ternyata telah diatur oleh tangan tersembunyi. Manusia hanyalah bidak, sementara para kultivator terkuat pun tidak lebih dari pion yang bisa dikorbankan kapan saja.
Gu Chen tidak memiliki bakat luar biasa ataupun kekuatan yang mampu mengguncang langit. Ia hanya memiliki kecerdasan, kesabaran, dan keberanian untuk menentang aturan permainan.
Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin mengerikan kebenaran yang ditemukannya.
Jika dunia ini adalah papan permainan, maka Gu Chen akan menemukan para pemainnya—dan membunuh mereka satu per satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagas Hirmawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 — Dua Gadis, Satu Kehidupan yang Dihapus
“Kali ini, jangan bunuh Ayah demi menyelamatkanku.”
Gu Chen tidak bergerak. Gadis berambut putih yang berdiri di belakang A-Ning masih mencengkeram ujung pakaiannya. Jari-jarinya kecil dan dingin, tetapi sentuhannya terasa aneh, seolah tangan itu tidak sepenuhnya berasal dari dunia yang sama dengannya.
Di hadapannya, A-Ning menatap gadis tersebut dengan ketakutan yang sulit disembunyikan.
Dua wajah yang sama.
Dua pasang mata yang berbeda.
Satu memiliki mata manusia biasa, sementara yang lain memiliki bola mata hitam tanpa pupil, seperti dua lubang yang menelan cahaya.
Gu Chen perlahan mengangkat pisaunya.
“Baik. Aku akan bertanya sekali saja. Siapa di antara kalian yang ingin membunuhku?”
Kedua gadis itu menjawab bersamaan.
“Dia.”
Mereka saling menunjuk.
Gu Chen memejamkan mata.
“Hebat. Bahkan anak kecil di kota ini sudah memiliki kebiasaan menyalahkan orang lain.”
Lin Yue menariknya mundur.
“Jangan bercanda sekarang!”
“Aku tidak bercanda. Aku sedang berusaha mencari tahu mengapa hidupku selalu dikelilingi orang-orang yang tidak bisa menjawab pertanyaan dengan benar.”
Gadis berambut putih tertawa kecil. Tawanya terdengar akrab, membuat dada Gu Chen terasa sesak tanpa alasan yang dapat ia pahami.
“Kau masih suka mengeluh, Kakak.”
“Berhenti memanggilku kakak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mengenalmu.”
Senyum gadis itu menghilang.
“Kau mengenalku.”
Ia mengangkat tangan, memperlihatkan sebuah gelang kayu kecil di pergelangan tangannya. Gelang itu memiliki sembilan garis tipis dan satu lingkaran kosong di tengahnya.
Gu Chen menatap gelang tersebut.
Seketika, sebuah ingatan menerjang pikirannya.
Sebuah halaman rumah yang dipenuhi bunga putih. Seorang anak laki-laki duduk di bawah pohon sambil mengukir gelang kayu. Di sampingnya, seorang gadis kecil mengayunkan kaki dan mengomel karena ukirannya tidak selesai-selesai.
“Kalau kau tidak menyelesaikannya hari ini, aku akan membuang semua pisaumu!”
Anak laki-laki itu tertawa.
“Kalau kau membuangnya, aku akan membuat yang baru.”
“Kalau begitu, aku akan membuang pohonnya!”
“Kau mau membuang seluruh pohon?”
“Ya!”
Anak laki-laki itu tertawa lebih keras.
Kemudian wajah gadis kecil itu berubah.
Darah mengalir dari mulutnya. Rumah di belakang mereka terbakar. Suara lonceng mengguncang langit.
Dan anak laki-laki itu berteriak.
“Jangan hapus namanya!”
Gu Chen tersentak kembali ke kenyataan.
Pisaunya hampir terlepas dari tangannya.
Lin Yue segera menopang tubuhnya.
“Apa yang terjadi?”
Gu Chen tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada gelang kayu tersebut.
Ia mengenali ukiran itu.
Bukan karena pernah melihatnya dalam kehidupan sekarang, melainkan karena ia merasa pernah membuatnya dengan tangannya sendiri.
Gadis berambut putih mendekat.
“Kau mulai mengingatku.”
Gu Chen mengangkat pisaunya kembali.
“Kalau kau benar-benar mengenalku, katakan namamu.”
Gadis itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, ia terlihat sedih.
