~DALAM TAHAP REVISI~
Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia sembunyikan nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, dan memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang justru merendahkan Raras. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka Danang pantas mendapat wanita lebih cantik, lebih bergengsi, dan menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas dan pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, dan jaringan perdagangan milik keluarga Raras selama ini yang diam diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Harga yang Berubah (Revisi)
“Mbak Raras, tangan panjenengan taksih sakit (tangan Mbak masih sakit)? Kok ya jauh-jauh ke Wates.” Pak Wiryo menyingkirkan setumpuk nota dari bangku kayu di kantor gudangnya, lalu menepuk dudukannya dua kali. “Lungguh, Mbak. Teh dhisik (duduk, Mbak. Teh dulu).”
“Matur nuwun, Pak. Sudah tidak sakit, hanya perih kalau kena air.” Raras duduk. Senin, pukul sepuluh lewat tiga puluh, dan dari jendela terlihat truk-truk beras berbaris menunggu timbangan. “Saya tidak lama. Saya hanya ingin memastikan satu hal.”
“Aturan pembayaran itu, nggih?”
“Bukan aturan baru, Pak. Aturan umum. Tenggang tiga puluh hari untuk pembeli berjaminan bank, selebihnya tunai. Berlaku untuk siapa pun.”
“Sama untuk Mas Danang, sama untuk semua.” Pak Wiryo mengangguk. “Pagi ini beliau telepon, Mbak. Minta tenggang.”
“Lalu?”
“Saya jawab sesuai aturan. Beliau tanya apa ada jaminan bank yang bisa dipakai. Saya bilang kalau ada, silakan dibawa.” Pak Wiryo meremas topinya. “Beliau bilang matur nuwun dua kali. Suaranya... kayak orang habis lari.”
“Dia memang sedang berlari, Pak.”
“Kula nggih sami, Mbak (saya juga sama).” Pak Sastro masuk dari pintu samping dengan timbangan kecil di tangan, bajunya bau gula kelapa. “Mas Danang juga minta tenggang. Saya jelaskan aturan yang sama.”
“Terima kasih, Pak Sastro. Tapi ada satu permintaan.” Raras menegakkan punggung. “Bapak-Bapak boleh menjawab pertanyaan Mas Danang dengan jujur. Tidak lebih dan tidak kurang. Jangan menjelekkan beliau kepada siapa pun.”
“Mboten, Mbak.”
“Jangan juga memuji sampai membuatnya lupa ada harga yang berubah.” Raras tersenyum miring, getir. “Saya hanya ingin semua orang mendapat perlakuan yang sama.”
Pak Wiryo menunduk. “Mbak, saya boleh ngomong?”
“Silakan, Pak.”
“Dulu Mas Danang itu tiap Lebaran telepon saya, Mbak. Nanya sehat. Nggak pernah minta apa-apa.” Suaranya serak. “Jadi kalau sekarang beliau minta tenggang, saya nggak tega. Tapi aturan ya aturan.”
“Itu yang membuat saya tenang, Pak. Bapak tidak tega, tapi Bapak tetap adil.”
“Mbak, Bapak Mbak dulu waktu paceklik tidak menaikkan harga gabah.” Pak Sastro meletakkan timbangannya di meja. “Kami semua ingat. Jadi kalau Mbak bilang aturan, kami jalankan tanpa tanya.”
“Itu bukan utang budi, Pak.”
“Bukan, Mbak. Itu kepercayaan.”
“Kalau begitu saya minta satu hal lagi. Kalau ada yang bertanya siapa saya, jawab saja apa adanya. Tidak perlu menyembunyikan, tidak perlu pula mengumumkan.”
“Mboten badhe nambah-nambah, Mbak (tidak akan menambah-nambah, Mbak).”
“Mbak, kalau Mas Danang minta Mbak jadi penjamin?” tanya Pak Wiryo hati-hati.
“Tidak, Pak. Jaminan harus dari bank, bukan dari saya.” Raras menggeleng. “Kalau saya menjamin, itu bantuan lagi. Dan bantuan itu yang membuatnya tidak pernah tahu harga barang.”
