NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 — Nama yang Dihapus dari Sejarah

Pagi itu, Celine Wang tidak tidur sedikit pun.

Pesan suara dari perempuan misterius tersebut terus terngiang di kepalanya. Seseorang telah mengganti nama pasien itu. Dan orang yang menggantinya masih bekerja di tempat yang sama.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya begitu mengerikan.

Jika catatan rumah sakit telah dimanipulasi sejak lima belas tahun lalu, berarti seseorang memiliki akses terhadap arsip medis dan cukup berkuasa untuk menyembunyikan identitas seorang anak. Lebih buruk lagi, orang itu mungkin masih berada di tempat yang sama, menunggu sampai masa lalu benar-benar terkubur.

Celine duduk di depan meja kerjanya, menatap foto seorang anak kecil dengan gelang perak berbentuk bunga.

Siapa anak itu?

Mengapa Amelia mempertaruhkan segalanya untuk menyelamatkannya?

Dan mengapa seseorang berusaha keras memastikan identitasnya tidak pernah diketahui?

Ponselnya bergetar. Daniel Zhou menelepon.

“Aku sudah menerima rekaman yang kau kirimkan,” katanya. “Aku juga menghubungi pihak rumah sakit melalui jalur hukum untuk meminta akses terhadap arsip yang masih tersedia.”

“Bagaimana hasilnya?”

“Sebagian catatan lama sudah dipindahkan ke penyimpanan digital, tetapi ada beberapa berkas yang hilang. Anehnya, penghapusan itu tidak dilakukan sekaligus. Ada perubahan yang tercatat beberapa tahun setelah kejadian.”

Celine langsung duduk tegak.

“Beberapa tahun setelahnya? Berarti seseorang kembali mengubah catatan itu?”

“Itu salah satu kemungkinan. Aku belum bisa memastikan apakah perubahan tersebut merupakan pemalsuan atau koreksi administratif. Kita harus mendapatkan salinan asli dan memeriksa riwayat aksesnya.”

Celine memandangi foto di tangannya.

“Daniel, aku ingin mengetahui siapa yang bertugas malam itu. Dokter, perawat, petugas administrasi—siapa pun yang mungkin mengingat kejadian tersebut.”

“Aku akan mengusahakannya. Namun, kau harus bersiap jika mereka menolak memberikan informasi tanpa perintah pengadilan.”

“Aku mengerti.”

Sebelum menutup telepon, Daniel menambahkan sesuatu yang membuat Celine kembali terdiam.

“Ada satu hal lagi. Aku menemukan catatan pembayaran dari rekening perusahaan perantara yang terhubung dengan transaksi 0917. Pembayaran itu ditujukan kepada sebuah klinik swasta di Hangzhou, tiga hari setelah kematian William.”

“Apakah nama pasiennya tercantum?”

“Tidak. Hanya kode registrasi dan tanggal masuk. Tetapi pembayaran tersebut dilakukan menggunakan persetujuan dari seseorang yang memiliki hubungan dengan keluarga Shen.”

Celine menarik napas perlahan.

Sekali lagi, nama Shen Yiran muncul di dekat sebuah jejak yang sengaja dihapus.

“Jangan membuat kesimpulan dulu,” katanya. “Kita periksa semua dokumen sebelum menuduh siapa pun.”

Daniel terdengar sedikit lega.

“Kau benar. Aku akan mengirimkan salinannya.”

Setelah sambungan berakhir, Celine memasukkan foto anak kecil itu ke dalam map khusus. Ia menuliskan tiga hal di bagian depan: identitas pasien, catatan rumah sakit, dan pembayaran klinik Hangzhou.

Untuk pertama kalinya, penyelidikannya tidak hanya berpusat pada kematian ayahnya.

Ia sedang mencari seorang anak yang mungkin telah kehilangan identitasnya sendiri.

Menjelang siang, Shen Yuxin datang ke kantor Celine tanpa membuat janji.

Wajahnya tampak lebih tegang daripada biasanya. Ia menutup pintu ruang kerja dan meletakkan sebuah map di atas meja.

“Aku mendengar ada seseorang yang menggunakan akunmu untuk membuka arsip kematian ayahku,” katanya.

Celine mengangguk.

“Apakah kau tahu siapa orangnya?”

“Belum. Tetapi aku memeriksa daftar orang yang pernah memiliki akses ke arsip tersebut. Ada satu nama yang muncul berulang kali.”

Yuxin membuka map itu.

Di dalamnya terdapat salinan daftar staf administrasi Shengyuan dari lima belas tahun lalu. Sebagian nama sudah dicoret, sementara beberapa catatan diberi tanda merah.

Celine membaca halaman pertama, lalu berhenti pada satu nama.

Lin Qiao — Kepala Administrasi Arsip Shengyuan.

“Di mana orang ini sekarang?” tanya Celine.