“Namaku adalah hal pertama yang kau korbankan untuk menyelamatkanku.”
“Jangan biarkan mereka berbicara terlalu lama.”
Suara Gu Yuan memecah keheningan.
Lelaki berjubah putih itu berdiri di dekat meja, wajahnya semakin pucat. Retakan hitam mulai menyebar dari lehernya menuju pipi, seperti tubuhnya sedang kehilangan kemampuan mempertahankan bentuk.
Gu Chen menoleh.
“Apa maksudmu?”
“Gadis yang berdiri di depanmu adalah dua bagian dari satu keberadaan. Yang satu adalah ingatan yang tersisa. Yang lain adalah kemungkinan yang seharusnya telah dihapus.”
Bai langsung memahami sesuatu.
“Jadi, Arsip Kesebelas bukan tempat penyimpanan.”
Gu Yuan mengangguk.
“Tempat itu adalah celah yang tercipta ketika seseorang mencoba menghapus sesuatu yang tidak dapat dihapus.”
Lin Yue menatap kedua gadis tersebut.
“Kalau begitu, mana yang asli?”
“Pertanyaan yang salah,” jawab Gu Yuan.
“Lalu apa pertanyaan yang benar?”
“Apakah salah satu dari mereka pernah benar-benar hidup?”
Suasana mendadak sunyi.
Gadis berambut putih menundukkan kepala. A-Ning justru mundur beberapa langkah, seolah kata-kata Gu Yuan telah melukai sesuatu di dalam dirinya.
Gu Chen memperhatikan keduanya.
“Jadi, kalian tidak tahu siapa diri kalian?”
A-Ning menggeleng.
“Aku hanya mengingat kota ini.”
Gadis berambut putih menjawab, “Aku mengingat kehidupan yang tidak pernah terjadi.”
“Jelaskan.”
Gadis berambut putih menatap Gu Chen.
“Dalam satu sejarah, aku tumbuh bersamamu. Kau mengajariku membaca, bertarung, dan mencuri buah dari kebun orang lain. Dalam sejarah yang lain, aku tidak pernah dilahirkan. Ayah menghapus namaku sebelum dunia sempat mengenalku.”
Gu Chen menatap Gu Yuan.
“Kau menghapusnya?”
“Ya.”
Jawaban itu begitu langsung hingga Gu Chen tidak segera menyadari apa yang baru saja didengarnya.
“Kenapa?”
“Karena para pemain menemukan bahwa keberadaannya akan menyebabkan kehancuran yang jauh lebih besar daripada kehancuran Dinasti Wuming.”
“Jadi kau memutuskan mengorbankan anakmu sendiri?”
Gu Yuan tidak membela diri.
“Aku memilih kemungkinan yang membuat dunia tetap bertahan.”
Gu Chen tertawa tanpa humor.
“Kalimat yang sangat bagus. Aku yakin semua orang yang mengorbankan keluarganya demi dunia selalu menggunakan alasan yang sama.”
“Aku tidak meminta pengampunanmu.”
“Bagus. Karena aku tidak berniat memberikannya.”
Gu Yuan menerima kalimat itu tanpa membantah.
Namun, gadis berambut putih mendadak meraih tangan Gu Chen.
“Jangan membencinya, Kakak.”
Gu Chen menatapnya.
“Dia menghapus keberadaanmu.”
“Karena dia tahu apa yang akan kulakukan.”
“Dan apa yang akan kau lakukan?”
Gadis itu terdiam lama.
Kemudian ia menjawab, “Aku akan membunuhmu.”
Lin Yue segera mengangkat busurnya.
Bai bergerak ke depan, berdiri di antara Gu Chen dan kedua gadis itu.
Namun, gadis berambut putih justru menangis.
“Aku akan membunuhmu karena kau memintaku melakukannya.”
Gu Chen merasakan dadanya seperti diremas.
Sekali lagi, sebuah penglihatan muncul.
Ia melihat dirinya sendiri berdiri di tengah kota yang terbakar. Rambutnya panjang dan putih, pakaian hitamnya berlumuran darah. Di hadapannya tergeletak tubuh Gu Yuan, sementara gadis kecil itu berdiri sambil menggenggam sebilah pisau.
Anak laki-laki dalam penglihatan tersebut berlutut.
“Bunuh aku,” katanya kepada gadis itu.
Gadis kecil tersebut menangis.
“Aku tidak mau.”
