NovelToon NovelToon
SATU ATAP SERIBU DUSTA

SATU ATAP SERIBU DUSTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Merelakan masa mudanya merantau demi modal bisnis, Nesa berhasil membangun brand kosmetiknya seorang diri. Sebagai wujud bakti, ia memberikan posisi nyaman di perusahaan untuk kakak kandungnya, Sasya, dan mempercayakan hatinya pada Dika, suami yang dipacarinya sejak SMA.

​Namun, dunia Nesa runtuh seketika saat ia mendapati kenyataan paling menjijikkan: Dika berselingkuh dengan Sasya. Di saat yang sama, Sasya memanfaatkan fasilitas perusahaan untuk merintis skincare tandingan di bawah dukungan penuh Dika. Syok luar biasa akibat pengkhianatan berlapis itu merenggut nyawa bayi yang tengah dikandung Nesa.

​Berada di titik terendah setelah keluar dari rumah sakit, air mata Nesa berubah menjadi bara. Mengabaikan rasa sakitnya, Nesa bersiap membalas setiap tetes air matanya, membongkar kebusukan suami dan kakak kandungnya, serta merebut kembali apa yang sepenuhnya menjadi hak miliknya.

​Satu Atap, Seribu Dusta ketika bakti dibalas duri dan pengkhianatan harus dibayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU ATAP SERIBU DUSTA

​

​Matahari sore baru saja bergeser ke barat, memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus dinding kaca besar rumah mewah bergaya modern minimalis milik Nesa. Di dalam ruang tamu utama yang luas itu, keheningan terasa sangat pekat dan mencekam. Tidak ada suara denting porselen atau alunan musik latar; yang terdengar hanya deru napas berat dan ketukan kaki yang tidak sabar di atas lantai marmer.

​Nesa duduk tegak di sofa tunggal berbalit kulit gading. Ia mengenakan dress rumah kasual berwarna abu-abu tua dengan rambut dicepol rapi, menampilkan aura dingin yang membuat siapa pun segan mendekat. Di hadapannya, kedua orang tuanya ibu dan ayah kandungnya berdiri dengan wajah dipenuhi kepanikan dan kemarahan yang meluap-luap.

​Baru saja beberapa menit yang lalu, kedatangan mereka disambut oleh satpam gerbang. Dan sekarang, tanpa basa-basi lagi, sang ibu langsung melangkah maju dengan suara bergetar karena emosi.

​"Nesa! Apa-apaan semua ini?!" bentak sang ibu dengan nada tinggi, menatap putrinya dengan sorot mata penuh tuduhan. "Kenapa kamu bisa senekat itu melaporkan kakak kandungmu sendiri ke kantor polisi?! Sasya itu kakakmu, darah dagingmu! Bagaimana bisa kamu berhati dingin menjebloskan dia ke penjara bersama suaminya?."

​Ayah Nesa ikut berdiri di samping istrinya, wajah tua pria itu tampak merah padam menahan malu dan amarah. Dengan suara berat berwibawa namun bergetar, sang ayah menimpali, "Benar apa kata ibumu, Nesa! Sejak kapan kamu jadi anak yang tidak tahu balas budi seperti ini? Di mana hati nuranimu? Sasya itu perempuan! Reputasi keluarga kita hancur lebur karena ulah egomu yang memenjarakan anak kandung dan menantumu sendiri."

​Mendengar rentetan kalimat penuh kemarahan yang dilontarkan oleh kedua orang tuanya kalimat yang langsung menyudutkannya tanpa sedikit pun menanyakan bagaimana perasaannya hati Nesa mendadak terasa seperti disayat ribuan sembilu. Rasa sakit yang luar biasa tajam menghujam rongga dadanya.

​Selama ini, di balik kesuksesannya sebagai CEO, Nesa selalu berusaha menjadi anak yang berbakti. Namun, apa yang ia dapatkan dari keluarganya? Sejak dulu, kasih sayang dan pembelaan orang tuanya selalu berat sebelah selalu memenangkan Sasya dalam segala hal, selalu menuntut Nesa untuk mengalah, dan selalu menyuruhnya untuk memaklumi setiap kesalahan sang kakak.

​Nesa perlahan mengangkat kepalanya. Tidak ada air mata yang menetes di pipinya. Yang ada hanyalah sepasang mata tajam berkaca-kaca yang memancarkan kekecewaan mendalam yang sudah membeku menjadi es.

​Ia berdiri dari kursinya dengan anggun. Langkah kakinya mendekati kedua orang tuanya secara perlahan, membuat sang ibu dan Ayah sedikit tertegun melihat sorot mata putrinya yang berubah drastis.

