Ayu mengira rumah tangganya baik-baik saja—Bayu tampak suami penyayang dan bertanggung jawab. Namun perlahan ia sadar, penghasilannya selama ini diam-diam menghidupi wanita lain: istri kedua Bayu yang tak pernah ia ketahui keberadaannya. Ketika kebenaran terbongkar, Ayu bukan hanya menghadapi pengkhianatan, tapi juga fitnah dan kekerasan dari orang-orang yang seharusnya ia percaya. Dari titik paling rapuh itu, ia bangkit dan diam-diam menyusun rencana untuk membalikkan keadaan yang selama ini merugikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB ENAM BELAS
## Bab 16: Perubahan Kecil yang Mengusik
Bayu mulai menyadari sesuatu yang berbeda dari Ayu belakangan ini. Bukan sesuatu yang mencolok, hanya perubahan-perubahan kecil yang, bagi orang lain, mungkin terlihat biasa saja—Ayu yang lebih sering memeriksa ponselnya di malam hari, Ayu yang mulai bertanya lebih detail soal pengeluaran, Ayu yang sesekali menatapnya dengan tatapan yang, meski tetap hangat, terasa sedikit berbeda dari biasanya.
Rabu malam itu, sepulang kerja, Bayu mendapati Ayu sedang duduk di meja kerja kecil mereka, layar laptop menyala menampilkan sebuah spreadsheet yang dipenuhi angka-angka rapi.
"Lagi ngapain, Yu?" tanya Bayu, mendekat sambil melirik layar laptop.
Ayu buru-buru menutup sebagian layar, meski tidak sepenuhnya, tersenyum kecil. "Cuma nyusun anggaran bulanan, Mas. Biar lebih rapi catatannya."
"Oh," Bayu mengangguk, meski dalam hati ia merasakan sedikit kegelisahan melihat detail angka-angka yang tersusun rapi di layar itu—jauh lebih rinci dari catatan pengeluaran rumah tangga yang biasa Ayu buat sebelumnya.
"Kamu kok jadi rajin banget belakangan ngurusin keuangan rumah tangga sedetail ini, Yu? Biasanya kan cuma dicatat garis besarnya aja," tanya Bayu, mencoba terdengar santai meski pertanyaan itu sebenarnya lahir dari kekhawatiran yang mulai tumbuh dalam dirinya.
"Ah, iya nih, lagi pengen lebih teliti aja, Mas. Biar kalau ada dana lebih, bisa dialokasiin buat tabungan atau investasi," jawab Ayu, penjelasan yang terdengar cukup wajar, meski tidak sepenuhnya menghilangkan kegelisahan Bayu.
---
Malam itu, setelah Ayu tertidur, Bayu terjaga cukup lama, menatap langit-langit kamar sambil memikirkan perubahan sikap istrinya belakangan ini. Ia tahu betul, Ayu bukan orang yang biasa melakukan sesuatu tanpa alasan jelas—sifat telitinya sebagai orang keuangan memang sudah menjadi bagian dari kepribadiannya sejak dulu, namun peningkatan intensitas ketelitian itu belakangan ini terasa berbeda, seolah ada sesuatu yang mendasarinya lebih dari sekadar kebiasaan biasa.
*Apa dia udah mulai curiga?* pikirnya, sebuah pertanyaan yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat setiap kali muncul dalam benaknya.
Ia mencoba mengingat-ingat kembali kejadian-kejadian kecil belakangan ini—pertanyaan Ayu soal foto dan gelang bayi di lemari, pertanyaan soal tarik tunai yang tidak jelas peruntukannya, pertemuan canggung dengan Feri di bengkel, bahkan pertanyaan ibunya soal kondisi rumah tangga mereka. Satu per satu kejadian itu, jika dikumpulkan, mulai membentuk pola yang, jika Ayu cukup jeli menghubungkannya, bisa mengarah pada kesimpulan yang selama ini ia takutkan.
---
Keesokan paginya, Bayu memutuskan untuk menghubungi Feri, mencari sedikit ketenangan dari satu-satunya orang yang benar-benar memahami situasi rumitnya.
"Fer, gue rasa Ayu mulai curiga," kata Bayu, suaranya terdengar cemas melalui sambungan telepon.
"Curiga soal apa, Bay? Ada tanda-tanda spesifik?" tanya Feri, nada suaranya serius.
"Dia jadi lebih teliti soal keuangan, sering nanya-nanya detail pengeluaran. Terus kemarin pas ketemu lo, dia bilang lo kelihatan canggung," jelas Bayu, mencoba merangkai kekhawatirannya.