“Kalau kau tidak membunuhku, mereka akan menggunakan tubuhku untuk menghancurkan dunia.”
“Aku tidak mau!”
“Kalau begitu, kau akan kehilangan semua orang yang kau cintai.”
Gadis itu menggenggam pisau lebih erat.
Dan Gu Chen menyaksikan dirinya sendiri tersenyum.
“Maafkan aku.”
Penglihatan itu lenyap.
Gu Chen jatuh berlutut sambil memegangi kepala. Napasnya kacau. Ia merasa seperti baru saja menyaksikan kematian seseorang yang sangat dekat dengannya.
Seseorang yang mungkin pernah ia cintai lebih daripada dirinya sendiri.
Namun, ia tidak tahu siapa orang itu.
Ia bahkan tidak tahu apakah kenangan tersebut benar-benar miliknya.
“Gu Chen!”
Lin Yue berlutut di sampingnya.
“Tatap aku. Kau mendengarku?”
Gu Chen mengangkat wajah. Pandangannya kabur, tetapi ia masih bisa melihat ekspresi khawatir Lin Yue.
“Aku melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Aku melihat diriku sendiri meminta seseorang membunuhku.”
Lin Yue terdiam.
“Apakah kau tahu siapa orang itu?”
Gu Chen menggeleng.
“Tidak.”
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya.
“Aku bahkan tidak tahu apakah semua itu benar-benar terjadi.”
Lin Yue menggenggam bahunya.
“Kalau begitu, jangan mengambil keputusan berdasarkan sesuatu yang belum kau pahami.”
Gu Chen menatapnya.
“Kau selalu mengatakan hal-hal yang terdengar sederhana.”
“Karena kau selalu berusaha membuat semua hal menjadi rumit.”
“Dunia ini memang rumit.”
“Tidak. Kau yang terlalu suka mengejar jawaban sampai lupa bahwa kau masih hidup.”
Kalimat itu membuat Gu Chen terdiam.
Untuk beberapa saat, suara retakan dinding dan getaran lonceng seakan menjauh. Ia hanya mendengar napasnya sendiri.
Kemudian ia berdiri perlahan.
“Baik. Aku tidak akan memercayai ingatan itu begitu saja.”
Ia menoleh kepada Gu Yuan.
“Tapi aku juga tidak akan memercayaimu.”
Gu Yuan mengangguk.
“Itu keputusan yang bijaksana.”
“Jangan memujiku. Aku masih marah kepadamu.”
“Aku tahu.”
“Dan kalau kau benar-benar ayahku, setelah semua ini selesai, kau akan menjelaskan semuanya dari awal. Tanpa teka-teki, tanpa kalimat puitis, dan tanpa menyuruhku mencari benda misterius di tempat yang bahkan tidak tercatat di peta.”
Gu Yuan tersenyum tipis.
“Baik.”
“Bagus.”
Gu Chen kemudian memandang kedua gadis itu.
“Kalian berdua ikut denganku.”
A-Ning menggeleng ketakutan.
“Aku tidak bisa meninggalkan kota ini.”
“Kenapa?”
“Karena aku bukan orang yang hidup.”
Gadis berambut putih justru tersenyum.
“Aku bisa pergi bersamamu.”
“Kenapa?”
“Karena aku bukan orang yang mati.”
Gu Chen memijat pangkal hidungnya.
“Luar biasa. Aku bertanya kepada dua orang dan mendapatkan dua jawaban yang sama sekali tidak membantu.”
Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi, tulisan baru muncul di udara.
\[ANOMALI TERDETEKSI.\]
\[DUA IDENTITAS DENGAN ASAL YANG SAMA TELAH DITEMUKAN.\]
\[SISTEM TIDAK DAPAT MENENTUKAN SUBJEK ASLI.\]
\[MEMULAI PROSES PENGHAPUSAN.\]
Wajah Bai berubah.
“Tidak!”
Ia segera menghunus pedangnya dan menebas tulisan tersebut.
Tebasannya menembus udara tanpa menghasilkan apa pun.
Dari dinding, puluhan benang hitam menjulur dan melilit tubuh A-Ning serta gadis berambut putih.
Keduanya menjerit.
Gu Chen bergerak seketika.
Ia menghunus pisaunya dan menebas salah satu benang yang melilit A-Ning. Pisau itu menghantam benang hitam, tetapi tidak berhasil memutuskannya.