​"Ibu bilang... Sasya adalah kakakku, darah dagingku?" suara Nesa bergetar halus, namun sarat akan racun kemarahan yang tertahan lama. Ia berhenti tepat di hadapan ibunya. "Ibu datang ke sini marah-marah, menuntut penjelasan, dan membela Sasya... tapi apakah sedikit saja Ibu pernah bertanya, bagaimana rasanya ditusuk dari belakang oleh orang yang paling kita kasihi di bawah satu atap yang sama?."

​Sang ibu mengerjap kaget, sedikit terintimidasi oleh aura dingin Nesa. "A-apa maksudmu? Jangan memutarbalikkan fakta! Sasya itu cuma khilaf..."

​"Khilaf?!" potong Nesa dengan suara melengking tajam, memotong ucapan ibunya seketika. Gema suara itu membahana di seluruh sudut ruang tamu yang luas. "Ibu menyebut persekongkolan busuk, pencurian rahasia perusahaan, pembocoran dokumen rahasia, dan perselingkuhan di belakang punggungku sebagai sebuah 'khilaf'?! Ibu tahu tidak, kebohongan apa saja yang sudah diperbuat anak kesayangan Ibu itu di belakang kita?."

​Ayah Nesa maju selangkah, mencoba meredam kemarahan putrinya dengan nada otoriter. "Nesa! Jaga nada bicaramu pada orang tua! Apapun kesalahan Sasya, dia tetap kakakmu! Dulu, waktu kalian kecil, ibumu selalu berpesan agar kamu mengalah pada Sasya, menjaganya dan jangan pernah menjadi duri di dalam keluarga! Kenapa sekarang kamu malah tega menghancurkan masa depannya?."

​Mendengar kata-kata ayahnya tentang masa lalu dan pesan agar jangan menjadi duri, sudut bibir Nesa terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman sinis yang sangat mengerikan. Ia tertawasebuah tawa pahit yang penuh luka dan kepedihan yang teramat sangat.

​"Duri... ya? Ibu dan Ayah dulu selalu menyuruhku untuk mengalah, menyuruhku merangkul Sasya, dan meminta agar aku tidak menjadi duri di dalam rumah ini..." Nesa menatap lurus ke dalam manik mata kedua orang tuanya secara bergantian. "Tapi tahukah kalian? Justru Sasya-lah anak emas yang kalian banggakan setengah mati itu yang bertahun-tahun menanam duri beracun di dalam rumah tangga dan perusahaanku."

​Sang ibu terperanjat mundur. "Nesa..."

​"Jangan panggil aku dengan nada memohon seperti itu, Bu!" sergah Nesa cepat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi, namun ekspresinya tidak melunak sedikit pun. "Kalian selalu membela Sasya. Apapun yang dia inginkan, kalian halalkan. Bahkan ketika dia terang-terangan merusak rumah tanggaku, berselingkuh dan bersekongkol dengan suamiku sendiri di belakangku, kalian masih memintaku untuk bersabar."

​Deg!

​Pernyataan telak itu menghantam dada kedua orang tuanya bagaikan petir di siang bolong. Sang ibu membelalakkan matanya tidak percaya, sementara sang ayah tertegun hebat dengan mulut sedikit terbuka.

​"P-perselingkuhan...?" cicit sang ibu terbata-bata. "Apa maksudmu dengan perselingkuhan, Nesa? Dika itu suami sahmu! Jangan mengarang cerita bohong..."

​"Aku tidak mengarang cerita, Bu!" bentak Nesa, air matanya semakin deras mengalir, meluapkan seluruh bendungan rasa sakit yang ia simpan sendirian selama berbulan-bulan. "Dika dan Sasya adalah dalang utama di balik kehancuran perusahaanku dan kehancuran mentalku! Mereka berdua merajut rencana busuk di bawah satu atap rumah ini, mengkhianatiku, menertawakanku di belakang, dan merampas segalanya dariku."

​Nesa menarik napas panjang, dadanya naik turun menahan isak tangis yang berubah menjadi amarah membara. Ia melangkah lebih dekat lagi, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh sumpah serapah yang menggetarkan jiwa.

​"Kalian pikir aku akan tinggal diam dan memberikan ampun pada mereka berdua?! Tidak akan pernah!" suara Nesa bergetar penuh ancaman mutlak. "Pengkhianatan ganda yang mereka lakukan menghancurkan perusahaan warisanku dan merusak rumah tanggaku bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan dengan kata maaf! Ulah busuk merekalah... tekanan batin, stres luar biasa, dan shock akibat pengkhianatan suami serta kakak kandungku sendiri... yang membuat kandunganku melemah, hingga akhirnya aku mengalami keguguran."

​Bumm.