“Menurut catatan kepegawaian, dia mengundurkan diri setahun setelah Shen Guowei meninggal. Tetapi tidak ada dokumen yang menunjukkan ke mana dia pergi.”

“Apakah dia masih hidup?”

“Aku tidak tahu. Namun, tiga tahun lalu, seseorang menggunakan identitasnya untuk meminta salinan dokumen lama dari arsip perusahaan.”

Celine mengangkat wajah.

“Siapa yang mengajukan permintaan itu?”

Yuxin menunjukkan tanda tangan di bagian bawah dokumen.

Nama pemohon tidak tercantum. Hanya ada kode persetujuan internal yang mengarah kepada seorang pejabat senior Shen Capital.

Celine menatap kode tersebut dengan cermat.

Kode itu sama dengan kode akses yang digunakan untuk membuka lampiran kedua laporan kematian Shen Guowei.

“Jadi, orang yang mengakses arsipku mungkin memiliki akses ke dokumen perusahaan sejak lama,” gumam Celine.

“Ya. Dan ada sesuatu yang belum kukatakan kepadamu.”

Celine menatap Yuxin dengan waspada.

“Apa lagi?”

Yuxin menelan ludah.

“Beberapa hari sebelum Shen Guowei meninggal, ayahku pernah mengatakan bahwa seseorang dari keluarga sendiri telah mengkhianatinya. Dia tidak menyebut nama, tetapi dia berkata bahwa orang tersebut mengetahui seluruh kelemahan perusahaan.”

“Apakah kau pernah bertanya kepada Victor Wu?”

“Pernah. Dia mengatakan ayahku sedang berada di bawah tekanan dan tidak lagi bisa mempercayai siapa pun.”

Celine menggeleng pelan.

“Jawaban seperti itu tidak menjelaskan apa-apa.”

“Aku tahu.”

Yuxin menunduk.

“Celine, aku sadar aku terlalu banyak menyimpan informasi. Aku takut jika kebenaran itu terungkap, nama keluargaku akan ikut hancur. Tetapi sekarang aku mulai berpikir bahwa ketakutanku justru membantu orang yang sebenarnya bersalah.”

Celine mengamati wajah Yuxin. Ia tidak bisa memastikan apakah perempuan itu sepenuhnya jujur, tetapi setidaknya kali ini Yuxin datang membawa dokumen, bukan sekadar peringatan.

“Kalau kau benar-benar ingin membantu, serahkan semua catatan yang kau miliki kepada Daniel. Jangan menyembunyikan satu halaman pun.”

Yuxin mengangguk.

“Aku akan melakukannya.”

Namun, sebelum ia meninggalkan ruangan, Celine mengajukan satu pertanyaan terakhir.

“Apakah kau mengenal Lin Qiao secara pribadi?”

Yuxin terdiam terlalu lama.

“Aku pernah melihatnya,” jawabnya akhirnya. “Dan aku ingat dia selalu membawa sebuah gantungan kunci berbentuk bunga perak.”

Jantung Celine berdegup lebih cepat.

Bentuk bunga yang sama dengan liontin pada gelang anak kecil itu.

Apakah semua petunjuk tersebut benar-benar saling berhubungan, atau seseorang sengaja menanamkan simbol yang sama untuk menyesatkan mereka?

Celine tidak mengatakan apa pun. Ia hanya mencatat nama Lin Qiao di dalam buku penyelidikannya.

Sementara itu, di kediaman keluarga Wu, Alexander berdiri di depan meja kerja ayahnya.

Kotak beludru yang berisi gelang perak terletak di antara mereka.

“Sekarang katakan yang sebenarnya,” ujar Alexander. “Siapa anak yang diselamatkan Amelia?”

Victor mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Untuk pertama kalinya, pria yang selalu tampak berkuasa itu terlihat seperti seseorang yang kelelahan menanggung rahasia terlalu lama.

“Aku tidak tahu di mana anak itu sekarang,” katanya.

“Itu bukan jawaban.”

“Aku tahu siapa yang membawanya pergi, tetapi aku tidak tahu nama yang digunakannya setelah itu.”

Alexander menahan amarah.

“Dan kau membiarkan semua orang percaya bahwa William meninggal karena kecelakaan biasa?”

Victor mengangkat kepalanya.

“William meninggal karena dia terlibat dalam sesuatu yang tidak seharusnya disentuhnya.”

“Dia ayah Celine. Dia berhak mengetahui kebenaran.”

“Dia memang berhak.” Suara Victor bergetar. “Tetapi saat itu, jika dia mengetahui identitas anak tersebut, dia mungkin akan melakukan sesuatu yang membuat semua orang dalam bahaya.”

Alexander menatap ayahnya tanpa berkedip.

“Apakah kau menyuruh seseorang mengikuti mobil William?”

Victor tidak menjawab.

