Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.
Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.
akankah Bella menemukan sang Ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Di luar Griya Harta Emas, kelopak-kelopak bunga sakura tampak bermekaran indah memanjakan mata. Sementara itu, kondisi berbanding terbalik terjadi di Rumah Sakit Jayakarta. Bella menggeser gorden putih usang dengan hati-hati untuk mengintip ke luar jendela, lalu buru-buru menutupnya kembali.
Bella berdiri sembari memegang senapannya. Di depannya, seorang tentara Jepang berambut botak satu sentimeter dan berkacamata tampak menunduk duduk di lantai. Bella memperhatikan pria itu lekat-lekat.
Di halaman luar rumah sakit, seorang petugas kebersihan tengah mendorong gerobak berisi berbagai peralatan kebersihan. Ia menghentikan langkahnya di depan penjagaan lalu menyerahkan kartu identitas Rumah Sakit Jayakarta kepada tentara yang bertugas.
“Aku petugas kebersihan sore,” ujarnya.
Tentara penjaga menerima kartu tersebut, membolak-balikkannya untuk memeriksa keaslian dokumen, lalu mengembalikannya. “Masuklah,” ucap tentara itu singkat seraya membukakan pintu.
“Iya, Pak,” sahut petugas kebersihan itu pelan.
Petugas kebersihan bernama Arman itu kembali mendorong gerobaknya menyusuri lorong rumah sakit yang sepi. Langkahnya terhenti tepat di depan pintu papan berukir huruf kanji Jepang bertuliskan: ALAT KEBERSIHAN. Arman menghampiri pintu tersebut lalu mengetuknya pelan.
Tok! Tok!
Pintu terbuka sedikit dari dalam. Bella mengintip memastikan bahwa yang datang bukanlah tentara patroli. Setelah merasa aman, Arman segera mendorong gerobaknya masuk ke dalam ruangan.
Begitu pintu tertutup rapat, sesosok pria yang bersembunyi di balik tumpukan kain usang di dalam gerobak perlahan keluar menyiagakan diri. Pria itu adalah ayah Bella.
“Ayah berhasil mengirimkan catatan itu?” tanya Bella memastikan.
“Kuserahkan pada orang yang terpercaya. Pasti sudah diterima pemilik Griya Harta Emas,” ujar Arman sembari merapikan kembali kain penutup gerobaknya.
Ayah Bella mengusap wajahnya yang tegang, lalu menatap putrinya. “Omong-omong, kau yakin wanita bernama Emma itu ada di sini?”
“Iya, sepertinya begitu. Sebenarnya semala—”
Belum sempat Bella menyelesaikan kalimatnya, sang ayah mendadak menarik pistolnya dan mengarahkannya ke sudut ruangan. Sesosok tentara Jepang mendadak muncul dari balik bayangan. Tentara itu langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, tetapi dengan gerakan kilat Bella pasang badan menutupi tubuh tentara tersebut dari bidikan ayahnya.
“Jangan tembak dia! Dia di pihak kita!” seru Bella panik.
“Apa?!” Ayahnya melotot terkaget-kaget.
Arman mengacungkan jarinya ke arah tentara itu, tubuhnya gemetar hebat dilanda ketakutan. “Tapi dia itu tentara Jepang!”
“Bu-bukan! Aku bukan tentara Jepang! Aku orang Nusantara... aku benar-benar orang Nusantara!” potong tentara berambut botak itu cepat. Matanya membelalak ketakutan dengan tangan yang terus bergetar di udara.
Arman yang masih menunjuk-nunjuk tentara itu melirik ke arah Bella. Melihat Bella mengangguk mantap untuk meyakinkan mereka, ayah Bella perlahan-lahan menurunkan arah senjatanya. Bella berbalik menatap tentara botak berkacamata itu, yang kini perlahan-lahan ikut menurunkan kedua tangannya seraya menghela napas lega.
Sementara itu, di Griya Harta Emas, Bibi Sinta sedang berdiri di balik meja kasir di hadapan seorang pelanggan. Ia memeriksa sebuah mesin jahit tua secara menyeluruh yang dibawa oleh seorang wanita paruh baya bermuka sedih.
“Coba aku lihat… Uh, kondisinya bagus. Tapi sudah agak tua,” ujar Bibi Sinta seraya menepuk pelan bodi mesin jahit itu.
“Ini sumber hidup keluargaku sepuluh tahun terakhir. Berkat ini juga anakku bisa kuliah kedokteran,” gumam ibu itu dengan suara bergetar.
“Maksimal aku beri seratus delapan puluh ribu. Masih mau kau gadaikan?” tawar Bibi Sinta.
“Aku tidak butuh uang. Tapi…” Ibu itu menatap Bibi Sinta dengan sorot mata penuh keputusasaan, “Bisakah kau menemukan putraku? Katanya dia dievakuasi saat terluka di Perang Surabaya. Tapi kami hilang kontak.”
Kembali ke ruang alat kebersihan yang usang di rumah sakit, tentara botak itu termenung menatap lantai.