Feri terdiam sejenak di seberang telepon. "Bay, gue emang agak canggung waktu itu, soalnya gue tau semua kebenarannya, terus tiba-tiba harus ketemu langsung sama dia. Maaf kalo itu malah bikin dia curiga."
"Bukan salah lo, Fer. Ini emang udah waktunya jadi semakin sulit ditutupin," Bayu menghela napas panjang. "Gue takut, Fer. Takut kalo dia beneran tau, semuanya bakal hancur."
"Bay, gue udah bilang dari dulu, cepat atau lambat ini bakal ketahuan. Mending lo yang jujur duluan daripada dia yang nemuin sendiri kebenarannya," saran Feri, mengulangi nasihat yang sudah beberapa kali ia sampaikan sebelumnya.
"Aku tau, Fer. Tapi tiap kali aku coba mau jujur, selalu aja ada yang bikin aku mundur lagi," jawab Bayu, mengakui kelemahannya sendiri.
---
Percakapan itu berakhir tanpa solusi konkret, meninggalkan Bayu dengan kegelisahan yang semakin menumpuk sepanjang hari. Di kantor, ia kembali kesulitan fokus, pikirannya terus melayang memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi jika Ayu benar-benar menemukan kebenaran tentang Wulan dan Raka.
Sore harinya, sebelum pulang, ia mampir sebentar ke kontrakan Wulan, meski kali ini dengan perasaan yang jauh lebih berat dari biasanya.
"Lan, aku rasa istriku mulai curiga," katanya, begitu masuk ke dalam rumah, langsung mengungkapkan kekhawatirannya.
Wulan yang sedang menyuapi Raka, menghentikan aktivitasnya sejenak, menatap Bayu dengan ekspresi yang sulit diartikan—antara khawatir dan, entah kenapa, sedikit terselip rasa lega yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan.
"Curiga kenapa, Bang?" tanya Wulan, mencoba terdengar prihatin meski nada suaranya tidak sepenuhnya meyakinkan.
"Dia jadi lebih teliti soal keuangan, banyak nanya-nanya. Aku takut dia mulai nyambungin semua kejanggalan yang ada," jelas Bayu, duduk lemas di sofa ruang tamu.
Wulan terdiam sejenak, sebelum akhirnya berkata dengan nada yang cukup mengejutkan Bayu. "Mungkin ini emang udah waktunya, Bang. Daripada terus-terusan kayak gini, mungkin lebih baik semuanya terbuka aja."
Bayu menatap Wulan, terkejut dengan pernyataan itu. "Kamu... kamu pengen ini semua ketahuan?"
"Aku nggak bilang pengen, Bang. Tapi aku juga capek terus-terusan sembunyi. Kalau emang harus ketahuan, biar aja terjadi secara alami. Setidaknya, kalau ketahuan sendiri, mungkin nggak akan seburuk kalau kamu yang harus ngaku secara langsung," jawab Wulan, sebuah logika yang, meski terdengar pasrah, sebenarnya menyimpan sedikit harapan tersembunyi bahwa dengan terbongkarnya rahasia ini, statusnya sebagai istri kedua Bayu akhirnya bisa diakui secara terbuka, apa pun konsekuensinya bagi rumah tangga Bayu dengan Ayu.
---
Bayu pulang malam itu dengan pikiran yang semakin kacau, dihadapkan pada dua kemungkinan yang sama-sama menakutkan—terus menyembunyikan kebenaran dengan risiko semakin besar untuk ketahuan secara tidak terduga, atau mengambil langkah berani untuk jujur secara langsung pada Ayu, dengan konsekuensi yang, ia yakin, akan menghancurkan kepercayaan yang selama ini menjadi fondasi pernikahan mereka.
Sesampainya di rumah, Ayu menyambutnya seperti biasa, dengan senyum hangat yang, malam itu, terasa jauh lebih berat untuk dibalas oleh Bayu, mengingat bayang-bayang kehancuran yang semakin terasa nyata di depan mata.
"Kamu kenapa, Mas? Kelihatan capek banget," tanya Ayu, khawatir, memperhatikan raut wajah suaminya yang tampak lebih murung dari biasanya.
"Nggak apa-apa, Yu. Cuma banyak pikiran aja," jawab Bayu, sekali lagi memilih untuk menyembunyikan kebenaran, meski kali ini dengan kesadaran penuh bahwa waktu yang tersisa untuk terus menyembunyikannya sudah semakin menipis, dan bahwa apa pun yang terjadi selanjutnya, kehidupan mereka berdua tidak akan pernah lagi sama seperti sebelumnya.
---
*Bersambung ke Bab 17*