“Apakah kau tahu siapa yang berada di mobil kedua malam itu?”

Keheningan Victor menjadi jawaban yang lebih mengerikan daripada pengakuan langsung.

Alexander mundur selangkah.

“Selama ini aku membela Ayah karena aku pikir masih ada alasan yang belum kuketahui. Tetapi setiap kali aku bertanya, Ayah justru memberiku alasan baru untuk mencurigaimu.”

“Aku tidak membunuh William.”

“Aku tidak bertanya siapa yang membunuhnya. Aku bertanya apakah Ayah tahu apa yang terjadi.”

Victor memejamkan mata.

“Ada hal-hal yang kulakukan untuk mencegah kehancuran keluarga ini.”

Alexander tertawa getir.

“Dan berapa banyak orang yang harus menderita agar keluarga ini tetap terlihat sempurna?”

Ia mengambil gelang perak itu, tetapi Victor segera menahan tangannya.

“Jangan bawa gelang itu kepada Celine.”

Alexander menatap tangan ayahnya yang mencengkeram pergelangannya.

“Kenapa?”

“Karena gelang itu bukan sekadar barang milik seorang anak. Ada nama yang disembunyikan di dalamnya.”

Victor akhirnya melepaskan tangannya.

Alexander membalik gelang tersebut. Pada bagian dalam liontin bunga, terdapat ukiran kecil yang selama ini tidak pernah diperhatikannya.

Dua huruf.

A.W.

Alexander membeku.

Inisial itu sama dengan nama Amelia Wang.

Namun, sebelum ia sempat bertanya, Victor menutup kotak beludru dan berkata dengan suara rendah, “Jika kau ingin mengetahui siapa anak itu, carilah Lin Qiao. Dia satu-satunya orang yang masih mungkin mengetahui nama aslinya.”

Malamnya, Celine menerima pesan dari nomor tak dikenal.

Berhentilah mencari Lin Qiao. Dia tidak akan mengatakan apa pun kepadamu.

Celine segera mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya kepada Daniel.

Belum sempat ia menelepon, sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama.

Kali ini, ia menjawab.

“Siapa kau?”

Suara perempuan terdengar dari seberang. Napasnya pendek dan terburu-buru.

“Jangan mencari Lin Qiao melalui arsip perusahaan. Mereka sudah tahu kau menemukan namanya.”

“Siapa ini? Apakah kau Shen Yiran?”

Hening beberapa detik.

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu sekarang.”

“Kalau kau benar-benar ingin membantuku, beri aku bukti. Aku tidak bisa terus mengikuti pesan tanpa nama.”

Perempuan itu menghela napas.

“Buka bagian belakang gelang perak itu. Cari ukiran di bawah lapisan logam. Amelia meninggalkan sesuatu di sana sebelum anak itu dibawa pergi.”

Celine membeku.

“Bagaimana kau tahu tentang gelang itu?”

“Karena aku ada di sana malam itu.”

Suara perempuan itu bergetar.

“Dan karena aku gagal menyelamatkan orang yang seharusnya kulindungi.”

Sebelum Celine sempat bertanya lebih jauh, sambungan terputus.

Ia segera menelepon Daniel dan menceritakan percakapan tersebut. Namun, kali ini ia tidak meminta Daniel mencari identitas perempuan itu secara terburu-buru.

Ia ingin terlebih dahulu memastikan apakah gelang tersebut benar-benar menyimpan petunjuk.

Di tempat lain, Alexander masih berdiri di ruang kerja ayahnya, memegang kotak beludru yang terbuka.

Ia tidak tahu bahwa Celine baru saja menerima pesan yang sama sekali mengubah arah penyelidikan mereka.

Dan ia juga tidak tahu bahwa nama Lin Qiao, yang selama ini tersembunyi di antara arsip lama, ternyata menjadi kunci bagi dua rahasia sekaligus: identitas anak yang diselamatkan Amelia dan alasan sebenarnya William Wang berada di dekat lokasi kematian Shen Guowei.

Malam semakin larut ketika sebuah pesan masuk ke ponsel Alexander.

Pengirimnya tidak dikenal.

Isinya singkat.

Jika kau ingin menyelamatkan Celine dari kesalahan ibumu, temui aku besok malam di pelabuhan lama. Datang sendiri.

Di bawah pesan itu terdapat foto seorang perempuan tua yang berdiri di depan sebuah bangunan usang.

Di belakang foto tertulis sebuah nama.

Lin Qiao.

Alexander menatap foto tersebut dengan wajah pucat.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa orang yang selama ini berusaha menghapus masa lalu mungkin bukan hanya sedang melindungi sebuah keluarga.

Mereka sedang melindungi identitas seseorang.

Dan jika identitas itu akhirnya terbongkar, seluruh kehidupan yang dikenalnya mungkin akan berubah selamanya.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!