Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 12
Keesokan harinya, Vino memutuskan untuk bertindak nyata. Pagi-pagi sekali, dia sudah memarkirkan mobilnya agak jauh dari pagar rumah Kiara, cukup dekat untuk memantau, namun tidak terlalu menempel agar tak mengganggu kenyamanan Kiara atau memicu amarah calon mertuanya.
Tepat pukul 07.15 WIB, pintu gerbang rumah Kiara terbuka. Wanita itu keluar mengenakan pakaian kantor yang rapi, namun langkahnya tampak lesu dan wajahnya masih diselimuti rona pucat. Ketika Kiara berjalan menuju tepi jalan raya untuk menunggu taksi online, Vino perlahan mengendarai mobilnya dan berhenti tepat di sampingnya.
Kaca mobil diturunkan.
"Pagi, Ra..." sapa Vino selembut mungkin.
Kiara terkejut kecil. Dia menoleh, dan saat mendapati sosok Vino di balik kemudi, ekspresi matanya seketika mengeras. Di sengaja mengalihkan pandangannya kembali ke layar ponsel, berpura-pura mengabaikan kehadiran pria itu.
"Ra, Biarkan Mas yang antar kamu ke kantor ya?" ucap Vino dari dalam mobil. Ia tidak turun, tidak juga membunyikan klakson secara agresif.
"Mas tahu kamu belum mau bicara banyak sama Mas. Kamu boleh diam sepanjang jalan, boleh cuekin Mas. Tapi izinkan Mas pastikan kamu sampai kantor dengan aman. Fisik kamu baru pulih, Ra."
"Aku sudah pesan taksi, Mas," balas Kiara dingin tanpa menatapnya.
"Nanti Mas yang bayarkan ganti ruginya ke drivernya, Ra. Mas mohon..." Vino mematikan mesin mobil lalu turun, berdiri di samping pintu tanpa melangkah terlalu dekat. Tatapan matanya sarat akan permohonan yang tulus.
"Mas cuma mau antar jemput kamu. Mas tidak akan bahas hal lain kalau kamu tidak suka. Mas cuma mau ada buat kamu."
Kiara mengepalkan jemarinya. Notifikasi pembatalan taksi online kebetulan masuk karena pengemudi yang tak kunjung bergerak dari kemacetan. Kiara menghela napas panjang, menatap mobil Vino dengan tatapan serba salah. Kelelahan fisik dan mental membuatnya tak punya energi untuk berdebat di pinggir jalan pagi itu.
"Hanya antar dan jemput. Jangan ajak aku bicara hal aneh-aneh," cetus Kiara akhirnya dengan nada datar, lalu membuka pintu penumpang belakang.
Langkah Kiara yang memilih duduk di kursi belakang ketimbang di sampingnya sempat menyentil ulu hati Vino. Rasanya kini ia tak ubahnya seperti seorang sopir pribadi. Namun Vino menelan bulat-bulat rasa perih itu; ini adalah konsekuensi atas tindakannya. Ia tersenyum tipis, merasa bersyukur setidaknya Kiara memberi celah sekecil apa pun.
"Terima kasih, Ra," ujar Vino pelan seraya kembali ke kursi kemudi.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Kiara, suasana di dalam mobil benar-benar hening. Hanya terdengar suara instrumen musik klasik ber volume rendah yang sengaja dipasang Vino untuk mencairkan ketegangan. Melalui kaca spion tengah, sesekali Vino mencuri pandang ke arah Kiara yang menatap kosong ke luar jendela. Hatinya seperti diiris melihat lingkaran hitam di bawah mata Kiara dan betapa redupnya binar mata wanita yang dulu selalu menyambutnya dengan tawa hangat itu.
Ketika mobil berhenti di lobi gedung kantor Kiara, Vino bergegas turun dan membukakan pintu belakang.
"Sudah sampai, Ra," kata Vino lembut.
Kiara melangkah keluar tanpa memandang wajah Vino.
"Terima kasih," bisiknya singkat seraya merapikan tasnya.
