NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang Mafia

Istri Kontrak Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ocha Via

Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*

Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.

Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.

Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.

Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DUA GARIS

Jam 04.34 pagi.

Alya udah duduk di lantai kamar mandi. Bukan lantai marmer hotel yang di drakor-drakor itu. Lantai keramik putih yang agak dingin, yang kalau abis mandi tu licin. Di pojokan ada ember lipat, ada sikat yang udah agak buluk, ada botol shampo yang tumpah dikit.

Di depannya plastik hitam Alfamart. Isinya tiga testpack.

Belinya semalam jam 22.11. Pake hoodie Rafael yang kebesaran, masker, kacamata. Kasirnya mbak-mbak, nanya pelan banget: "Yang sensitif kak? 10mIU?" Alya cuma angguk, tangan gemetar pas ngambil kembalian.

Rafael di luar. Dia gak tidur. Dari jam 3 tadi Alya bolak-balik kamar mandi, Rafael pasti denger. Tapi dia tahan. Janjinya: "Kalau kamu belum manggil, aku gak masuk."

"Sayang?" suara Rafael dari balik pintu triplek yang catnya udah agak ngelupas dikit di bawah. "Dingin di dalam. Udah jam setengah 5."

"Bentar ya," suara Alya kecil. "Jangan masuk dulu."

Alya buka kotak pertama. Kotak pink. Tangannya gemetar sampe plastik segelnya jatuh ke lantai yang basah. Dia pungut lagi, lap pake dasternya.

Dia baca bismillah. Bukan bismillah hafalan, bismillah curhat.

"Ya Allah, kalau belum rezekinya gak apa-apa. Beneran gak apa-apa. Tapi kalau udah rezekinya, tolong jangan samar-samar. Aku capek sama yang samar."

Dia celupin stik ke gelas plastik bekas es teh.

10 detik. Dia hitung. 1... 2... 3... Lama nian.

Abis itu ditaro di atas wastafel, di sebelah odol yang tutupnya gak pernah ditutup Rafael dan sikat gigi yang bulunya udah mekar.

Timer HP: 5 menit.

*Menit pertama:* Alya ngatur napas. Ngeliat kaca yang agak berembun karena exhaustnya belum nyala. Mukanya sembab.

*Menit kedua:* Mual paniknya dateng. Asam lambung naik. Dia remas ujung dasternya.

*Menit ketiga:* Kedengeran langkah Rafael di luar. Mondar-mandir. Dari kasur ke dapur, dari dapur ke depan pintu kamar mandi lagi. Berhenti. Jalan lagi. Rafael juga panik.

*Menit keempat:* Alya nunduk, ngelus perutnya yang masih rata, "Ado kamu dak di sini?"

_Ting._ Timer bunyi. Kenceng nian di kamar mandi kecil itu.

"Fa!" panggil Alya, suaranya pecah.

Pintu langsung kebuka. Rafael masuk, cuma pake kaos oblong abu-abu yang udah belel dan celana pendek. Rambut acak-acak, mata merah. Di tangannya ada handuk kecil.

"Udah?"

Alya merem, "Kamu yang liat. Aku dak berani."

Rafael jongkok. Lututnya bunyi _krek_. Dia ambil stik itu. Tangannya gemetar lebih parah dari Alya.

Dia liat. Lama.

Alya langsung nangis, "Satu ya? Satu ya? Yaudah dak apo-apo... berarti kecapean bae..."

"Bukan," bisik Rafael.

Dia balikkin stik itu.

Dua garis. Satu tegas, satu samar. Samar nian. Harus dimiringin ke lampu kuning kamar mandi baru keliatan pink-nya.

Alya bengong.

"Duo?" tanya Alya pake bahasa Palembangnya keluar pas panik.

Rafael angguk, "Samar. Tapi ado."

Mereka diem. Exhaust di atas bunyi _nguuuung_ pelan, bau sabun Lifebuoy campur bau lembab kamar mandi.

"Harus coba lagi," kata Rafael, "Masih ado duo lagi kan?"

Mereka nunggu 20 menit di lantai itu. Rafael duduk di belakang Alya, selimutin Alya pake handuk, peluk dari belakang. Dagunya di bahu Alya.

"Kau inget dak," Rafael coba ngelucu biar Alya dak tegang, "Dulu kau SD pernah dikiro hamil gara-gara kebanyakan makan pempek kapal selam?"

Alya ketawa sambil nangis, mukul lengan Rafael, "Serius ah! Jangan ngaco!"

Jam 05.47. Testpack kedua. Yang mahal.

Mereka celup bareng. Rafael yang pegang gelasnya, Alya yang nyelupin.

Timer kedua: 5 menit.

Kali ini mereka hitung bareng, kenceng-kenceng.

"Limo... empat... tigo... duo... siji..."

Buka mata bareng.

Dua garis. Tegas. Jelas. Merah jambu terang. Gak perlu dimiring-miringin lagi.

Hening.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Cuma bunyi exhaust _nguuung_ sama tetesan air dari keran yang netes pelan _tok... tok..._

Terus Alya tutup mulutnya. Air matanya ngucur deras.

Rafael? Cowok yang selama ini jaim, yang selalu ngomong "tenang ado aku", malah yang duluan jebol. Matanya merah, air matanya netes ke pipi Alya.

"Kito hamil, sayang," bisik Rafael, suaranya getar, napasnya berantakan. "Ya Allah... Alya hamil. Aku bakal jadi ayah?"

Alya balik badan, peluk Rafael kenceng di lantai keramik yang dingin itu, "Aku takut Fa. Takut dak biso jadi ibu yang bagus."

Rafael usap punggung Alya, cium ubun-ubunnya berkali-kali, "Kau dak usah jadi ibu sempurna. Kau cukup jadi kau. Jadi Alya yang nangis gara-gara rujak bae. Itu udah paling bagus untuk anak kito."

Di atas wastafel, dua testpack dengan dua garis itu berdiri sejajar.

Dan dari kamar, suara rekaman adzan Ayah Alya yang selalu diputer tiap subuh, mulai kedengeran pelan dari HP.

Alya nangis makin kenceng di pelukan Rafael. Bukan nangis takut lagi.

Ini nangis pertamo sebagai seorang ibu.

Bersambung...

1
ocvia
sudah kak
Mia Camelia
lanjut thor
Nda
mampir disini thor..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!