“Nggih, Mbak.”
“Mbak sedih?”
“Saya sedih, Pak.” Raras berdiri, merapikan kebayanya. “Tapi sedih saya tidak boleh dipakai untuk menagih ke orang lain.”
“Kula nitip salam kagem Eyang, Mbak (saya titip salam untuk Eyang, Mbak),” kata Pak Wiryo sambil mengantar sampai pintu. “Lan Mbak ojo kesel (dan Mbak jangan capek).”
“Inggih, Pak. Matur nuwun.”
Di luar, matahari menempel di atap seng. Mobil putih terparkir di bawah pohon asam, dan seorang lelaki berjas yang belum terkancing bersandar pada pintunya dengan kedua tangan di saku.
“Mas Dimas.”
“Aku nggak bilang ada yang main, Mbak.” Dimas menegakkan badan sebelum Raras sempat bertanya. “Aku bilang pola.”
“Mas Dimas mengikuti saya?”
“Aku menebak. Danang menulis daftar pemasoknya dari ingatan kemarin malam. Sepuluh nama. Delapan dari jaringan Yogya. Wates paling dekat.” Ia membuka telapak tangan. “Aku menunggu empat puluh menit.”
“Pola apa, Mas?”
“Semua pemasok mengubah syarat dalam hari yang sama, dengan kalimat yang sama, ‘aturan umum’. Kalau cuma satu pemasok, mungkin kebetulan. Tapi kalau semuanya begitu, berarti ada sesuatu yang perlu kupastikan.”
“Dan Mas Dimas pikir saya?”
“Aku tidak menuduh.” Dimas menggeleng. “Aku menghitung. Dan hasil hitunganku tidak menemukan satu pun fitnah, tidak ada satu pun kebohongan, bahkan tidak ada satu pun kalimat buruk tentang Danang. Itu yang bikin aku curiga.”
“Curiga kenapa?”
“Karena semuanya terlalu rapi untuk kebetulan. Tapi aku juga tidak menemukan alasan untuk bilang ada yang sengaja menjatuhkannya.”
Raras menahan senyum. “Mas Dimas ingin saya mengaku?”
“Kenapa Mbak datang sendiri ke Wates, bukan lewat Pak Hadi?”
“Karena aturan yang dijalankan hari ini aturan saya, Mas. Bukan aturan Pak Hadi.” Raras mengangkat dagu. “Kalau ada yang harus berdiri di depan, harusnya yang mengambil keputusan.”
“Aku ingin Mbak jujur tentang satu hal saja.” Dimas melangkah lebih dekat, berdiri di bawah bayang pohon asam. “Mbak punya hubungan dengan jaringan itu?”
“Saya anak petani, Mas. Petani punya hubungan dengan banyak orang.”
“Itu jawaban yang tidak bohong, tapi juga tidak menjawab pertanyaanku.”
“Itu jawaban yang bisa saya berikan hari ini.” Raras memandangnya lurus, tetapi suaranya melunak. “Mas, saya tidak akan membohongi Mas. Tapi saya juga tidak akan menyerahkan apa yang bukan hanya milik saya.”
Dimas tersenyum tipis, lelah. “Aku bisa menerima itu.”
“Kalau begitu saya beri Mas satu hal yang bisa Mas bawa pulang.”
“Apa?”
“Tidak ada pemasok yang menolak Mas Danang kalau ia datang membawa jaminan bank. Pintu itu terbuka sejak hari pertama.” Raras menarik napas. “Tidak ada satu pun orang yang sengaja menutupnya.”
“Dia bisa dapat?”
“Itu urusan beliau dengan banknya. Tapi pintunya ada.”
Dimas mengangguk lambat. “Terima kasih. Aku akan sampaikan, tanpa menyebut dari Mbak.”
“Dia akan tahu.”
“Biar dia menebak.” Dimas mengusap tengkuk. “Ganti aku kasih satu hal.”
“Silakan.”
“Danang menggadaikan jam tangannya tadi pagi, Mbak. Untuk bayar sewa gudang Sleman.”
Raras berhenti bernapas. “Jam yang mana?”