“Aku direkrut saat kuliah kedokteran di Universitas Jayakarta. Karena aku terluka dalam Perang Surabaya, aku dikirim ke rumah sakit ini. Setelah sembuh, aku ditugaskan ke pasukan karantina,” ucap tentara botak itu pelan.
“Karantina?” tanya ayah Bella heran.
“Sepertinya ada laboratorium eksperimen manusia di bawah sini. Semalam aku lihat banyak orang gugur,” pangkas Bella menatap sang ayah penuh penekanan. “Dengan mata kepalaku sendiri.”
Tentara botak itu melanjutkan bahwa wabah mengerikan ini disebabkan oleh penyakit antraks, bakteri berbahaya yang pernah menghancurkan sebuah kota di Nusantara. Mendengar fakta tersebut, Arman menggeram kesal. Rasa marahnya tak membendung.
“Brengsek! Sialan!” maki Arman berang. Ia lantas menatap tentara itu tajam. “Apa kau melihat adikku yang hilang satu tahun lalu? Mungkin di antara mayat-mayat itu… apa kau lihat pemuda umur dua puluhan? Tingginya rata-rata dan dia punya tanda lahir di dekat telinga kanannya?”
Tentara itu menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Maafkan aku. Aku tidak bisa memeriksa semua mayat…”
Pria itu mengaku tak sempat mengenali satu per satu korban karena saking banyaknya tubuh yang terbujur kaku. Namun, ia memberi tahu bahwa masih banyak warga Nusantara yang ditahan di penjara bawah tanah. Di sanalah ia tak sengaja bertemu dengan gadis bernama Emma saat sedang bertugas membersihkan mayat.
Waktu itu, Emma terlihat terduduk di pojokan sel yang gelap sembari mengelus perutnya yang sedang hamil, menangis tersedu-sedu. Tentara botak yang mengenakan setelan pelindung diri lengkap agar tidak tertular antraks itu sibuk memindahkan mayat-mayat yang terkapar penuh luka.
“Jangan bergerak sampai kami bersihkan! Ini berbahaya, jadi diam di sana!” peringat tentara botak itu pada Emma.
Emma menoleh cepat dengan mata sembap. “Tolong! Kau harus menolongku! Tolong beri tahu Komisaris Ichikawa di Biro Kepolisian bahwa aku ada di sini! Pasti dia akan memberikan hadiah besar padamu!” mohon Emma memelas di balik jeruji besi.
“Diam! Diam kau! Menjauh!” teriak tentara lain yang mendadak melintas di depan sel, membentak Emma hingga gadis itu terperosok mundur seraya meratapi nasibnya.
Beban mental akibat menumpuk dan menyeret begitu banyak mayat membuat tentara botak itu tak tahan lagi. Saat bertugas di area luar rumah sakit, ia mendadak mual dan muntah-muntah hebat di tanah. Seorang perwira Jepang yang melihatnya langsung menghajarnya tanpa ampun.
“Kau orang Nusanjing sialan!” umpat perwira itu sengit seraya menendangi perut sang tentara botak di tanah, bahkan memaksanya memakan kembali muntahannya sendiri.
Semua kebiadaban itu ternyata disaksikan oleh Bella dari kejauhan, saat ia bersembunyi di atas menara kayu rapuh semalam.
Siksaan fisik dan batin itu membuat tentara botak yang memiliki nama asli Rekki Adriansyah tersebut hilang harapan hingga berniat mengakhiri hidupnya.
“Hidup ini hanya ada satu cara…” pikir Rekki kala itu.
Di bawah dahan pohon tua yang sepi, Rekki memegang simpul tali tambang yang menggantung. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya memburu tak beraturan dilanda ketakutan dahsyat saat memasukkan kepalanya ke dalam jerat tali.
“Ibu…”
“Maafkan putramu yang tidak berbakti ini…”
Bruk!
Ia menendang kursi kayu yang menjadi pijakannya. Tubuh Rekki mendadak menggantung pasrah di udara, lehernya terjerat kuat dan matanya mendelik kesakitan. Namun, tangan Rekki sama sekali tak berusaha melepaskan tali itu.
Crak!
Tanpa diduga, sebilah pisau melayang cepat memotong tali tambang tersebut. Tubuh Rekki terhempas jatuh merayap di tanah, berbatuk-batuk hebat memburu udara.
Pisau itu milik Bella. Gadis itu berjalan mendekat dan menatap Rekki dingin dari atas. “Jangan mati sia-sia.”
Bella membungkuk sedikit, suaranya terdengar pelan namun menusuk. “Kau hanya boleh mati… jika harus.”
Rekki bangkit perlahan, menatap Bella dengan mata memerah lalu menunduk menangis sesenggukan. Bella hanya diam berdiri memandangi tentara muda yang hancur itu.
Kini, di dalam ruang alat kebersihan yang usang dan berdebu, Rekki Adriansyah kembali meneteskan air mata mengingat peristiwa kelam itu. Ia mengangkat kacamatanya lalu menyapu air matanya yang jatuh.
Bella, ayahnya, dan Arman hanya bisa menatap pria di hadapan mereka dengan raut penuh keprihatinan.