Benang tersebut bahkan mulai merambat ke bilah pisaunya.
\[PERINGATAN: OBJEK INI TIDAK MEMILIKI STATUS KEBERADAAN YANG SAH.\]
\[PEMUTUS BENANG TIDAK DAPAT DIGUNAKAN SECARA NORMAL.\]
Gu Chen mengatupkan gigi.
“Kalau begitu, aku akan menggunakannya secara tidak normal.”
Ia memusatkan perhatian pada benang yang menghubungkan kedua gadis dengan sesuatu di balik dinding.
Ia tidak berusaha memotong benangnya secara langsung. Kali ini ia mencoba mencari titik tempat benang tersebut terhubung dengan pengamatnya.
Sesuatu berdenyut di dalam pikirannya.
Sesaat kemudian, ia melihatnya.
Di balik dinding, terdapat sebuah mata raksasa yang terbuat dari garis-garis hitam. Puluhan benang terhubung pada mata itu, dan semuanya berakhir pada sebuah ruang yang jauh dari Kota Wuming.
Gu Chen mengangkat pisaunya.
Lalu menebas.
KRAK!
Salah satu benang terputus.
Mata raksasa itu berkedut.
Seluruh menara berguncang.
Gu Chen terhuyung ketika rasa sakit menusuk kepalanya. Ia mendengar suara seseorang tertawa dari dalam benaknya.
Masih menggunakan kemampuan itu?
Berapa kali lagi kau akan memotong sesuatu yang tidak bisa kau pahami?
Gu Chen menggertakkan gigi dan menebas benang kedua.
Kali ini, penglihatannya berubah.
Ia melihat ruangan gelap dengan sebuah meja panjang. Di sekeliling meja duduk sembilan sosok tanpa wajah. Di hadapan mereka terdapat sebuah papan besar, dan di atasnya berdiri sebuah bidak yang menyerupai dirinya.
Salah satu sosok berkata, “Subjek telah kembali.”
Sosok lainnya menjawab, “Kalau begitu, hapus kedua gadis itu sebelum dia mengingat semuanya.”
Gu Chen menebas benang ketiga.
Mata raksasa tersebut pecah.
Pada saat yang sama, semua benang yang melilit kedua gadis terlepas dan berubah menjadi debu.
Gu Chen jatuh berlutut.
Tangannya gemetar hebat. Darah menetes dari hidungnya, dan pandangannya dipenuhi bintik-bintik hitam.
Lin Yue segera menangkap tubuhnya sebelum ia jatuh sepenuhnya.
“Bodoh! Kau hampir menghancurkan dirimu sendiri!”
Gu Chen berusaha tersenyum.
“Setidaknya kali ini aku tahu siapa yang harus kusalahkan.”
“Siapa?”
“Orang yang menciptakan sistem menyebalkan ini.”
Namun, ia tidak sempat melanjutkan perkataannya. Kesadarannya mulai memudar.
Sebelum semuanya menjadi gelap, ia mendengar suara A-Ning.
“Kakak, jangan tidur.”
Kemudian suara gadis berambut putih menyusul.
“Kalau kau tertidur sekarang, dia akan menemukanmu.”
Gu Chen ingin bertanya siapa yang mereka maksud.
Sayangnya, ia tidak mampu membuka mulut.
Ketika Gu Chen membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbaring di sebuah ruangan putih.
Tidak ada dinding batu.
Tidak ada menara.
Tidak ada Lin Yue, Bai, ataupun kedua gadis tersebut.
Hanya sebuah meja kecil, sebuah kursi, dan sebuah cermin tinggi yang berdiri di hadapannya.
Gu Chen segera bangkit.
“Tempat apa ini?”
Sebuah suara menjawab dari balik cermin.
“Tempat yang seharusnya kau ingat.”
Gu Chen mendekati cermin.
Bayangannya tampak normal pada awalnya. Rambut hitam, wajah pucat, pakaian yang sama seperti sebelumnya.
Namun, ketika ia mengangkat tangan, bayangan di dalam cermin tidak bergerak.
Sebaliknya, sosok di dalam cermin perlahan mengangkat wajahnya.
Rambutnya putih panjang.
Mata kirinya memiliki lingkaran hitam.
Dan wajahnya adalah wajah Gu Chen.
Sosok itu tersenyum.
“Kau sudah terlalu lama menggunakan nama yang bukan milikmu.”
Gu Chen menatapnya tanpa berkedip.