“Yang ada ukiran di belakangnya. Hadiah ulang tahun pertama dari Mbak, kalau aku tidak salah.”
“Dia menggadaikannya?”
“Dia bilang itu cuma sampai besok.” Dimas mengucapkan kata itu hati-hati, tanpa nada. “Aku tidak tahu apa Mbak mau tahu. Tapi aku merasa Mbak harus tahu dia membayar dengan cara yang tidak ia minta dari siapa pun.”
Ada sesuatu yang runtuh diam-diam di dada Raras. Ia memegang lengan kebaya dengan tangan kiri, menahan getar yang tiba-tiba datang. “Saya yang membelikan jam itu waktu dia belum punya kontrak pertama.”
“Aku tahu.”
“Saya memilih ukirannya sendiri.”
“Aku tahu, Mbak.”
“Terima kasih, Mas. Saya perlu mengatur napas.”
“Aku tidak minta Mbak menyelamatkannya.”
“Saya tahu, Mas.” Raras tertawa pendek, serak. “Itu yang paling sulit. Saya sudah berlatih tidak menyelamatkan, dan hari ini saya baru sadar latihannya baru separuh.”
“Bapak bilang kalau seminggu Danang belum beres, Bapak yang turun tangan.” Dimas menunduk sedikit. “Dan Bapak tidak akan turun tangan dengan cara yang lembut.”
“Terima kasih sudah memberi tahu. Dan Mbak Niken?”
“Kenapa Mbak tanya?”
“Karena Jumat pagi dia datang menemui saya di Yogya.”
“Ibu tahu.” Dimas mengusap wajah. “Ibu marah. Jumat siang dia dijemput pulang, dan sejak Sabtu mengurung diri di kamar.”
“Saya tidak mengajarinya apa pun, Mas.”
“Mbak tidak perlu menjelaskan. Aku tahu Mbak bukan orang yang akan melakukan itu.”
“Saya tidak sedang berpihak.”
“Aku tahu. Aku cuma tidak suka melihat semuanya jadi seperti ini.”
“Ya.” Dimas melirik tas Raras yang mulai bergetar. “Itu dia, kan?”
“Mas Dimas, Mas Danang sudah makan hari ini?”
“Sudah kutanyakan tadi. Roti sobek di mobil, setengah.” Dimas tersenyum tipis. “Dia bilang sudah kenyang.”
“Dia selalu bilang kenyang kalau gugup.”
“Mbak hafal sekali.”
“Hal-hal seperti itu tidak bisa hilang begitu saja, Mas. Tapi mengingatnya bukan berarti saya bisa terus membereskan semua masalahnya.”
Ponsel Raras bergetar di tas, satu kali lalu terus. Ia mengeluarkannya. Di layar, satu nama tanpa foto: Danang.
“Mas, tolong beri saya sepuluh langkah.”
“Mbak akan angkat?”
“Kamis lalu saya membiarkannya mati.” Raras menggenggam ponsel itu sampai ruas jarinya memutih. “Saya sudah berhenti menunggu, Mas. Bukan berhenti mendengar.”
“Mau saya tunggu?”
“Tidak, Mas. Tapi kalau saya lama, tolong bilang ke Pak Wiryo saya baik-baik saja.”
“Dan kalau Mbak menangis?”
“Saya menangis di mobil, Mas. Bukan di telepon.”
“Itu aturan juga?”
“Itu harga diri.” Raras tersenyum kecil. “Yang belum sempat saya jual.”
Dimas mengangguk dan berjalan ke arah mobilnya. Raras menyeberangi halaman gudang, berdiri di bawah papan nama Pak Wiryo yang catnya mengelupas, dan menekan tombol hijau dengan jempol kiri.
“Halo.”
Tidak ada jawaban. Hanya napas yang naik turun, tersendat, dan bunyi klakson jauh di belakangnya. Napas yang ia kenal sampai ke jeda di antara tarikannya. Raras menunggu tanpa mendesak. Kali ini, ia tidak akan buru-buru mengisi keheningan hanya karena tidak tahan mendengarnya.
lanjuut
🙏💪