​Kalimat terakhir itu meluncur keluar dari bibir Nesa bagaikan bom atom yang menghancurkan seluruh sisa kesadaran di kepala kedua orang tuanya.

​Sang ibu menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara tubuhnya merosot lemas ke lantai jika saja tidak ditahan oleh suaminya. Ayah Nesa berdiri mematung, wajahnya mendadak pucat pasi seperti mayat hidup. Seluruh darah di tubuhnya seolah tersedot habis. Cucu... ya, Nesa sedang mengandung buah hati pertamanya, darah daging mereka sendiri, dan bayi itu hilang direnggut oleh malapetaka yang disebabkan oleh anak kesayangan mereka dan menantu durjana.

​"K-keguguran...?" bisik sang ayah dengan suara bergetar parah, matanya menatap Nesa dengan horor dan rasa bersalah yang teramat besar. "Nesa... anakmu... cucu kami...?"

​"Iya! Bayi itu mati sebelum sempat melihat dunia!" seru Nesa, suaranya parau menahan kepedihan yang teramat dalam. Ia menunjuk dadanya sendiri. "Dan pembunuhnya adalah suami yang kalian bela-bela, serta kakak kandung yang selalu kalian utamakan! Jadi, jangan pernah datang ke sini menuntut kejelasan atau meminta ampun untuk Sasya."

​Nesa menyeka air matanya dengan kasar, menegakkan kembali dagunya, dan menatap kedua orang tuanya dengan sorot mata predator yang tidak menyisakan secercah pun rasa iba.

​"Dika sudah berada di dalam penjara, dan Sasya akan menyusulnya untuk waktu yang sangat lama," ucap Nesa dengan suara dingin, datar, dan mutlak bagaikan vonis hakim kematian. "Aku tidak akan pernah mencabut tuntutan hukum itu. Aku tidak akan pernah memberikan ampun pada pengkhianat. Dan mulai hari ini... putuskan hubungan kalian denganku, atau teruskan pembelaan kalian pada anak emas kalian itu dan jangan pernah injakkan kaki lagi di rumah ini."

​Setelah melontarkan sumpah telak yang membuat seluruh ruangan terbungkam dalam kengerian mutlak, Nesa berbalik memunggungi kedua orang tuanya. Ia melangkah pergi meninggalkan ruang tamu, menaiki anak tangga satu persatu menuju lantai atas tanpa menoleh sedikit pun ke belakang.

​Di lantai bawah, sang ibu menangis histeris meratapi kehancuran total keluarga mereka di atas lantai marmer yang dingin, sementara sang ayah tertunduk lesu menanggung beban penyesalan seumur hidup yang tidak akan pernah bisa ditebus lagi. Di atas sana, Nesa berdiri di balik jendela kamarnya, membiarkan angin malam mengeringkan sisa air matanya, bersumpah di dalam hati bahwa tidak ada satu pun orang di dunia ini yang akan pernah bisa menghancurkannya lagi.

1
fatmiatun sahono
sy komen ya....pdhal di upload aja itu surat ancaman di media gosip seperti PD saat wkt makan siang rame gosip nya. nah surta ancaman itu akan rame klo di upload dg narasi ancaman pertama seru ne....
fatmiatun sahono
maaf emang sdh cerai ya Dika sama Nisa...apa sy ada yg kelewat ya...baca nya..
Mundri Astuti
kebiasaan dimanja si Sasa ...tapi dimana" mang Sasa cuma buat pelengkap bumbu 🤭
stela aza
bukan anak kandungnya x itu s nesa masa dr kecil sampai dewasa masih di beda bedakan 🤦
Sya Haron
Di bab 19 syasya dan dika sudah dijatuhi hukuman. Bila waktunya syasya dilepaskan?
blcak areng: Hay kak terima kasih ya revisi dari Kamu nya🙏🙏🙏.. maaf ya aku sedikit sibuk di dunia rl jadi beberapa kali mlh bikin kesalah 🙏🙏
total 1 replies
Agunk Setyawan
othornya lagi ngantuk kali ya🤣🤣🙏
blcak areng: udah di revisi ya kak
total 1 replies
Zhafran Althaf
waittt bentar bentar bukannya Dika udah di penjara yaaaa kok ini muncul lagi
Dewi Rahmawati
bagus ceritanya up terus kk 💪
Mundri Astuti
obatnya nesa nich
stela aza
kelamaan bertindak
Zhafran Althaf
aku hadierrrr kakak
Zhafran Althaf: kak
karyamu yang tamu di atap orang tuaku kamu hapus ta kak kok aku cari ga ada
total 2 replies
Zhafran Althaf
hallo Kaka aku hadirrrr😍
blcak areng: yeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee mksh Kakak 🙏🙏🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!