“Siapa namaku yang sebenarnya?”
Sosok di dalam cermin mendekat hingga dahinya menyentuh permukaan kaca.
“Kau ingin mengetahui namamu?”
“Ya.”
“Kalau begitu, aku akan memberitahumu.”
Senyum sosok itu melebar.
“Namamu adalah nama orang yang kau bunuh untuk mendapatkan kehidupan ini.”
Cermin mulai retak.
Di balik retakan tersebut, Gu Chen melihat sebuah ruangan lain. Seorang anak laki-laki duduk di kursi, kedua tangannya dirantai. Di belakangnya berdiri sembilan sosok bertopeng.
Dan di hadapannya terdapat seorang lelaki berjubah putih.
Gu Yuan.
Lelaki itu mengangkat pedangnya.
Anak laki-laki tersebut mengangkat wajah dan menatap Gu Chen dari balik cermin.
Wajahnya sama persis.
Namun, sebelum pedang itu jatuh, anak laki-laki tersebut tersenyum dan mengucapkan sebuah kalimat.
“Jika kau sedang melihat ini, berarti aku gagal membunuhmu.”
Gu Chen menahan napas.
Anak laki-laki itu melanjutkan.
“Dan jika Ayah masih hidup, jangan percaya kepadanya.”
Pedang terayun.
Cermin pecah.
\[ARSIP KESEBELAS DITUTUP.\]
\[IDENTITAS PERTAMA BERHASIL DIKUNCI.\]
\[NAMA: TIDAK DAPAT DITAMPILKAN.\]
\[STATUS: PEMILIK IDENTITAS TELAH MENYADARI KEBERADAANMU.\]
Gu Chen tersentak bangun.
Ia kembali berada di aula menara, dengan Lin Yue yang sedang menggenggam tangannya. Bai berdiri di dekat pintu, sementara Gu Yuan telah menghilang.
A-Ning dan gadis berambut putih juga tidak terlihat.
Gu Chen berusaha duduk.
“Di mana mereka?”
Lin Yue menunjuk ke meja.
Di atasnya tergeletak dua gelang kayu.
Satu memiliki sembilan garis dan sebuah lingkaran kosong.
Yang lainnya hanya memiliki sembilan garis.
Di samping kedua gelang itu terdapat secarik kertas dengan tulisan tangan Gu Yuan.
JANGAN CARI NAMA PERTAMAMU.
JANGAN PERCAYA KEPADA ORANG YANG MEMBESARKANMU.
DAN APA PUN YANG TERJADI, JANGAN BIARKAN DIRIMU YANG LAMA BERTEMU DENGAN DIRIMU YANG SEKARANG.
Gu Chen membaca catatan itu dua kali.
Kemudian ia menatap Bai.
“Apakah kau tahu apa artinya?”
Bai tidak langsung menjawab.
Ia menatap kedua gelang kayu tersebut, lalu mengalihkan pandangannya kepada Gu Chen.
“Aku tahu satu hal.”
“Apa?”
Bai menarik napas panjang.
“Orang yang baru saja kau lihat di dalam cermin bukanlah masa lalumu.”
Ia berhenti sejenak.
“Dia adalah orang yang sedang berusaha mengambil kembali tubuhmu.”
Jauh di suatu tempat yang tidak tercatat dalam sejarah, seorang lelaki berambut putih duduk di hadapan papan catur raksasa.
Di mata kirinya terdapat lingkaran hitam.
Di hadapannya berdiri sebuah bidak yang baru saja bergerak sendiri.
Lelaki itu mengangkat satu jari, lalu menyentuh bidak tersebut.
“Jadi, kau sudah mulai mengingatku.”
Ia tersenyum.
“Tidak apa-apa, Gu Chen. Teruslah mencari kebenaran.”
Senyumnya perlahan menghilang.
“Karena ketika kau akhirnya mengingat siapa dirimu, aku akan datang mengambil kembali sesuatu yang seharusnya tidak pernah menjadi milikmu.”
Ia mengangkat bidak hitam itu dari papan.
Di bagian bawahnya terukir sebuah nama.
GU CHEN.
Namun, ketika lelaki itu membaliknya, muncul tulisan lain di sisi yang sebelumnya tersembunyi.
PEMILIK ASLI: PEMAIN PERTAMA.
Bersambung ke Bab 18 — Nama yang Tidak Boleh Diucapkan.