"Nanti sore Mas jemput jam lima ya, Ra. Kalau ada overtime atau rapat, kabari Mas saja, Mas bakal tunggu di parkiran," tahan Vino pelan sebelum Kiara melangkah masuk.
Kiara menghentikan langkahnya sejenak, membelakangi Vino.
"Mas tidak perlu menyiksa diri sendiri begini. Ini tidak akan langsung mengubah keadaan. Lagi pula selama tiga bulan ini aku sudah terbiasa pulang sendiri tanpa merepotkan kamu yang pastinya akan sibuk setelah ini,"
DEGH
Jantung Vino kembali merasa sangat sakit, dia tak mengira kalau Kiara akan kembali mengungkit hal itu, di abaikan olehnya selama tiga bulan demi sepupu yang ketakutan di kota tanpa siapa-siapa selain dia.
"Kiara... Mas tahu," jawab Vino mantap, tatapannya menyiratkan kesungguhan yang tak teroyahkan.
"Mas melakukan ini bukan cuma buat melunakkan hati kamu, Ra. Tapi karena Mas memang kewajiban menjaga kamu. Mas tunggu nanti sore, ya." Vino mencoba mengabaikan ucapan terakhir Kiara daripada memicu pertengkaran.
Kiara tak menjawab lagi dan meneruskan langkahnya masuk ke dalam gedung tinggi itu.
Rupanya, janji Vino bukan sekadar gertak sambal. Pukul 16.30 WIB, setengah jam sebelum jam pulang kantor mobil Vino sudah terparkir rapi di area parkir pengunjung. Vino menolak menunggu di café ber AC, ia tetap setia berada di dekat mobilnya, memandangi pintu keluar lobi dengan sabar.
Hari pertama, Kiara hanya diam sepanjang jalan pulang. Hari kedua, Kiara masih memilih duduk di kursi belakang dan menolak saat Vino menyodorkan minuman favoritnya. Namun Vino tak sedikit pun menunjukkan rasa jengkel atau putus asa. Dia tetap membukakan pintu, menyapa dengan senyum tulus, dan memastikan Kiara sampai di rumah dengan aman setiap harinya.
Hingga pada hari kelima rutinitas antar-jemput itu berjalan, sebuah perubahan kecil terjadi. Sore itu hujan deras mengguyur Jakarta. Saat Kiara berjalan keluar dari lobi kantor dan mendekati mobil, ia menatap Vino yang berdiri memegang payung lebar untuk melindunginya agar tak terkena cipratan air hujan, sementara bahu pria itu sendiri sudah basah kuyup.
Saat pintu mobil dibuka, Kiara tidak langsung masuk ke kursi belakang. Ia berdiri terpaku sejenak, menatap bahu kemeja Vino yang basah dan raut wajah pria itu yang tampak lelah namun tetap memancarkan kehangatan padanya.
"Mas..." panggil Kiara pelan, untuk pertama kalinya setelah seminggu suaranya tak lagi sedingin es.
Vino menoleh, menatap Kiara dengan binar penuh harap.
"Iya, Ra?"
"Kenapa Mas basah-basahan begini? Kenapa tidak pakai payungnya buat Mas sendiri?"
"Yang penting kamu tidak kena hujan dan tidak sakit lagi, Ra," sahut Vino polos, tersenyum tanpa beban.
Kiara menghela napas halus. Ada gumpalan es di dalam dadanya yang perlahan retak melihat keteguhan dan pengorbanan Vino yang konsisten tanpa paksaan. Kiara tidak langsung memaafkan, namun sore itu, untuk pertama kalinya sejak badai kebohongan itu terbongkar, Kiara berjalan mengitari mobil dan membuka pintu depan, duduk di sebelah kursi kemudi, di samping Vino.
"Lain kali tak usah seperti ini, nanti kamu malah sakit!"
"Terima kasih, Ra!" Vino tersenyum lebar karena Kiara perlahan-lahan mulai kembali memberikan perhatian padanya.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,